Farewell

I always get a little nostalgic when it comes to the end of (academic) year. It is definitely really exciting to finish up classes and projects, as the day gets longer and warmer.

The past year has been hard, and I managed to pull it through. I know you don’t care about the little details of what I have gone through.

Thesis defenses, final project presentations, final exams, and graduations.

This year, I need to say goodbye to a very good friend of mine, who put up with me throughout the year, and comforted me whenever I needed it. The one who would save me a free boba from study break, put it in the fridge, and texted me, “I got you a free boba. Whenever you’re done on campus, feel free to drop by my room.” The one who would go to WholeFoods and buy me an extract black elderberry to improve my immunity system and make sure I take acetaminophen every 6 hours so my fever went down. The one who would accompany me when I was on bed rest, order a porridge delivery, buy me bananas (because that’s the only thing I could eat). The one who would spend at least 6 hours every week to go through machine learning problem sets with me and still say, “If you need help with your final project, let me know. I am sure you understand the math behind the algorithms, but I could lend you a hand on Python. It must be hard to take this class while relearning how to use Python.”

The one who would never think twice to say yes whenever I asked, “Do you wanna get dinner together outside? Or should we get a takeout and eat in my room?” although, the only thing I wanted was a company.

Congratulations on your graduation. It has been 7 years since I started MIT, and I always see people come and go. I have gone through farewell dinners countless times, and I never felt this bittersweet.

Continue reading “Farewell”

Menguasai Diri

Sangat menarik rasanya ketika kita tahu secara precise, “Oh, aku yang sekarang sedikit lebih baik dari yang kemarin.”

Konteks di sini ada bermacam-macam. Tapi, kumohon, perbolehkan aku merayakan diriku sendiri untuk saat ini, sebentar.

Continue reading “Menguasai Diri”

Revolusi (Buku) Resep

Suatu hari, karena kesusahan menemukan resep ayam kecap spesifik yang kutemukan di internet sebelumnya dan berakhir sukses, akhirnya aku memutuskan, sudah saatnya aku punya buku resep pribadi. Sama seperti lab notebook yang kupunya untuk mencatat tetek bengek risetku, mengapa aku tidak punya ‘lab notebook’ sendiri untuk urusan masak-memasak?

labnotebook_1
Lab notebook. Mengapa tidak membuat ‘kitchen notebook’?

Continue reading “Revolusi (Buku) Resep”

Generasi Sekali Pakai

Labku kebanjiran. Setelah hari-hari musim panas yang suhunya sulit kutolerir, dan membuatku mendekam di dalam ruangan sepanjang hari, Rabu kemarin hujan turun tak berkesudahan. Hingga akhirnya National Weather Service mengeluarkan peringatan (alert) yang muncul di layar ponselku sore itu: Thunderstorm warning. Flood warning.

Kupikir, tak akan seserius di Indonesia; dan memang kenyataannya seperti itu. Hanya saja, pipa di lantai tiga di gedung laboratoriumku bursts, alias bocor. Tentu saja, air pun mengalir ke lantai bawah, termasuk ke laboratoriumku yang berada di lantai bawah tanah.

Paginya, aku terkejut melihat kondisi labku. Desas-desusnya, air bocor dari langit-langit seperti air terjun, dan tidak pandang bulu. Solvent hood di lab kami rusak, begitupun dengan hot plate dan beberapa sample yang kutinggalkan semalam untuk didinginkan. Ah.

Solvent hood kami kena juga. Entah, air yang bertebaran di mana-mana terkontaminasi bahan kimia atau tidak, sehingga…
…untuk mengeringkannya kami menggunakan hazmat mat, ‘lap’ untuk tumpahan bahan kimia.

Hari itu aku tahu, eksperimenku harus diundur, dan aku harus bahu membahu kerja bakti bersama anggota lab lainnya untuk membersihkan air yang berada di mana-mana.

Little did I know, how wasteful the cleaning process is. Selamat datang di generasi sekali pakai. Continue reading “Generasi Sekali Pakai”

Iklan Subway: Bukti Cutting Edge Medicine Research di Boston?

Kemarin, aku jalan-jalan ke Salem. Di subway menuju North Station, tempat aku akan naik kereta ke Salem, aku termenung. Pagi itu masih cukup muda, subway masih lengang dari penuh sesaknya orang-orang. Jam masih menunjukkan pukul 09:38, dan perhatianku tertuju pada satu hal: sebuah iklan yang terpampang di dinding-dinding kereta subway, dan juga langit-langit. Iklan semacam ini sudah sering kulihat di kereta bawah tanah di Boston.

Sumber. Iklan meminta partisipasi volunteer/ sukarelawan untuk riset di rumah sakit.

This ad threw me a few years back. Ketika aku masih punya banyak waktu dibuang-buang untuk menonton drama Korea. Salah satu bintang favoritku adalah Joo Won, yang bermain di Good Doctor. Singkat cerita, salah satu scene di drama ini adalah ketika salah satu anak petinggi rumah sakitnya didiagnosis penyakit yang cukup kronis, kemudian akhirnya dia dirawat di Boston Children’s Hospital. Dikisahkan, rumah sakit ini adalah rumah sakit terbaik di dunia dengan para dokter yang sangat andal. Benarkah adanya? Apakah iklan-iklan di kereta bawah tanah itu indikasi bahwa rumah sakit-rumah sakit di Boston memang merupakan institusi riset cutting edge di bidang tersebut?

Continue reading “Iklan Subway: Bukti Cutting Edge Medicine Research di Boston?”

Lederhosen dan Dirndl: Bavaria, Yunani, dan Bergkirchweih

Pagi itu aku mendapat kejutan. Ritualku masih sama: tapping ID card, membuka pintu anteroom, lalu segera mengenakan lab coatgoggles, booties, dan nitrile gloves, dengan urutan yang sama persis seperti yang kusebutkan. Saat aku melangkah masuk ke dalam lab (yang merupakan clean room, itulah alasan mengapa aku harus mengenakan semua ‘perangkat’ tersebut), aku disambut wajah yang asing.

“Titan, perkenalkan. Dia temanku, kami bertemu di salah satu konferensi. Saat ini dia riset di Harvard, tetapi dia meraih PhD-nya di Jerman,” kata postdoc di labku memperkenalkan kami berdua. Bisa kulihat gurat seriusnya: kacamata, berjambang dan berkumis tipis, serta rambut yang sedikit gondrong. Dia juga mengenakan visitor lab coat yang terlihat sedikit kekecilan di badannya.

“Wah, salam kenal. Saya Titan, first year graduate student di sini. Wah, Jermannya dulu di mana?”

“Salam kenal. Dulu saya di Erlangen,” jawabnya dengan aksen Amerika Latin campur Jerman yang kental.

“Erlangen? Saya pernah ke sana!”

“Wah, kerja bareng professor siapa?”

“Oh, saya mengunjungi teman saya di sana saat musim panas. Saya mampir ke Bergkirchweih juga (festival bir kedua terbesar di Jerman setelah Oktoberfest).”

Postdoc lalu memotong, “Oke, jadi X akan melihat proses kita membuat solar cell devices hari ini. Aku akan mempersiapkan larutannya terlebih dahulu. Bisa tolong kamu bawa dia keliling lab untuk tur?” yang kujawab dengan anggukan.

Tidak kuketahui saat itu, ada diskusi panjang yang menunggu mengenai sejarah Jerman bersama dia.

Continue reading “Lederhosen dan Dirndl: Bavaria, Yunani, dan Bergkirchweih”

Mencari Sel Surya Futuristik

Jadi, mungkin ada beberapa di antara kalian yang penasaran, seperti apa sih kuliah S2 di Teknik Mesin MIT?

Secara umum, kuliah S2 di berbagai negara di dunia bisa dibagi dalam dua tipe: by research atau by course. Untuk by course sendiri, mereka lebih fokus dalam kelas/ kuliah, dan kadang-kadang memiliki syarat magang di industri untuk lulus. Rentang waktunya pun biasanya lebih pendek, sekitar 1-2 tahun. Sedangkan S2 di Teknik Mesin MIT, fokusnya adalah research atau riset. Rentang waktu untuk lulus pun lebih lama. Untuk anak-anak yang dulu S1-nya di MIT, memungkinkan untuk lulus kurang dari 2 tahun. Tetapi rata-rata, anak S2 Teknik Mesin MIT (program M.S., bukan program M.Eng. ya), butuh waktu sekitar 2-3 tahun untuk lulus.

Sebelumnya mungkin aku belum pernah cerita, karena selama 8 bulan terakhir aku masih meraba-raba di lab tempatku bergabung. Sebagai anak S2 yang cukup clueless mengenai riset, karena sebagian besar summer-nya digunakan untuk ‘jalan-jalan’ sekaligus ‘riset’ lewat program MISTI (di antaranya ke Jerman, India, dan Singapura), beberapa bulan terakhir ini, aku harus belajar banyak.

Aku memutuskan untuk bergabung dengan Photovoltaics Research Lab di MIT, sebuah lab yang memfokuskan riset mereka di bidang teknologi sel surya. Semua anggota dari lab ini adalah firm believers bahwa global warming dan climate change itu nyata adanya, dan kemampuan kami, ingin mencari cara agar kita bisa mencari energi alternatif dari fossil fuels, utamanya sel surya.

Mungkin sel surya yang sering kalian temui terbuat dari silikon. Sayangnya, untuk mencapai efisiensi yang tinggi, dibutuhkan silikon yang benar-benar pure, yang benar-benar murni dan bersih dari elemen-elemen lainnya, terutama Fe (besi). Karena itu, fasilitas pabrik sel surya silikon membutuhkan dana yang sangat besar, karena clean room harus dibangun, dan jumlah partikel di udara pun harus dikontrol. Selain itu, pekerja pabrik harus mengenakan pakaian khusus yang menutupi rambut, baju, dan juga sepatu, serta mengenakan sarung tangan nitril, dan juga kacamata pelindung.

Biaya yang sangat besar dan juga toleransi defects/ kerusakan yanga sangat rendah membuat para peneliti mencari alternatif lain dari sel surya silikon ini. Karena harga sel surya silikon yang masih cukup mahal menjadi barrier tersendiri bagi konsumen yang ingin beralih ke energi alternatif.

Jawabannya?

Sel Surya Perovskite.

Continue reading “Mencari Sel Surya Futuristik”