Virtual(ly Everything)

Ada yang berubah sejak kemarin. Karena seharian kemarin karena tidak enak badan, akhirnya aku memutuskan untuk tidur di rumah, dan hanya datang ke meeting secara virtual, alias online, atau daring.

Sebelumnya aku sudah terbiasa ikut rapat daring seperti ini, karena kebetulan advisorku seringkali berada di Singapura. Hanya saja rasanya aneh, ketika kemarin, secara tiba-tiba, kampusku memutuskan agar anak S1-nya tidak diperbolehkan kembali lagi setelah spring break yang harusnya berlangsung tanggal 23-27 Maret nanti. Semua mahasiswa S1 diharuskan untuk mengepak barang mereka, dan pulang ke tempat masing-masing.

Continue reading “Virtual(ly Everything)”

“The Dreaded Fourth-Year Slump”

“I waited until my Ph.D. committee had left the room to break down. I sank into a chair, head in hands, as my committee meeting form sat unsigned on the lectern. I had just failed my dissertation proposal defense—a poor start to my fourth year of grad school. My committee members had told me that my experiments were too small-scale, my ideas not deep enough. I realize now that they were pushing me because they believed in me. They told me as much. But in that moment, I could not hear anything positive. All I could hear was the voice in my head telling me that I’d failed.” -Katherine Still, taken from here.

Ada sesuatu yang dinamakan “fourth-year slump“, yang biasa terjadi pada mahasiswa S3 yang berada di tahun ke-4 mereka. Pada tahun ke-4 ini, mahasiswa S3 biasanya merasa, “The exit door is there, but why is it so hard to get there?

Suatu hari, aku membaca tulisan dari Katherine Still di atas. Lalu aku ketakutan sendiri.

Aku sendiri mengalaminya saat ini. Sekarang.

Continue reading ““The Dreaded Fourth-Year Slump””

Farewell

I always get a little nostalgic when it comes to the end of (academic) year. It is definitely really exciting to finish up classes and projects, as the day gets longer and warmer.

The past year has been hard, and I managed to pull it through. I know you don’t care about the little details of what I have gone through.

Thesis defenses, final project presentations, final exams, and graduations.

This year, I need to say goodbye to a very good friend of mine, who put up with me throughout the year, and comforted me whenever I needed it. The one who would save me a free boba from study break, put it in the fridge, and texted me, “I got you a free boba. Whenever you’re done on campus, feel free to drop by my room.” The one who would go to WholeFoods and buy me an extract black elderberry to improve my immunity system and make sure I take acetaminophen every 6 hours so my fever went down. The one who would accompany me when I was on bed rest, order a porridge delivery, buy me bananas (because that’s the only thing I could eat). The one who would spend at least 6 hours every week to go through machine learning problem sets with me and still say, “If you need help with your final project, let me know. I am sure you understand the math behind the algorithms, but I could lend you a hand on Python. It must be hard to take this class while relearning how to use Python.”

The one who would never think twice to say yes whenever I asked, “Do you wanna get dinner together outside? Or should we get a takeout and eat in my room?” although, the only thing I wanted was a company.

Congratulations on your graduation. It has been 7 years since I started MIT, and I always see people come and go. I have gone through farewell dinners countless times, and I never felt this bittersweet.

Continue reading “Farewell”

Revolusi (Buku) Resep

Suatu hari, karena kesusahan menemukan resep ayam kecap spesifik yang kutemukan di internet sebelumnya dan berakhir sukses, akhirnya aku memutuskan, sudah saatnya aku punya buku resep pribadi. Sama seperti lab notebook yang kupunya untuk mencatat tetek bengek risetku, mengapa aku tidak punya ‘lab notebook’ sendiri untuk urusan masak-memasak?

labnotebook_1
Lab notebook. Mengapa tidak membuat ‘kitchen notebook’?

Continue reading “Revolusi (Buku) Resep”

Generasi Sekali Pakai

Labku kebanjiran. Setelah hari-hari musim panas yang suhunya sulit kutolerir, dan membuatku mendekam di dalam ruangan sepanjang hari, Rabu kemarin hujan turun tak berkesudahan. Hingga akhirnya National Weather Service mengeluarkan peringatan (alert) yang muncul di layar ponselku sore itu: Thunderstorm warning. Flood warning.

Kupikir, tak akan seserius di Indonesia; dan memang kenyataannya seperti itu. Hanya saja, pipa di lantai tiga di gedung laboratoriumku bursts, alias bocor. Tentu saja, air pun mengalir ke lantai bawah, termasuk ke laboratoriumku yang berada di lantai bawah tanah.

Paginya, aku terkejut melihat kondisi labku. Desas-desusnya, air bocor dari langit-langit seperti air terjun, dan tidak pandang bulu. Solvent hood di lab kami rusak, begitupun dengan hot plate dan beberapa sample yang kutinggalkan semalam untuk didinginkan. Ah.

Solvent hood kami kena juga. Entah, air yang bertebaran di mana-mana terkontaminasi bahan kimia atau tidak, sehingga…
…untuk mengeringkannya kami menggunakan hazmat mat, ‘lap’ untuk tumpahan bahan kimia.

Hari itu aku tahu, eksperimenku harus diundur, dan aku harus bahu membahu kerja bakti bersama anggota lab lainnya untuk membersihkan air yang berada di mana-mana.

Little did I know, how wasteful the cleaning process is. Selamat datang di generasi sekali pakai. Continue reading “Generasi Sekali Pakai”

Iklan Subway: Bukti Cutting Edge Medicine Research di Boston?

Kemarin, aku jalan-jalan ke Salem. Di subway menuju North Station, tempat aku akan naik kereta ke Salem, aku termenung. Pagi itu masih cukup muda, subway masih lengang dari penuh sesaknya orang-orang. Jam masih menunjukkan pukul 09:38, dan perhatianku tertuju pada satu hal: sebuah iklan yang terpampang di dinding-dinding kereta subway, dan juga langit-langit. Iklan semacam ini sudah sering kulihat di kereta bawah tanah di Boston.

Sumber. Iklan meminta partisipasi volunteer/ sukarelawan untuk riset di rumah sakit.

This ad threw me a few years back. Ketika aku masih punya banyak waktu dibuang-buang untuk menonton drama Korea. Salah satu bintang favoritku adalah Joo Won, yang bermain di Good Doctor. Singkat cerita, salah satu scene di drama ini adalah ketika salah satu anak petinggi rumah sakitnya didiagnosis penyakit yang cukup kronis, kemudian akhirnya dia dirawat di Boston Children’s Hospital. Dikisahkan, rumah sakit ini adalah rumah sakit terbaik di dunia dengan para dokter yang sangat andal. Benarkah adanya? Apakah iklan-iklan di kereta bawah tanah itu indikasi bahwa rumah sakit-rumah sakit di Boston memang merupakan institusi riset cutting edge di bidang tersebut?

Continue reading “Iklan Subway: Bukti Cutting Edge Medicine Research di Boston?”