Revolusi (Buku) Resep

Suatu hari, karena kesusahan menemukan resep ayam kecap spesifik yang kutemukan di internet sebelumnya dan berakhir sukses, akhirnya aku memutuskan, sudah saatnya aku punya buku resep pribadi. Sama seperti lab notebook yang kupunya untuk mencatat tetek bengek risetku, mengapa aku tidak punya ‘lab notebook’ sendiri untuk urusan masak-memasak?

labnotebook_1
Lab notebook. Mengapa tidak membuat ‘kitchen notebook’?

Continue reading “Revolusi (Buku) Resep”

Adakah Hubungan Bulan Baik/Buruk Pernikahan dengan Jumlah Kelahiran Bayi di Jakarta?

Manusia sering kali tidak tahu kapan harus memprioritaskan sesuatu. Pernyataan ini kuamini sekali lagi hari ini, karena bukannya belajar untuk ujian oral menjadi Ph.D. candidate, aku malah tiba-tiba kepikiran satu hal yang sangat iseng.

Aku tiba-tiba teringat suatu percakapan, “Di Amerika Serikat, lebih banyak bayi dilahirkan di bulan November, karena 9 bulan sebelumnya, bulan Februari, adalah bulan Valentine, di mana orang-orang mengekspresikan kasih sayang mereka lebih terbuka.”

Benarkah begitu faktanya? Berdasarkan sebuah riset yang dilakukan oleh Amitabh Chandra di Harvard University (datasetnya cukup jadul, dari tahun 1973-1999, so take it with a grain of salt), sepertinya kelahiran di bulan November itu tergolong standard. Faktanya, lebih banyak bayi yang lahir di bulan September (15 besar tanggal kelahiran dengan frekuensi tertinggi ada di bulan September, berdasarkan riset tersebut). Artinya, banyak bayi yang ‘dimulai’ di bulan Desember-Januari. Well, kalau dipikir-pikir, Desember-Januari adalah musim dingin dan juga musim liburan, so that makes a lot of sense!

Bagaimana dengan di Indonesia? Adakah hubungan bulan baik/ kurang baik pernikahan dengan jumlah bayi yang dilahirkan dalam bulan tertentu? Spoiler, meskipun dataset-nya cukup kecil (aku hanya bisa menemukan data jumlah kelahiran penduduk DKI Jakarta tahun 2014 dan 2015), ada hal yang cukup menarik yang bisa disimak.

Enjoy my little (insignificant) exploration. Sebelumnya, disclaimerit’s just for fun. Don’t take it too seriously.

Continue reading “Adakah Hubungan Bulan Baik/Buruk Pernikahan dengan Jumlah Kelahiran Bayi di Jakarta?”

Tidak Efektifnya Proses Boarding di Pesawat

Sebagai anak kemarin sore yang tiba-tiba diberi kartu kredit korporat untuk memudahkan perjalanan bisnis, aku kadang kegirangan sendiri. Sama dengan satu kredit lainnya yang kuterima untuk memudahkan pembelian barang-barang kebutuhan lab. Akuilah, membeli sesuatu, apalagi bukan dari kocekmu sendiri, meskipun itu hanya disposable pipette tips atau empat pak microscope glass slides, yang nggak bisa dimakan apalagi dikunyah, itu tetap menyenangkan. Sama dengan perjalanan bisnis. Mungkin karena aku belum sering-sering pergi, satu semester paling hanya dua-tiga kali. Kalau nanti sudah jadi konsultan yang kerjaannya terbang ke sana kemari tiap tiga hari sekali, setidaknya begitu kata temanku yang kerja sebagai konsultan di Washington, D.C., berada di tempat tinggal selama lebih dari 4 hari adalah sebuah kemewahan.

Anyway, perihal soal terbang wara-wiri ke sana kemari, sebagai manusia yang nggak mau rugi, aku sudah daftar sekian banyak Frequent Flyer program, berharap pada satu waktu aku akan terbang cukup sering/ cukup jauh untuk mendapat poin yang signifikan dan bisa ditukarkan dengan berbagai benefit, Wi-Fi gratis di atas awan, misalnya. Sedikit cerita soal Wi-Fi gratis: suatu waktu aku sangat girang karena sudah dapat poin yang cukup untuk menukarkan Wi-Fi gratis untuk perjalanan 15 jam dari Boston Logan ke Tokyo Narita. Hanya saja, entah mengapa, maskapai tersebut tidak memberikan kode penukaran atau apapun itu hingga hari ini. Musnah sudah impian menukarkan poin Frequent Flyer untuk suatu hal, apapun, yang konkret.

(Ketahuan sekali aku sudah lama tidak nulis. Topiknya ke mana-mana.)

Kembali ke topik awal: terbang. Bersama dengan kolega lain dari lab, aku biasanya mencoba mereservasi tiket dengan maskapai dan jam penerbangan yang sama dengan mereka, semata-mata untuk alasan convenience. Supaya di bandara tujuan, tidak saling tunggu-menunggu, dan bisa langsung ke tempat rental mobil dan setelahnya, ke tempat tujuan. Hanya saja, waktu reservasinya tak pernah pas, sehingga seringnya aku tak kebagian. Kemarin, akhirnya aku terbang di penerbangan yang sama dengan mereka. American Airlines, lebih tepatnya. Kolegaku yang satu ini punya strong belief, yang entah muncul dari mana, bahwa pelayanan American Airlines lebih baik dibandingkan Delta, apalagi United. Aku sendiri lebih senang JetBlue, lagi-lagi, karena alasan Wi-Fi gratis. Hehe.

Dia bilang, “Iya, entah kenapa aku selalu dapat boarding group 6. Nggak pernah lebih awal.”

Aku menilik boarding pass-ku. Sama-sama grup 6 juga. Meskipun aku tahu persis, aku baru booking tiketku seminggu yang lalu, dengan harga yang sudah agak mahal.

Lalu aku penasaran, atas dasar apakah maskapai penerbangan membagi grup-grup boarding ini? Seberapa efektif mereka? Seperti yang kita ketahui, sebagai orang yang selalu merutuk sendiri dalam hati karena orang yang duduk di depan butuh waktu lama menaruh barang-barang mereka di overhead compartment dan menahan antrean passenger yang duduk di belakang, kita tahu persis bahwa proses boarding ini jauh dari kata efektif.

Continue reading “Tidak Efektifnya Proses Boarding di Pesawat”

Truth and Fanaticism

Ada sebuah pertanyaan yang muncul di sebuah interfaith retreat yang aku ikuti akhir minggu lalu. Pertanyaan yang sama sebelumnya pernah muncul dalam berbagai kesempatan; aku pun sering ditanya pertanyaan ini oleh teman-temanku dari berbagai kepercayaan (atau ke-tidak-percayaan).

“Apa itu kebenaran? Bagaimana kita tahu hal yang kita percayai benar?”

Aku diam. Lalu temanku bertanya lagi, “Apa itu kebenaran? Tak perlu dijawab secara universal, karena tak ada orang yang tahu. Jawab saja berdasarkan pendapatmu, dan juga latar belakangmu.”

Aku masih terdiam. Doktrin dan pelajaran soal agama bertahun-tahun yang kudapatkan rasanya tak cukup untuk menjawab soal kebenaran.

Continue reading “Truth and Fanaticism”

Alkisah: Keran

Bisa dibilang, aku sangat pemilih, sangat particular, akan beberapa hal yang menurut khalayak banyak tidak penting untuk dipermasalahkan. Asal berfungsi, mengapa tidak? Tetapi belakangan ini, aku tidak bisa berhenti memikirkan hal ini. Anggap saja aku aneh, atau memiliki disorderbila kalian suka.

Ini soal keran air. Heads-up, aku tidak sedang mencoba berfilosofi ria di sini, jadi jangan coba cari hubungan keran dengan alam hidup raya.

Di Indonesia, orang tidak peduli. Mau keran yang diputar, yang dipencet, atau yang dengan gerakan tangan wus-wus (yang katanya untuk meminimalisir kontak antar-manusia, dan sejatinya, meminimalisir penyebaran virus, bakteri, atau apalah), orang-orang tidak mau tahu. Asal kerannya jalan dan tidak berhenti, itu lebih dari cukup.

Permasalahan keran ini muncul dan mengganggu pikiranku sejak sekitar 4 tahun lalu pindah ke Inggris untuk setahun. Di sana, keran air panas dan air dingin itu terpisah. Sungguh dilema, kalau ingin cuci tangan: air dinginnya terlalu dingin dan air panasnya terlalu panas. Sering sekali, setelah beres cuci tangan, tanganku merah-merah karena air panas.

Kalian juga mungkin bisa mengerti, di negara tropis seperti Indonesia, masalah sepele macam keran ini tak akan jadi masalah besar, karena keran air dingin pun cukup untuk kita (lagi-lagi, kecuali, kalau kamu tinggal di pegunungan di Bandung, yang kadang airnya bisa menyentuh 15 derajat Celsius).

Sumber foto. Keran Inggris.

Ternyata, Buzfeed punya jawaban atas pertanyaanku.

Continue reading “Alkisah: Keran”

Aku & Buku: Bobol Celengan

Aku baru sadar belakangan ini, bukuku banyak sekali, sebagian besar komik Jepang. Aku mengumpulkannya sejak kelas 3 SD. Tak hanya itu, banyak juga novel dan buku non-fiksi dengan berbagai macam topik. Ibuku, sejak tahun 2000, rutin membeli majalah Intisari (Reader’s Digest-nya Indonesia), dan sejak tahun 2010-an juga rutin membeli majalah Kartini. Ayahku, entah sejak kapan berlangganan koran Kompas (mungkin sejak jauh sebelum aku lahir), meskipun harga kertas naik terus.

Yang tersisa dari koleksi Intisari tahun 2000. Ibuku senang membeli Intisari, tapi entah mengapa enggan untuk berlangganan langsung.
Bagiku sendiri, koleksi buku-bukuku ini adalah saksi bisu aku tumbuh, sekaligus salah satu faktor yang membentuk diriku saat ini.

Semuanya bermula dari suatu siang yang terik, saat kelas 3 SD.

Ada sebuah perpustakaan baru di pertigaan jalan padat di kota tempat tinggalku. Sejak dulu, aku orangnya tergolong pemalu dan menghindar untuk berinteraksi secara langsung. Terkadang telepon rumah tidak aku angkat, karena aku tidak ingin bicara pada orang di seberang. Kadang pula, saat harus membeli bakso di pedagang kaki lima, aku meminta kakakku untuk memesan makanan yang kuinginkan.

Tetapi hari itu berbeda. Karena aku benar-benar penasaran dengan perpustakaan itu, aku memutuskan untuk bertanya langsung. Ternyata, di dalamnya mirip dengan taman bacaan, dengan koleksi komik (terutama komik Jepang yang tumpah ruah), juga novel, dan buku-buku lainnya. Aku terkesima. Saat itu pula aku memutuskan untuk mendaftar.

Bertahun-tahun berikutnya, aku hampir tiap minggu pergi ke perpustakaan tersebut. Karena aku benar-benar tertarik dengan kisah cinta di serial cantik komik Jepang, maka aku mulai membeli beberapa buku dengan genre tersebut. Bahkan, perpustakaan ini juga membantuku mendapatkan komik tertentu yang aku inginkan, dan menjualnya padaku dengan harga jauh lebih murah daripada yang ditawarkan di jaringan toko buku besar.

Jika kamu teman SD-ku, tentu saja kamu ingat denganku yang kurus dan dekil saat itu. Karena untuk jajan makanan pun aku benar-benar irit, kadang kala memilih pulang jalan kaki daripada naik angkot, demi membeli komik-komik tersebut (juga karena aku tak suka makan ayam dan daging waktu kecil, karena keduanya terasa ‘alot’ -keras, bagiku, hingga aku mengetahui betapa berharganya daging dan ayam yang halal saat di luar negeri). Celengan pun aku bobol, dan kadang, ‘pesangon’ (angpau) lebaran dari nenek kakekku pun aku belikan komik.

Tahu Nakayoshi, Cherry, dan Shonen Magz? Ketiganya adalah majalah komik yang sempat aku koleksi untuk beberapa waktu. Nakayoshi, terutama, karena aku sampai punya hampir 70 jilid pertama majalah komik satu ini. Beberapa komik serial cantik pun aku koleksi dengan lengkap: Alice 19th, Baby Love, Marmalade Boy, Toe Shoes, dan lain-lain. Aku pun masih ingat bagaimana aku benar-benar terharu saat membaca jilid terakhir dari komik Imadoki! dengan Yamazaki Tanpopo sebagai tokoh utamanya.

Koleksi Nakayoshi, dan Cherry. Rasanya sedih karena ada beberapa jilid Nakayoshi yang hilang 😦

Saat SMP, selain membaca komik Jepang, hobiku bertambah satu: membaca novel, terutama teenlit. Dealova adalah teenlit pertama yang kubaca, dan karena itu, aku benar-benar terlarut dalam ceritanya. Selain itu, aku sempat mencoba membaca Supernova-nya Dewi Lestari, namun saat itu ‘belum kesampaian’ kemampuan otaknya, haha.

Ketika masuk SMA di Bandung, aku jarang lewat pertigaan ini lagi saat pulang ke rumah, karena itu aku pun semakin jarang meminjam buku di perpustakaan satu ini. Ketika akhirnya aku meneruskan ke UWC di Amerika Serikat, aku tidak sempat mengucapkan proper selamat tinggal pada perpustakaan favoritku ini, bahkan aku tidak ingat persis siapa nama pemiliknya, kecuali ‘Om’, dan untuk petugas desk-nya, ‘Mas’. Jika Anda membaca ini, aku ingin mengucapkan terima kasih pada Anda berdua, karena bersedia menjadi perantara antara aku dan buku-buku.

Lebih beragam, termasuk bahasa pengantar yang berbeda (ada beberapa buku berbahasa Inggris juga). Rak paling atas: novel berseri favoritku yang sebagian besar tak lengkap. Ada yang mau menghadiahiku buku dan melengkapi seri-seri tersebut? 🙂

Tahun ini, setelah aku memperbarui niatku untuk membaca buku di luar buku kuliah, celenganku pun mulai kebobolan lagi. Tetapi, kali ini aku tidak sudi untuk memotong uang makanku, sehingga tabunganku menipis. Tetapi, memang tak ada kepuasan yang menggantikan saat menyentuh buku baru, dan saat menutup buku yang telah selesai dibaca.

Printilan: Problem Sets

Sebagai mahasiswa kampus ini, ada satu teman akrab, sekaligus horor yang selalu menemani kami semua. Memastikan bahwa kami semua mengerti materi.

Problem Sets!

Pset, bagiku tak hanya akronim dari keripik setan (keripik pedas a la Bandung), tetapi dua tahun terakhir telah menjadi kata ‘keramat’, kependekan dari problem set.

“Hari ini jalan, yuk!”

“Aku ada pset yang harus dikumpulkan besok, nih, jadi tidak bisa. Maaf, ya!”

Problem set adalah alasan legitimate, untuk tidak jalan-jalan, atau main. Tetapi kadang dijadikan ‘alasan’ juga bagi orang-orang yang memang mencari alasan.

Berapakah jumlah problem sets dalam tiap kelasnya? Tergantung professornya, sebenarnya. Untuk kelas level intro, biasanya ada problem sets tiap minggu (total satu semester: sekitar 10-12 problem sets). Sedangkan untuk second level subject, kadang problem setnya hanya sekali tiap dua minggu, atau kadang acak dan tidak beraturan.

Untuk second level subject, walaupun problem setnya terlihat lebih pendek (kadang hanya berisi 2-3 pertanyaan), tetapi waktu yang dibutuhkan sama saja dengan problem set dari kelas intro. Rata-rata, aku dan teman-temanku membutuhkan waktu 3-8 jam untuk mengerjakan problem sets. Beberapa teman yang lebih pintar, bisa menyelesaikan lebih cepat. Biasanya waktu yang diberikan sekitar seminggu dari hari pengumpulan.

Bagaimana kalau sudah mencoba lama sekali, tetapi masih belum ketemu jawabannya? Ada office hours yang diadakan professor dan teaching assistants (atau asdos/ asisten dosen). Mereka akan membantumu dengan semua pertanyaan mengenai problem setmu, atau materi kuliah umumnya. Biasanya, office hours diadakan malam hari…

Jadi jangan heran kalau lampu-lampu di bangunan sekitar kampus masih menyala saat malam hari! Sumber foto dari sini.

Meskipun total nilai problem set hanya menjadi bagian kecil dari nilai akhir mata kuliah (kadang hanya 10%, sisanya ditentukan UTS dan UAS), semua orang tetap serius mengerjakan semua problem set. Mengapa? Karena mengerjakan problem set (atau pekerjaan rumah lainnya), merupakan bagian dari proses belajar. Jika mendengarkan kuliah dari dosen adalah kali pertama bersentuhan dengan materi, problem set mengemban misi internalisasi materi. Bagi kami semua di sini, problem set adalah jembatan untuk pindah dari ‘sekadar mengerti’ menuju ‘benar-benar mengerti’.

Walaupun kadang-kadang ujung-ujungnya stress sendiri karena minggu depan ada 4 problem set, 1 paper, dan 1 prelab. Haha. Tak ada yang pernah bilang kalau menjadi sukses itu tak perlu berpeluh. Tapi peluh itu bisa jadi menyenangkan dan tidak, tergantung dirimu sendiri. Yang setuju angkat tangan!

*By the way, yes, this blogpost is a part of my procrastination, haha.