Pemilu AS dan Terpilihnya Trump: Apakah Relevan dengan Indonesia?

Ditemani secangkir Milo dan pikiran yang tidak bisa kufokuskan untuk ujian hari Kamis ini, malam kemarin mataku tak bisa beranjak dari komputerku. Beberapa jendela terbuka: pojok kanan atas menampilkan YouTube live tentang penghitungan suara, pojok kiri atas menampilkan bar perolehan suara dari masing-masing kandidat, dan bagian bawah penuh dengan chatbox obrolanku dengan teman-temanku, baik di Indonesia, maupun teman di sini.

Jujur, aku masih tak mengira, hasilnya akan seperti ini. Trump terpilih sebagai presiden negeri adidaya ini. Kampusku berada di Massachusetts, adalah basis Partai Demokrat, pengusung capres Hillary Clinton. Hari ini, saat aku melewati lorong-lorong kampus, dan berpapasan dengan banyak mahasiswa, aku sadar bahwa ada rasa sedih yang tergambar jelas di wajah mereka. Ada yang mengenakan bendera Amerika Serikat sebagai jubah, dan obrolan tentang hasil Pemilu terdengar di mana-mana.

Bahkan, kampusku secara impromptu, berkumpul di Lobby 7. Kertas-kertas putih kosong ditempelkan di kolom-kolom yang menopang MIT Dome, dan siapapun yang ingin berbagi soal perasaan mereka tentang Pemilu kali ini, dipersilakan menuliskannya. Bahkan sore tadi, semakin banyak orang yang berkumpul di Lobby 7, dan ada pula grup mahasiswa yang menyanyikan hymne-hymne kecil.

2016-11-09-14-19-26
Share your hopes, share your fears. Begitu tema di tiap poster.

Sebagai kampus yang mahasiswanya beragam, dan cukup liberal, beginilah cara kami ‘berdemo’ atas hasil Pemilu. Beginilah cara kami protes, yaitu dengan berkumpul bersama komunitas dan mendiskusikannya.

Jelas, hasil Pemilu yang mengejutkan ini memiliki efek yang susah diperkirakan bagi orang-orang yang tinggal atau memiliki hubungan dengan Amerika Serikat. Lalu, adakah hubungannya dengan Indonesia?

Continue reading “Pemilu AS dan Terpilihnya Trump: Apakah Relevan dengan Indonesia?”

Aku Muslim, dan Tak Ada yang Salah denganku

Aku bukan mencari simpati; aku hanya ingin bercerita. Apa yang kuterima mungkin tidak sepadan dibandingkan teman-teman lainnya di daerah lain di dunia. Mungkin wanita muslim di Perancis yang sedang berjemur di pantai dengan burkini (baju renang seluruh tubuh, tertutup) merasa lebih tersakiti, ketika dua orang polisi mendekatinya dan menyuruhnya membuka baju renangnya agar ‘tidak terlalu tertutup’ atau ‘menunjukkan simbol agama’.

Apa yang salah dengan Amerika (dan mungkin negara-negara barat lainnya, atau kalau kita extrapolate, negara-negara timur, bahkan timur tengah)?

Continue reading “Aku Muslim, dan Tak Ada yang Salah denganku”

Semester Terakhir dan Pilihan yang Banyak

Reading time: 2-3 minutes

Language: Bahasa Indonesia

Halo, semuanya! Apa kabar? Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan dan kelancaran untuk semua urusanmu, ya.

Kali ini, aku ingin bercerita sedikit soal semester terakhirku di MIT, termasuk apa saja kegiatanku belakangan ini. Sebenarnya, aku hanya butuh dua kelas untuk wisuda (tidak ada skripsi, karena semester lalu aku sudah selesai mengerjakan final project-ku), tetapi untuk mempertahankan status F-1 visa holder (student visa), aku harus registrasi full time, minimal tiga kelas. Lagipula, terlalu banyak kelas yang masih ingin aku ambil, yang tidak sempat kuambil di tahun sebelumnya!

Kurang lebih jadwalku seperti ini.

Mungkin jadwal di atas tidak terlihat sibuk, karena banyak jam-jam kosong, bukan? Hehe. Padahal, di situ belum kumasukkan jadwal makan pagi, makan siang, makan malam, dan tidur siang. Selain itu, aku masih melanjutkan risetku di Urban Risk Lab, yang kulakukan sejak winter term kemarin, dan juga beberapa waktu untuk mengerjakan project-ku di kelas lain.

Ada empat kelas yang kuambil: 18.06 Linear Algebra, ESD.174 Energy Technology and Policy, 2.651 D-Lab: Energy, dan 21M.292 Music of Indonesia. Yup, betul sekali, MIT punya kelas tentang musik Indonesia!

Silabus kelasnya. Bisa kamu lihat, ada satu kelas tentang dangdut dan musik pop Indonesia.

Meskipun background Prof. Tilley adalah gamelan Bali, beliau juga memberikan variasi materi di akhir semester, seperti kroncong, jaipongan, bahkan dangdut, dan underground music. Aku terperangah sendiri saat belajar musik gamelan, karena begitu banyak hal yang aku tidak ketahui tentang kultur Indonesia.

Selain itu, aku juga mengambil kelas D-Lab: Energy. Di kelas ini, kami belajar mendesain suatu produk untuk memenuhi kebutuhan klien di developing country. Kali ini, aku mengambil bagian di tim yang mengerjakan desain mesin untuk mengeringkan bee pollen di Kolombia. Rencananya, insya Allah, aku akan ke Kolombia akhir Maret nanti untuk mengetes prototipe mesin buatan tim kami. Doakan semoga lancar, ya!


Insya Allah juga, jika semuanya lancar, aku akan pergi ke Swedia awal Mei, untuk study trip ke Gothenburg. Kemarin aku, alhamdulillah, menang Chalmers Global Challenge yang diadakan Chalmers University of Technology. Hadiahnya? Study trip ke Gothenburg, Swedia, selama satu minggu. Karena itu, mungkin aku harus bolos kuliah, haha. Tetapi, kapan lagi ada kesempatan seperti ini? Doakan supaya segala sesuatunya lancar, ya, karena sekarang aku sedang dalam proses membuat visa. Oh ya, untuk teman-teman yang sudah kuliah tingkat tiga ke atas, atau baru mulai kerja, mungkin bisa dicoba juga ikut kompetisinya, cukup mudah, kok. Aplikasinya masih dibuka, dan tiga orang pemenang akan pergi ke Swedia juga dengan waktu yang sama denganku. Kita ketemu di sana, ya, hehe.

Alhamdulillah, pergi ke Swedia pertama kalinya!

Satu lagi, untuk musim panas ini, aku berencana pergi ke Singapura untuk research internship di SUTD (Singapore University of Technology and Design), di bawah Prof. Erik. Salah satu bidang riset Prof. Erik adalah kendaraan ramah lingkungan untuk developing countries, yang cukup murah seperti motor, tetapi lebih ramah lingkungan. Jika kalian ada di Singapura sekitar bulan Juni-Agustus, kabari saya, ya, hehe. Kita bisa ketemu dan ngopi-ngopi bareng, mungkin.

Jadi belakangan ini, selain sibuk mengurus ini-itu, paperwork untuk visa, imunisasi untuk berbagai negara, dan juga mengerjakan riset dan kelas, aku juga mulai mendengar beberapa kabar dari graduate schools, di mana aku mendaftar akhir semester lalu. Sejauh ini, alhamdulillah, ada banyak kabar baik. Hanya saja, sangat sulit memutuskan karena keadaan funding yang rumit, dan juga topik riset yang semuanya sangat-sangat menarik. Setelah saya memutuskan, nanti aku kabari, ya. Mungkin juga, nanti aku akan menulis satu post lengkap mengenai proses aplikasi graduate school, karena banyak dari kalian ingin sekali meneruskan S2 dan S3 ke Amerika Serikat atau Inggris 🙂

Until then, wish me luck. Semoga semester ini berjalan lanacar, aamiin.

Perkenalkan, Namanya Semi

Namanya Semi. Dia hanya datang sekitar tiga bulan dalam setahun, sisanya dia pergi ke tempat yang lebih menerimanya, nomaden antara utara dan selatan. Di pusat khatulistiwa, dirinya tidak dikehendaki, dan kondisinya tidak memadai baginya untuk tinggal. Lagipula, pusat dikuasai oleh raja dari segala raja: musim panas yang sedang.

Namanya Semi. Saat dia tiba dan bertiup di suatu tempat, ruh-ruh di bunga-bunga kecil yang hanya bisa bersembunyi di dalam tanah saat Dingin datang saja terbangunkan, apalagi di pepohonan yang berani meranggaskan seluruh daun-daunnya.

Katanya, ‘Semi sudah tiba. Kalian aman dari Dingin sekarang. Tumbuh dan berkembanglah,’ lalu serentak daun-daun kecil berebutan keluar dari tangkai pohon, dan kuncup bunga berdesak-desakkan mengambil tempat hingga waktunya tiba untuk merekah.

Tetapi mereka masih bergerombol dekat-dekat, takut Dingin tiba-tiba muncul lagi, mungkin.

Kali ini, Semi telah tiba di sebuah kota kecil di Inggris bernama Cambridge. Semi memang mulai rajin mengunjungi tempat ini, tetapi Matahari kadang enggan menemaninya. Tanpa Matahari, Semi yang selalu dibantu temannya bernama Angin, sering membuat penghuni kota ini terkecoh kalau mereka masih didatangi Dingin. Semi sebenarnya hanya berniat baik, maksudnya membawa Angin adalah agar Angin membantunya menyebarkan biji-biji kecil pepohonan, atau menempelkan benang sari pada putik.

Kedatangan Matahari memang selalu dihalangi oleh Awan; keduanya adalah penguasa sebuah daerah bernama Langit. Jika Matahari datang dengan perkasa, Awan terpaksa harus menyingkir. Saat itu, Langit akan terlihat biru. Tetapi, Awan selalu berusaha sekuat tenaga agar kehadirannya tidak terhalang. Apalagi di kota Cambridge ini, Awan sepertinya sahabat baik tempat ini.

Setelah bunga-bunga merekah, pepohonan mulai menghijau, Semi perlahan-lahan akan pergi dari tempat ini. Mungkin untuk sementara tidak muncul di mana-mana, berlibur dari pekerjaannya. Lalu, dia akan pergi menuju Selatan, seperti Australia, contohnya, dan melakukan hal yang sama.

Apakah Semi pernah lelah?

Tidak. Dia selalu muncul tiap tahun, tak peduli seberapa kuat Dingin berusaha menguasai suatu tempat dengan berkonspirasi bersama Salju. Semi akan datang dan memberi harapan.

Meskipun begitu, Semi kadang sering disalahkan manusia yang selalu bersin-bersin saat Semi datang. Mereka selalu menyalahkan Semi, meskipun yang salah sebenarnya seberapa rentan tubuh mereka akan partikel-partikel halus yang Angin coba terbangkan ke tempat baru.

Semi juga selalu berusaha menyamakan diri dengan karakteristik kotanya masing-masing. Jika di Washington DC, Semi membuat kota tersebut penuh dengan cherry blossom, tahun ini Semi membawa kejutan spesial ke Eropa. Dia membawa kawan lamanya, Gerhana, yang sudah lama tidak mampir.

Lagi-lagi Awan tidak mau kehadirannya diganggu oleh tiga sahabat lama itu: Semi, Gerhana, dan Matahari. Berjuang kuat, hingga mereka yang tinggal di kota Cambridge tak bisa melihat langsung kehadiran Gerhana.

‘Tak apa,’ pikir Semi, ‘akan tiba lagi saatnya kami bertiga datang bersamaan di tempat ini, walaupun mungkin hal tersebut tidak akan terjadi dalam waktu yang lama.’ Gerhana memang teman Semi yang paling pemalu, yang susah diajak keluar dari tempatnya bersembunyi untuk diperkenalkan pada dunia.

Awan berkata, ‘Pertemuan kalian kugagalkan di sini. Aku memang yang terkuat.’

Semi memang hanya di sini untuk sesaat, tetapi Semi memberi harapan. Sampai Panas mengetuk pintu dari kota ini, Semi akan tetap tinggal dan membuat nyaman penghuni kota Cambridge. Meskipun kadang Matahari kalah oleh Awan, bahkan Hujan.

Bahkan harapan itu lebih dari cukup bagi mereka.

Sebagai bagian dari kota ini, bolehkah aku mengucapkan selamat datang dengan pelukan hangatangan terbuka, Semi?

Aplikasi UWC Sudah Dibuka!

Halo, kawan-kawan yang luar biasa. Sudah dengar belum?

UWC Indonesia application for 2015 intake is open!

Ada banyak hal yang aku pelajari di UWC, dan merupakan salah satu pengalaman hidup yang tak akan pernah kulupakan.

UWC, adalah pre-universitas (atau setara kelas 11 dan 12 SMA) di berbagai negara di dunia. Kali ini, beasiswa parsial dan full tersedia, menyesuaikan dengan kondisi finansial keluargamu.

Tahun 2010-2012 aku bersekolah di UWC-USA, yang terletak di Montezuma, New Mexico. Dua tahun belajar, berteman dengan orang-orang dari seluruh dunia, serta mencoba hal baru, membuat mataku lebih terbuka tentang berbagai persoalan di dunia. Juga bagaimana aku ingin berkontribusi pada dunia di masa depan. Sekolah yang mengajarkan bahwa hal utopis sebenarnya bisa saja ada dan terjadi.

Karena UWC, aku menjelajah perbatasan Meksiko-Amerika Serikat dan mengenal permasalahan imigrasi di sana lebih jauh.

Perbatasan Amerika Serikat-Meksiko.

Aku juga bisa masuk televisi Meksiko untuk pertama kalinya.

Masuk televisi lokal di Meksiko? Coret!

Merasakan ekspedisi musim dingin pertama kalinya, dan merasakan bahwa banyak teman lintas negara yang rela menghangatkan tangan dan kakimu yang terkena frost-bite.

Dan pertama kalinya melihat salju setebal ini.

Bisa belajar banyak di dalam dan luar kelas.

Termasuk membuat pendant atau liontin sendiri from scratch di ekstrakurikuler Jewelry Making.
Atau merayakan Hari Raya dengan ‘keluarga’ yang berbeda, dengan teman-teman Muslim sedunia.
Kemudian mengerti bahwa ‘rumah’ ada di hatimu.
Juga belajar banyak hal tentang dirimu sendiri.
Bahwa kamu takut darah dan tidak bisa menjadi dokter, misalnya.

Menantang dirimu sendiri melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan sebelumnya.

Seperti belajar merajut dari teman dekatmu langsung.

Juga membawa persahabatan ini hingga ke jenjang universitas, bahkan lebih.

UWC Conference at Harvard University, 2013. Foto oleh Francesca A.

Jika kamu masih kelas 11, atau kenal dengan mereka yang ingin menjadi bagian dari pengalaman ini, pendaftaran untuk tahun masuk 2015 sudah dibuka, bisa dicek langsung di http://uwcindonesia.org. Bahasa Inggris bukan syarat utama (aku pergi dengan kemampuan bicara nol besar), Yang penting punya kemauan untuk belajar dan berkontribusi dalam masyarakat (dan akademis pun harus bagus, jelas).

Film tentang UWC juga baru dirilis, dan bisa dilihat di bawah ini:

//player.vimeo.com/video/114555061 The UWC Spirit (Full Documentary) from Andres Broennimann on Vimeo.
Aku sudah membahas proses aplikasinya di halaman FAQ, juga post tentang tips mendaftar. Kalau penasaran dengan pengalaman lengkapku di UWC, bisa dicek di posts dengan tag UWC ini.

Seperti biasa, jika ada pertanyaan, saran, komentar, bisa ditulis di kolom komentar di bawah ini, atau layangkan surel ke akunoortitan[at]gmail[dot]com.

Selamat liburan akhir tahun! Salam dari Cambridge!

Serupa Tapi Tak Sama

Pernah mendengar beberapa kalimat di bawah ini?

1. Jangan tanya apakah yang negara telah berikan padamu, tetapi tanya apa yang telah kamu berikan untuk negara.
2. Jangan berpikir bagaimana nanti, tapi nanti bagaimana.
Setelah pergi sana-sini bersama teman-teman selama 2 hari terakhir ini, tercetuslah sebuah pertanyaan baru di dalam angkot favoritku, Parongpong-Cimahi.
Jangan tanya untuk apa kamu hidup, tapi tanya hidup kamu bisa untuk apa.

Karena kondisi hati dan pikiran yang kadang tak menentu dan tertarik-terdorong antara lingkungan Indonesia dan Amerika Serikat, ledakan pertanyaan selalu muncul begitu saja tak bisa dibendung. Kalimat di atas adalah jawaban atas hampir semua pertanyaan yang saya pikirkan belakangan ini.
Dengan keadaan parah setelah kembali Amerika Serikat: ketidakyakinan akan keyakinan sendiri, reverse culture shock yang membuat menderita, serta krisis identitas dan rasa kritis yang tak habis-habis, mau tak mau membuatku tersiksa dan kehabisan energi. Tapi, aku menemukan jawabannya sekarang. Apa gunanya hidup, kalau tidak bisa berbuat apapun untuk hidup orang lain. Kalau lahir ke dunia hanya bisa memberatkan orang lain, lebih baik tak usah lahir ke dunia saja, kan?
Seperti biasa, saya pun untuk mendorong diri saya melakukan hal tersebut, rasanya susah luar biasa. Kalau begitu, tanya lagi, siapa saya, beraninya menyuruh orang lain untuk berbuat sesuatu sedangkan saya tak melakukan hal tersebut.
Eits, yang penting kan berusaha. Saya berusaha untuk memulai. Hal itu pun sudah cukup memaksa saya menggelinding ke arah kanan, seperti gaya gesek. Gaya gesek statis memang lebih besar dari gaya gesek kinetis, kan?
Ini juga jadi bahan pikiran saya. Mungkin di masa depan, saat saya melihat post yang satu ini, saya bisa sadar, siapa saya ini.

Mencari Jati Diri di Selasar Rajawali

Bau desinfektan menyergap hidungku, mengerutkan keningku. Sudah sekian hari, aku bolak-balik ke sini. Tapi tetap saja aku belum bisa terbiasa dengan aroma luar biasa ini.

Sementara itu, langkahku cepat tegap, menuju kamar bedah. Lampu bohlam termakan usia itu masih menyala, tanda operasi belum jua selesai. Di selasarnya, adikku duduk dan memainkan rubik yang masih belum sama rata warna di tiap sisinya, kakakku membolak-balik buku Analisis dan Desainnya, dan ayahku hanya terpekur. Di mana ibuku? Beliau sedang berjuang di dalam kamar itu.

Tanganku bermain-main. Bosan menunggu, aku menyusur selasarnya. Satu koridor ke koridor yang lain. Dari ICU, ke ICCU. Dari NICU, ke PICU (sungguh aku baru tahu istilah ini dari sana, kukira hanya ada ICU). Dari Masjid, ke kamar mayat. Dari IGD, ke ruang tunggu.


Rumah Sakit Rajawali, adalah rumah sakit pertama yang kukunjungi setelah bertahun-tahun sejak aku dirawat di Dustira, yang kutahu itu hampir 10 tahun lalu. Terpisah menjadi dua bagian di kanan kiri jalan trans Bandung-Cimahi, rumah sakit ini dihubungkan jembatan tinggi di atas jalan, yang njot-njotan saat kucoba.

Dari sini, aku benar-benar banyak belajar, apalagi setelah fase tidur-makan-sholat-main selama seminggu.

Satu

Suster mengetuk ruangan ibuku dirawat. Seperti kebanyakan suster, setelannya selalu seperti yang sedang Anda bayangkan. Membawa baskom, dan bertanya dengan medok a la Jawa, dan penekanan di beberapa titik, “Mau di-waslap sekarang, Bu?”

Untuk selanjutnya, aku keluar. Membawa buku Sudoku 1 yang kugunakan membunuh waktu, sambil mendengarkan obrolan beliau-beliau.

Mulai dari nama anak, hingga sekolah, semua tuntas terbahas. Bahkan curhatan ibu rumah tangga, hingga kesal pada atasan, semua bablas.

Dokter-dokter juga tak lebih dari orangtua dari anak-anak mereka. Bahkan presiden, ataupun orang penting sekalipun. Kadang memang susah memaklumi kriminalitas. Tapi, perut dan senyum dari orang terkasih, kadang bisa menghalalkan segalanya. Tinggal mengarahkannya saja.

Dua

Lengkingan bergaung. Ruang ICU berduka. Satu lagi yang pergi meninggalkan bumi. Ah, meninggal tak selalu di Ruang ICU kok.

Itu dia, aku sering lupa. Padahal kematian bisa jadi pecut paling sakit yang menyadarkan posisi kita. Ya namanya juga manusia, pemakluman itu biasa. Lupa juga dibilang biasa. Kalau begitu, apa gunanya otak? Itulah yang sering kukatakan pada diri sendiri. Dasar Setan, ada-ada saja.

Tiga

Hal remeh ternyata bisa jadi luar biasa. Tidak bisa disepelekan begitu saja. Contohnya, buang angin. Aku agak excited sendiri mendengar penjelasan suster tentang hal satu ini.

“Jadi dik, kalau ibunya sudah kentut, lapor ke saya, ya.”

“Memangnya kenapa, sus?”

“Kalau sudah, berarti pencernaannya sudah lancar, sudah lewat masa kritis. Jadi bisa mulai makan juga.”

“Wah.”

Picts taken from: