(Very Basic) Molecular Gastronomy

*I feel like writing in English today. If you prefer reading my blog in Indonesian, please bear with me this one time ūüôā

So, this is IAP. And IAP is always a great time of the year, when I¬†actually¬†feel like at MIT, the place with endless knowledge and quirkiness waiting to be pursued.¬†This year, besides taking several writing classes (2, actually: 1. Because I didn’t pass my Graduate Writing Exam 2. Because there is this cool class about graduate student blog which I am excited about, I also took “Learning Science through Cooking”.

Liquid nitrogen ice cream!
Liquid nitrogen ice cream!

Oh boy, that was an amazing class. I got to taste liquid nitrogen ice cream (again), (so much) chocolate -including chocolate caviar, and vauquelin.

 

Let’s start with something easy, shall we? Continue reading “(Very Basic) Molecular Gastronomy”

Menggeluti Hobi Baru: ‘Memasak’

Dengan tanda kutip. Betul sekali, kalian tidak salah lihat. Aku pun belum jago-jago amat, soalnya, haha.

Meskipun aku tetap melanjutkan S2-ku di kampus yang sama dengan S1-ku dulu, tidak semua hal terasa sama. Mulai dari kuliah mata kuliahnya jauh lebih sulit, hingga mulai riset beneran. Selain itu, asramaku lebih jauh dari kampus, dan tidak ada dining hall di sini. Artinya, mau tidak mau aku harus masak sendiri.

Bagaimana transisiku dari yang dulunya jarang masak, hingga sekarang yang jadi (lebih) sering masak?

Burger
Tuna burger buatanku sendiri. Burger patty-nya aku buat sendiri, lho!

Continue reading “Menggeluti Hobi Baru: ‘Memasak’”

Mencari Sepi di Maine

Akhir minggu yang lalu, bersama teman-teman mahasiswa, teknis, professor, dan saintis di labku, kami berdelapan belas pergi ke Maine untuk melakukan Lab Retreat musim gugur. Dalam Bahasa Indonesia, kata ‘retreat’ sendiri punya asosiasi yang kuat dengan agama tertentu (KBBI: khalwat mengundurkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin). Meskipun begitu, Lab Retreat ini tidak ada hubungannya dengan religi. Tujuannya sederhana: mendekatkan diri dengan anggota lab lainnya, menyelesaikan masalah personal intralab, dan juga bersenang-senang!

PV Lab, credit: Marius
MIT PV Lab, credit: Marius.

Continue reading “Mencari Sepi di Maine”

Graduated.

Ucapan selamat mengalir, doa pun membanjiri lebih dari biasanya (saat saya ulang tahun). Sejak kira-kira seminggu yang lalu, saya resmi menyandang gelar sarjana. Jika ditanya bagaimana rasanya, saya akan jawab singkat: biasa saja. Keluar uang, malah, untuk rental regalia dan beli baju terusan (karena kebaya membatasi gerak-gerik saya). Belum, saya harus duduk lama menunggu nama saya dipanggil. Tetapi pidato dari aktor sekaliber Matt Damon membuat saya benar-benar terkagum-kagum dan terinspirasi.

Dan tak ada yang bisa menolak hadiah dari orang-orang terkasih.

Continue reading “Graduated.”

Why Gothenburg, Sweden and Chalmers?

I spent a week in Gothenburg, Sweden, because me, along with 6 other people, won Chalmers Global Challenge this year (as I have told you before, here). You might wonder, how different is the education system in Sweden (specifically, Chalmers), in comparison to American education system?

I was wondering about the same thing, too…

Hint: there is a (great) balance between work and life. Chalmers, also has a great number of international students!

Continue reading “Why Gothenburg, Sweden and Chalmers?”

Spring Break: DLab Project di Kolombia (1)

Reading time: 3-4 minutes
Language: Bahasa Indonesia
Bagian keduanya bisa dibaca di sini

Seperti yang pernah aku ceritakan di sini, akhirnya spring break kali ini aku habiskan di Kolombia, di sekitar Bogota, untuk bekerja dalam project yang kulakukan di kelas Development Lab-ku semester ini: membantu petani serbuk sari dari lebah. Dua minggu sebelumnya, aku sempat deg-degan karena pasporku masih di Kedubes Swedia, untung dikembalikan secepatnya, via FedEx. Maafkan mahasiswi buang-buang uang untuk FedEx seperti aku, ya Allah.

Sejujurnya, aku tak punya banyak ‘waktu transisi’ untuk mempersiapkan keberangkatanku ke Kolombia ini. Tiga hari terakhir sebelum berangkat, aku sibuk dengan graduate school¬†open house Mechanical Engineering Department di MIT. Bahkan karenanya, aku harus bolos banyak kelas, dan merasa kelelalahan luar biasa karena ‘bersosialisasi’ seharian penuh. Packing pun kulakukan seadanya, secepatnya. Satu hal yang kulupakan: check-in online. Akibatnya, di dua penerbangan yang penuh turbulensi, aku dapat tempat duduk paling belakang, di ekor pesawat, dan guncangannya benar-benar terasa. Badanku pun tak enak sepanjang perjalanan. Maklum, sejak kecil aku sering mabuk kendaraan.

Bienvenidos a Colombia!

Tetapi, akhirnya kami tiba dengan selamat di Bogota, Kolombia. Cobaan tak berhenti di situ, karena aku harus ‘berurusan’ dengan petugas imigrasi. Dua teman setimku dan satu mentorku yang berkewarganegaraan Amerika Serikat, tidak mengalami kesulitan yang berarti saat melewati imigrasi. Aku sempat merasa tak enak karena akhirnya teman-temanku terpaksa menunggu di imigrasi selama lebih dari 30 menit.

Ketiba tiba di tempat tinggal kami untuk seminggu ke depan, aku merasakan sesuatu yang familiar: tempat ini mirip kos-kosan di Indonesia! Ada banyak kamar, dapur, dan ruang nongkrong. Wi-Fi-nya pun relatif kencang.

Akhirnya tempat ini kami gunakan sebagai ‘bengkel’ sementara.

Selain itu, kami pun sempat menjelajah ke berbagai tempat di sekitar Bogota, termasuk short trip ke Zipacon, Cachipay, dan La Mesa. Di tempat-tempat tersebut, kami mewawancarai para petani lebah, untuk mengetahui lebih baik permasalahan apa yang mereka punya dalam mengeringkan serbuk sari dari lebah. Katanya, pollen ini baik untuk nutrisi tubuh, dan laku keras di sini.

“Mana ratu lebahnya? Mana?”

Ternyata, lebah yang mereka gunakan di sini sedikit berbeda dengan lebah madu kebanyakan. Spesiesnya beda, sehingga lebah-lebah di sini menghasilkan lebih banyak pollen daripada madu. Menariknya lagi, ada sekitar dua tipe sarang lebah yang mereka gunakan. Jika lebah madu, biasanya sarang lebahnya vertikal, sarang lebah pollen ini horizontal; bahkan bambu pun bisa digunakan!

Kalau kamu melihat foto di atas, mungkin kamu akan terkaget-kaget sendiri. “Mengapa orang-orang ini tidak mengenakan pakaian pengaman saat bermain dengan lebah?” Ternyata, lebah pollen ini tidak menyengat dan ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan lebah madu.

Lebahnya kecil-kecil bukan?

Di jalan pulang, sayangnya, mobil kami sempat mogok, mungkin karena pergi naik turun gunung seharian penuh. Pipa airnya bocor, dan kami harus ‘mengoperasi’ mobil sedikit hingga kami kembali ke tempat yang lebih banyak penduduknya untuk mencari spareparts.

Kami yang rata-rata enjinir dari MIT, tidak membantu banyak, dan membiarkan bapak-bapak mengambil alih, haha.

Meskipun sebagian besar waktu kami gunakan untuk mengerjakan prototipe untuk mesin pengering pollen, kami pun sempat berjalan-jalan sedikit ke tempat-tempat penting di sekitar Bogota.

Salah satunya, adalah sejarah penting dari negara ini: Jorge Eliecer Gaitan, pemimpin populis yang dibunuh dengan ditembak di salah satu sudut jalan di Kota Bogota, ketika dia berkampanye untuk menjadi presiden. Kemudian, setelah dia terbunuh, banyak orang yang merasa sedih, dan mulai menentang pemerintah. Kabarnya, kelompok penentang ini masih ada hingga sekarang; padahal Jorge dibunuh tahun 1948!

Sudut kota tempat Jorge terbunuh, yang dipenuhi dengan plakat dan tanda penghormatan padanya.

Hal lain yang benar-benar kusuka dari kota ini adalah sisi artistiknya. Tidak ada bagian dari kota yang tidak dipenuhi dengan mural dan lukisan dinding yang menarik. Isinya beragam: mulai dari protes terhadap pemerintah, dukungan terhadap salah satu dari film Superman vs. Batman, atau tentang kehidupan sehari-hari dan simbol kultur masyarakat sekitar.

Kalau yang ini? Bar yang menyediakan LSD?

Jika kamu penasaran dengan apa yang timku lakukan selama seminggu ini, foto yang satu ini mungkin bisa merangkum semuanya.

Prototipe kesekian mesin pengering pollen.

Jadi, dari mesin ini, ada tiga bagian penting: ember besar berwarna putih yang berputar karena didorong oleh motor (tempat pollen dikeringkan), lalu air pump yang menyedot udara agar masuk ke dalam ember besar, dan heating element, yang berupa coil dengan resistansi tinggi, sehingga menjadi sangat panas ketika listrik mengalir.

Sementara ini, kami sudah mencoba heating element yang ada di air pump itu sendiri (yang dicomot dari mesin pengering tangan/ hand dryer), atau dengan coil untuk stove top dari kompor listrik. Sayang sekali, karena keduanya melibatkan proses memanaskan logam, maka efisiensinya sangat rendah. Ada yang punya ide hal lain yang bisa kami coba?

Community partner kami sudah mencoba berbagai cara, termasuk mengeringkan pollen dengan lemari es yang dimodifikasi sehingga mengalirkan udara hangat ke dalamnya. Sayangnya, heat flow di dalam lemari esnya sendiri kurang baik, sehingga tidak semua bagian di dalam lemari es terkena udara hangat tersebut.

Berikut ini foto tim kami di bengkel tempat kami mencoba prototipe mesin pengering dari lemari es, yang terletak di Technopark-nya Bogota. ‘Bengkel’ ini bisa diakses siapapun untuk mengerjakan project masing-masing! Dana yang dikucurkan hingga jutaan USD untuk membangun dan menjalankan tempat itu mampu membuat masyarakat Bogota, terutama mereka yang duduk di bangku sekolah dan universitas, berpikir lebih kreatif dan melakukan riset. Kapan ya di Indonesia punya tempat seperti ini?

Foto tim kami yang bekerja dalam project bee pollen dryer!
Bogota’s very own makerspace! Beautiful place. I want to have a space like this in Indonesia that is accessible by everyone!


Masih ada banyak cerita dari Kolombia. Ini hari terakhirku ada di kota ini, dan sebentar lagi aku harus mengecek hasil tes prototipe kami. Besok aku akan terbang kembali ke Boston. Doakan ya teman-teman, semoga semua lancar. Salam dari Bogota! Tunggu blogpost keduanya, ya!