Prepping for Spring

After a long (and cold) wait, I can finally feel the spring breeze again. The season has officially arrived in Boston, which is marked by my oversensitive snotty nose because the pollen is everywhere!

Well, it is partly my fault for not taking my spring allergy medicine regularly. I am just trying to save as many pills as possible for future springs, because I got only a few pill strips left. I don’t buy my allergy medicine in the USA actually, because it’s much cheaper to buy the ‘generic version’ (versi obat generik) in a pharmacy in Indonesia.

For me, surviving this:

Beautiful tree!

Requires this:

Allergy medicine. It says “HET RP 4.794,-/ STRIP” which means, it costs about 40 cents USD per strip (10 pills), or 4 cents per pill!

Continue reading “Prepping for Spring”

Tax Return Drama

I am not an American by passport (as of now), nor a permanent resident (green card holder).

However, it struck me when I was filling out my tax return this year. The tax software was telling me, basically, “Hey, you’re no longer a non-resident alien*. You’re officially a resident alien* (hooray!). Fill the same tax return form as the Americans instead, girl.”

*A side note: alien means non-American and non-American green card holder. I am an alien in the US, basically.

That means, I have lived in the USA for long enough, that now I am a resident of the USA for tax purpose. Although I was away from the States between June 2014-August 2015, all the number of days have accumulated for the past 4 years. That may also mean, the tax treaty benefit between Indonesia-USA which states, an Indonesian student living in the USA funded by a scholarship/ fellowship for the first 5 years may be tax exempted, is no longer available for me.

Uh-oh, what should I do?

What should I do with all of these?

Continue reading “Tax Return Drama”

Melanjutkan S2 di Teknik Mesin MIT

Sebelumnya, aku minta maaf kalau baru sekarang aku menuliskan prosesku mendaftar S2 Teknik Mesin di MIT. Sebenarnya sudah lama ingin menulis tentang hal ini, tetapi baru seminggu terakhir ini, aku akhirnya menemukan Lab tempat aku akan melakukan riset selama setidaknya dua tahun ke depan, hehe.

Siap untuk melihat pemandangan ini langsung?
Siap untuk melihat pemandangan ini langsung?

Continue reading “Melanjutkan S2 di Teknik Mesin MIT”

Last Push: Tips for Studying

I still don’t understand how Rankine ovoid* works, and I have my fluid mechanics final on Monday. I have spent hours and hours to study, but I still cannot do the practice exam. I have gone through the problem sets three times, but I still need to think what steps I should take next to solve the problems.

Are those feelings familiar to you?

*Rankine ovoid, for those of you who are wondering.

The end of another academic year is approaching fast. Some of my friends are done with their finals, and are already home for the summer break. My school is kind of late compared to other schools, since we’ve still got one more week of finals week before summer break officially starts. 
I have told you my plan for the summer, in previous post, which I am excited about. However, this semester has not ended yet, and I still need to study a little bit more.
I sometimes feel too lazy to do anything (studying, reading, whatever), and I have come up with something that will hopefully help you preparing for your finals.
Turn a distraction into a motivation.
It works effectively for me. “If I am done studying this chapter by 3 p.m. today, I will reward myself a nice walk outside for 10 minutes.”
Small bits > big chunk.
Plan to study in small bits: “I will study about chapter A for my class B, until 1. And then I will work on my paper for 1 hour until 2, and continue studying for class B.” The sense of accomplishment that you get from doing small bits is bigger than doing the big chunk of your work. Similarly, setting up specific target for every bit of your time is also really important.
Falling asleep when you are reading your notes? Rewrite them.
Ok, this idea is not really earth-friendly (using more papers? No, no, no). But I like re-writing my notes (specific for engineering/ science courses: redoing the problem sets), and it’s a good way to refresh your memory and keep yourself awake when studying. In addition, you sometimes scribble really fast when you take notes during lectures. Aim to rewrite your notes more legibly, so you can use it later.
My beautiful handwritten notes, haha.
After you are done with your classes, or at the end of the term, compile your important notes/ test papers, and keep it. I start to scan some of my important course notes, since I know that I am going to use it in the future. Bulky notes is so immobile, and files on Dropbox are much easier to ‘carry’ around.
A glass of water, light snacks, and earphone/ ear buds always help.
You don’t want to make up excuses, “Oh, I am going to get some water first,” and then you disappear for one hour because you meet a friend on your way. No. Prepare everything you need around you. Well, except if you need a toilet break.
Turn off your internet, put away your phone/ electronic devices.
Or, you can turn them into your reward after finishing some parts of your studying session. Not during your study time, though. Again, it’s not really earth-friendly, but if there is a course material that is online, I usually just print that out to minimize distractions. In addition, actively writing and reading, and using physical papers, always help.
Hopefully this short list of studying tips will help you. Give the best last push. You have done a good job up to this point, so you only need to finish it beautifully, to make sure you won’t regret the effort you have put into this. Good luck studying! 

Wisata Kuliner Boston: Adiksi Teh Hijau

[googlemaps,-71.119006&spn=0,0&t=m&output=embed” width=”640″>
View Adiksi Teh Hijau in a larger map. Zoom out untuk melihat semua tempat.
Aku bosan dengan tujuan turis di Boston. Adakah hal lain yang lebih menarik untuk dieksplorasi?
Jika kamu pernah merasakan hal seperti itu saat kamu berada di daerah Boston dan sekitarnya dan kamu suka dengan segala makanan rasa teh hijau, ada hal menarik yang bisa kamu coba. Apakah kamu siap dengan daftar tempat wisata kuliner yang telah kukumpulkan selama dua tahun terakhir?Boston, seperti kota-kota di Amerika Serikat lainnya, tentu saja sangat multikultural. Tidak mengherankan orang-orang memberikan julukan Amerika Serikat sebagai melting pot. Mulai dari Afrika, Eropa, Asia, Timur Tengah, Amerika Selatan, semua kultur ada tempatnya di sini.Apakah kuliner yang berasal dari teh hijau hanya terdapat di Chinatown di pusat kota Boston? Tidak juga. Banyak tempat-tempat lain di sekitar Boston yang harus kamu coba. Ayo ikut tur virtualku!
Green Tea Pocky
Siapa yang tidak kenal dengan Pocky? Stik panjang renyah dengan lapisan coklat berbagai rasa ini sudah menjadi snack favorit semua orang di berbagai belahan dunia. Pocky rasa teh hijau adalah salah satu yang harus kamu coba. Tahukah kamu kalau ada dua jenis (CMIIW) Pocky teh hijau yang harus kamu coba? Yang stiknya lebih pendek dan lapisan coklat teh hijaunya lebih banyak, disebut Pocky midi. Sedangkan yang satu lagi, ukurannya normal, seperti Pocky biasa. Aku sendiri, tentu saja, lebih suka yang midi, walaupun lebih mahal sedikit, hehe. 

Yum! Foto diambil dari sini.

Pocky satu ini bisa didapatkan di C-Mart Boston, dekat Chinatown. Harganya berkisar $2-$4. Selain itu, masih di C-Mart, kamu bisa menemukan matcha bubuk (yang susah sekali dicari di Bandung), green tea candies, dan green tea cookies!
Green Tea Bubble Tea (Iya, iya, terdengar redundansinya. Maaf!)Dong Khanh Restaurant, adalah salah satu restoran Vietnam yang tak pernah sepi pengunjung di daerah Chinatown. Mereka memiliki gerai bubble tea sendiri, dengan berbagai rasa, setidaknya ada 15. Salah satunya adalah teh hijau! Jika kamu sedang tidak mood untuk minum bubble tea rasa teh hijau, rasa-rasa lainnya juga menyegarkan, termasuk durian, hehe. Harganya sekitar $3.
Green Tea Milkshake
Cafe Mami, letaknya memang cukup jauh dari pusat kota Boston, tepatnya di Porter Square. Jika kamu ingin ke sana, kamu harus naik subway, red line, menuju Alewife. Letaknya sekitar dua stasiun dari Harvard Square. Cafe Mami ini, selain menyajikan milkshake teh hijau yang lezat (seharga sekitar $3.50 saja!), juga menyajikan makanan Jepang lainnya yang tergolong cukup murah. Miso soup yang mereka sajikan juga rasanya lezat.

Ah, enak! Foto diambil dari sini.

Green Tea Ice Cream
Toscanini’s Ice Cream adalah tempat yang paling tepat untuk makan es krim teh hijau. Menyandang gelar “Best Ice Cream in the World” versi The New York Times, ada belasan rasa es krim yang mereka sajikan, teh hijau salah satunya. Harganya sekitar $4.50 untuk 1 scoop es krim. Suasana toko es krim ini juga benar-benar menyenangkan, apalagi karena ada Wi-Fi gratis, hehe.Selain es krim biasa, mereka juga menyediakan kopi, hot chocolate, dan ice cream cake. Jangan lupa, kalau kamu order ice cream cake, dan diberitahu oleh pramusajinya kalau size cake-nya untuk 6 orang, maksud mereka adalah, 6 orang Amerika. Porsinya besar!Karena itu, 1 scoop is always more than enough for me, haha.
Green Tea Ice Cream Mochi
Kamu kira hanya di Bandung ada mochi es krim? Di Boston pun ada. Jangan bandingkan harganya tapi, hehe. Thelonious Monkfish, adalah salah satu restoran sushi top di Boston. Salah satu dessert yang ada di menu mereka adalah mochi es krim rasa teh hijau. Harganya sekitar $5-$6, dan kamu akan mendapatkan dua mochi es krim besar! Buatku, rasanya lebih enak daripada mochi es krim yang pernah kumakan di Bandung, lebih halus, dan kulit mochinya lebih tipis. Rasa es krimnya pun lebih terasa.
Green Tea Mint
Mint, adalah permen rasa mint yang sering orang-orang makan di sini. Bentuknya kotak/ bulat kecil-kecil, tidak seperti permen biasa. Salah satu brand mint yang ternama adalah Altoid. Walaupun aku tidak bisa makan Altoid yang biasa (karena ada gelatinnya), Altoid juga menyediakan sugar-free mint yang tidak mengandung gelatin.Tapi ada deal lain yang lebih luar biasa: mint teh hijau! Harganya hanya sekitar $2, dan bisa kamu dapatkan di Trader Joe’s di manapun. Selain aman untuk vegan karena tidak mengandung gelatin, rasanya pun unik sekali. Kali berikutnya kamu belanja bulanan di Trader Joe’s jangan lupa beli yang satu ini, ya!

Dan bonus antioksidan. Foto diambil dari sini.

Bagaimana? Sudah ‘hijau’-kah kamu dari wisata kuliner kali ini? Jika belum, aku berikan satu bonus. Dua hari yang lalu aku menemukan video ini di Youtube, sebuah PV dari GReeeeN, band dari Jepang. Lagu ini digunakan untuk promosi aplikasi chat LINE. Oke, aku mengaku. Aku juga teradiksi dengan stiker-stiker LINE yang menggemaskan itu. Enjoy! Selamat menikmati long weekend! 

Tips: Applying to UWC!

Halo, kawan-kawan! Semoga kabar kalian luar biasa, ya!

Sudah dengar kabarnya, belum? Pendaftaran UWC dari Indonesia National Committee tahun ini sudah dibuka, lho. Bagi teman-teman yang punya kenalan, atau adik yang masih kelas XI SMA dan berminat untuk meneruskan SMA/ pre-college di luar negeri, lalu (kemungkinan besar) universitas di luar negeri, patut mencoba kesempatan yang satu ini. Batas akhir pendaftarannya 7 Februari 2014, dicatat ya!

UWC, atau United World College, adalah SMA/ pre-college (tahun ke-11 dan ke-12) yang siswa-siswanya berasal dari puluhan negara di dunia, baik itu dari beasiswa penuh atau parsial. Mereka semua dididik dalam sekolah berasrama, dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikulernya menekankan pada misi perdamaian dunia dan pembangunan yang berkelanjutan. UWC sendiri memiliki 14 kampus di seluruh dunia, di negara yang berbeda-beda. Singkatnya, bisa kamu lihat di tulisanku tentang UWC di Indonesia Mengglobal, web-nya UWC, web-nya sekolahku dulu: UWC-USA, dan web tim penyeleksi di Indonesia: UWC Indonesia National Committee.

Banyak adik-adik yang bertanya tentang tips untuk mendaftar dan sukses di proses aplikasi untuk masuk UWC. Tipsnya mungkin agak rancu, tapi semoga membantu. Sampai sekarang pun aku belum tahu kenapa aku bisa lolos seleksi waktu itu, haha.

Menulis Essay?

Pertanyaan dari aplikasi tahun ini.

Seperti yang bisa kamu baca di web-nya UWC Indonesia NC, Bahasa Inggris memang bukan syarat utama dalam seleksi. Tetapi, kamu akan bersekolah di tempat yang pengantar bahasanya Bahasa Inggris. Jadi, essay-mu harus dipastikan bersih dari kesalahan grammar, karena you have no excuse. National Committee tak akan segan-segan mencoret namamu karena kalau essay-mu saja berantakan, apalagi saat kamu maju ke tahap berikutnya dan diwawancara, bukan?
Yang jelas, karena jumlah kata yang bisa kamu tulis terbatas -hanya 500 kata saja, usahakan setiap kalimat yang kamu tulis dapat dimengerti dan penting. Jika hal-hal seperti nilai raportmu yang cemerlang, atau prestasi yang telah kamu raih sudah disebutkan di bagian lain aplikasimu, jangan diulang lagi, karena tidak efektif, dan membuatmu ‘membuang-buang kesempatan menjual dirimu’. 
Jika kamu tidak punya ide sama sekali tentang tema essaymu, do a quick Google search, baca koran, amati sekitarmu, dan tanya kapasitas dirimu. Karena kalau ide/ opinimu tidak meyakinkan, tak ada alasan bagi Indonesia NC untuk memilihmu.
Bahasa Inggris?

Seperti yang telah kujelaskan sebelumnya, Bahasa Inggris bukan syarat utama. So, it is OK if you have no proof of TOEFL or other English ability tests. Hanya saja, kamu perlu ingat bahwa memastikan aplikasimu bersih dari kata-kata janggal, atau salah-salah grammar, wajib hukumnya.
Jika kamu dipanggil untuk maju ke tahap wawancara, Bahasa Inggrismu harus dipoles agar kamu bisa berinteraksi dengan penyeleksi. Hal yang perlu diingat adalah, jangan sampai kamu merasa Bahasa Inggrismu benar-benar tidak bisa diandalkan hingga jatuh ke dalam perangkap ‘menghafalkan wawancara’. Ada beberapa orang yang kukenal yang jatuh ke dalam perangkap satu ini. Bukannya terdengar professional dan meyakinkan, malah terdengarnya tidak genuine alias palsu karena terkesan dibuat-buat. 
Celakanya lagi, kalau mereka memberikan pertanyaan yang tidak kamu persiapkan sebelumnya. Kemudian kamu menjadi gagap. Lalu semua hal di kepala buyar. Lalu ada awkward silence, atau, “Rrr… Rrrr…,” yang panjang. Jadinya ketahuan aslinya bagaimana. Akhirnya saat kamu keluar ruangan wawancara lalu orangtuamu bertanya bagaimana wawancaranya tadi, kamu akan menjawab, “Tidak seperti harapan…”
Menjual Diri dengan Pas?

Semua orang tahu, setiap manusia di dunia tak ada yang dilahirkan sama persis. Karena itu, tak ada rumus mutlak tipe orang seperti apa yang lolos wawancara dan seleksi. Yang ada hanyalah good fit.
Good fit, alias kecocokan, adalah basis utama di tahap wawancara. Semua yang lolos ke tahap wawancara, secara umum berhasil melewati saringan pertama: nilai, ekstrakurikuler, motivasi, kemampuan. Jadi, saat wawancara, penyeleksi mencoba memilah, siapa yang akan lebih cocok ditempatkan di A, atau B, atau tidak cocok di manapun. 
Jadi, pikirkan apa saja hal yang ingin kamu katakan saat wawancara, dan relevansinya dengan karakter yang penyeleksi cari. Jangan terlalu ‘mengobral diri’ karena akan terkesan sombong, tetapi jangan juga terlalu malu-malu karena pewawancara akan berakhir tidak mengetahui apapun tentang dirimu.
Sikap dan Senyum!

Jika semua persiapanmu sudah matang dan kepercayaan diri sudah di tangan, hal yang perlu diperhatikan berikutnya saat wawancara adalah attitude. Secara tidak langsung, Indonesia NC mencoba memilih wakil Indonesia, orang yang akan merepresentasikan Indonesia di mata dunia. Kamu akan menjadi orang Indonesia pertama yang beberapa orang akan kenal selama hidup mereka, dan kesan tentang dirimu akan melekat dalam image Indonesia. Beberapa orang mengaku padaku, mereka tidak menyukai beberapa negara karena satu-dua orang dari negara tersebut kurang mereka sukai.
Karena itu, sikapmu terhadap orang lain dan senyummu itu benar-benar penting, tidak hanya saat wawancara, tapi saat berinteraksi secara umum.

Tak lupa, yang paling penting adalah doa. Selain menenangkan hati, berdoa juga membuatmu pasrah, sehingga tidak terlalu bergembira jika hasilnya menggembirakan, atau terlalu bersedih jika hasilnya menyedihkan. Menjaga kadar emosi supaya pas dan tepat.
Akhir kata, best of luck untuk aplikasinya. Semoga aku bisa bertemu kalian secara langsung musim panas ini, saat menyambut kalian dan mengucapkan dengan hangat, “Selamat datang di keluarga besar UWC Indonesia!”

Tips: Bagi Mereka yang Tak Pulang

Mahasiswa-mahasiswa mendorong kopernya pulang, melewati tumpukan salju 6 inci tersebut. Senyum mereka mengembang: satu semester lagi telah mereka lewati, dan keluarga menunggu mereka di rumah. Meskipun mereka tahu pesawat mereka akan delay karena sejak kemarin badai salju belum berhenti, toh mereka tetap bersemangat juga. “I cannot wait to get out of this campus,” begitu kata salah satu dari mereka.

Aku? Ah, aku.
Pesawat pulang ke Indonesia p.p. selalu di atas $1500, apalagi, Rupiah sedang benar-benar lemah saat ini. Selama aku tidak didepak keluar dari asrama, lebih baik aku tetap tinggal saja di sini. Lagipula, ada pekerjaan paruh waktu yang bisa menambah tabunganku untuk membeli tiket pulang saat liburan musim panas nanti.
Ada waktu 2 minggu, yang bisa kugunakan untuk bersenang-senang sebelum IAP, alias Independent Activities Period (atau winter term) dimulai. Rencanaku? Panjang! Bagi kalian yang tak bisa pulang kampung seperti aku, semoga to-do list liburanku ini bisa menginspirasi, ya!

Take a walk! Explore!

Adakah satu tempat yang selalu kamu lihat, tetapi tak pernah kamu tahu apa yang ada di baliknya?
Setelah Kendall Square, apa tempat yang ada di ujung map itu?
Google Maps adalah starting point baik yang patut kamu coba. Atau, kamu bisa juga bertanya pada dirimu, apa nama tempat yang membuatmu penasaran, tetapi belum sempat kamu kunjungi. Atau, tempat yang temanmu rekomendasikan namun belum sempat kamu coba.
Siapa tahu, ada pemandangan luar biasa yang membuatmu berdecak kagum di sana.
Half-frozen Charles River. Mengingatkanku pada salah satu chapter QED.
Masakan Rumah

Coba pikirkan, sudah berapa kali kamu menghubungi ibumu, lalu berkata, “Bu, waktu aku pulang nanti, aku ingin makan A, B, dan C. Sudah lama tidak makan itu.”
Benar sekali! Karena waktumu luang tanpa ada tugas kuliah, bagaimana kalau kamu mencoba membuat masakan rumah? Aku yakin, orang tuamu pasti akan dengan senang hati berbagi resep rahasia mereka. Perut senang, homesick terobati!
Beberapa hasil masakanku liburan kali ini. Klepon, sambal kecap, dan oseng-oseng serta tempe mendoan.
Yang lebih menyenangkan lagi, kalau kamu berada di luar negeri, kamu seolah-olah ditantang untuk menemukan bumbu asli Indonesia. Kadang kamu tidak bisa menemukannya, jadi ‘kreativitas’-mu juga dilatih untuk menemukan pengganti bumbu-bumbu tersebut. Buatku sendiri, untuk mencari pewarna pandan untuk klepon, aku harus pergi ke supermarket yang belum pernah aku coba sebelumnya, yang letaknya dekat Boston College. Lumayan juga, karena kini pengetahuanku tentang tempat di sekitarku bertambah satu.
Akses KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)

Terkadang, ada tempat-tempat tertentu yang bisa kamu akses secara gratis, contohnya museum. Mahasiswa kampusku bisa mendapatkan akses ke Museum of Science dan Museum of Fine Arts gratis! Biaya masuknya sekitar $20-an, jadi lumayan sekali, bukan?
Hari ini aku menjajal Museum of Science. Jaraknya hanya 30 menit jalan kaki dari asramaku, tidak begitu jauh. Hal pertama yang kusadari saat masuk ke museum ini adalah: banyak sekali anak-anak. Ternyata, museumnya memang didesain seinteraktif mungkin supaya anak-anak tertarik dengan Sains. 
Dari kiri atas, searah jarum jam: Blue wing MoS yang terasa seperti di mall, 3D printer yang sedang naik daun, Rube Goldberg machine, dan giant Van der Graaf generator.
Masih banyak tempat-tempat lain di mana aku bisa mendapat diskon dengan KTM-ku. KTM-mu pun begitu, cukup pasang telinga lebar-lebar, dan buka mata awas-awas, karena diskon bagi mahasiswa itu ada di mana-mana, hehe.

Coba cek jendela asrama/ kamar kosan milikmu, sudah setebal apakah debunya? Mungkin semester kemarin kamu masih bisa beralasan, tetapi tidak kali ini. Kamu sedang berlibur, dan wajib hukumnya kamu membersihkan semua yang kotor. Karena kebersihan itu sebagian dari iman, bukan?
Apalagi kalau teman bersih-bersihnya sekeren ini.
Motto: This beauty is a beast. Dengan harum pink grapefruit dan pamplemousse rose.
Tak ada yang lebih menyenangkan selain memulai semester barumu dengan kamar yang apik, bersih, dan harum, bukan?
Selain itu bersih-bersih di sini bukan hanya bersih-bersih kamar, tetapi juga bersih-bersih komputer. Backup semua data kuliah semester lalu yang penting dan akan kamu perlukan di masa depan, susun diktat-diktat kuliah, catatan-catatan, serta ujian-ujian penting dan buku teks-buku teks. Semester baru dengan performa komputer lebih cepat dan ringan, juga meja yang bersih dari kertas-kertas tak beraturan pastinya lebih membuatmu bersemangat.
Menjaga Peliharaan Teman

“Tan, kamu liburan di sini, kan? Bisa tolong beri makan ikanku dan siram tanamanku, tidak?”
Perkenalkan, ikannya yang sedang bersembunyi bernama Yam. Tugas mereka berdua adalah menjagaku selama liburan ini agar tidak kesepian.
Jika kamu juga ikut pulang, bayangkan, siapa yang akan menjaga peliharaan-peliharaan temanmu? Jadi, kamu patut berbangga hati karena menjadi pahlawan.
Tentu saja, peliharaan-peliharaan ini memberikanmu rutinitas baru (baca: memberi makan, dan menyiram), serta membuatmu terjaga dari rasa kesepian. Karena ada yang bisa kamu ajak bercerita tanpa mengomentarimu. Luar biasa.
Semoga saran-saranku di atas berguna. Jika kamu masih merasa punya terlalu banyak waktu luang setelah tips-tips di atas kamu coba, ada baiknya kamu mencoba hal lain yang belum kupikirkan, dan berbagi denganku di kolom komentar di bawah.
Sebagai penutup, ini adalah fortune cookie yang kudapat saat membeli honey walnut shrimp di Panda Express sore tadi.
No one would refuse this saying: Your good nature will bring you happiness.
Selamat berlibur kawan-kawan, dan sampai jumpa tahun depan. Terima kasih sudah setia membaca blog ini, semoga tahun depan blog ini semakin baik dan menyuguhkan info yang membantu kawan semua, ya!