Why Gothenburg, Sweden and Chalmers?

I spent a week in Gothenburg, Sweden, because me, along with 6 other people, won Chalmers Global Challenge this year (as I have told you before, here). You might wonder, how different is the education system in Sweden (specifically, Chalmers), in comparison to American education system?

I was wondering about the same thing, too…

Hint: there is a (great) balance between work and life. Chalmers, also has a great number of international students!

Continue reading “Why Gothenburg, Sweden and Chalmers?”

Advertisements

Cimahi: Bukan Sekadar Bandung Coret

“Kamu asalnya dari mana?”

Saat bertemu dengan orang-orang yang baru kukenal, selalu ada dua pilihan dalam menjawab pertanyaan ini. Jika aku menjawab, “Dari Bandung,” mereka tak akan bertanya-tanya lagi dan akan membalas dengan anggukkan mengerti. Tetapi, jika aku menjawab, “Dari Cimahi,” hampir dapat dipastikan, mereka akan langsung menyambar, “Cimahi itu di mana?”

Cimahi itu tak hanya soal komunitas death metal-nya, kawan!

Aku lahir, tumbuh, belajar, dan bersekolah di Cimahi. Meskipun statusku sekarang adalah seorang perantau yang hanya bisa sekali setahun pulang ke kota kelahiranku ini, ada banyak sekali hal yang kurindukan dari kota ini.

Tak ada yang lebih menyenangkan dari momen keluar tol Cipularang dan menemukan logo ini di mana-mana! Tak ada yang bisa mengalahkan perasaan, “Akhirnya aku pulang.” Sumber dari sini.


Jika aku sudah menjadi orang besar nanti, dan seorang penulis biografi menanyakanku tentang hal yang paling kuingat dari kota tempatku dibesarkan, aku akan menjawab dengan daftar yang tak akan habis-habis.

Mewakili (Kotif/ Kota) Cimahi di Ajang Ketangkasan dan Ajang Otak

Ada perasaan membanggakan sendiri ketika aku mewakili Kota Cimahi di ajang perlombaan tingkat provinsi atau nasional. Badge lokasi sekolahku yang bertitel SDN Cimahi 2 atau SMPN 1 Cimahi, selalu meningkatkan kadar kepercayaandiriku.

Saat Cimahi masih bertitelkan Kota Administratif Cimahi (FYI, Cimahi mendapatkan gelar Kota Cimahi tanggal 21 Juni 2001), semua siswa yang berkompetisi di berbagai lomba pasti pernah merasakan hal yang akan kupaparkan. Karena status kotif ini, Cimahi otomatis masih di bawah Kabupaten Bandung. Jadi, jika ada perlombaan, siswa-siswa ‘Kotif’ Cimahi ini harus ikut penyisihan di tingkat kelurahan, kecamatan, kotif, kabupaten, provinsi, baru nasional, alias harus ikut ekstra satu seleksi di tingkat kotif.

Saat kelas satu SD, aku dan teman-temanku mengikuti lomba Calistung (Baca, Tulis, Hitung); bukan kepalang bangganya kami karena behasil mewakili kotif ini di tingkat kabupaten. Berangkat pagi benar dari Cimahi menuju Soreang, tempat kami melaksanakan lomba, rasanya jauh sekali tempat perlombaan tingkat Kabupaten Bandung ini. Bahkan, karena jalan yang berbelok-belok dan naik turun dengan curam, salah satu temanku mabuk kendaraan dan mukanya pucat pasi sebelum lomba dimulai.

Alhamdulillah, meskipun kondisi awal tidak mendukung, juara dua dapat kami sabet.

Kecil-kecil cabai rawit, umur sebiji jagung prestasi selangit.


Sekarang, siswa-siswa yang lolos di seleksi tingkat Kota Cimahi, bisa langsung maju ke tingkat Provinsi Jawa Barat, tak perlu lagi bersusah payah lolos tingkat Kabupaten Bandung (dan pergi ke Soreang untuk ikut seleksinya, hehe).

Upacara Tahunan: Mulai dari Peserta, Hingga Duduk di Kursi Undangan

Sejak SD, setidaknya dua tiga kali setahun, aku selalu mengikuti upacara hari nasional di berbagai tempat: mulai depan Masjid Agung Kota Cimahi, Stadiun Sangkuriang, Pemkot Cimahi, hingga Lapangan Rajawali.

Saat Hari Kemerdekaan Indonesia, aku dan teman-temanku biasanya mewakili barisan sekolah kami, mengenakan baju putih merah atau putih biru. Terkadang, kami harus kembali di sore harinya untuk Upacara Penurunan Bendera. Saat Hari Pramuka Indonesia, aku dan teman-temanku di ekskul ini mengenakan baju pramuka dan bertemu teman-teman Pramuka lainnya se-Kota Cimahi. Berdiri selama dua jam hingga tiga jam memang kadang membuatku lelah dan tak sabar, tetapi selalu ada cerita lucu di balik tiap upacara yang kuikuti.

Karena barisan saat upacara selalu dimulai dengan orang-orang yang paling tinggi hingga paling rendah, postur tubuhku selalu membuatku harus berdiri di barisan depan. Terkadang aku iri dengan teman-temanku yang rendah di belakang, karena mereka tak perlu berdiri tegap sepanjang upacara, sebab mereka tidak terlihat dari depan. Bahkan, ada pedagang kaki lima berjualan makanan di belakang mereka, jadi mereka bisa sewaktu-waktu jajan jika mereka mau. Setelah beberapa upacara, aku dan teman-temanku punya metode tersendiri: kami bergiliran baris di depan, supaya adil. Yang jelas, jangan sampai semua yang rendah berada di depan, hingga teman-teman yang tinggi terlihat jajan-jajan di belakang, hehe.

Waktu SD, aku cukup beruntung dan menang di olimpiade matematika tingkat nasional. Karena itu, seminggu sebelum Upacara Hari Kemerdekaan, sebuah surat undangan formal, bersegelkan burung garuda emas dan berlabel Pemerintah Kota Cimahi, tiba di tanganku. Saat itu, aku melonjak-lonjak kegirangan, karena aku tak perlu berdiri selama tiga jam untuk Upacara Kemerdakaan tahun itu. Aku akan duduk di tenda undangan!

Saat hari H, dengan seragam putih merah lengkap, aku duduk di sebelah ibuku dengan manis, menikmati prosesi upacara. Kami cukup berdiri saat Pak Walikota masuk dan meninggalkan tempat upacara, serta saat bendera dinaikkan. Konsumsiku saat jadi peserta upacara hanya mentok di air mineral gelas, tetapi saat menjadi tamu undangan, aku mendapatkan kue-kue kecil dan dipanggil ke depan untuk diberi bingkisan kecil oleh Pak Walikota. Rasanya menyenangkan, tetapi saat itu aku merasa sedih, rasanya sepi. Setelah upacara selesai, aku cepat-cepat mampir ke barisan teman-temanku yang sedang rehat dan minum air mineral gelas mereka, sambil tersenyum.

Aku rindu topi yang basah karena keringat sewaktu berdiri berjam-jam, umpatan-umpatan kecil karena pidato yang terlalu panjang, dan wajah serta tangan yang gosong sebelah karena ogah mengikuti saran ibuku agar memakai sunscreen.

Kota Kecil, Kota Bersahabat

Berpenduduk sekitar 600.000-an di area yang tidak begitu luas, serta memiliki jalan berpola tulang ikan (ada satu jalur utama di Kota Cimahi, yaitu Jalan Raya Cimahi), membuat kota ini terasa kecil nian. Belakangan ini, aku mulai berpikir untuk percaya dengan teori Six Degrees of Separation, karena probabilitas bertemu dengan orang-orang yang kukenal saat jalan-jalan di Cimahi benar-benar tinggi.

Keluargaku senang sekali membeli lotek/ gado-gado di sebuah warung kecil di pinggir Jalan Gatot Subroto. Saat aku menemani kakakku naik motor dan membeli lotek/ gado-gado di sini, kadang-kadang aku bertemu guru SMP-ku yang juga suka membeli makanan di tempat yang sama. Ternyata si Mbak-Mbak penjual lotek ini kenal baik juga dengan guru SMP-ku, karena beliau pelanggan setia di sana.

Karena kebanyakan anak-anak Cimahi bersekolah di kota yang sama dari SD hingga SMP, tak jarang kakaknya teman baikku, ternyata berteman baik juga dengan kakakku. Kadang juga cerita-cerita lucu tentang teman kakakku mengalir ke aku lewat kakakku, yang akan kuceritakan pada temanku, yang merupakan adik dari teman kakakku itu sendiri. Hehe, maaf jika agak memusingkan, tetapi hal ini memang benar-benar lazim di kota kelahiranku ini.

Karena hal itu juga, lokasi rumahku terbilang cukup dekat dengan teman-temanku. Hingga saat ini, aku tak ragu pulang jam sepuluh malam dari kumpul-kumpul bersama teman SMP-ku, karena rumah temanku cukup dekat. Dari sejak ongkos angkot hanya 200 rupiah, hingga 1.500 rupiah seperti sekarang, tak ada yang bisa mengalahkan bermain dengan teman-temanku yang sekarang sudah berpencar di mana-mana.

Cimahi = Aku

Keluar dari lingkaran Kota Cimahi, sudah kumulai sejak SMA, ketika aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di Kota Bandung. Identitas Cimahi bukannya memudar, tetapi malah makin melekat di sosokku.

“Oh, Titan yang anak Cimahi itu, ya?”

“Titan harus berangkat jam setengah enam kurang tiap pagi supaya sampai sekolah, kan? Iya, dia anak Cimahi, soalnya.”

Nglaju saat SMA tiap hari untuk bersekolah di Bandung, semakin menguatkan rasa rinduku pada Cimahi. Tak hanya dari segi proksimitas, tetapi juga dari orang-orang dan masyarakat yang mendiaminya.

Jaket Jambore Nasional 2006 dengan badge Kota Cimahi masih tersimpan rapi di lemari kamarku di rumah. Badge lokasi sekolahku: SDN Cimahi 2 dan SMPN 1 Cimahi juga kubuat kolasenya (juga tercantum di postingan-postinganku sebelumnya), bagian dari hidupku yang berharga.

Saat aku pergi dari kota ini untuk kembali merantau, lalu kembali lagi, meskipun banyak hal yang berubah, aku dengan bangga akan bilang, “Selamat datang kembali di rumahmu, Titan.” Karena angkot ungu Cimahi-Parongpong, padatnya Pemkot saat pasar mendadak di Hari Minggu, serta rekahan senyum anak sekolah di pagi harinya masih akan tetap sama.

Kota ini punya impresi tersendiri di tiap penghuninya, bukan sekadar Bandung coret!

Surat Untuk Masa Lalu

Bandung, 28 Oktober 2031.

Teruntuk masa laluku. Kabarku baik, tapi seharusnya bisa jadi lebih baik ini. Berita yang muncul di Koran tak pernah berubah; malah makin memburuk, kalau boleh kubilang.
Semakin banyak anak yang tak punya bangku untuk belajar di sekolah. Semakin banyak pula anak yang tak bisa mendapatkan perawatan kesehatan yang layak karena pemerintah yang korupsi menjadi tidak akomodatif.
Lucunya, kebanyakan orang-orang berkuasa saat ini adalah teman-teman SMA dan kuliahku dulu. Usaha keras mampu membawaku ke dalam jaringan orang-orang seperti mereka. Sayang, aku hanya bisa diam ketika mereka melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan.
Mereka memulainya dengan kebiasaan bekerjasama saat ujian. Banyak dari mereka yang lolos, dan hal yang sama mereka lakukan di universitas untuk lulus. Awalnya kecil-kecilan, lama-lama jadi terlalu besar untuk diberhentikan. Sesalku tak pernah surut, hingga saat ini. Sekarang sudah terlalu telat, KPK saat ini sudah musnah karena dikebiri.
Indonesia mungkin sudah tiarap di masamu; tapi dia akan terjun lebih dalam jika kau tetap menutup telingamu yang tidak tuli, berhenti bersuara dari mulutmu yang tidak bisu, dan berpura-pura tidak melihat dari matamu yang tidak buta.
Kamu bisa merubah takdir kami di masa depan. Tak perlu berandai-andai menjadi ketua KPK, karena kamu memang bukan. Cukup berdiri dan berani melawan, dimulai dari lingkaran sosial terkecilmu, ketika masih belum berdampak luas.
Terima kasih, dan semoga sukses dalam berjuang.

Konten tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog KPK di http://lombablogkpk.tempo.co/index/tanggal/296/Noor%20Titan%20Putri%20Hartono.html, link asli dari post ini adalah http://noortitan.blogspot.com/2012/10/surat-untuk-masa-lalu.html.

Kepribadian? Because It’s Me

“You can read a person’s personality from his/ her piece of writing, like reading a book, word by word.”

Saya selalu percaya bahwa seseorang bisa dengan mudah membaca kepribadian seseorang lainnya lewat tulisan.

Tetapi, apa memang semudah membaca tulisan? 


Semua orang bisa menulis, tetapi tidak semua orang bisa menulis hal yang ‘sampai’ di hati orang lain. Ditambah lagi fakta bahwa orang lain lebih mudah menangkap hal-hal yang tak bisa dipahami diri kita sendiri; semut di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan.

Faktanya, mengetahui kepribadian melalui tulisan mungkin cara termudah yang ‘paling susah’. Jika syarat-syarat minimal seperti sampainya tulisan di hati orang lain dan tercapainya minimum critical thinking level si orang yang berkehormatan untuk menilai, tentu saja hal ini menjadi mudah.

Maka dari itu, jangan tercengang dengan seberapa banyak orang (apalagi di Indonesia ini), yang berani membayar ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk melakukan psikotes, talents mapping, atau favorit ibu-ibu muda yang ingin tahu bakat anaknya: tes sidik jari.

Jangan kaget pula dengan fakta bahwa orang mudah tergiur dengan tes daring tentang kepribadian. Bertebaran mulai dari social media, hingga lembaga profesional yang memberikan sampling gratis online. Tentu saja, jika kau ingin report lengkapnya, uang yang tak sedikit haruslah keluar.

Lalu, mengapa orang-orang susah payah mencari cara mengetahui kepribadiannya?

Karena mengetahui kepribadianmu, berarti kamu bisa membaca masa lalu, kini, dan depanmu. Bisa membuatmu mengerti strength, weakness, opportunity, dan threat yang kamu miliki. Mampu menganalisis hal yang bisa kamu kembangkan, sehingga kontrol terhadap dirimu sendiri berhasil sepenuhnya kamu pegang. Singkat kata, self-actualization.

Bahkan, tingkat pengertian yang lebih tinggi bisa membuatmu mengerti kehidupan sosialmu, membantumu mengatasi masalah dengan orang-orang di sekitarmu, yang biasanya muncul dari salah paham atau ego yang berlebih. Luar biasa.

Tak apa bila saya bermimpi bahwa Indonesia bisa jadi lebih baik dengan orang-orang yang mengerti batasan dan kesempatan dalam dirinya, ‘kan?

Indonesia lebih baik, sounds promising. Bagaimana memulainya?

Mudah. Seperti kata Aa Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang dekat, dan mulai dari sekarang. Apalagi momentumnya pas sekali untuk teman-teman yang Muslim, bulan Ramadan!

Mari kita mulai dengan diri saya sendiri. Bukannya mudah, saya mencoba mulai dengan menelusuri blog saya sendiri. Pelajaran yang terangkum dalam 2 postingan mengenai hari-hari yang telah saya lalui hingga pengalaman saya mengecap ilmu di pedalaman Amerika Serikat, tepatnya di Montezuma, NM (lihat di Kolase Hidup Ronde Pertama dan Kolase Hidup Ronde Kedua), membuat saya mengerti siapa saya.

Blog saya telah menjadi saksinya. Saya yang saat berumur 11 tahun, mampu mendapatkan medali perunggu di Olimpiade Matematika Nasional. Saat 12 tahun, bergabung dengan pemuda pemudi pramuka seluruh negeri di Jambore Nasional 2006. Saat 16 tahun, memenangi lomba blog untuk pertama kalinya. Saat 17 tahun, tulisan esainya dimuat pertama kali di koran nasional dan berani pergi menuntut ilmu di luar negeri dibekali beasiswa, di pedalaman Amerika Serikat, bersama 199 orang lainnya dari hingga 80 negara. Saat 18 tahun, berani mengunjungi Meksiko, melintasi kota perbatasan Amerika Serikat-Meksiko yang disebut-sebut berbahaya karena perang narkoba, dan menampilkan kultur Indonesia melalui penampilan tari Saman. Saat 19 tahun, lulus dari SMA di Amerika Serikat, mendapatkan beasiswa dari lima universitas yang ada di Amerika Serikat, Kanada, dan Jerman.

Saya yang powerful & energetic. Saya yang selalu ingin pergi melampaui batas-batas yang orang-orang seenaknya tentukan mengenai saya; mereka tak tahu bahwa kemampuan saya yang powerful & energetic masih menyimpan kejutan di masa depan. Saya sendiri tak bisa memprediksikan akan menjadi manusia seperti apa nanti, tetapi setidaknya saya tahu siapa saya, dan saya mampu mencapai limit unstoppable sebagai manusia yang ingin terus menjadi lebih baik.

Menyesalkah saya mengetahui diri saya yang seperti ini? Tentu tidak, because it’s me. Inilah diri saya.

Seperti Sony VAIO E14P terbaru yang menyediakan pilihan warna yang sesuai dengan kepribadian saya.


Sumber gambar dari sini.

Warna hitam yang elegan, dengan aksentuasi merah yang bisa dilihat dari sudut yang berbeda, mampu membuat orang-orang terkejut. Just exactly like me, saya bisa jadi kejutan bagi orang-orang, baik yang dekat maupun yang baru mengenal saya.

Di balik desain yang luar biasa, tersembunyi kekuatan tak terkira. High-end processor (for God’s sake, it’s the 3rd generation of Intel Core i7!), and unimaginable specs, like AMD Radeon HD 7670M GPU discrete (VRAM 1GB) within a 14 inch laptop! No one can ask for more. 
Asyiknya lagi, long battery life membuat hidup saya jauh lebih mudah, karena jangan ditanya betapa susah menemukan stop kontak yang sesuai di bandara internasional saat transit, yang rata-rata sekitar 3-4 jam. Masih segar di ingatan, surel yang mampir di kotak masuk saya belum sempat dibalas semua karena batere laptop yang habis, saat transit di Hong Kong.

Belum lagi, dengan teknologi X-Loud yang luar biasa, presentasi mengenai kebudayaan di manapun dapat berjalan lancar tanpa membutuhkan ekstra speaker demi memutar video atau lagu. Saya pun bisa membayangkan, suara dari teman-teman saya menjadi lebih jelas saat mega Skype session lintas benua dengan teman-teman saya yang tersebar di Jepang, Tanzania, Filipina, Bulgaria, Belanda, Meksiko, Kamboja, dan Palestina; karena X-Loud juga membuat clarity, seberapa jernih suara yang dikeluarkan, menjadi lebih baik.   

Now, people can say, “You can read a person’s personality from his/ her laptop, like reading a book, word by word.”


*Postingan ini diikutsertakan dalam lomba yang diadakan di Female Daily.

"Merayakan Keragaman" (Dengan Tanda Kutip)

Aku terdampar di sini, di negeri Paman Sam, mengais-ngais ilmu. Belakangan ini rinduku menggembung serupa balon gas yang wara-wiri saat MOS anak sekolah. Bergerombol dilepas ke langit, pecah jadi tangisan. Rasanya ingin lari ke bandara dan naik pesawat pulang. Tapi begitu ingat alasanku di sini; ditabah-tabahkanlah hatiku, disenyum-senyumkan bibirku, dioptimis-optimiskanlah pikiranku.

Memang benar, kata pepatah:


Alamak, dulu aku senang sekali menghujat negeri sendiri dan memuji negeri orang. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau.


Kalau boleh jujur, aku jadi lebih “Indonesia” di sini. Senang pakai kaos yang ada Indonesia-nya, lebih sering update berita dalam negeri, termasuk rajin promosi Indonesia ke teman-teman (salah satunya, dengan bagi-bagi gantungan kunci wayang, hehe).

Hal ini juga membuatku sadar dan kritis, melihat Indonesia dari kacamata dunia. Aku seperti bangun dari tidur nyenyak yang panjang, dan menyadari ada yang hilang di jantung Indonesia. Hal yang begitu berharga, dan baru kita sadari setelah kehilangannya.


Ya, kalau dilihat-lihat, Indonesia kehilangan “Indonesia”-nya, identitasnya sebagai bangsa. Yang diagung-agungkan sebagai negeri yang toleransinya kuat, rekat; negeri yang selalu gotong royong, ramah, menghargai perbedaan.


Tanya, masihkah kita seperti itu?


Telinga kita sudah kebal dengan berita anarkis. Otak kita pun jadi bebal, muka kita tebal. Sejak kapan kita jadi tak acuh tanpa menyadarinya? Melihat berita di stasiun televisi hanya untuk bahan obrolan saat ngopi dengan relasi, atau sok kritis terhadap keadaan negeri ini lewat Twitter dan Facebook supaya terlihat peduli.

Saya beritahu satu fakta menarik. 3 orang teman lintas benua saya, menghampiri asrama di sore musim panas 2 minggu lalu. Tanpa ba-bi-bu, mereka menyodorkan buku Words Without Borders, di mana salah satu goresan Seno Gumira Ajidarma tersurat dalam Bahasa Inggris, The Children of The Sky. Dalam sekejap, bahkan tanpa aku mengetahui isinya terlebih dahulu, mereka memberondong pertanyaan yang menancap di ulu hati, “Is it right that the people in your country just ignoring the children poverty while ironically they’re reading The Economist comfortly in their car? (Apakah benar orang-orang di negaramu tidak memedulikan pengemis anak-anak sementara ironisnya, mereka dengan nyaman membaca The Economist di mobil mereka?)”


Hati siapa yang tidak mencelos mendengarnya. Aku cuma terbata menjawab seadanya, tak berdaya, karena memang seperti itu kenyataannya.

Benar sekali, kita sedang “merayakan keragaman”. Keragaman akan kemiskinan, karena gap Si Kaya dan Si Miskin yang terentang melebar. Keragaman akan kebudayaan, karena apapun yang kita lakukan sekarang, berkiblat pada kebudayaan luar, menelannya bulat-bulat. Toleransi akan keragaman yang “luar biasa”, dengan aksi anarkis dan main hakim sendiri.

Aku ingin kembali ke Indonesiaku yang dulu, yang merayakan keragaman, bukan “merayakan keragaman” yang berlebihan. Cukup Indonesia yang benar-benar Indonesia.

Sumber gambar:http://scramble-399.blogspot.com/, www.kompas.com, http://us.detiknews.com/read/2010/07/06/111224/1393751/10/hmi-itu-tindakan-anarkis-tak-beradab-dan-ancam-kebebasan-pers, http://www.surya.co.id/2009/02/04/anggota-dprd-jadi-tersangka-kasus-demo-anarkis-di-medan.html, http://stdharmakerthi.com/blog/?p=114

Maaf, Kami (Tidak) Bisa Disuap (Lagi)

Tahun ini boleh jadi aku jejingkrakan, karena sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku, dan mimpi-mimpi yang asalnya hanya tulisan asal, mewujud perlahan. Wih!

Syukur tak putus-putus, karena kemarin 12 Maret 2010, tulisanku dimuat di harian nasional, Kompas, dalam lomba Ulang Tahun Kompas Muda, yang berjudul “400km Pertama Jauh dari Orangtua”. Selengkapnya bisa baca di sini.


Ah, senangnya bukan kepalang! Sementara itu, ob
sesi untuk bisa masuk MIT semakin tebal. Rasanya ingin sekali menjejakkan kaki di sana, berfoto dengan MIT Dome, dan menikmati kehidupan mahasiswa yang haus akan ilmu.

Aku yakin kesempatan itu pasti akan datang suatu hari nanti. Sementara itu, yang harus kulakukan hanyalah mencoba segala sesuatu yang bisa kulakukan saat ini.
Dan akhirnya, aku dicalonkan sebagai penerima beasiswa di Armand Hammer United World College di USA selama 2 tahun. Aku cuma bisa melongo melihat sekolahnya yang merupakan sebuah kastil di Montezuma, New Mexico.

Efeknya, berkali-kali aku bangun tidur di pagi hari, aku mengecek segalanya dan mengingat-ingat semuanya. Karena ini seperti bunga tidur bagiku.


***

Lazimnya, aku harus membuat paspor, karena sejengkalpun aku belum pernah keluar dari teritorial Indonesia. Kantor Imigrasi menjadi tujuanku, dengan didampingi kakakku dan motor bebeknya, membelah Bandung lewat Jembatan Pasupati.

Singkat kata singkat cerita, akhirnya setelah mengantri berlama-lama, aku bisa juga memasukkan formulir dan persyaratan yang dibutuhkan. Dua hari kemudian, aku pun datang untuk wawancara dan foto. Tetapi aku kaget begitu diwawancara.

“Jadinya minggu depan, Pak?”

“Iya. Kami butuh waktu empat hari kerja untuk memprosesnya.”

Sial, rutukku dalam hati. Padahal aku membutuhkannya secepat mungkin. Maka, keesokan harinya, aku datang bersama ayahku ke sana, mencoba mencari ‘jalur cepat’ dengan membayar lebih.

Ada seorang bapak petugas, yang kami dekati.

“Pak, anak saya sudah wawancara dan foto kemarin. Dia butuh paspornya secepatnya. Bapak bisa bantu?”

“Oh, sebentar.”

Bapak itu kemudian masuk ke ruangannya, dan kemudian keluar lagi kurang dari satu menit.

“Maaf, Pak. Bapak ambil saja paspornya sesuai waktunya. Saya tidak bisa membantu.”

Ah, arifnya. Ternyata papan-papan penghias dinding imigrasi bahwa petugas tidak boleh menerima gratifikasi dan suap bukan hiasan. Tapi aku kesal sendiri, kok ya harus lama-lama tho’ bikin paspor doang?

Pictures are taken from:

What’s Hot In June 2010

Flap flip, akhirnya bapak-bapak yang sejak tadi berkutat dengan komputerku beres juga. Kupotong pita dengan semangat, karena internet berhasil masuk ke rumahku (lagi). Ya, setelah menggunakan modem dari salah satu provider seluler selama setahun, aku cukup kesal karena koneksi yang tidak stabil, dan lebih senang berjalan sedikit ke depan untuk mencicip dunia maya di warnet. Benar-benar, kalau tangan kananku adalah dunia nyata, maka tangan kiriku boleh jadi dunia maya.
***

Apa sih yang ramai di Bulan Juni 2010? Kalau Anda bertanya tentang ini, jawabannya bisa banyak sekali. Boleh jadi Ujian Kenaikan Kelas, liburan, Hari Kesaktian Pancasila, bahkan video porno selebriti. Omong-omong soal UKK, doa-doa sepertinya makin banyak mengambang di udara belakangan ini. Semoga saja, semuanya mendapatkan yang diharapkan, amin.

Tetapi, di atas semuanya, tak ada yang bisa menolak bahwa Piala Dunia 2010 adalah event terbesar di dunia yang boleh dibilang sebagai icon bulan Juni 2010 ini.
Buat saya sendiri, Piala Dunia yang diadakan di Afrika Selatan tahun ini lebih sebagai representasi kemenangan Nelson Mandela atas paham perdamaian dan kesetaraannya. Anda tahu? Afrika Selatan benar-benar terpuruk saat orang Barat datang, dan menjajah tanah-tanah mereka.

Sungguh, mereka benar-benar mirip dengan negeri kita, Indonesia. Sayang, sampai saat ini kita masih belum bisa membuktikan taji kita di dunia. Ya, bisa dilihat, kita masih belum dipercaya untuk mengadakan Piala Dunia, hooligan kita pun masih ganas-ganas. Perasaan saya sampai kebal dengan berita soal rusuh suporter sepak bola.

Ah, tapi tidak juga. Saya punya “teman”, yang saya follow di Twitter. Dia sangat mencintai Indonesia, padahal dia orang Budapest. Blognya tentang Indonesia benar-benar luar biasa, dan saya selalu kagum dengan foto-fotonya. Tapi kenapa, ya, hal yang sebenarnya tidak tertib dan aneh, selalu mengundang decak kagum orang luar? Bahkan di Jakarta ada tur ke pinggir rel segala untuk melihat kemiskinan secara live. Ckck.
Wisatawan Australia berwisata di pinggir rel Stasiun Senen

Yah, Indonesia mungkin rusuh, kurang tertib, atau apapun. Tetapi aku selalu bersyukur menjadi bagian darinya (sambil dalam hati berharap, “Ayolah, kapan kamu jadi Tuan Rumah Piala Dunia?” haha).

Pictures taken from: