4 Pelajaran dari 2016

Selamat Tahun Baru 2017! Setelah ‘telat’ selama 12 jam dibandingkan WIB, akhirnya Boston pun juga berada di tahun yang sama, di tahun 2017.

Sebuah komentar di Instagram milikku, membangunkanku dari tidurku. Salah satu foto yang kupost dari tahun lalu berisi sketsa sederhana tentang tahun 2016.

photo_2017-01-01_19-43-09
Betul, gambarku memang kekanak-kanakan. Maafkan aku, ya! Haha.

Sudah ada berapa hal yang kucapai di tahun 2016?

Continue reading “4 Pelajaran dari 2016”

The Old Days When I Was Doing Liesegang Experiment

Time passes by really fast. Before I have a full grasp of what is going on this year, the year has come to an end.

Ritual akhir tahunku dimulai dengan membersihkan Google Driveku yang sudah merah dan minta diselamatkan. Tinggal tunggu waktu hingga akhirnya dia menyerah dan bilang, “Bayar extra storage sekarang, atau kamu tidak bisa menyimpan hasil kerjamu!”

Mumpung semester musim dingin belum mulai dan aku belum disibukkan oleh kelas Learning Science through Cooking yang akan kuambil (kabarnya, di kelas terakhir kami akan pergi ke pabrik cokelat!), dan dengan mengumpulkan niat yang menguap ditiup aroma liburan, akhirnya aku mulai menyortir Google Driveku juga.

Aku pun mengklik “Sort files by last modified”. Tak dinyana, aku menemukan banyak kejutan, terutama di tahun pertama aku berada di UWC.

Continue reading “The Old Days When I Was Doing Liesegang Experiment”

Selamat!

Temanku baru saja bertunangan. Rasanya sangat berbahagia, karena meskipun tidak dekat, kami bertemu dalam keadaan yang sangat menarik. Semoga Allah melancarkan hingga hari pernikahanmu 🙂

Aku masih ingat hari pertama saat kami bertemu. Wajahnya tipikal Asia Tenggara, yang akhirnya kuketahui bahwa dia berasal dari Malaysia. Darahnya boleh murni Melayu, tetapi dia menyandang status kewarganegaraan Amerika Serikat.

Kami dipertemukan di Jerman. Lebih tepatnya di Heidelberg, di kota di mana universitas tertua di Jerman berdiri. Saat itu adalah minggu kedua aku berpuasa selama 20 jam. Terima kasih, musim panas Jerman.

Sore itu, seluruh penerima beasiswa menikmati makan malam (dan matahari masih terang benderang) di sebuah restoran lokal terkenal yang di-reserve khusus untuk acara kami, ratusan mahasiswa dari Amerika.

Seseorang mendekatiku dan bertanya, “Are you fasting?”

Continue reading “Selamat!”

Titan Is Now on Radio!

Quantum leap, begitu pikirku. Semua diawali dengan wawancara program Berburu Beasiswa sekitar 2 bulan yang lalu oleh SS (Sobat Siar) Astari dari Jepang, di Radio PPI Dunia. Berbekal pengalaman minimum soal public speaking, tawaran itu kuiyakan.

Sebelumnya, aku pernah juga menjadi narasumber di Seminar Indonesia Mengglobal di @america, yang bisa kalian saksikan di sini. Bisa kalian lihat dengan jelas, betapa kaku dan tidak luwesnya aku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Setelah dari acara itu, rasa menyesal tetap mengendap di dasar hati, dan aku berjanji pada diri sendiri, kalau ada kesempatan sharing dengan khalayak luas seperti itu lagi, tak akan kusia-siakan.

Aku tahu, pengalaman kurang maksimal bersama Indonesia Mengglobal itu 75%-nya muncul dari ketidaksiapanku. Aku tidak tahu apa saja hal-hal penting yang harus kusampaikan, pesan apa yang aku ingin audiens ingat setelah pulang, dan sebagainya.

Keeping that at the back of my mind saat persiapan untuk wawancara di Radio PPI Dunia, aku mempersiapkan sebisa mungkin. Aku sengaja bangun lebih pagi (siarannya waktu itu pukul 10:00 waktu Boston, atau 21:00 Waktu Indonesia Barat), dan siap-siap supaya kepalaku tidak berpikir macam-macam, atau perutku tidak kelaparan.

It went well. Rasanya senang sekali ‘melihat’ antusiasme teman-teman yang mendengarkan cerita hidupku yang mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Bahkan, aku mendapat beberapa kenalan baru.

Apa aku harus mencoba menjadi penyiar di radio ini supaya aku bisa ‘melatih’ kemampuan public speaking-ku, yang mana, sangat susah kulatih?

Continue reading “Titan Is Now on Radio!”

The Man in the High Castle

Salah satu keuntungan memiliki .edu e-mail, tentu saja adalah langganan Amazon Prime sebagai student gratis selama 6 bulan. Baru-baru ini, Amazon Prime juga menambah fitur bagi para penggunanya: kini kita bisa mengakses beberapa film dan TV shows secara gratis, sebagai anggota Amazon Prime. Bahkan, menyaingi Netflix, YouTube Red, dan televisi konvensional, Amazon juga merilis TV shows mereka sendiri.

Salah satunya, adalah The Man in the High Castle.

Diangkat dari novel yang ditulis Philip Dick, yang dipublikasikan pertama kali tahun 1963, TMIHC (The Man in the High Castle) bercerita tentang dunia distopis, di mana Jepang dan Jerman memenangkan Perang Dunia II. Amerika pun terbagi dua: east coast yang lebih dekat ke Eropa dikuasai Jerman, sedangkan west coast yang lebih dekat ke Asia dikuasai Jepang.

Satu hal yang sangat mencolok: bendera Amerika Serikat dengan swastikanya, terlihat di mana-mana di TMIHC. Dan tentu saja, bumbu cinta segitiga antara satu wanita dengan dua pria dengan latar belakang berbeda: yang satu punya kedudukan di Partai Nazi, yang lainnya masih berdarah Yahudi. Ah.

Continue reading “The Man in the High Castle”

Pemilu AS dan Terpilihnya Trump: Apakah Relevan dengan Indonesia?

Ditemani secangkir Milo dan pikiran yang tidak bisa kufokuskan untuk ujian hari Kamis ini, malam kemarin mataku tak bisa beranjak dari komputerku. Beberapa jendela terbuka: pojok kanan atas menampilkan YouTube live tentang penghitungan suara, pojok kiri atas menampilkan bar perolehan suara dari masing-masing kandidat, dan bagian bawah penuh dengan chatbox obrolanku dengan teman-temanku, baik di Indonesia, maupun teman di sini.

Jujur, aku masih tak mengira, hasilnya akan seperti ini. Trump terpilih sebagai presiden negeri adidaya ini. Kampusku berada di Massachusetts, adalah basis Partai Demokrat, pengusung capres Hillary Clinton. Hari ini, saat aku melewati lorong-lorong kampus, dan berpapasan dengan banyak mahasiswa, aku sadar bahwa ada rasa sedih yang tergambar jelas di wajah mereka. Ada yang mengenakan bendera Amerika Serikat sebagai jubah, dan obrolan tentang hasil Pemilu terdengar di mana-mana.

Bahkan, kampusku secara impromptu, berkumpul di Lobby 7. Kertas-kertas putih kosong ditempelkan di kolom-kolom yang menopang MIT Dome, dan siapapun yang ingin berbagi soal perasaan mereka tentang Pemilu kali ini, dipersilakan menuliskannya. Bahkan sore tadi, semakin banyak orang yang berkumpul di Lobby 7, dan ada pula grup mahasiswa yang menyanyikan hymne-hymne kecil.

2016-11-09-14-19-26
Share your hopes, share your fears. Begitu tema di tiap poster.

Sebagai kampus yang mahasiswanya beragam, dan cukup liberal, beginilah cara kami ‘berdemo’ atas hasil Pemilu. Beginilah cara kami protes, yaitu dengan berkumpul bersama komunitas dan mendiskusikannya.

Jelas, hasil Pemilu yang mengejutkan ini memiliki efek yang susah diperkirakan bagi orang-orang yang tinggal atau memiliki hubungan dengan Amerika Serikat. Lalu, adakah hubungannya dengan Indonesia?

Continue reading “Pemilu AS dan Terpilihnya Trump: Apakah Relevan dengan Indonesia?”