Learning from Singapore: Wildlife Reserves Management

Singapore might be small; its area is only about 791 km2, which is about 0.03% of Indonesia, or 0.007% of the USA! With such a small area, Singapore has several parks and gardens, including four wildlife reserves: Night Safari, River Safari, Singapore Zoo, and Jurong Bird Park.

In the past week, I had a chance to visit two of them: Night Safari and Jurong Bird Park. It was such a great experience, I want to compare their management to Indonesian’s approach to national parks and gardens. You might still remember when one of the elephants in Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) died because the managing company could not provide a vet when the elephant got sick. Yani was 37 years old, but she did not die in vain. As soon as the words reached the mayor of Bandung, Ridwan Kamil, the mayor decided to punish the company and watch their management from that time on.

There was also an issue that a lion in Taman Safari Indonesia (Indonesia Safari Park) was being drugged to keep it ‘tame’ during photo sessions with the visitors. However, the management denied this issue. Regardless of that, the lack of funding and government watch seem to be the causes of these things to happen.

So, what can we learn from Singapore?

Continue reading “Learning from Singapore: Wildlife Reserves Management”

Moving to a Better Place?

I have started thinking about different things in the past few days. Actually, the past few weeks. Is it because I no longer have weekly problem sets or final projects due? Or, is it because I have so much free time after working hours, when I am in SUTD student hostel room by myself? Maybe.

Sometimes I find a little pleasure browsing through my YouTube home. Two weeks ago, I was playing “Lelaki Kerdus” repetitively while giggling (or “Yee Tu Hantu”). Yesterday I was woken up in the middle of night, and I randomly checked my LINE group chat. My friend started by asking, “Do you guys know ‘awkarin’?” The conversation rolled, and we ended up discussing how the society has changed so much over time, especially in presence of social networks and influencers.

The fact that I have graduated from college and will be starting my graduate studies this fall also contribute to a lot of ‘thinking sessions’ I have these days. Questions such as, “What do I aspire to be? What am I going to do 5 years down the line? When do I want to move to a more serious terms with my partner?”

Continue reading “Moving to a Better Place?”

Current Position: Singapore

Greetings from Singapore! I don’t remember if I have told you this, but I am currently on my second week of research internship at Singapore University of Technology and Design. I am here for six more weeks, working on electric vehicles, especially the cooling system.

Does that sound like a lot of Heat and Mass Transfer? Perhaps, it is. I was scared at the beginning, too. H & MT is not my strength, to be honest. However, I am learning a lot from my mentor!

Driving the P0 (Prototype 0) of the vehicle! With Christabel, my fellow MIT friend.

Continue reading “Current Position: Singapore”

Inovasi di Negara Berkembang: Mudahkah?

Kali ini saya akan merangkum banyak hal yang saya pelajari selama waktu saya di India, tentang inovasi, dan konsep ‘merubah dunia menjadi tempat yang lebih baik’. Mudahkah?

Kalimat macam, “Saya ingin jadi teknisi andal, supaya saya bisa memajukan negeri ini,” terdengar terlalu gamblang dan mudah diucapkan belakangan ini. Ada dua hal besar dalam kalimat itu: teknisi andal, dan memajukan negeri. Berhasil menjadi teknisi andal tidak menjamin proses memajukan negeri, begitupun sebaliknya.

Lalu, apa yang diperlukan untuk mengimplementasikan inovasi di negeri berkembang?

Saya, sedikit banyak, belajar sedikit selama tiga minggu terakhir di India.

Satu: melihat sekitar lebih banyak. Foto ini diambil saat field trip ke perajin tradisional kain sari, kain tradisional di India. Kabarnya benang emasnya terbuat dari emas asli.

Sebagai seorang (calon) teknisi, saya lebih sering memfokuskan diri terhadap apa yang bisa saya lakukan, program apa yang bisa saya tulis, model seperti apa yang bisa saya cetak 3D, juga sirkuit seperti apa yang bisa saya bangun. Padahal, sesungguhnya itu bukan tahap pertama dalam mencari solusi dan membangun inovasi.

Tahap pertama sesungguhnya adalah melihat. Apa yang jadi masalah di sekitar kita? Apa hal yang minta dipecahkan? Apa hal yang orang sering menutup sebelah mata mereka?

Tidak semua masalah cukup penting untuk dipecahkan, dan tiap masalah punya sumber daya minimal agar bisa dipecahkan.

Karena itu, kunci pertama adalah mencari masalah sebanyak-banyaknya, agar kita bisa menemukan masalah yang cukup baik untuk kita pecahkan dengan kemampuan kita sendiri. Contohnya, aku merasa bahwa sistem pendidikan di Indonesia tidak terlalu baik, tetapi masalah ini terlalu umum, dan tidak bisa kupecahkan dengan kemampuan yang kumiliki saat ini. Dalam hal ini, penting sekali untuk mengerucutkan masalah menjadi sesuatu yang lebih spesifik dan lebih kecil cakupannya. Lebih penting lagi untuk menemukan suatu masalah di mana kita bisa merasa related dan personal, karena dibutuhkan energi dan motivasi yang cukup untuk memecahkan masalah tersebut. Kita tak ingin memecahkan suatu masalah yang tidak memiliki koneksi dengan kita sama sekali, bukan?

Tahap kedua adalah ideation, atau mencari semua ide untuk memecahkan masalah yang telah kita pilih. Kadang-kadang kita membutuhkan lebih dari satu masalah untuk melalui proses ini, dan melihat ide-ide yang keluar untuk memecahkan hal ini, untuk melihat mana yang paling feasible.

Dalam tahap ini, semua orang harus mencari ide sebanyak-banyaknya. Sewaktu timku melalui proses ini, tiap orang harus menyumbang 10-20 ide untuk memecahkan masalah ini, dalam waktu yang terbatas, sekitar 15-30 menit. Ide gila selalu muncul dari proses ini, dan tidak sedikit dari ide gila ini yang dapat diwujudkan.

Proses ini biasa diulang berkali-kali, hingga semua orang merasa puas dengan ide terpilih yang akan digunakan untuk memecahkan masalah. Kemudian, kita bisa beralih ke tahap berikutnya, rapid prototyping. Mengapa harus rapid (cepat)? Karena kita ingin gagal lebih cepat, sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan berikutnya, dan apa yang harus diperbaiki. Lakukan iterasi sebanyak mungkin.

Satu hal yang perlu diingat dari proses ini, terkadang, sebagai orang eksak dan saklek (kebanyakan teknisi dan saintis seperti ini), kita ingin semua hal berakhir sempurna dalam percobaan pertama. Hal ini tidak mungkin terjadi dalam proses yang kita lalui, karena itu kita harus siap secara mental dan fisik untuk melakukan iterasi sebanyak mungkin, dan berani salah.

Selesai tahap ini, yang kita dapatkan hanyalah final product, dan hal ini belum termasuk berbagai hal lain yang harus dipikirkan, seperti bagaimana memasarkan produk hasil inovasi kita, dan sebagainya.

Lalu, bagaimana inovasi di negara berkembang berbeda dengan inovasi di negara maju? Di negara berkembang, sumber daya yang tersedia bisa jadi benar-benar terbatas. Contohnya saja, di maker lab tempat aku bekerja beberapa minggu terakhir, terletak di desa kecil. Daya listrik yang tersedia tidak sebanding dengan daya yang kami semua butuhkan. Jadi, kapanpun kami membutuhkan 3D printer untuk mencetak prototipe, kami harus mematikan semua daya listrik yang kami miliki: kipas angin, lampu, pendingin ruangan, bahkan laptop-laptop kami. Selain itu, ada pemadaman listrik bergilir setiap harinya, minimal tiga kali sehari. Belum lagi, biaya internet yang sungguh mahal, sehingga kami hanya memiliki kuota internet yang terbatas.

Kondisi seperti ini, mungkin saja sama dengan kondisi di beberapa daerah di Indonesia.

Jadi, mari kita tanyakan kembali, mudahkah menciptakan inovasi di negara berkembang? Jawabannya mungkin tidak, tetapi hal ini tidak bisa menjadi alasan untuk menyerah, bukan? Saya sendiri pun masih belajar dari orang-orang. Semoga saja hingga akhir program ini, saya bisa belajar lebih banyak lagi.

Selain itu, semoga saja nanti saya bisa menelurkan sesuatu yang signifikan nanti.

Menjadi Turis di Kerala: Boathouse dan Munnar

Masuk minggu kedua di India, peserta program workshop akhirnya mengerucut menjadi sekitar 20 orang. Pekerjaan sebenarnya baru saja akan dimulai, tetapi sebelumnya, kami pergi field trip (dan bersenang-senang) dulu di boathouse dan Munnar.

Ada apa saja di kedua tempat tersebut?

Munnar, diselimuti kabut sore hari. Aku sempat beli jagung bakar di sini untuk makanan berbuka.
Boathouse di Alappuzha.

Perjalanan tiga hari dua malam kali ini tak hanya mendekatkan peserta workshop, tetapi juga memberikan kesempatan padaku untuk mengenal lebih banyak orang. Selain itu, aku akhirnya merasa bahwa musim panasku akhirnya benar-benar dimulai!

Tujuan pertama kami adalah Alappuzha, sekitar 4 jam naik bus dari Chirayinkeezhu, tempat tinggal dan workshop kami saat ini. Setelah sampai di sana, aku ternganga karena boathouse-nya benar-benar paduan kapal dan rumah. 

Kamar di dalam boathouse-nya, mirip kamar hotel, bukan? Lihat handuk yang dibentuk seperti angsa!
Ada ruang konferensinya juga, karena kapalnya bertingkal dua.
Saat membuang sauh, di bagian depan kapal.
Kami menghabiskan waktu di houseboat selama dua hari satu malam, pemandangannya luar biasa indah. Kalau kamu sempat ke Kerala, India suatu waktu, kamu harus naik houseboat di sekitar backwaters. Area ini mirip sungai dan danau dekat laut, yang terbentuk karena air laut yang terdorong masuk.
Matahari pagi di danau besar.
Pemandangan sepanjang perjalanan.
Satu hal yang jelas, makanan di atas kapalnya enak sekali. Walaupun aku tidak kebagian ikan, karena hanya disajikan saat makan siang, tetapi makan malamnya pun tak kalah lezatnya. Ada ayam goreng dengan bumbu spesial yang tidak terlalu pedas. Saat itu aku memang mulai merasa bosan dengan menu kari setiap hari, hehe.
Setelah kami kembali ke daratan, perjalanan kami lanjutkan ke Munnar, sebuah kota di dataran tinggi di selatan India, sekitar 2000 meter di atas permukaan laut. Iklimnya sungguh menyenangkan, sejuk, dan tidak lembab. Benar-benar apa yang kubutuhkan setelah selalu merasa kepanasan di Thiruvananthapuram dan Chirayinkeezhu.
Kebun teh di mana-mana!
Sengaja bangun pagi untuk melihat matahari terbit.
Jalanan pegunungannya benar-benar sempit, mirip di Indonesia. Untungnya aspalnya benar-benar halus dan mulus.
Ada banyak air terjun di mana-mana, di pinggir jalan, dan di tempat lain.
Di Munnar, kami tinggal di sebuah hotel, dan paginya aku sempat merasakan sahur paling enak, lengkap dengan sereal, susu, buah-buahan, sandwich, dan jus semangka. Akhirnya, setelah sekian lama mulai bosan sahur dengan kari, hehe. Jangan dicontoh ya, harusnya apapun yang didapatkan, harus disyukuri.
Saat ini project-ku membuat mold/ cetakan untuk sabun yang diproduksi perkumpulan wanita di desa ini. Project-nya terkesan mirip KKN, tapi aku belajar banyak soal 3D printer dan Solidworks, dan prosedur membuat sabun. Siapa tahu aku jadi pengusaha sabun di masa depan, hehe.
Termasuk akhirnya berhasil membuat ketupat, lewat tutorial Youtube. Siapa tahu bisa jadi packaging yang cantik untuk sabun-sabun yang diproduksi nantinya.
Bulan Ramadhan hampir memasuki 10 hari terakhir, dan seminggu lagi aku pun akan pulang ke Indonesia. Rasanya tidak sabar untuk bertemu sanak saudara, keluarga, dan teman-teman. Semoga saja aku bisa mengerjakan banyak hal selama seminggu terakhirku di India, ya! Semoga juga aku bisa menemukan tempat yang menjual kartu pos, soalnya susah sekali menemukannya, hehe. 

Kabar Pertama dari India

Baru kali ini aku merasakan sulitnya mendapatkan koneksi internet yang memadai selain di Indonesia. Tidak hanya karena kesibukanku yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga karena aku bergantung pada wi-fi di tempatku tinggal/ workshop/ lab di sini.

Saat ini aku berada di state Kerala, India, berpindah-pindah di antara berbagai kota. Minggu lalu aku ada di Trivandrum untuk TechTop Workshop, saat ini aku berada di Chirayinkil, mulai hari Senin aku akan pergi ke tempat lainnya untuk field trip.
Pantai Shankumugham, Trivandrum. Samudera Hindia bisa kamu lihat jelas. Dari sini aku bisa renang langsung ke Indonesia.
Sebelum aku lanjutkan, aku mau minta maaf jika beberapa di antara kalian yang sudah mengirimkan surel, belum sempat kubalas, karena keterbatasan internet. Akan kucoba baca dan balas secepatnya, mungkin setelah aku kembali ke Indonesia.
Jadi, saat ini aku berada di India untuk program MIT Make in India. Aku dan sembilan anak MIT lainnya, S1 dan S2, current students dan alumni, dari berbagai jurusan, sama-sama berkolaborasi dengan mahasiswa India untuk menciptakan suatu inovasi yang bisa diaplikasikan ke masyarakat luas, terutama di Kerala.
Terdengar berat, bukan?
Bagiku sendiri, ini adalah momen untuk belajar banyak, tidak hanya dari teman-teman MIT-ku, tetapi juga dari teman-teman India-ku. Banyak dari mereka sudah melakukan banyak hal, dan luar biasa brilian. Kadang aku merasa malu sendiri karena aku belum banyak melakukan apapun, dengan kesempatan yang kumiliki selama ini.
Proses menemukan suatu inovasi itu sendiri sebenarnya cukup rumit. Mencari ide yang terkesan remeh dan membawa efek yang besar itu cukup sulit, dan melalui proses yang panjang, salah satunya adalah identifikasi problem yang melalui proses yang sangat panjang. Berbicara dengan orang banyak, adalah salah satu kuncinya, dan rasanya sulit sekali, terutama karena orang lokal Kerala menggunakan Bahasa Maleyalam.
Kerala, secara umumnya, mirip sekali dengan Indonesia. Cuacanya yang (luar biasa) lembab, dan mencapai 32 derajat Celcius. Karena dekat dengan khatulistiwa, tempat ini benar-benar hijau dan banyak pepohonan. Rasanya mirip sekali dengan tempat Mbahku di Yogyakarta. 
Tiap hari, aku makan kari terus. Bahkan untuk makan pagi! Biasanya, bersama kari, kebutuhan karbohidrat dipenuhi dengan chapatti (mirip tortilla), nasi, atau makanan mirip surabi. Karena itu, rasanya aku kangen sekali dengan makanan segar, seperti buah-buahan atau salad. Seperti di Indonesia, suplai pisang di sini melimpah ruah. Di sini juga banyak pohon nangka, pohon kelapa, dan juga pohon singkong. 
Akhirnya makan kelapa muda juga setelah sekian bulan. Terima kasih Dhruv dan Amareesh untuk kelapa muda gratisnya, hehe.

Kecuali saat workshop kemarin, di Chirayinkil kami tinggal di sebuah rumah. Kamar perempuan di lantai bawah, dan kamar laki-laki di lantai atas. Ada warga lokal yang bersedia untuk memasakkan kami tiap harinya. Kadang, untuk membunuh waktu kami akan berbicara panjang lebar, atau bermain apapun. Sayang, tidak terlalu banuak waktu yang dibunuh. 

Rasanya seperti KKN: di tengah desa, lalu internet yang terbatas. Malam-malam panjang pun kami habiskan dengan bermain carrom.
Saat workshop, aku bersama teman-temanku: Daivon, Lincy, Natasha, dan Jaisal, memutuskan untuk memecahkan masalah tentang pasien yang merasa tidak nyaman di dalam ambulans. Ternyata, tempat tidur ambulans berbeda dari tempat tidur kita yang memiliki spring-piston system.
Prototipe iterasi pertama dari tempat tidur ambulans, karena banyak dari tempat tidur di ambulans yang tidak memiliki sistem untuk menyerap getaran dari jalanan yang berlubang. Kali ini kami, tim Ruff Ryders, mencoba sistem suspensi.

Setelah workshop tiap harinya berakhir, kami kembali ke hostel (istilah orang India untuk asrama), untuk tidur dan beristirahat. Tiap pagi kami naik bus sekolah untuk berangkat ke tempat workshop di Mar Baselios College of Engineering and Technology.

Di dekat hostel, sebelum berangkat ke tempat workshop. Aku mengenakan celana khas India, kembaran dengan teman-temanku.

Bahkan kami berhasil masuk koran lokal! Fotoku pun terpampang dengan jelas, haha.

Berhasil masuk ke koran lokal Trivandrum, setelah sebelumnya berhasil masuk ke TV lokal di Meksiko.

Tempat workshop kami di Mar Baselios College of Engineering and Technology. Ada patung Yesus setinggi empat lantai, karena college ini berbasiskan agama Katolik. Bentuknya mirip dengan patung di Brazil lho.

Patung Yesus yang sangat tinggi di college tempatku workshop minggu lalu. Bisa kamu lihat dengan jelas, ada banyak pohon kelapa!

Semoga saja di akhir periode empat minggu ini, kepercayaan diriku sebagai seorang engineer meningkat lebih jauh, lebih dari kepercayan diriku sebagai seorang blogger, haha.

Kerjaanku akhir-akhir ini: membuat prototipe menggunakan 3D printer.
Selain workshop, pada saat yang bersamaan ada juga kompetisi inovasi untuk anak SMA dan mahasiswa di India. Aku datang ke pamerannya, dan aku bisa melihat berbagai hal menarik. Produk mereka semua benar-benar luar biasa!

Aku mencoba berbagai macam gadget saat TechTop Innovation Competition. Device ini berfungsi untuk membantu orang-orang yang buta agar bisa mendeteksi rintangan di hadapan mereka.
Bagaimana, seru sekali bukan? Kali berikutnya, aku akan mencoba untuk menceritakan lebih spesifik tentang project team-ku, atau hal menarik tentang India secara umumnya.
Sampai jumpa! Semoga Allah memberkahi Ramadhan teman-teman yang Muslim, dan semoga di lain waktu, internetku bisa lebih baik. Aamiin.

Different Culture, Different Time Frame

I am not an anthropologist, yet I have been observing different time frame concepts in different cultures. It is just really fascinating, to learn how stereotypes ‘suddenly make sense’ when you find the root of them: cultural difference.

Have you ever wondered why Indonesians seem to be always ‘ngaret’ (rubber time, not punctual)? I have come up with my own theories.


As I said before, I am not an anthropologist, so I am open with any suggestions and discussions with you about this matter. As the biggest Muslim populated country in the world, Islam has influenced Indonesia in many ways. One of them is, how praying time has become an acceptable way of defining time among people.

It is really common to hear, “I will meet you after Asr (in Indonesia this period starts around 3:00 p.m., until the sun sets).”

What this person really means, is right after Asr adzan (the call to do Asr prayer). However, since the time range is really wide, it is normal to see people coming at 5:00 p.m., with the excuse that it is still Asr time.

I need to emphasize that there is no problem with using praying time as a way of telling time; the problem is how people interpret it. The wide flexibility and time range has made people use time in their convenience, without really considering others.

In addition, since Java, as the most populated island in the country has become more crowded, it is not only in Jakarta where the traffic is unpredictable. Although someone promises you to come at 1:00 p.m., the traffic could change everything. You are lucky enough if the person is considerate, willing to head to meeting place earlier, and arrives within one hour of your scheduled meeting time. Remember that it is not always the case.

It is actually even worse, because this time frame characteristic is not only an individual thing, but a systemic thing. You rarely find an on-time public transportation, and it always takes a while when you need to run errands in a governmental office.

That might be why Indonesians are a lot more flexible in terms of planning stuff, and seem ‘slow’. They are slow, because they know that everyone else is slow. So, if they are the only ones in rush, they will be disappointed because they will not make any difference.

Just count, how many things you can get done in a day in Indonesia. You go to a bank, there is a long line, and you need to wait for at least half hour. Internet banking is not really an option, because most people still trust face-to-face transaction better. You go to a market to do some grocery shopping, the traffic is crowded. You go to a meeting by public transportation, the train is late by an hour, and the person you are meeting is also late. Combo.

This reminds me of something. When I came back to Indonesia this year, I was meeting someone. I asked the person what time one could meet me, and this person told me a time range (after Zuhr, a praying time between around noon to 3:00 p.m.). I forced this person to give me an exact time, but this one still told me, after Zuhr.

Another thing, I also had a meeting with others, and I told them that I would be late. By late, I meant 10 minute late. When I came to the meeting place (8 minute late, fiuh!), I was surprised that I was the first one to come. The others came 30 minutes later, without being sorry, thought that they were still within ‘on-time tolerance range’.

These two examples indicate the existence of different time frame that different cultures have. So, how is it different in other countries?

I would not put the United States as the most on-time country in the world. It is sometimes okay to be late for five minutes with legitimate reasons. However, people are aware of how much they need to do in a day, so they do not waste time by being ‘slow’. You can see it clearly from the way Americans walk in pedestrians, and comparing them with how Indonesians walk. Of course, it also depends on which city in the States you are in. New Yorkers are famous with their really-fast-walking, and how their body languages indicate they are always in a rush. New Mexican, for instance, is slower, but is not too slow.

Germans, of course, beat Americans in this matter. No matter how much I have tried to walk super fast, I cannot beat Germans. No matter where it is, in the city, countryside, or suburban, everyone walks fast without showing that they are in a rush.

German punctuality is also on top of the list. They don’t meet in hourly/ half-hourly/ quarterly basis like Indonesians. “Let’s meet at ten,” sounds just as normal as, “Let’s meet at 9:40.” But in Indonesia, if someone wants to meet you at 9:40, for instance, they will look at you strangely. Then, they will say, “Let’s make it either 9:30 or 10:00.”

Just like before, it is also affected by how transportation system works. Bahn (German word for train) can come at 10:47, or 9:23, and people are used to it. 10:47 means 10:47, and 9:23 means 9:23. Although some InterCity and InterCity Express trains may experience some delays, you know how much the delay is by using the real-time application on your smartphone and they will also announce it in the train station, and thus, you can make further arrangement with your plan. 80%-90% of the trains are on time, if not early, though. I also heard rumors that if the train is late by more than one hour, DB (Deutsche Bahn) will need to reimburse the ticket payment.

It is nothing like the Japanese system, though, from what I heard. I met Kyoko, my Japanese friend from UWC, in Bremen, on my second day of being there. Transportation system in Japan, especially in Tokyo, is more punctual than in Europe, and that’s why she gets really annoyed when the train is late just by 1-2 minutes.

Don’t ask about how much things you can get done in these countries. While you are in the train, you can finish your bank transaction through internet banking system, and you can also order stuff online. Grocery shopping can be done on your way home, because some train stations have quite big supermarkets, or you can also ride your car to go to supermarket because there is no such thing as traffic jam. If there is no exceptional thing happening, most meetings are on-time, because you respect others’ time, so do they.

In one side, it is actually nice that Indonesians are more relaxed and less stressed (well, not really, especially regarding the traffic jam). However, if you see time as an asset, then, we have wasted so much time. More than how much BBM (gasoline) we waste.

Don’t ask me how to make Indonesians value their time that they waste unconsciously more. I think it is everyone’s homework.