Titan Is Now on Radio!

Quantum leap, begitu pikirku. Semua diawali dengan wawancara program Berburu Beasiswa sekitar 2 bulan yang lalu oleh SS (Sobat Siar) Astari dari Jepang, di Radio PPI Dunia. Berbekal pengalaman minimum soal public speaking, tawaran itu kuiyakan.

Sebelumnya, aku pernah juga menjadi narasumber di Seminar Indonesia Mengglobal di @america, yang bisa kalian saksikan di sini. Bisa kalian lihat dengan jelas, betapa kaku dan tidak luwesnya aku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Setelah dari acara itu, rasa menyesal tetap mengendap di dasar hati, dan aku berjanji pada diri sendiri, kalau ada kesempatan sharing dengan khalayak luas seperti itu lagi, tak akan kusia-siakan.

Aku tahu, pengalaman kurang maksimal bersama Indonesia Mengglobal itu 75%-nya muncul dari ketidaksiapanku. Aku tidak tahu apa saja hal-hal penting yang harus kusampaikan, pesan apa yang aku ingin audiens ingat setelah pulang, dan sebagainya.

Keeping that at the back of my mind saat persiapan untuk wawancara di Radio PPI Dunia, aku mempersiapkan sebisa mungkin. Aku sengaja bangun lebih pagi (siarannya waktu itu pukul 10:00 waktu Boston, atau 21:00 Waktu Indonesia Barat), dan siap-siap supaya kepalaku tidak berpikir macam-macam, atau perutku tidak kelaparan.

It went well. Rasanya senang sekali ‘melihat’ antusiasme teman-teman yang mendengarkan cerita hidupku yang mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Bahkan, aku mendapat beberapa kenalan baru.

Apa aku harus mencoba menjadi penyiar di radio ini supaya aku bisa ‘melatih’ kemampuan public speaking-ku, yang mana, sangat susah kulatih?

Continue reading “Titan Is Now on Radio!”

The Man in the High Castle

Salah satu keuntungan memiliki .edu e-mail, tentu saja adalah langganan Amazon Prime sebagai student gratis selama 6 bulan. Baru-baru ini, Amazon Prime juga menambah fitur bagi para penggunanya: kini kita bisa mengakses beberapa film dan TV shows secara gratis, sebagai anggota Amazon Prime. Bahkan, menyaingi Netflix, YouTube Red, dan televisi konvensional, Amazon juga merilis TV shows mereka sendiri.

Salah satunya, adalah The Man in the High Castle.

Diangkat dari novel yang ditulis Philip Dick, yang dipublikasikan pertama kali tahun 1963, TMIHC (The Man in the High Castle) bercerita tentang dunia distopis, di mana Jepang dan Jerman memenangkan Perang Dunia II. Amerika pun terbagi dua: east coast yang lebih dekat ke Eropa dikuasai Jerman, sedangkan west coast yang lebih dekat ke Asia dikuasai Jepang.

Satu hal yang sangat mencolok: bendera Amerika Serikat dengan swastikanya, terlihat di mana-mana di TMIHC. Dan tentu saja, bumbu cinta segitiga antara satu wanita dengan dua pria dengan latar belakang berbeda: yang satu punya kedudukan di Partai Nazi, yang lainnya masih berdarah Yahudi. Ah.

Continue reading “The Man in the High Castle”

Pemilu AS dan Terpilihnya Trump: Apakah Relevan dengan Indonesia?

Ditemani secangkir Milo dan pikiran yang tidak bisa kufokuskan untuk ujian hari Kamis ini, malam kemarin mataku tak bisa beranjak dari komputerku. Beberapa jendela terbuka: pojok kanan atas menampilkan YouTube live tentang penghitungan suara, pojok kiri atas menampilkan bar perolehan suara dari masing-masing kandidat, dan bagian bawah penuh dengan chatbox obrolanku dengan teman-temanku, baik di Indonesia, maupun teman di sini.

Jujur, aku masih tak mengira, hasilnya akan seperti ini. Trump terpilih sebagai presiden negeri adidaya ini. Kampusku berada di Massachusetts, adalah basis Partai Demokrat, pengusung capres Hillary Clinton. Hari ini, saat aku melewati lorong-lorong kampus, dan berpapasan dengan banyak mahasiswa, aku sadar bahwa ada rasa sedih yang tergambar jelas di wajah mereka. Ada yang mengenakan bendera Amerika Serikat sebagai jubah, dan obrolan tentang hasil Pemilu terdengar di mana-mana.

Bahkan, kampusku secara impromptu, berkumpul di Lobby 7. Kertas-kertas putih kosong ditempelkan di kolom-kolom yang menopang MIT Dome, dan siapapun yang ingin berbagi soal perasaan mereka tentang Pemilu kali ini, dipersilakan menuliskannya. Bahkan sore tadi, semakin banyak orang yang berkumpul di Lobby 7, dan ada pula grup mahasiswa yang menyanyikan hymne-hymne kecil.

2016-11-09-14-19-26
Share your hopes, share your fears. Begitu tema di tiap poster.

Sebagai kampus yang mahasiswanya beragam, dan cukup liberal, beginilah cara kami ‘berdemo’ atas hasil Pemilu. Beginilah cara kami protes, yaitu dengan berkumpul bersama komunitas dan mendiskusikannya.

Jelas, hasil Pemilu yang mengejutkan ini memiliki efek yang susah diperkirakan bagi orang-orang yang tinggal atau memiliki hubungan dengan Amerika Serikat. Lalu, adakah hubungannya dengan Indonesia?

Continue reading “Pemilu AS dan Terpilihnya Trump: Apakah Relevan dengan Indonesia?”

Menggeluti Hobi Baru: ‘Memasak’

Dengan tanda kutip. Betul sekali, kalian tidak salah lihat. Aku pun belum jago-jago amat, soalnya, haha.

Meskipun aku tetap melanjutkan S2-ku di kampus yang sama dengan S1-ku dulu, tidak semua hal terasa sama. Mulai dari kuliah mata kuliahnya jauh lebih sulit, hingga mulai riset beneran. Selain itu, asramaku lebih jauh dari kampus, dan tidak ada dining hall di sini. Artinya, mau tidak mau aku harus masak sendiri.

Bagaimana transisiku dari yang dulunya jarang masak, hingga sekarang yang jadi (lebih) sering masak?

Burger
Tuna burger buatanku sendiri. Burger patty-nya aku buat sendiri, lho!

Continue reading “Menggeluti Hobi Baru: ‘Memasak’”

Aku Muslim, dan Tak Ada yang Salah denganku

Aku bukan mencari simpati; aku hanya ingin bercerita. Apa yang kuterima mungkin tidak sepadan dibandingkan teman-teman lainnya di daerah lain di dunia. Mungkin wanita muslim di Perancis yang sedang berjemur di pantai dengan burkini (baju renang seluruh tubuh, tertutup) merasa lebih tersakiti, ketika dua orang polisi mendekatinya dan menyuruhnya membuka baju renangnya agar ‘tidak terlalu tertutup’ atau ‘menunjukkan simbol agama’.

Apa yang salah dengan Amerika (dan mungkin negara-negara barat lainnya, atau kalau kita extrapolate, negara-negara timur, bahkan timur tengah)?

Continue reading “Aku Muslim, dan Tak Ada yang Salah denganku”

Kota Penyihir: Salem, Massachusetts

Setelah sekian lamanya ogah-ogahan berangkat ke Salem, rata-rata karena menyalahkan tugas yang banyak, akhirnya aku berangkat ke Salem hari Sabtu kemarin. Ditambah lagi, di sana ada Festival Halloween selama bulan Oktober ini.

2016-10-15-09-07-25
Akhirnya pergi juga ke Salem!

Bagi yang penasaran ada apa di Salem, sejarahnya cukup kelam sebenarnya. Pada tahun 1692, 20 orang yang diduga melakukan sihir, akhirnya dihukum mati. 19 orang di antaranya digantung, dan 1 orang lainnya dipukul hingga mati. Mengapa sampai seperti itu?

Continue reading “Kota Penyihir: Salem, Massachusetts”