Inovasi di Negara Berkembang: Mudahkah?

Kali ini saya akan merangkum banyak hal yang saya pelajari selama waktu saya di India, tentang inovasi, dan konsep ‘merubah dunia menjadi tempat yang lebih baik’. Mudahkah?

Kalimat macam, “Saya ingin jadi teknisi andal, supaya saya bisa memajukan negeri ini,” terdengar terlalu gamblang dan mudah diucapkan belakangan ini. Ada dua hal besar dalam kalimat itu: teknisi andal, dan memajukan negeri. Berhasil menjadi teknisi andal tidak menjamin proses memajukan negeri, begitupun sebaliknya.

Lalu, apa yang diperlukan untuk mengimplementasikan inovasi di negeri berkembang?

Saya, sedikit banyak, belajar sedikit selama tiga minggu terakhir di India.

Satu: melihat sekitar lebih banyak. Foto ini diambil saat field trip ke perajin tradisional kain sari, kain tradisional di India. Kabarnya benang emasnya terbuat dari emas asli.

Sebagai seorang (calon) teknisi, saya lebih sering memfokuskan diri terhadap apa yang bisa saya lakukan, program apa yang bisa saya tulis, model seperti apa yang bisa saya cetak 3D, juga sirkuit seperti apa yang bisa saya bangun. Padahal, sesungguhnya itu bukan tahap pertama dalam mencari solusi dan membangun inovasi.

Tahap pertama sesungguhnya adalah melihat. Apa yang jadi masalah di sekitar kita? Apa hal yang minta dipecahkan? Apa hal yang orang sering menutup sebelah mata mereka?

Tidak semua masalah cukup penting untuk dipecahkan, dan tiap masalah punya sumber daya minimal agar bisa dipecahkan.

Karena itu, kunci pertama adalah mencari masalah sebanyak-banyaknya, agar kita bisa menemukan masalah yang cukup baik untuk kita pecahkan dengan kemampuan kita sendiri. Contohnya, aku merasa bahwa sistem pendidikan di Indonesia tidak terlalu baik, tetapi masalah ini terlalu umum, dan tidak bisa kupecahkan dengan kemampuan yang kumiliki saat ini. Dalam hal ini, penting sekali untuk mengerucutkan masalah menjadi sesuatu yang lebih spesifik dan lebih kecil cakupannya. Lebih penting lagi untuk menemukan suatu masalah di mana kita bisa merasa related dan personal, karena dibutuhkan energi dan motivasi yang cukup untuk memecahkan masalah tersebut. Kita tak ingin memecahkan suatu masalah yang tidak memiliki koneksi dengan kita sama sekali, bukan?

Tahap kedua adalah ideation, atau mencari semua ide untuk memecahkan masalah yang telah kita pilih. Kadang-kadang kita membutuhkan lebih dari satu masalah untuk melalui proses ini, dan melihat ide-ide yang keluar untuk memecahkan hal ini, untuk melihat mana yang paling feasible.

Dalam tahap ini, semua orang harus mencari ide sebanyak-banyaknya. Sewaktu timku melalui proses ini, tiap orang harus menyumbang 10-20 ide untuk memecahkan masalah ini, dalam waktu yang terbatas, sekitar 15-30 menit. Ide gila selalu muncul dari proses ini, dan tidak sedikit dari ide gila ini yang dapat diwujudkan.

Proses ini biasa diulang berkali-kali, hingga semua orang merasa puas dengan ide terpilih yang akan digunakan untuk memecahkan masalah. Kemudian, kita bisa beralih ke tahap berikutnya, rapid prototyping. Mengapa harus rapid (cepat)? Karena kita ingin gagal lebih cepat, sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan berikutnya, dan apa yang harus diperbaiki. Lakukan iterasi sebanyak mungkin.

Satu hal yang perlu diingat dari proses ini, terkadang, sebagai orang eksak dan saklek (kebanyakan teknisi dan saintis seperti ini), kita ingin semua hal berakhir sempurna dalam percobaan pertama. Hal ini tidak mungkin terjadi dalam proses yang kita lalui, karena itu kita harus siap secara mental dan fisik untuk melakukan iterasi sebanyak mungkin, dan berani salah.

Selesai tahap ini, yang kita dapatkan hanyalah final product, dan hal ini belum termasuk berbagai hal lain yang harus dipikirkan, seperti bagaimana memasarkan produk hasil inovasi kita, dan sebagainya.

Lalu, bagaimana inovasi di negara berkembang berbeda dengan inovasi di negara maju? Di negara berkembang, sumber daya yang tersedia bisa jadi benar-benar terbatas. Contohnya saja, di maker lab tempat aku bekerja beberapa minggu terakhir, terletak di desa kecil. Daya listrik yang tersedia tidak sebanding dengan daya yang kami semua butuhkan. Jadi, kapanpun kami membutuhkan 3D printer untuk mencetak prototipe, kami harus mematikan semua daya listrik yang kami miliki: kipas angin, lampu, pendingin ruangan, bahkan laptop-laptop kami. Selain itu, ada pemadaman listrik bergilir setiap harinya, minimal tiga kali sehari. Belum lagi, biaya internet yang sungguh mahal, sehingga kami hanya memiliki kuota internet yang terbatas.

Kondisi seperti ini, mungkin saja sama dengan kondisi di beberapa daerah di Indonesia.

Jadi, mari kita tanyakan kembali, mudahkah menciptakan inovasi di negara berkembang? Jawabannya mungkin tidak, tetapi hal ini tidak bisa menjadi alasan untuk menyerah, bukan? Saya sendiri pun masih belajar dari orang-orang. Semoga saja hingga akhir program ini, saya bisa belajar lebih banyak lagi.

Selain itu, semoga saja nanti saya bisa menelurkan sesuatu yang signifikan nanti.

Menjadi Turis di Kerala: Boathouse dan Munnar

Masuk minggu kedua di India, peserta program workshop akhirnya mengerucut menjadi sekitar 20 orang. Pekerjaan sebenarnya baru saja akan dimulai, tetapi sebelumnya, kami pergi field trip (dan bersenang-senang) dulu di boathouse dan Munnar.

Ada apa saja di kedua tempat tersebut?

Munnar, diselimuti kabut sore hari. Aku sempat beli jagung bakar di sini untuk makanan berbuka.
Boathouse di Alappuzha.

Perjalanan tiga hari dua malam kali ini tak hanya mendekatkan peserta workshop, tetapi juga memberikan kesempatan padaku untuk mengenal lebih banyak orang. Selain itu, aku akhirnya merasa bahwa musim panasku akhirnya benar-benar dimulai!

Tujuan pertama kami adalah Alappuzha, sekitar 4 jam naik bus dari Chirayinkeezhu, tempat tinggal dan workshop kami saat ini. Setelah sampai di sana, aku ternganga karena boathouse-nya benar-benar paduan kapal dan rumah. 

Kamar di dalam boathouse-nya, mirip kamar hotel, bukan? Lihat handuk yang dibentuk seperti angsa!
Ada ruang konferensinya juga, karena kapalnya bertingkal dua.
Saat membuang sauh, di bagian depan kapal.
Kami menghabiskan waktu di houseboat selama dua hari satu malam, pemandangannya luar biasa indah. Kalau kamu sempat ke Kerala, India suatu waktu, kamu harus naik houseboat di sekitar backwaters. Area ini mirip sungai dan danau dekat laut, yang terbentuk karena air laut yang terdorong masuk.
Matahari pagi di danau besar.
Pemandangan sepanjang perjalanan.
Satu hal yang jelas, makanan di atas kapalnya enak sekali. Walaupun aku tidak kebagian ikan, karena hanya disajikan saat makan siang, tetapi makan malamnya pun tak kalah lezatnya. Ada ayam goreng dengan bumbu spesial yang tidak terlalu pedas. Saat itu aku memang mulai merasa bosan dengan menu kari setiap hari, hehe.
Setelah kami kembali ke daratan, perjalanan kami lanjutkan ke Munnar, sebuah kota di dataran tinggi di selatan India, sekitar 2000 meter di atas permukaan laut. Iklimnya sungguh menyenangkan, sejuk, dan tidak lembab. Benar-benar apa yang kubutuhkan setelah selalu merasa kepanasan di Thiruvananthapuram dan Chirayinkeezhu.
Kebun teh di mana-mana!
Sengaja bangun pagi untuk melihat matahari terbit.
Jalanan pegunungannya benar-benar sempit, mirip di Indonesia. Untungnya aspalnya benar-benar halus dan mulus.
Ada banyak air terjun di mana-mana, di pinggir jalan, dan di tempat lain.
Di Munnar, kami tinggal di sebuah hotel, dan paginya aku sempat merasakan sahur paling enak, lengkap dengan sereal, susu, buah-buahan, sandwich, dan jus semangka. Akhirnya, setelah sekian lama mulai bosan sahur dengan kari, hehe. Jangan dicontoh ya, harusnya apapun yang didapatkan, harus disyukuri.
Saat ini project-ku membuat mold/ cetakan untuk sabun yang diproduksi perkumpulan wanita di desa ini. Project-nya terkesan mirip KKN, tapi aku belajar banyak soal 3D printer dan Solidworks, dan prosedur membuat sabun. Siapa tahu aku jadi pengusaha sabun di masa depan, hehe.
Termasuk akhirnya berhasil membuat ketupat, lewat tutorial Youtube. Siapa tahu bisa jadi packaging yang cantik untuk sabun-sabun yang diproduksi nantinya.
Bulan Ramadhan hampir memasuki 10 hari terakhir, dan seminggu lagi aku pun akan pulang ke Indonesia. Rasanya tidak sabar untuk bertemu sanak saudara, keluarga, dan teman-teman. Semoga saja aku bisa mengerjakan banyak hal selama seminggu terakhirku di India, ya! Semoga juga aku bisa menemukan tempat yang menjual kartu pos, soalnya susah sekali menemukannya, hehe. 

Kabar Pertama dari India

Baru kali ini aku merasakan sulitnya mendapatkan koneksi internet yang memadai selain di Indonesia. Tidak hanya karena kesibukanku yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga karena aku bergantung pada wi-fi di tempatku tinggal/ workshop/ lab di sini.

Saat ini aku berada di state Kerala, India, berpindah-pindah di antara berbagai kota. Minggu lalu aku ada di Trivandrum untuk TechTop Workshop, saat ini aku berada di Chirayinkil, mulai hari Senin aku akan pergi ke tempat lainnya untuk field trip.
Pantai Shankumugham, Trivandrum. Samudera Hindia bisa kamu lihat jelas. Dari sini aku bisa renang langsung ke Indonesia.
Sebelum aku lanjutkan, aku mau minta maaf jika beberapa di antara kalian yang sudah mengirimkan surel, belum sempat kubalas, karena keterbatasan internet. Akan kucoba baca dan balas secepatnya, mungkin setelah aku kembali ke Indonesia.
Jadi, saat ini aku berada di India untuk program MIT Make in India. Aku dan sembilan anak MIT lainnya, S1 dan S2, current students dan alumni, dari berbagai jurusan, sama-sama berkolaborasi dengan mahasiswa India untuk menciptakan suatu inovasi yang bisa diaplikasikan ke masyarakat luas, terutama di Kerala.
Terdengar berat, bukan?
Bagiku sendiri, ini adalah momen untuk belajar banyak, tidak hanya dari teman-teman MIT-ku, tetapi juga dari teman-teman India-ku. Banyak dari mereka sudah melakukan banyak hal, dan luar biasa brilian. Kadang aku merasa malu sendiri karena aku belum banyak melakukan apapun, dengan kesempatan yang kumiliki selama ini.
Proses menemukan suatu inovasi itu sendiri sebenarnya cukup rumit. Mencari ide yang terkesan remeh dan membawa efek yang besar itu cukup sulit, dan melalui proses yang panjang, salah satunya adalah identifikasi problem yang melalui proses yang sangat panjang. Berbicara dengan orang banyak, adalah salah satu kuncinya, dan rasanya sulit sekali, terutama karena orang lokal Kerala menggunakan Bahasa Maleyalam.
Kerala, secara umumnya, mirip sekali dengan Indonesia. Cuacanya yang (luar biasa) lembab, dan mencapai 32 derajat Celcius. Karena dekat dengan khatulistiwa, tempat ini benar-benar hijau dan banyak pepohonan. Rasanya mirip sekali dengan tempat Mbahku di Yogyakarta. 
Tiap hari, aku makan kari terus. Bahkan untuk makan pagi! Biasanya, bersama kari, kebutuhan karbohidrat dipenuhi dengan chapatti (mirip tortilla), nasi, atau makanan mirip surabi. Karena itu, rasanya aku kangen sekali dengan makanan segar, seperti buah-buahan atau salad. Seperti di Indonesia, suplai pisang di sini melimpah ruah. Di sini juga banyak pohon nangka, pohon kelapa, dan juga pohon singkong. 
Akhirnya makan kelapa muda juga setelah sekian bulan. Terima kasih Dhruv dan Amareesh untuk kelapa muda gratisnya, hehe.

Kecuali saat workshop kemarin, di Chirayinkil kami tinggal di sebuah rumah. Kamar perempuan di lantai bawah, dan kamar laki-laki di lantai atas. Ada warga lokal yang bersedia untuk memasakkan kami tiap harinya. Kadang, untuk membunuh waktu kami akan berbicara panjang lebar, atau bermain apapun. Sayang, tidak terlalu banuak waktu yang dibunuh. 

Rasanya seperti KKN: di tengah desa, lalu internet yang terbatas. Malam-malam panjang pun kami habiskan dengan bermain carrom.
Saat workshop, aku bersama teman-temanku: Daivon, Lincy, Natasha, dan Jaisal, memutuskan untuk memecahkan masalah tentang pasien yang merasa tidak nyaman di dalam ambulans. Ternyata, tempat tidur ambulans berbeda dari tempat tidur kita yang memiliki spring-piston system.
Prototipe iterasi pertama dari tempat tidur ambulans, karena banyak dari tempat tidur di ambulans yang tidak memiliki sistem untuk menyerap getaran dari jalanan yang berlubang. Kali ini kami, tim Ruff Ryders, mencoba sistem suspensi.

Setelah workshop tiap harinya berakhir, kami kembali ke hostel (istilah orang India untuk asrama), untuk tidur dan beristirahat. Tiap pagi kami naik bus sekolah untuk berangkat ke tempat workshop di Mar Baselios College of Engineering and Technology.

Di dekat hostel, sebelum berangkat ke tempat workshop. Aku mengenakan celana khas India, kembaran dengan teman-temanku.

Bahkan kami berhasil masuk koran lokal! Fotoku pun terpampang dengan jelas, haha.

Berhasil masuk ke koran lokal Trivandrum, setelah sebelumnya berhasil masuk ke TV lokal di Meksiko.

Tempat workshop kami di Mar Baselios College of Engineering and Technology. Ada patung Yesus setinggi empat lantai, karena college ini berbasiskan agama Katolik. Bentuknya mirip dengan patung di Brazil lho.

Patung Yesus yang sangat tinggi di college tempatku workshop minggu lalu. Bisa kamu lihat dengan jelas, ada banyak pohon kelapa!

Semoga saja di akhir periode empat minggu ini, kepercayaan diriku sebagai seorang engineer meningkat lebih jauh, lebih dari kepercayan diriku sebagai seorang blogger, haha.

Kerjaanku akhir-akhir ini: membuat prototipe menggunakan 3D printer.
Selain workshop, pada saat yang bersamaan ada juga kompetisi inovasi untuk anak SMA dan mahasiswa di India. Aku datang ke pamerannya, dan aku bisa melihat berbagai hal menarik. Produk mereka semua benar-benar luar biasa!

Aku mencoba berbagai macam gadget saat TechTop Innovation Competition. Device ini berfungsi untuk membantu orang-orang yang buta agar bisa mendeteksi rintangan di hadapan mereka.
Bagaimana, seru sekali bukan? Kali berikutnya, aku akan mencoba untuk menceritakan lebih spesifik tentang project team-ku, atau hal menarik tentang India secara umumnya.
Sampai jumpa! Semoga Allah memberkahi Ramadhan teman-teman yang Muslim, dan semoga di lain waktu, internetku bisa lebih baik. Aamiin.