Spring Break: DLab Project di Kolombia (2)

Bagian pertamanya bisa dibaca di sini

Selain mengerjakan prototipe, seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, kami sempat jalan-jalan ke berbagai tempat di Bogota dan sekitarnya.
Naik Teleferico ke Monserrate!

Continue reading “Spring Break: DLab Project di Kolombia (2)”

Spring Break: DLab Project di Kolombia (1)

Reading time: 3-4 minutes
Language: Bahasa Indonesia
Bagian keduanya bisa dibaca di sini

Seperti yang pernah aku ceritakan di sini, akhirnya spring break kali ini aku habiskan di Kolombia, di sekitar Bogota, untuk bekerja dalam project yang kulakukan di kelas Development Lab-ku semester ini: membantu petani serbuk sari dari lebah. Dua minggu sebelumnya, aku sempat deg-degan karena pasporku masih di Kedubes Swedia, untung dikembalikan secepatnya, via FedEx. Maafkan mahasiswi buang-buang uang untuk FedEx seperti aku, ya Allah.

Sejujurnya, aku tak punya banyak ‘waktu transisi’ untuk mempersiapkan keberangkatanku ke Kolombia ini. Tiga hari terakhir sebelum berangkat, aku sibuk dengan graduate school open house Mechanical Engineering Department di MIT. Bahkan karenanya, aku harus bolos banyak kelas, dan merasa kelelalahan luar biasa karena ‘bersosialisasi’ seharian penuh. Packing pun kulakukan seadanya, secepatnya. Satu hal yang kulupakan: check-in online. Akibatnya, di dua penerbangan yang penuh turbulensi, aku dapat tempat duduk paling belakang, di ekor pesawat, dan guncangannya benar-benar terasa. Badanku pun tak enak sepanjang perjalanan. Maklum, sejak kecil aku sering mabuk kendaraan.

Bienvenidos a Colombia!

Tetapi, akhirnya kami tiba dengan selamat di Bogota, Kolombia. Cobaan tak berhenti di situ, karena aku harus ‘berurusan’ dengan petugas imigrasi. Dua teman setimku dan satu mentorku yang berkewarganegaraan Amerika Serikat, tidak mengalami kesulitan yang berarti saat melewati imigrasi. Aku sempat merasa tak enak karena akhirnya teman-temanku terpaksa menunggu di imigrasi selama lebih dari 30 menit.

Ketiba tiba di tempat tinggal kami untuk seminggu ke depan, aku merasakan sesuatu yang familiar: tempat ini mirip kos-kosan di Indonesia! Ada banyak kamar, dapur, dan ruang nongkrong. Wi-Fi-nya pun relatif kencang.

Akhirnya tempat ini kami gunakan sebagai ‘bengkel’ sementara.

Selain itu, kami pun sempat menjelajah ke berbagai tempat di sekitar Bogota, termasuk short trip ke Zipacon, Cachipay, dan La Mesa. Di tempat-tempat tersebut, kami mewawancarai para petani lebah, untuk mengetahui lebih baik permasalahan apa yang mereka punya dalam mengeringkan serbuk sari dari lebah. Katanya, pollen ini baik untuk nutrisi tubuh, dan laku keras di sini.

“Mana ratu lebahnya? Mana?”

Ternyata, lebah yang mereka gunakan di sini sedikit berbeda dengan lebah madu kebanyakan. Spesiesnya beda, sehingga lebah-lebah di sini menghasilkan lebih banyak pollen daripada madu. Menariknya lagi, ada sekitar dua tipe sarang lebah yang mereka gunakan. Jika lebah madu, biasanya sarang lebahnya vertikal, sarang lebah pollen ini horizontal; bahkan bambu pun bisa digunakan!

Kalau kamu melihat foto di atas, mungkin kamu akan terkaget-kaget sendiri. “Mengapa orang-orang ini tidak mengenakan pakaian pengaman saat bermain dengan lebah?” Ternyata, lebah pollen ini tidak menyengat dan ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan lebah madu.

Lebahnya kecil-kecil bukan?

Di jalan pulang, sayangnya, mobil kami sempat mogok, mungkin karena pergi naik turun gunung seharian penuh. Pipa airnya bocor, dan kami harus ‘mengoperasi’ mobil sedikit hingga kami kembali ke tempat yang lebih banyak penduduknya untuk mencari spareparts.

Kami yang rata-rata enjinir dari MIT, tidak membantu banyak, dan membiarkan bapak-bapak mengambil alih, haha.

Meskipun sebagian besar waktu kami gunakan untuk mengerjakan prototipe untuk mesin pengering pollen, kami pun sempat berjalan-jalan sedikit ke tempat-tempat penting di sekitar Bogota.

Salah satunya, adalah sejarah penting dari negara ini: Jorge Eliecer Gaitan, pemimpin populis yang dibunuh dengan ditembak di salah satu sudut jalan di Kota Bogota, ketika dia berkampanye untuk menjadi presiden. Kemudian, setelah dia terbunuh, banyak orang yang merasa sedih, dan mulai menentang pemerintah. Kabarnya, kelompok penentang ini masih ada hingga sekarang; padahal Jorge dibunuh tahun 1948!

Sudut kota tempat Jorge terbunuh, yang dipenuhi dengan plakat dan tanda penghormatan padanya.

Hal lain yang benar-benar kusuka dari kota ini adalah sisi artistiknya. Tidak ada bagian dari kota yang tidak dipenuhi dengan mural dan lukisan dinding yang menarik. Isinya beragam: mulai dari protes terhadap pemerintah, dukungan terhadap salah satu dari film Superman vs. Batman, atau tentang kehidupan sehari-hari dan simbol kultur masyarakat sekitar.

Kalau yang ini? Bar yang menyediakan LSD?

Jika kamu penasaran dengan apa yang timku lakukan selama seminggu ini, foto yang satu ini mungkin bisa merangkum semuanya.

Prototipe kesekian mesin pengering pollen.

Jadi, dari mesin ini, ada tiga bagian penting: ember besar berwarna putih yang berputar karena didorong oleh motor (tempat pollen dikeringkan), lalu air pump yang menyedot udara agar masuk ke dalam ember besar, dan heating element, yang berupa coil dengan resistansi tinggi, sehingga menjadi sangat panas ketika listrik mengalir.

Sementara ini, kami sudah mencoba heating element yang ada di air pump itu sendiri (yang dicomot dari mesin pengering tangan/ hand dryer), atau dengan coil untuk stove top dari kompor listrik. Sayang sekali, karena keduanya melibatkan proses memanaskan logam, maka efisiensinya sangat rendah. Ada yang punya ide hal lain yang bisa kami coba?

Community partner kami sudah mencoba berbagai cara, termasuk mengeringkan pollen dengan lemari es yang dimodifikasi sehingga mengalirkan udara hangat ke dalamnya. Sayangnya, heat flow di dalam lemari esnya sendiri kurang baik, sehingga tidak semua bagian di dalam lemari es terkena udara hangat tersebut.

Berikut ini foto tim kami di bengkel tempat kami mencoba prototipe mesin pengering dari lemari es, yang terletak di Technopark-nya Bogota. ‘Bengkel’ ini bisa diakses siapapun untuk mengerjakan project masing-masing! Dana yang dikucurkan hingga jutaan USD untuk membangun dan menjalankan tempat itu mampu membuat masyarakat Bogota, terutama mereka yang duduk di bangku sekolah dan universitas, berpikir lebih kreatif dan melakukan riset. Kapan ya di Indonesia punya tempat seperti ini?

Foto tim kami yang bekerja dalam project bee pollen dryer!
Bogota’s very own makerspace! Beautiful place. I want to have a space like this in Indonesia that is accessible by everyone!


Masih ada banyak cerita dari Kolombia. Ini hari terakhirku ada di kota ini, dan sebentar lagi aku harus mengecek hasil tes prototipe kami. Besok aku akan terbang kembali ke Boston. Doakan ya teman-teman, semoga semua lancar. Salam dari Bogota! Tunggu blogpost keduanya, ya!

Exam Period at Cambridge

Hello, everyone! I know that I haven’t kept up with my blog for a while. There is a lot going on, in my life, especially. Another significant thing that happened in my life for the past two weeks: third year exam at Cambridge.

Apparently, exams at Cambridge happen during Easter term, and they cover materials from the whole year. Yes, there is no midterm at Cambridge, so large percentage (almost 100%?) of final grades of your courses depends on these two weeks.

So, I was locking myself in my room, and having video calls with family and friends. I realized that the exams were coming up, about two weeks before, when I got back from Barcelona. “How am I supposed to learn all these 8 modules in the next two weeks?” I managed it. Don’t ask me how. I still sleep properly, eat properly, and have occasional hangouts with my friends.

Like having karaoke with PPI (Indonesian Students Association) at Cambridge. Photo was taken from Shinta’s phone.

Having an exam at the end of the year like this makes me realize that I have learnt a lot of things. I also drew some connections between the subjects, for instance how FEM (Finite Element Methods) can be done in Vibration and Heat and Mass Transfer (other two courses I took this year). Although it was hard to study properly for each of them, because sometimes I had three exams in 30 hours, I pulled it through. I am done with my third year exams at Cambridge!

Taking exams around this time is considered to be early. So many of my friends still haven’t taken their exams until the beginning of June, and they still have lectures, supervisions, and so on. They have started freaking out, just like me at the end of Lent term. Now I can talk and try to reassure them, that they are going to be fine. Just like me, now, haha.

Just as expected, exams at Cambridge felt (a little bit) more intimidating than exams at MIT. The proctors (or invigilators, British lingo) at Cambridge wear their gowns in the exam room. There is also a 50 Pound fine if your cell phone goes off during the exam period. God knows how many times I checked my phone to make sure that it was silent before I left it in my bag at the back of the room. Cambridge also has its special examination room, where everyone takes the exam. Well, at least that’s what I believe, haha. When the results come out, they are put up in front of Senate House, so you can see what everyone’s scores are.

Perk of being an exchange student: my name will be taken off the class list, yes! So, no one can see what my score is, except myself, my DOS, my advisor at MIT, and my program coordinators.

So, what is next?

I am going to do projects in the next 5 weeks. They are Heat Exchanger and Bicycle Design. I think they are going to be really fun, and I will learn a lot from these. I promise to update you more about these projects as the time goes on. I think it will be a great one to blog about, without being too technical about it (gear ratio, sun-annulus-carrier, deep groove ball bearing, and other things).

Can I also tell you something else?

I was going through a hard time in the past one-two months. Things did not go so well for me, and they went unexpectedly off-track. It was not only an exam period at Cambridge, but also within myself.

Come on, Titan, what is so hard about your life? You study abroad, at MIT, and now you are in Cambridge. You see things that other people don’t see, you experience things that other people can only dream about.

That is exactly the point. I was not grateful of what I have. I realized that when life got so rough, that all I could think of was having back my life the week before.

When something like that happens to you, just remember that the earth rotates. It is not always dark like at night, because the day will come and the sun will shine. You just need to endure it, and patiently work as hard as before. Even at night, you can see the moon and the stars: people who matter the most to you, will always be there to help you. So, I want to thank everyone for your prayers, helps, hugs, loves, and supports during my hard times. I really appreciate them, and I feel really lucky to receive them from you. Thank you so much.

Now, spring almost ends, but can I just show you one last picture from Cambridge spring?

Cherry blossom tree near St. John’s.

I spotted this cherry blossom at its peak of blooming when I got back from my Marketing exam. It was so beautiful, that I stopped my bike, and walked around this tree to observe its little details. Yup, by now, you should know that I do so many random things. It is just one of them.

It does not only give me extra strength, but also happiness. Like an instant big smile. I hope this picture does the same effect to you.

Lastly, happy late spring. I should go to Grantchester to get my nice afternoon tea, before I leave England in few weeks. Good luck everyone who is facing the end of term, or academic year. You will do it well, just like a year ago.

Exchange-ception: Barcelona, Spain

I might have told you before that I took Lower Intermediate Spanish class in Michaelmas and Lent terms at Cambridge. Because of that, I signed up for the exchange trip organized by Language Unit of Engineering Department here. 


I did not know how much improvement one week could make to my Spanish (especially, listening) ability.

Yeah Cambridge engineering students in Barcelona! The background was Camp Nou, the stadium for FC Barcelona, but I’m sorry you cannot see it.
The whole trip did not start really well. On my way from the airport to the hostel, I lost my wallet (which I strongly believe, it was actually stolen, considering how my daypack was opened). It was on the same day as derby match between Real Madrid and Barcelona at Camp Nou, and the metro was packed with people, so I could not move around.

However, Barcelona was such a lovely city, that I fell in love with in the end.

The food was super amazing!

OMG. The best paella I have ever tried in my life. I usually don’t like squid/ calamari, but this time I just love it, combined with clams, mussels, and prawns.
Fresh smoothies, with weird combinations. My friends’ favorite is ‘coco y mora’, or coconut and blueberry. My favorite is banana, chocolate, and coconut. Super yummy!
Empanadas! Most of the fillings are vegetarian-friendly.
Giant Chupa Chups. I was really tempted to get one, but how am I going to finish it anyway?
Gelato Mango! It was just what I needed when the weather reached above 20 degrees C. It reminded me so much of Germany last summer, where I spent every single euro I had on gelato.
Really good seafood. I got a three-course meal in a restaurant next to the sea, which cost me just 11 euros! Amazing, right? 

Engineering Department of Cambridge University works with Universitat Politècnica de Catalunya, and we had several lectures, lab tours, and visits with them. It was such an amazing opportunity to hear from the professors directly (in Spanish), on their current research project.


Visit to the Supercomputing Center in Barcelona. Such a strange place. They put the supercomputer in a church, and plays hymn. 
Clean room visit to Institut de Bioengiyeria de Catalunya.
Nuclear reactor simulation.
Learning how the old water distribution worked in Barcelona, at Museu Agbar de Les Aigues.
A visit to Tramvia (literal meaning: Tramway), the tram system in Barcelona.
I also had a great host, Sonia, who is a chemical engineering student. She is going to come to Cambridge on late April, and I am excited to show her Cambridge.

Barcelona is also famous with… its world-renowned architecture, mostly done by Antoni Gaudi. Gaudi is so famous with his strong-naturalist/ modernist architecture work. He liked to put natural components in his work.

Casa Batllo. You can see right away how unique this building is.
Park Guell part, which used to be Gaudi’s house for a little while.

La Sagrada Familia. It was such an amazing experience to enter this basilica, because it was totally different than any of basilicas I had ever visited before. This cathedral is still an ongoing project, after more than 100 years. They put so much detail into it, and everything is carefully hand-crafted.
Besides Gaudi’s works, there are also amazing places around Barcelona.

Don’t forget to hike up the Placa Espanya when you come here.
And hike up the Park Guell to see the view of Barcelona from above (and see La Sagrada Familia + its cranes!).
Beautiful (and relatively warm) beach in Europe.
The Cathedral of Barcelona.
Parc de la Ciutadella.
Port Vell.
I will definitely recommend you to visit this place before you die. Brace yourself though, it’s a favorite destination for couples. Coming from Asia, where PDA (Public Display of Affection) is not really common, it can make you feel awkward a little bit (or even lonely, haha).

Even though it was a short exchange, but I learnt so much from the people around me. One thing to note, they prefer to speak in Catalan than Spanish in Barcelona. So, another bonus: you can get exposure to another language at the same time.

Adios, Barcelona! I will see you soon.

Almost Summer

Pelataran depan Student Center.

Dua minggu lagi libur musim panas dimulai. Meskipun aku dan teman-temanku sibuk mempersiapkan ujian, dan menyelesaikan proyek-proyek di kelas-kelas kami, cuaca yang membaik, pemandangan yang makin indah, tak bisa kami tinggalkan begitu saja.

Kiri: Simona, kanan: Jing. Walaupun kami sudah beres S1 setengah jalan (aku dan Simona), kami masih sering bertemu sebagai lulusan UWC-USA.

Musim semi di depan asramaku. Bunganya cantik benar, bukan?

Pemandangan dari jendela kamarku. Pemandangan indah dari kamar bukannya menambah semangat belajar, tetapi malah membuatku melamun dan melihat keluar jendela terus.

Salah satu kelasku semester ini, D-Lab Dissemination, membuatku berpikir tentang hal-hal yang bisa aku kontribusikan pada masyarakat Indonesia. Aku dan temanku, +Rizky Rahmany, sempat terpikir untuk membuat filter air di Banjaran, Indonesia, dengan teknologi biosand dan arang bambu aktif.

Kami pun ikut serta dalam kompetisi MIT IDEAS Global Challenge, untuk mendapat funding agar project kami dapat dimulai.

Logo diambil dari sini.

Walaupun kami belum beruntung, dan hanya menjadi finalis tahun ini, tapi kami belajar banyak sekali tentang bagaimana memulai suatu project, bagaimana menulis proposal untuk minta dana, membuat poster untuk showcase, bagaimana melakukan elevator pitch, dan presentasi secara umum.

Saat IDEAS Showcase. Menjelaskan pada pengunjung tentang proyek yang ingin kami terapkan.

CaiQua berhasil menjadi finalis di MIT IDEAS Global Challenge 2014!

On a side note, rasanya senang sekali aku hampir selesai setengah jalan di sini. Ada tantangan baru di depan, ada summer yang menegangkan (karena aku masih belum tahu akan jadi seperti apa summer tahun ini), ada pertemuan kembali dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia.

Feel free to hit me up to kalau aku sudah sampai di Indonesia nanti, ya! Selain itu, mungkin karena internet yang terbatas, aku akan lebih sering daring di microblog-ku (baca: Twitter), atau di ask.fm. Benar sekali, seperti anak-anak kekinian, aku juga punya ask.fm. Alasannya bisa lihat di bawah ini, dan kamu bisa drop a question later.

Aku memang agak selektif memilih pertanyaannya, atau kadang-kadang aku hanya belum punya waktu untuk menjawabnya. Jadi, please bear with me.

Tinggal 1 presentasi, 1 memo, 1 final, dan 1 midterm lagi! Semangat! Kalian semua juga semangat, ya!

Wisata Kuliner Boston: Adiksi Teh Hijau

[googlemaps https://www.google.com/maps/ms?msa=0&msid=213342436383303245141.0004f77f53a352401db52&hl=en&ie=UTF8&ll=42.387159,-71.119006&spn=0,0&t=m&output=embed” width=”640″>
View Adiksi Teh Hijau in a larger map. Zoom out untuk melihat semua tempat.
Aku bosan dengan tujuan turis di Boston. Adakah hal lain yang lebih menarik untuk dieksplorasi?
Jika kamu pernah merasakan hal seperti itu saat kamu berada di daerah Boston dan sekitarnya dan kamu suka dengan segala makanan rasa teh hijau, ada hal menarik yang bisa kamu coba. Apakah kamu siap dengan daftar tempat wisata kuliner yang telah kukumpulkan selama dua tahun terakhir?Boston, seperti kota-kota di Amerika Serikat lainnya, tentu saja sangat multikultural. Tidak mengherankan orang-orang memberikan julukan Amerika Serikat sebagai melting pot. Mulai dari Afrika, Eropa, Asia, Timur Tengah, Amerika Selatan, semua kultur ada tempatnya di sini.Apakah kuliner yang berasal dari teh hijau hanya terdapat di Chinatown di pusat kota Boston? Tidak juga. Banyak tempat-tempat lain di sekitar Boston yang harus kamu coba. Ayo ikut tur virtualku!
Green Tea Pocky
Siapa yang tidak kenal dengan Pocky? Stik panjang renyah dengan lapisan coklat berbagai rasa ini sudah menjadi snack favorit semua orang di berbagai belahan dunia. Pocky rasa teh hijau adalah salah satu yang harus kamu coba. Tahukah kamu kalau ada dua jenis (CMIIW) Pocky teh hijau yang harus kamu coba? Yang stiknya lebih pendek dan lapisan coklat teh hijaunya lebih banyak, disebut Pocky midi. Sedangkan yang satu lagi, ukurannya normal, seperti Pocky biasa. Aku sendiri, tentu saja, lebih suka yang midi, walaupun lebih mahal sedikit, hehe. 

Yum! Foto diambil dari sini.

Pocky satu ini bisa didapatkan di C-Mart Boston, dekat Chinatown. Harganya berkisar $2-$4. Selain itu, masih di C-Mart, kamu bisa menemukan matcha bubuk (yang susah sekali dicari di Bandung), green tea candies, dan green tea cookies!
Green Tea Bubble Tea (Iya, iya, terdengar redundansinya. Maaf!)Dong Khanh Restaurant, adalah salah satu restoran Vietnam yang tak pernah sepi pengunjung di daerah Chinatown. Mereka memiliki gerai bubble tea sendiri, dengan berbagai rasa, setidaknya ada 15. Salah satunya adalah teh hijau! Jika kamu sedang tidak mood untuk minum bubble tea rasa teh hijau, rasa-rasa lainnya juga menyegarkan, termasuk durian, hehe. Harganya sekitar $3.
Green Tea Milkshake
Cafe Mami, letaknya memang cukup jauh dari pusat kota Boston, tepatnya di Porter Square. Jika kamu ingin ke sana, kamu harus naik subway, red line, menuju Alewife. Letaknya sekitar dua stasiun dari Harvard Square. Cafe Mami ini, selain menyajikan milkshake teh hijau yang lezat (seharga sekitar $3.50 saja!), juga menyajikan makanan Jepang lainnya yang tergolong cukup murah. Miso soup yang mereka sajikan juga rasanya lezat.

Ah, enak! Foto diambil dari sini.


Green Tea Ice Cream
Toscanini’s Ice Cream adalah tempat yang paling tepat untuk makan es krim teh hijau. Menyandang gelar “Best Ice Cream in the World” versi The New York Times, ada belasan rasa es krim yang mereka sajikan, teh hijau salah satunya. Harganya sekitar $4.50 untuk 1 scoop es krim. Suasana toko es krim ini juga benar-benar menyenangkan, apalagi karena ada Wi-Fi gratis, hehe.Selain es krim biasa, mereka juga menyediakan kopi, hot chocolate, dan ice cream cake. Jangan lupa, kalau kamu order ice cream cake, dan diberitahu oleh pramusajinya kalau size cake-nya untuk 6 orang, maksud mereka adalah, 6 orang Amerika. Porsinya besar!Karena itu, 1 scoop is always more than enough for me, haha.
Green Tea Ice Cream Mochi
Kamu kira hanya di Bandung ada mochi es krim? Di Boston pun ada. Jangan bandingkan harganya tapi, hehe. Thelonious Monkfish, adalah salah satu restoran sushi top di Boston. Salah satu dessert yang ada di menu mereka adalah mochi es krim rasa teh hijau. Harganya sekitar $5-$6, dan kamu akan mendapatkan dua mochi es krim besar! Buatku, rasanya lebih enak daripada mochi es krim yang pernah kumakan di Bandung, lebih halus, dan kulit mochinya lebih tipis. Rasa es krimnya pun lebih terasa.
Green Tea Mint
Mint, adalah permen rasa mint yang sering orang-orang makan di sini. Bentuknya kotak/ bulat kecil-kecil, tidak seperti permen biasa. Salah satu brand mint yang ternama adalah Altoid. Walaupun aku tidak bisa makan Altoid yang biasa (karena ada gelatinnya), Altoid juga menyediakan sugar-free mint yang tidak mengandung gelatin.Tapi ada deal lain yang lebih luar biasa: mint teh hijau! Harganya hanya sekitar $2, dan bisa kamu dapatkan di Trader Joe’s di manapun. Selain aman untuk vegan karena tidak mengandung gelatin, rasanya pun unik sekali. Kali berikutnya kamu belanja bulanan di Trader Joe’s jangan lupa beli yang satu ini, ya!

Dan bonus antioksidan. Foto diambil dari sini.

Bagaimana? Sudah ‘hijau’-kah kamu dari wisata kuliner kali ini? Jika belum, aku berikan satu bonus. Dua hari yang lalu aku menemukan video ini di Youtube, sebuah PV dari GReeeeN, band dari Jepang. Lagu ini digunakan untuk promosi aplikasi chat LINE. Oke, aku mengaku. Aku juga teradiksi dengan stiker-stiker LINE yang menggemaskan itu. Enjoy! Selamat menikmati long weekend! 

Petani Abad 21

Namanya Rebekah Carter. Rambutnya diikat ponytail dengan warna pirang keemasan. Tingginya sekitar 165cm, dan dia mengenakan kaos biru muda. Dia menyambut kami dengan tersenyum, “Selamat datang! Silakan masuk! Kalian boleh mencoba selai-selai ini yang dibuat home-made dengan croissant dan biskuit di atas meja itu.”

Dari kiri ke kanan: mint rhubarb jelly, lemon marmalade jam, pineapple pear jam, raspberry rhubarb jam.

Aku, dan kedua temanku, Yee Ling dan Katie, langsung menyambar croissant dan biskuit, lalu mengoleskan selai di atasnya. Satu, dua, tiga, empat, semua selai kami coba. Rasanya benar-benar lezat, dan real, tanpa bahan pengawet. Hanya buah dan gula/ madu. Jika kalian tahu bagaimana selai yang dijual di supermarket di Amerika Serikat (Smucker’s?) kalian akan mengerti, mengapa selai-selai ini kusebut barang berharga.


Hari ini, kami dan 12 orang lainnya mendapat kesempatan emas untuk membuat selai sendiri. Rebekah, yang jauh-jauh datang dari Winchester, sebuah kota kecil di Massachusetts, datang sebagai instruktur canning selai hari ini.

Canning, bukan hal yang baru bagiku. Aku pernah ikut satu semester ekskul Sustainability di UWC, di mana kita mengawetkan berkilo-kilo apel yang kami petik selama musim gugur. Bahkan, proses belajar canning ini pun meninggalkan bekas yang tak akan pernah hilang di jari tanganku. Meskipun begitu, siapa yang bisa menolak satu jar selai raspberry plum yang bisa kami bawa pulang saat workshop ini berakhir?

Prosedurnya kurang lebih sama, kami harus memotong plum kecil-kecil, dan menyiapkan raspberry, kemudian memasak keduanya dengan gula putih hingga encer. Sementara itu, beberapa orang lainnya mensterilisasi jar dengan ‘memasaknya’ dengan air mendidih. Kemudian, setelah jar ini steril dan selainya siap, kami menuangkan selai yang masih mendidih itu ke dalam jar, dan merebusnya ke dalam air mendidih lagi, agar ruang udara di dalam jar tersebut menguap dan menjadi vakum. Tujuannya? Tentu saja agar selainya lebih awet, dan bisa tahan ditaruh di lemari selama setahun, tanpa bahan pengawet!

Rebekah juga bercerita tentang profesinya sebagai salah satu karyawan tetap di Wright-Locke Farm di Winchester. Dia pun berbagi kartu nama, e-mail, dan website tempatnya bekerja. Aku sempat tergelitik, profesinya adalah petani, tetapi mengapa dia terkesan seperti pekerja kantoran?

Akuilah, sebagian besar dari kita menganggap petani sebagai pekerjaan sebelah mata. Kakek-nenekku, adalah petani di tanah Jawa. Setiap kami pulang kampung, selalu ada sisa panen yang beliau bagikan untuk kami bawa pulang ke tanah rantau. Tahun ini, kacang tanah. Tahun depan, kacang kedelai. Mungkin dua tahun lagi, beras atau cabai. Orang tuaku sendiri dengan bangga bilang, “Bapak ibumu ini sudah ‘jadi’, kedua orang tua kami hanyalah petani, tetapi kami bisa menjadi pegawai negeri.”

Tetapi, Rebekah, dengan bangga bercerita mengenai pekerjaannya di Wright-Locke Farm.

Dia bercerita dengan semangat, dirinya mencintai pekerjaannya sebagai petani. Saat musim tertentu, dia akan mengawetkan buah-buahan yang baru dipanennya, dan pada hari tertentu dia akan menerima anak-anak muda untuk membantunya di ladang, agar mereka bisa belajar dari mana makanan mereka berasal.

“Saya sedih kalau ada anak yang datang dan bilang, kalau makanan asalnya dari supermarket.”

Karena itu, tiap musim panas, akan ada acara summer camp di farm-nya, dan dia akan mengajari anak-anak bagaimana menanam, merawat, dan memanen berbagai sayuran dan buah-buahan. Kadang dia juga menyewakan farm-nya untuk acara resepsi pernikahan (pesta kebun?) atau sekadar piknik keluarga.

Kemudian, lembaga yang menaungi ladang dan sawahnya juga mempunyai peternakan kecil-kecilan. Rebekah bercerita, bagaimana dia benar-benar excited dengan kedatangan kambingnya akhir April nanti. “Tahun lalu, kami mempunyai beberapa kambing, dan kami memerah susunya. Saya menemukan bahwa susu kambing sangat berkhasiat untuk melembabkan kulit. Lalu kami membuat sabun dan losion dan menjualnya.”

“Saya juga senang melihat resep-resep selai atau jelly baru, atau sekadar mencari inspirasi di blog-blog macam foodinjars.com atau http://www.punkdomestics.com/. Saya juga sering membaca buku tentang metode, atau hasil riset tentang bagaimana mengawetkan yang baik.”

Wright-Locke Farm, seperti ladang/sawah/kebun lainnya di Amerika Serikat, juga memiliki program CSA, atau Community Supported Agriculture. Intinya, kamu bisa membayar di muka suatu ladang/kebun/sawah untuk menanam sayuran atau buah-buahan, dan saat memanen, beberapa bulan ke depan, kamu akan menerima boks berisi sayur mayur atau buah-buahan segar selama periode waktu tertentu. Sistem lainnya adalah, dengan membayar di muka, kamu bisa memetik sayur mayur atau buah-buahan segar beberapa bulan ke depan, selama periode waktu tertentu. Bagiku, sistem ini cukup efektif, karena hasil panen akan diberikan langsung kepada konsumen yang membutuhkan, dan pembayaran di muka juga membantu kesejahteraan para petani.

Dengan bangga kita bercerita tentang Indonesia sebagai negeri agraris. Faktanya, kita sendiri mengecilkan profesi petani. Kita tidak mau jadi petani, rasanya malu; jurusan kehutanan, perikanan, pertanian, jadi opsi jurusan terakhir. Melihat petani yang sukses di negeri yang tidak mengaku dirinya agraris, bukankah kita harus berpikir ulang? Bagiku, Rebekah adalah potret petani abad 21.

Yang jelas, aku membuat selai raspberry plum sendiri hari ini. Makan pagiku aman untuk sebulan ke depan, tinggal beli roti! Hore!

Resep ultimate lezat: buatan sendiri dan dipandu oleh ahli.