4 Pelajaran dari 2016

Selamat Tahun Baru 2017! Setelah ‘telat’ selama 12 jam dibandingkan WIB, akhirnya Boston pun juga berada di tahun yang sama, di tahun 2017.

Sebuah komentar di Instagram milikku, membangunkanku dari tidurku. Salah satu foto yang kupost dari tahun lalu berisi sketsa sederhana tentang tahun 2016.

photo_2017-01-01_19-43-09
Betul, gambarku memang kekanak-kanakan. Maafkan aku, ya! Haha.

Sudah ada berapa hal yang kucapai di tahun 2016?

Continue reading “4 Pelajaran dari 2016”

Advertisements

Selamat!

Temanku baru saja bertunangan. Rasanya sangat berbahagia, karena meskipun tidak dekat, kami bertemu dalam keadaan yang sangat menarik. Semoga Allah melancarkan hingga hari pernikahanmu 🙂

Aku masih ingat hari pertama saat kami bertemu. Wajahnya tipikal Asia Tenggara, yang akhirnya kuketahui bahwa dia berasal dari Malaysia. Darahnya boleh murni Melayu, tetapi dia menyandang status kewarganegaraan Amerika Serikat.

Kami dipertemukan di Jerman. Lebih tepatnya di Heidelberg, di kota di mana universitas tertua di Jerman berdiri. Saat itu adalah minggu kedua aku berpuasa selama 20 jam. Terima kasih, musim panas Jerman.

Sore itu, seluruh penerima beasiswa menikmati makan malam (dan matahari masih terang benderang) di sebuah restoran lokal terkenal yang di-reserve khusus untuk acara kami, ratusan mahasiswa dari Amerika.

Seseorang mendekatiku dan bertanya, “Are you fasting?”

Continue reading “Selamat!”

Washington DC: Mengapa Kamu Harus ke Sini?

Reading time: 3-4 minutes
Language: Bahasa Indonesia

Ada banyak kota yang menawan di berbagai negara di dunia: Paris, London, New York, Cape Town, Sydney, Hongkong, Tokyo. Lalu mengapa kamu harus ke Washington DC? Apa yang ditawarkan oleh kota satu ini? Bagiku, tak hanya banyak hal yang bisa dilakukan di sini yang membuatku menganjurkanmu untuk ke sini, tapi ada satu hal yang lebih penting: sejarah.

Tidakkah kamu penasaran dengan sejarah negara adidaya seperti Amerika Serikat?


The Capitol. Tempat DPR dan MPR-nya Amerika Serikat.

Sejujurnya, aku tak begitu tertarik soal sejarah, apalagi soal sejarah negara selain Indonesia. Aku sedikit tertarik dengan negara yang misterius, seperti Korea Utara misalnya, dan aku sudah menonton beberapa film dokumenter tentang hal itu. Tetapi Amerika Serikat? Aku sudah tinggal bertahun-tahun, dan aku merasa aku cukup tahu tentang negara ini dan kulturnya. Sayangnya, itu semua salah besar.

Pepatah lama yang mengatakan bahwa di balik sebuah negara yang besar, ada sejarah yang panjang itu ada benarnya. Amerika Serikat mengalami sejarah panjang, dimulai dari datangnya bangsa Eropa di tanah Amerika. Selain itu, ada juga perang kemerdekaan dari Inggris Raya, perang sipil, diskriminasi ras, diskriminasi gender, perang dunia, dan banyak lagi.

Guru IPA-ku saat SD dulu pernah bilang, kalau Indonesia ingin jadi negara yang hebat, butuh waktu. Tunggu sampai 2100 atau 2200 nanti. Puluhan tahun merdeka itu belum cukup. Pernyataan beliau ini tidak kusetujui beberapa tahun kemudian, melihat Singapura yang lebih muda tapi lebih berjaya, dengan segala keterbatasannya (energi pun mereka impor dari negara tetangga).


Dari segi tata kota, Washington DC luar biasa tertata, terutama dibandingkan Boston. Lihat saja jalanannya, semuanya serba kotak-kotak dengan lingkaran-lingkaran. Semuanya berpusat di Capitol. Selain itu, navigasi jalan pun jadi jauh lebih mudah, meskipun aku baru pertama kali ada di kota ini. 

Selain itu, lihat posisi Lincoln Memorial dengan World War Memorial, Washington Monument, National Mall, dan US Capitol. Sementara itu, White House (tempat tinggal keluarga presiden) posisinya tegak lurus dari garis tersebut. 

Yang paling kusuka dari DC: trotoarnya luas (baca: enak untuk jalan-jalan!) dan sistem transportasinya yang jauh lebih baik daripada Boston.

Stasiunnya besar, bersih, dan cantik! Selain itu sistemnya lebih baik, dan jadwal subwaynya lebih sering.

Kalau kamu sempat ke kota ini, ada beberapa hal yang harus kamu lakukan:


Washington Monument! Monumen ini dibangun untuk menghargai jasa-jasa George Washington terhadap pembangunan fondasi-fondasi negeri ini. Menariknya, monumen ini tidak dibangun sekali jadi, tetapi butuh waktu sangat lama, dan sempat terhenti beberapa tahun karena kehabisan uang.

Tingginya boleh jadi hanya setengah menara Eiffel di Paris, tetapi nilai sejarahnya bisa diadu.
Selain itu, dari atas Washington Monument, kamu bisa melihat pemandangan 360 derajat kota ini. Kabarnya, saat musim semi, pemandangannya cantik sekali, karena sebagian besar daerah di sekitar monumen ini dihiasi dengan pohon sakura. Satu waktu, Jepang pernah memberikan pohon ini sebagai hadiah pertemanan mereka dengan Amerika Serikat.
Garis lurus, Capitol bisa terlihat di seberang.
Lincoln Memorial! Datang ke sini saat malam hari karena suasananya lebih luar biasa. Aku kurang tahu, tetapi selain patung Abraham Lincoln, ada juga teks di dinding samping bangunannya.
Abraham Lincoln is watching you!
National Air and Space Museum! Museum di bawah Smithsonian Institution memiliki tiket masuk gratis, termasuk yang satu ini. Di sini aku belajar banyak soal sejarah penerbangan di Amerika Serikat, termasuk bagaimana perkembangan roket NASA, serta surat kilat lewat udara. Banyak pesawat yang ditampilkan di sini termasuk pesawat asli! Bahakan ada replika backup Apollo 11 yang dibawa ke bulan (yang tidak jadi dibawa, karena ini hanya backup).
Ukurannya ternyata tidak terlalu besar.
Natural History Museum! Bagiku, museum ini adalah salah satu natural history museum terbaik yang pernah kulihat, selain yang di London. Ingat film Night at the Museum: Battle of the Smithsonian? Setting filmnya ada di museum ini loh. Selain itu, ada juga Hope Diamond, salah satu intan terbesar di dunia.
Juga display museum yang cantik dan luar biasa.

Library of Congress! Salah satu perpustakaan terbesar di dunia ini merupakan rumah dari berbagai koleksi langka. Salah satunya adalah Giant Bible, dan Bible of Gutenberg.

Ruang bacanya pun di atas rata-rata.

National Zoo! Kebun binatang nasional ini terkenal dengan giant panda-nya. Mungkin, baru kali ini aku bisa melihat panda sedekat ini. Sayang, tempatnya kurang terawat. Apa mungkin karena winter ya, jadi banyak hewan yang tidak bisa dibiarkan di luar?

Pandanya terlihat malas sekali.

Capitol! Apakah kamu bisa membayangkan, kalau di basement dari gedung ini ada fasilitas tur yang lengkap? Datang saat jam bukanya, kemudian dapatkan tiket gratis. Turnya benar-benar lengkap, karena aku bisa masuk ke dalam gedung Capitolnya sendiri, dan melihat Statuary Hall-nya juga. Meskipun begitu, bersiaplah dengan ketatnya pemeriksaan saat masuk, kurang lebih sama dengan naik pesawat di bandara manapun di Amerika Serikat.

Statuary Hall yang penuh dengan patung-patung.

Sebenarnya masih ada banyak tempat lain yang kukunjungi, tetapi mungkin yang terpentingnya itu saja. Museum gratis di bawah Smithsonian saja totalnya ada 19 dan tersebar di seluruh Washington DC, selain itu juga ada makam tempat orang-orang penting Amerika disemayamkan, di Arlington Cemetery, yang belum sempat kukunjungi. Selain itu, ada beberapa museum privat lainnya yang harus bayar tiket masuk, tetapi benar-benar worth it.

Untuk teman-teman yang ingin mencari ilmu dengan cara yang seru, mungkin harus mencoba mengunjungi Washington DC. Selain museum kualitas top dengan biaya gratis, kotanya sungguh jaman untuk jalan kaki. Tiap sudutnya tertata rapi, dan orang-orang tidak hidup tergesa-gesa. Semoga kalian bisa mengunjungi kota ini juga, ya!

Away from London, Oxford and Stonehenge

Besides visiting London, my friend (Anne) and I were also visiting Stonehenge and Oxford over our 5-day adventure in London. First thing first: check the weather forecast when you are going to Stonehenge and if the colleges in Oxford are open. Don’t be like us: coming to Stonehenge when the it was windy and raining hard, and coming to Oxford when the colleges are closed for holiday.

Nonetheless, Stonehenge was really cool!

And I’m taller than the Stonehenge!

Oxford, just like Cambridge, is filled with scholarly atmosphere. Totally feel like a world-class university!

Bridge of Sighs, Oxford

Let’s start with Oxford. Yes, I can hear you screaming, “Wow, Oxford! Best university in the world!” Remember, MIT and Cambridge are also best universities in the world 🙂

One thing that I realize as soon as I step in the college-area of the town, this is a great place to study. The town is big enough to provide you with what you need, but it’s not as busy as London. Cambridge is also the same, but Oxford feels older and has more tradition.
I heard, that during the exam time, Oxford students still need to wear their gown, while Cambridge students no longer do it. I don’t know though, this morning I had a mock exam and the invigilator was wearing gown. Well, I guess I will figure this out during my real exam time on April-May.
I also heard, that there is one huge library in Oxford, filled with books from different ages. Even the copy of Magna Carta is stored in this library. Because their effort of preserving the book, back then, people were not allowed to read with candles on in the library, and there was not any heater during heater because of fire hazard. That was another reason, why the students back then wore gown anywhere, so they could stay in library although it was cold. 
Oxford colleges from far.
‘An education in intoxication’, the famous turf tavern where students grab some drinks.
The gate where people come out after exams. They bring red flowers to celebrate the end of the exam period. That is why you can see the flowers on details of the gate.
Christ Church College. Apparently, the dining hall in this college was the setting for Hogwarts’ dining hall on Harry Potter. We had to pay to get in, though.
Let’s move on to Stonehenge. You may have seen Stonehenge before… on your Windows XP desktop background.
Yep, this one. Taken from Knowth.com.

What is Stonehenge exactly? It was built by people on 3000 BC. There are some speculations about why this was built, and people are still not sure. Look at the diagram below.

Source: calgary.rasc.ca.

During summer solstice and winter solstice, you can see the sun is aligned with the altar stone and the heel stone. That’s why people think that Stonehenge was used as a calendar to find out about seasons, which affect their activities of farming and harvesting.

However, there’s also a circular ditch around the Stonehenge, where the archaeologists found human remnants. Therefore, people also think that Stonehenge might be a temple back then, where sick people are being healed.

Stonehenge, now.
Nonetheless, Stonehenge was a witness of change in ages. This area was also used as a military camp during World War, and this caused some parts of Stonehenge destroyed. Back then, people were also allowed to walk into the inner circle, but some irresponsible people decided to draw some graffiti on the stones. Therefore, the inner circle cannot be accessed now. 
However, there is a cool exhibition near the visitors center.
The approximate method of how the stones were brought there.
I don’t think I was strong enough. Photo credit: Anne.
So, how do we get to Oxford and Stonehenge?
There is a direct train every hour to Oxford from London Paddington Station. It takes about one hour. Oxford itself, just like Cambridge, can be explored by walking.
For Stonehenge, there is also a direct train every hour to Salisbury from London Waterloo Station. After you arrive in Salisbury, you need to find the Stonehenge tour bus, where you pay for the bus ride and also the entrance ticket. When you arrive at the Stonehenge Visitor Center, you still need to hop on to another shuttle bus that will bring you to the site. Yes, Stonehenge is in the middle of nowhere. The total time you need to get from London to the site is about 2.5 hours. You also need to remember, that Stonehenge opening hours are really limited, so make sure to check it on the website first.
When I was looking at Stonehenge, I wish Indonesia would be a bit more serious to manage our tourist sites. Make them more interesting and more (international) visitor-friendly.
On a side note, this Thursday school is going to start again. Wish me luck for Lent term!

London: My New Favorite

My Indonesian high school friend (yeah, SMAN 3 Bandung!) visited me in Cambridge a week ago. She is doing a bachelor program in Germany, and she hasn’t visited England before. So, we decided to spend a week travelling together: Cambridge, Oxford, London, and Salisbury/ Stonehenge.

Man, why is London so beautiful?

Tower Bridge. It makes me galau as well, I think Thames River has a magical power.

There are just so many things to do in London, and you can hop on to a train and go to Cambridge and Oxford for less than one hour, and Stonehenge for two hours (including the shuttle bus and the train).

Besides having a great time of reminiscing the past (and gossiping about X’s new boyfriend or Y’s new girlfriend) with Anne, we also walked and visited so many places.

First thing first, London’s Chinatown is my new favorite. They have a really good Malaysian/ Singaporean restaurant called ‘Rasa Sayang’ and ChaTime. God, yes, bubble tea! However, there’s even a better one called Cuppacha. Their matcha mousse tea with tapioca pearl is just, heavenly.

The matcha mousse is the one on the left. Why don’t they have Cuppacha in Cambridge?
Rasa Sayang’s Nasi Lemak and Teh Tarik was also really good. Really, really, good.

London also has a really long story, and has witnessed different eras, kings, and how British Empire evolves. I was really fascinated by my tour guide’s explanation about the kings and queens in Britain, how unique each of them was, and how this formed what Britain is now.

Do you know how English Tea time becomes so popular? One of the kings in the past married a Portuguese princess, and the princess who became the queen of the empire brought the tea time tradition and made it really popular among the royals. Of course, if the royals are doing it, the peasants will also do it, right?

Why is British English accent is so different, and captivating? Apparently, after the use of English spreads around the world as the ‘world language’, the royals feel that they need to be distinct than the peasants. That’s how the royals started to use what is now commonly known as British accent.

I got the information above from my tour guide, by the way, haha. So, you need to see if it is correct.

Here are some iconic landmarks in London!

Trafalgar Square. There is an interesting story behind this monument. This was erected for one of war heroes that Britain has. I heard that the hero was killed in the sea, but he asked to be brought back to London. So, people used alcoholic drinks on the boat (brandy) to preserve the body.
Buckingham Palace during Guard Changing Ceremony. When the Queen is at home (at the palace), next to the UK flag, there will be a royal symbol flag as well. You can conclude that the Queen was not at home when I took this picture.
The Guard Changing Ceremony ends at St. James Palace. You can see the iconic palace guards really close!
Westminster Abbey, where the royals get married, including Prince William and Kate Middleton.
London’s Chinatown.
Piccadily Circus, which is really similar to New York City’s Times Square.
Baker Street Underground Station. You can see Sherlock Holmes’ giant sticker there.
The iconic Big Ben at night. Big Ben actually rings every 15 minutes, and at the exact hour it will ring the bells the same number of times as the time at that moment.
London Eye at night, as seen from Westminster Bridge.
New Year’s Fireworks, as spotted from behind the London Eye. This time, NYE Fireworks was ticketed for the first time, and it was sold out long time ago, and my friends and I didn’t get one. We sneaked in, and actually got a really good spot.

And in case you wanna see how it actually was, you can see the video below. Once again, I took it with my phone camera, so it’s not in a superb quality.

Hyde Park. I think it’s my new favorite park in the world. Really huge, and it’s got a nice lake in the middle.
Borough Market: a must visit if you love culinary. They have fresh fruits and veggies, as well as bread, cheese, meat, among various things. This stall, called Bread Ahead, has a particularly good doughnut. So creamy.

That was a quick recap of things to do in London. It was also my first time Airbnb-ing, and it was a really positive experience. Our host was really nice, and the room was really neat as well. It was located at the center of London, so we could easily take the Tube/ go to Underground Station (Boston lingo: Subway, the T) and explore the city.

I think, the next time I visit London, I should go to the museums (including the free ones, in Trafalgar Square), and learns deeper about this country long history.

Maybe next time, I should not be too galau when I walk down Thames, though.

Or maybe, just don’t pay attention to the couples around you.
Thanks for such a great trip, Anne!

Coming up: what is in Oxford and Stonehenge, so stay tune. Also, here is to start a new year, a song by the Buckingham Palace Guards Band. I recorded it using my phone, so I’m sorry if it’s not really clear.

Independent Activities Period 2014!

Ini bulan Januari. Ada apa di bulan ini? Di kampusku ada winter term yang berlangsung selama sebulan, alias IAP (Independent Activities Period)! Setelah IAP tahun lalu belajar bahasa pemograman Python, kerja sambilan, dan belajar anggar, tahun ini aku mencoba hal yang berbeda. Tahun ini, aku tetap kerja sambilan (seperti biasa), lalu belajar menggunakan mesin mill dan lathe (kalau kamu anak Teknik Mesin, kamu pasti mengerti), ikut training untuk mendapatkan internship musim panas ini, dan belajar masak chocolate truffles dengan satu-satunya MIT Lab for Chocolate Science (yes, this does exist!).

Apa itu mesin mill dan lathe? Kedua mesin ini adalah sentral mesin untuk membuat sesuatu dari metal. Untuk bekerja dengan mill, stock-nya bentuknya terserah, boleh permukaannya persegi, persegi panjang, atau lingkaran. Dengan drill yang bergerak hingga 1200 rpm, kita membentuk stock tersebut. Sedangkan lathe itu, stock-nya biasanya silinder, dan yang berputar adalah stock-nya, bukan drill-nya. Kalau dari jauh, mill itu mesinnya tinggi besar, sedangkan lathe lebih ramping memanjang.

Apa yang kubuat dengan kedua mesin ini? Foto ini diambil dari Twitter-nya MIT Pappalardo Lab.

Senter tanpa kabel dari alumunium stock!

Walaupun terlihat simpel dan mudah, dibutuhkan waktu sekitar 2,5 hari untuk menyelesaikan semua bagian senter ini. Lama? Mungkin karena semua mahasiswa yang mengambil kelas ini belum pernah menggunakan mill dan lathe sebelumnya, hehe. Senter ini kecil, mudah dibawa, dan muat di saku celana. Jadi, kalau mati lampu, senter ini bisa membantuku.

Selain mengambil kelas 2.670 Mechanical Engineering Tools ini, aku juga mengambil training selama seminggu untuk mendapatkan magang musim panas ini, namanya UPOP (Undergraduate Practice Opportunities Program). Magang bukan suatu syarat kelulusan di sini, tetapi apalagi yang ingin kamu lakukan selama 3 bulan libur musim panas selain mendapatkan pengalaman baru di tempat -yang mungkin akan menjadi tempat kerjamu nanti?

Sebagian silabus UPOP, berlangsung selama setahun penuh, dengan puncak trainingnya saat IAP.

Di UPOP ini, kami mendapat training tentang bagaimana berinteraksi di dunia professional. Contohnya, pernahkah kamu bingung bagaimana cara berpakaian saat kamu menghadapi wawancara magang/ kerja? Atau, pernahkah kamu bingung bagaimana cara menulis CV atau memberikan presentasi? Atau, bagaimana menginisiasi interaksi dengan perekrut di dunia kerja? Training yang satu ini benar-benar mempersiapkan kami untuk menghadapi semua hal ini. Selain itu juga, aku berkenalan dengan mentor-mentor yang sudah sukses di dunia industri, atau start-up mereka sendiri. Mereka luar biasa: tak hanya mendonasikan dana untuk keberlangsungan kampusku, tetapi juga membagikan resep-resep dan rahasia-rahasia sukses mereka.

Di akhir team training camp saat IAP ini, UPOP juga mengundang 100+ perusahaan di mana kita bisa mencari jaringan (‘networking‘) dan mencari info tentang magang musim panas secara langsung. Luar biasanya, tak hanya Google, Facebook, Akamai, yang ikut serta, tetapi juga berbagai perusahaan konsultan, kopi (kamu tahu inovasi Keurig? Aku sempat berbicara dengan product developer-nya secara langsung!), otomotif, minyak, alat-alat rumah tangga, hingga rekanan NASA seperti Orbital Sciences, atau rekanan departemen pertahanan dan militer AS, yaitu MIT Lincoln Lab.

Aku? Doakan saja, ya, supaya musim panas ini aku dapat tempat magang yang luar biasa, hehe.

Setelah UPOP, kemarin selama sehari, aku dan teman sekamarku, Katie, belajar membuat chocolate truffles, permen coklat yang cantik-cantik dan meleleh begitu digigit.

Boleh kelihatan jelek, maklum pertama kali membuat ini, tetapi rasanya luar biasa, kok!

Ada banyak rasa yang disediakan, mulai dari vanilla, raspberry, peppermint, lemon, jeruk, hingga wasabi (aku pernah mencoba coklat wasabi sebelumnya, rasanya luar biasa!). Sayang sekali, sebagian besar ekstrak perasa yang digunakan disimpan dalam media alkohol. Tak tanggung-tanggung alkoholnya berkisar antar 20%-70%.

“Alkoholnya akan menguap begitu kamu memasaknya, kok!”

Belum tentu, juga. Kata Wikipedia sih, alkohol menguap di suhu 73 derajat Celcius, sementara saat membuat cokelat, pan-nya tidak boleh terlalu panas. Kata instrukturnya sih, tidak boleh sampai terlalu panas untuk dipegang. Lagipula, menguap atau tidak, alkohol itu haram.

Karena itu, aku memutuskan untuk membuat truffles rasa teh hijau! Setelah suhu whipped cream untuk ganache-nya hangat, masukkan teh hijau secukupnya, kira-kira 1 teabag. Lalu tunggu hingga rasanya menguat, dan saring tehnya. Kemudian masukkan coklatnya. Lalu didinginkan hingga mengeras. Setelah mengeras, dibentuk bola-bola, lalu dicelupkan ke dalam coklat leleh.

Walaupun rasa teh hijaunya kurang kuat, dark chocolate truffles buatanku ini rasanya enak loh. Tidak percaya?

Kemarin malam, aku pergi ke keluarga temannya keluarga Katie untuk makan malam. Keluarga kecil ini, benar-benar luar biasa. Tidak hanya karena mereka memuji truffles yang aku dan Katie buat (haha!), tetapi juga karena keluarga satu ini sangat supportif. Baru kali ini aku diundang sebuah keluarga Yahudi untuk makan malam. Mereka ternyata mempunyai ritual sebelum makan di malam Sabtu. Selain menyalakan lilin (yang mirip menorah) lalu memanjatkan doa, mereka juga menyuil sepotong roti bergiliran, dan menuangkan jus anggur. Anak mereka satu-satunya, benar-benar pintar. Dia bertanya, “Apakah apa yang dirasakan indra pengecap seseorang sama dengan orang lain (proses kimianya, red), atau hanya persepsinya yang berbeda?” Wow. Aku tak pernah terpikir sejauh itu.

Selain itu, setelah makan malam, dengan teh apel yang hangat, kami semua bermain Bananagrams! Apa itu Bananagrams?

Foto diambil dari sini. Apakah Bananagrams terinspirasi dari kata ‘anagram’? 

Bananagrams adalah permainan kata, semacam Scrabbles, di mana kamu harus menyusun kata secara acak dari huruf-huruf yang diberikan. Bedanya adalah, tiap orang menyusun ‘bangunan’ kata-kata mereka masing-masing. Pemenangnya adalah mereka yang berhasil menyusun ‘bangunan kata’ dengan seluruh potongan huruf. Benar-benar menantang dan menguras otak, apalagi untuk aku yang bahasa pertamanya bukan Bahasa Inggris, hehe.

Aku jadi berpikir, jika sebagian besar kegiatan keluarga di Indonesia saat/ sesudah makan malam adalah bermain permainan semacam ini, bukan menyalakan televisi, apakah kita sudah menyalip negeri-negeri adidaya dari dulu?

Last but not least, teman-temanku juga maraton Star Wars saat IAP ini. Aku, memang belum pernah menonton Star Wars sebelumnya. Ternyata luar biasa, ya, ceritanya. Asyik sekali. Minggu lalu, kami sudah menonton Star Wars 4 dan 5, lalu malam ini kami akan menonton Star Wars 6. Jika kamu belum menonton film satu ini, kamu harus coba!

Sampai nanti, teman-teman. Semoga mereka yang masih berlibur (seperti aku), bisa menyegarkan pikirannya. Bagi mereka yang sudah masuk kuliah/ sekolah, semangat semester barunya!

Tahun Baru? Buku Baru!

From the top of my dorm: 200 degree-view. Pagi pertama 2014.

Pagi. Samar-samar aku teringat semalam kemarin: bersama kedua temanku, satu anak pertukaran pelajar -sama-sama dari Cimahi, dan satu lagi anak pertukaran pelajar dari Kirgizstan, kami berkeliling Boston. Mulai dari melihat kembang api di Boston Common, menonton berbagai pertunjukkan -dari stand up comedy hingga film pendek, dari konser band hingga puppet dan marionette, di Hynes Convention Center, lalu melihat detik pergantian tahun di dengan kembang api (lagi) di Boston Harbor.


Fiuh.

Bagiku sendiri, kemarin malam adalah kali pertama melihat kembang api dari dekat, live. Biasanya kalau tidak dari televisi ya dari balkon rumah. Luar biasa, ya, ternyata. Dua kali sepuluh menit, aku hanya memandang ke langit, melihat tarian kembang api-kembang api tersebut.

//instagram.com/p/iomTuYvAnK/embed/
Yang lebih luar biasanya lagi, adalah cara Boston menangani malam pergantian tahun ini. Subway dan bus digratiskan mulai pukul 8 malam hingga 2 dini hari, semata-mata agar penduduk memilih menggunakan transportasi publik daripada mobil pribadi. Program ini sukses besar, jalanan tidak terlalu macet (kecuali mungkin di Boylston St., jantung perayaan di Kota Boston), serta terlihat banyak orang yang berjalan. Salutnya lagi, meskipun suhu di luar sekitar negatif lima derajat, orang-orang masih bersemangat.

Oh, ternyata, begini semangat orang-orang di sini menghadapi tahun baru.

Bagiku sendiri, kalau kedua teman pertukaran pelajarku ini tidak mengajak, aku tentu saja memilih untuk tidur. Bagiku, tahun baru tak ada bedanya dengan tahun sebelumnya. Hanya siklus, penanda. Agar orang-orang mempunyai energi baru dari sebuah konsep ‘siklus yang baru’. Padahal, tahun baru tidak menandakan segala sesuatunya baru. Semua yang ada di tahun ini, tentu saja banyak yang merupakan ‘buah’ dari hal yang ditanam tahun lalu.

Setidaknya, untuk kebanyakan orang, ini adalah momentum untuk berbuat lebih baik lagi. Berusaha lebih keras lagi. Bahagia lebih sering lagi.

***

Honestly, in the past few days, I’ve been working. My part-time job becomes my full-time job these days. Nine to five. With a little lunch break in between (which is only enough to catch Zuhr and Asr prayers, so I end up taking my lunch while scanning the documents, or indexing bundles). I sometimes wonder, apakah saya akan ‘kerasan’ kalau saya harus kerja kantoran seperti ini di masa depan? Baru dua minggu, dan rasanya seperti membelit diri saya sendiri.

Untunglah, ada beberapa hari di mana saya bisa pergi melepas penat sejenak di Boston. Kemarin saya sempat ke Barnes & Noble, dan saya melihat buku di bawah ini.

DIY book. Buku yang kamu isi sendiri. Semacam diari terstruktur.

Waktu itu sempat benar-benar ingin membeli buku satu ini, tetapi di tangan saya sudah ada dua buku lainnya. Buku di Amerika Serikat relatif lebih mahal dari di Indonesia, dan kedua buku di tangan saya saat itu sudah total $30 lebih sedikit. Mungkin lain kali, lagipula ‘kan kamu punya diari sendiri.

Tetapi, rasanya buku ini masih menarik. Serinya pun ada bermacam-macam, mulai dari yang bisa kamu isi bersama temanmu (dengan pertanyaan seperti, “Bagaimana kamu bertemu temanmu?” atau, “10 tempat hangout yang paling sering kamu dan temanmu kunjungi bersama.”), hingga bersama Ibumu, atau travel listography-mu sendiri. Setelah penuh, tentu saja kamu bisa berikan ke temanmu, Ibumu, atau bisa kamu baca di kemudian hari (Hei, bukankah menyenangkan melihat diari/ blog post lamamu?).

Mungkin kalau saya mampir ke toko buku lagi, akan saya beli buku satu ini.

Mumpung. Semangat tahun baru itu tak boleh disia-siakan bukan?

Termasuk kemampuan saya untuk lebih banyak membaca buku tahun ini. Juga teman saya.

“Tan, urang terlalu banyak lihat medsos (media sosial, red) tahun lalu. Ingin lebih sering baca buku tahun ini. Ada rekomendasi?”

Banyak, sebenarnya. Belakangan ini, saya sering menggunakan Scoop/ Wayangforce untuk membeli buku-buku elektronik yang nge-hits, atau majalah dan koran di Indonesia menggunakan Paypal. Aman, cepat, mudah. Bulan September lalu, saya membeli edisi khusus 50 tahun Intisari lewat Wayangforce, dan benar-benar memuaskan. Untuk koleksi dari PT. GPU sendiri, lebih lengkap di Scoop. Sayangnya, spektrum bukunya terbatas, lebih banyak fiksi, majalah, dan koran. Mungkin di masa depan akan lebih luas lagi. Mulai dari 99 Cahaya di Langit Eropa, hingga Arswendo Atmowiloto. Selain itu, buku-buku GPU pun sudah tersedia di Amazon sekarang, jadi lebih gampang lagi.

Untuk buku luar sendiri, saya masih penasaran dengan “The Circle”-nya Dave Eggers, menceritakan bagaimana seseorang yang mapan, dan bekerja di sebuah perusahaan internet besar bernama the Circle di California, dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Semacam “Brave New World” modern, buku karangan Aldous Huxley yang mempertanyakan batas-batas manusia dan modernitas (by the way, kamu juga harus baca “Brave New World”, banyak hidden message tentang hal satu ini). Hal yang menarik, sebagian besar orang akan mengasosiasikan the Circle dengan Google, karena setting-nya benar-benar pas sekali. Pop, modern. Rasa-rasanya, mungkin dalam waktu yang singkat, urgensi masalah-masalah yang ada di buku ini akan menjadi nyata.

Mungkin kalau saya gajian nanti, saya bisa membeli buku satu ini.

Atau ada yang ingin memberikan saya hadiah buku satu ini?

Selain itu, ternyata, ada juga buku-buku yang bisa diunduh dengan gratis di Google Play (mungkin yang satu ini tergantung regional dan negara juga), dan juga legal. Buku-buku klasik seperti Sherlock Holmes, The Wonderful Wizard of Oz, Romeo and Juliet, dan lain-lain, patut kamu coba.

Seperti kata teman saya di atas, tahun ini saya harus bisa membatasi media sosial yang semakin adiktif, dan membuat pikiran dangkal serta hati tak tenang. Lebih baik membaca buku, bukan?

Kalau kamu, apa yang ingin kamu lakukan tahun ini?