Satu Dekade

Manusia-manusia berpakaian putih biru berkelebatan. Rusuh, berisik. Hingga Pak Cecep harus keluar dari kelas dan setengah berteriak, “Jangan ribut, anak-anak. Suara di dalam jadi tak terdengar.” Mereda? Tidak juga. Mereka akhirnya tetap mengobrol dengan suara yang dipaksa menjadi bisikan.

“Giliran aku, dong. Giliran aku!”

“Ih, kamu tadi sudah. Giliran aku.”

“Ya sudah.”

“Oke, kumulai, ya. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pembukaan. Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak setiap bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan…*”

*Side note: I’m surprised that I still remember some of the sentences now. I guess, it’s engrained in my brain.

Pagi itu, masih kuingat dengan jelas. Satu per satu nama anak-anak di kelas 8G dipanggil untuk dites pembukaan UUD 1945. Entah untuk apa. Supaya menjadi lebih nasionalis, mungkin. Asal tidak jadi ultranasionalis saja.

Giliranku sudah lewat. Nilainya kurang bagus. Aku lupa lima kata di tengah-tengah. Apa boleh buat, aku tak ahli menghapalkan kata per kata seperti ini. Lagipula, buat apa. Supaya ada titel, “Oh, tiap angkatan yang lulus dari SMP ini hapal pembukaan UUD 1945.”-kah?

Entahlah. Beberapa temanku yang juga sudah selesai bermain-main dengan ponsel mereka. Sekelompok teman cowok di pojokan dekat warung cekakak-cekikik tidak jelas. Dari raut muka mereka, aku tahu, mereka baru dapat stok .3gp baru.

Kemudian tidak disangka-sangka, ibu guru piket datang ke kelasku, mencari namaku. Aku agak kebingungan, buat apa namaku dipanggil?

“Kakakmu sedang menunggu di ruang piket.”

Tergesa-gesa aku segera berjalan ke sana. Kebingungan, ada apa kakakku yang harusnya masih jam belajar seperti ini malah ada di SMP-ku?

Continue reading “Satu Dekade”

Advertisements

Reply 1988: Kehangatan Keluarga

Reading time: 4-5 minutes
Language: Bahasa Indonesia

Bagi mereka yang mengenalku dekat, mungkin tahu persis seberapa sering aku menonton drama Korea. Jika beberapa orang lebih senang menonton TV Shows dari Amerika, aku lebih senang menonton drama dari negeri ginseng. Mungkin salah satu faktornya adalah karena aku cenderung feelings-oriented, karakter tipikal dari drama Korea.

Salah satu drama yang masuk ke dalam Hall of Fame drama Korea versi Titan baru-baru ini adalah Reply 1988. Ada banyak detail yang membuat perasaanku hangat. Kurang lebih sama dengan perasaan orang banyak begitu mendengar kisah Hachiko, si anjing yang setia terhadap tuannya.

Apa sih yang spesial dari Reply 1988? (Mungkin aku sedang berada dalam fase denial karena dramanya akhirnya tamat)

Mungkin karena pemeran utamanya terasa begitu dekat dengan kita.

Entah mengapa beberapa hal di Korea Selatan tahun 1988 terlihat begitu mirip dengan Indonesia.

Beberapa kali, dispenser beras seperti ini muncul di adegan-adegannya. Sumber foto.

Aku yakin, meskipun mungkin tidak semua rumah memiliki dispenser beras seperti itu, kalian pernah melihatnya. Belum pernah? Mungkin aku sudah terlalu tua, haha. Selain itu, kompornya masih khas: LPG.

Kompornya kompor gas seperti ini. Sumber foto.
Gas LPG yang 5 kg. Yang lebih kecil mungkin juga ada. Sumber foto.

Selain itu, ada tradisi yang menarik yang ditonjolkan di drama tersebut: kekeluargaan dengan tetangga. Entahlah jika orang-orang masih melakukannya sekarang apa tidak, tetapi saat aku kecil dulu, keluargaku mengenal tetangga di sekitar kami cukup baik.

Tiap pulang mudik, nenek kakekku biasanya membawakan kami hasil panen: mulai dari beras, pisang, hingga kelapa, atau hal lainnya seperti emping, kerupuk udang, dan bakpia. Kadang terlalu berlebih, hingga akhirnya kami memutuskan untuk membaginya dengan tetangga sekitar. Begitupun tetangga kami. Hanya saja, aku kadang agak malas jika matahari terik di luar dan aku harus ke rumah tetangga mengantarkan oleh-oleh seperti itu, haha.
Selain oleh-oleh dari kampung, kami juga kadang masak berlebih untuk arisan, atau acara lainnya. Akhirnya pasti aku dan adik kakakku lagi yang harus mengantarkan makanan-makanan tersebut ke tetangga sebelah. Begitupun sebaliknya, kadang tetangga kami datang ke rumah mengantarkan boks makanan dari akikahan atau sunatan anaknya, atau kadang kala oleh-oleh dari kampung mereka. Maklum, daerah tempat tinggalku kebanyakan diisi pendatang, dan keluarga besar kami semua ada di luar kota. Karena hal itu pula, kami jadi bergantung dengan satu sama lain.
Di Reply 1988, ceritanya berpusat pada 5 keluarga yang tinggal berdekatan, dengan dinamika mereka masing-masing. Banyak dari adegan-adegan di drama ini dimulai dengan anak dari satu keluarga yang disuruh orangtuanya untuk mengantarkan oleh-oleh ke tetangganya, haha. Karena itu, bagiku, adegan ini benar-benar membuatku bernostalgia.
Pemeran utamanya sendiri, Dukseon, yang diperankan oleh Hyeri, memiliki karakter sendiri sebagai anak tengah. Kadang kali dia harus mengalah untuk kedua kakak adiknya (haha, persis sekali), tetapi dia sangat disayang oleh keluarganya. Meskipun karakterku mungkin tidak semanis Dukseon, dilema yang dia hadapi sebagai anak tengah, sering juga kuhadapi.
Untung ulang tahunku tidak berdekatan dengan adik atau kakakku, kalau tidak, mungkin apa yang terjadi pada Dukseon juga akan terjadi padaku. Haha.

Hal lain yang menarik adalah bagaimana kue ulang tahun berlilin menjadi tanda kemapanan satu keluarga (mungkin) di Korea Selatan saat itu. Aku jadi ingat sewaktu aku kecil dulu, aku sempat ngambek dengan orangtuaku. Pasalnya, setiap ulang tahun, ibuku hanya memanggangkanku kue bolu standard yang tidak dihias dengan krim apapun. Lilinnya pun lilin putih biasa yang beli di warung. Tahu, kan? Aku lupa mulai umur berapa, aku mulai berontak. Minta dibelikan kue ulang tahun yang bagus yang banyak krimnya, minimal black forest. Tahun itu, akhirnya aku mendapat kue dari toko. Meskipun luarnya cantik, ternyata kuenya biasa saja. Krimnya pun terasa berminyak dan tidak seenak yang kubayangkan. Menghabiskan satu kue besar pun rasanya susah sekali kalau tidak enak. Terpaksa kue itu ditaruh di lemari pendingin berhari-hari, dan tiap harinya, kuenya makin terasa aneh.

Inti dari cerita soal kue ulang tahun adalah, kadang kita kurang bersyukur. Klise, bukan? Hehe. Satu hal yang istilahnya, taken for granted, ternyata mungkin opsi terbaik di luar sana. Ketika kita kehilangannya, mungkin baru terasa kalau opsi yang ‘membosankan’ itu sebenarnya adalah yang terbaik.

Sekarang diberi kado bukan jadi prioritas lagi. Kesempatan untuk merayakan ulang tahun bersama keluarga saja sudah langka (lebih tepatnya, tidak ada). Ulang tahun saya yang jatuh pada musim dingin mengharuskan saya berada di kampus.

Tetapi terlepas dari hal-hal yang mungkin bersifat ‘materiil’ seperti itu, keluarga tetap ada untuk menyemangati. Mungkin ada beberapa hal yang kita rindukan dari masa lalu, tetapi tetap saja keluarga selalu ada di sana.

Seperti kata Dukseon di Reply 1988, “Good bye my youth,” bukan mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang penting di masa lalunya, karena mereka masih ada di sana.

Klasik: Dimulai dari Buku

Perasaan bahagia datang ketika aku mengingat masa kecilku dulu.

Aku senang membanding-bandingkan nilai rapor SD-ku dengan milik kakakku, karena nilaiku selalu lebih bagus darinya. Celetukan macam, “Ih, Putri, masa’ kamu matematika cuma dapet 7.5 doang sih?” sudah biasa terdengar. Masih jelas juga seberapa senangnya aku ketika di caturwulan 1 kelas 1 SD aku berhasil mendapatkan ranking 4. Setelah mendapatkan rapor itu, aku berlari memeluk ibuku, menyodorkan raporku, dan dengan bangga menyampaikan, “Bu, akhirnya anak ibu bisa ranking 4. Si Putri ‘kan nggak pernah dapat ranking di kelasnya.”

Halo, Putri, aku memang adik tengil yang mengumbar fakta bahwa sampai kelas 5 SD kamu tak pernah dapat ranking 10 besar.

Momen lain yang masih kuingat sampai sekarang adalah, tagihan ranking. Tiap aku dapat ranking di kelas, aku selalu meminta sesuatu pada bapakku, mulai dari novel Harry Potter dan Piala Api yang baru keluar saat itu, hingga novel teenlit macam Dealova yang sukses membuatku menangis darah saat membacanya pertama kali (dan membuatku ketagihan untuk baca teenlit). Hingga akhirnya, bapakku berhenti membelikan sesuatu kalau aku dapat ranking, karena, “Lama-lama Bapak bangkrut kalau tiap caturwulan membelikan kamu sesuatu terus,” kata bapakku.

Rutinitas keluarga kami (saat aku, kakakku, dan adikku masih relatif anak-anak) saat hari Minggu adalah pergi ke Gramedia. Dengan motor bebek Hondanya, bapakku membonceng aku dan kakakku yang duduk berdempetan di belakang, dan memangku adikku yang duduk di depan. Berempat, kami menembus jarak 20km antara Bandung dan Cimahi, sementara ibuku di rumah beres-beres, hehe. Ketika sampai di Gramedia, biasanya aku, kakakku, dan adikku berlomba-lomba merayu bapakku untuk membelikan kami buku. Yang sukses, boleh sombong, “Aku tadi dibeliin bapak buku yang harganya 50 ribu loh.”

Anehnya, dulu aku tidak peduli buku apa yang bisa dibeli. Asalkan bapak mau membelikanku buku, aku akan ambil kesempatan itu. Karena itu, jangan tanya berapa banyak buku matematika kelas 3 SD yang kupunya, paling tidak ada tiga, karena bapakku pasti berbesar hati (dan dompet) membelikan buku pelajaran. Aku cukup bilang, “Pak, boleh beli ini? Aku mau latihan soal,” dan beliau pasti bilang, “Iya.”

Tentu saja, buku itu tidak jadi penghuni rak buku, tetapi aku benar-benar mengerjakan soal-soal di dalamnya. Semuanya. Penuh. Aku masih ingat dengan jelas, ketika aku berhasil mengerjakan soal aljabar pertamaku (kalau 2x=4, apakah x?). Rasanya luar biasa.

Sayang, entah sejak kapan, aku lupa perasaan itu. Menggali apapun yang ingin kutahu, mencari segala sesuatu yang menarik minatku.

Ketika aku menginjak kelas 4 SD dan mulai bimbingan belajar untuk persiapan masuk SMP, doktrin ‘menjadi yang terbaik’ itu mulai masuk. Aku tak ingat mulai kapan aku selalu ingin menjadi ranking satu di tiap try out yang diadakan bimbingan belajar tersebut. Aku tak ingat sejak kapan aku mulai peduli dengan berapa passing grade masuk SMP anu. Aku tak ingat mulai kapan aku ingin selalu membanding-bandingkan diriku dengan orang lain.

Dan hal tersebut tak berhenti di situ.

SMP? Tak terhitung berapa kali aku dan Ainun, berkompetisi dalam berbagai hal. Termasuk soal NEM, ketika kami ingin masuk SMA. Thank God, kami masuk SMA yang sama dengan jalur testing. Saat di SMA? Semuanya makin runyam. Target utamanya? Tentu nilai setinggi-tingginya, respek dari teman seumuran, dan universitas impian. Bisa ditebak, ketika sudah kuliah pun, persaingan semakin tajam karena semuanya ingin dapat IPK terbaik supaya dapat tempat kerja yang prestisenya tinggi. Masuk ke lingkungan kerja? Menapaki tangga karir.

Memikirkan semua itu, terus terang saja, membuat aku lelah. Sampai kapan aku harus tetap memikirkan hal seperti ini? Sampai kapan aku harus terus bersaing dengan orang lain demi mendapat apa yang aku (aku? Mungkin lebih tepatnya yang orang-orang) inginkan?

Sampai kapan?

Kukira, setelah masuk MIT, aku bisa sedikit slacking off, haha. Tetapi, ternyata di sini sama saja. Kukira orang-orangnya lebih passionate soal apa yang mereka lakukan dan tak begitu peduli dengan nilai.

Sampai kapan?

Aku harus mencari target baru, aku tak boleh ‘menyerahkan’ diriku terhadap siklus ini. Alhamdulillah, aku dapat sponsor untuk pergi ke One Young World Summit 2012. Berikut ini video dari summit tahun lalu.

Bismillahirrahmanirrahim. Semoga saat aku kembali ke kampus, aku bisa memperbarui niat dan tujuanku. Amin.

Pittsburgh, I’m coming!

Buah Tangan dari Minang

Belum juga dua minggu berlalu dari hari luluh lantaknya Padang, ayahku sudah terbang ke sana.

Aku tanya: kenapa harus buru-buru?
Beliau menjawabnya dengan tegas: tak ada pekerjaan yang boleh ditunda-tunda.
Dedikasinya memang luar biasa. Akhirnya, Minggu (12/10) kemarin beliau dengan kereta Parahyangan menuju Cengkareng.
Malam itu pun SMS tiba.
Bapak sudah sampai Padang. Mau oleh-oleh apa, dek?
Baru juga sampai, masa sudah nanya mau oleh-oleh sih 😀
Untunglah sampai juga beliau di sana. Tetakutku hilang sedikit. Sejak betapa banyaknya kecelakaan pesawat terbang menghiasi layar kaca di ruang keluargaku, aku agak was-was. Entahlah.
***

Handphoneku bergetar-getar siang itu. Padahal, hampir ketiduran aku di angkot Cimahi-St. Hall. Sebutir peluh mengalir dari ubun-ubunku yang panas. Sepertinya akan hujan.
Dek, bapak di hotel ambacang loh. Bau bangkainya menyengat!
Hotel Ambacang… Melayang pikiranku pada sebuah acara berita di televisi di mana mbak-mbaknya dengan semangat mengabarkan kondisi terbaru di sana.
Dan bau bangkai, mungkin juga anyir darah…
***
Kalaulah aku yang jadi mereka, mungkin sudah jerit-jerit aku dibuatnya. Sedih, dan mungkin marah pada Tuhan. Teriak: kenapa harus saya Tuhan? Padahal banyak orang lain yang lebih pantas dapat cobaan ini!
“Tidak akan suatu kaum diberi cobaan melainkan sesuai dengan kemampuan kaum tersebut.”
Tuhan benar. Buktinya, saat pulang dari sana, ayahku bawa keripik balado tuh 😀
Maksudnya, berarti saudara kita di Minang sudah mulai berbenah. Hidup itu harus maju. Dan mereka sudah bekerja lagi (baca: menjual keripik balado, hehe).
Semoga saja pedasnya keripik balado yang kumakan sekarang sama dengan semangat mereka yang mulai menjalar-jalar. Amin.

Simpul Kebersamaan di Sepasang Sandal Jepit

Keluarga Cemara. Masih ingat acara satu ini? Hidup sebagai sebuah keluarga (sangat) sederhana, tapi mengajarkan kita betapa pentingnya kehangatan dalam sebuah keluarga.
Sayang, kehangatan dalam keluargaku hanya bersifat insidental, kadang-kadang saja. Selalu saja ada kesibukan yang memberi sekat-sekat tak terlihat di antara kami. Saat hari biasa, tak satupun waktu tersisa buat kami untuk berkumpul di meja makan. Sekadar ngobrol-ngobrol ringan di ruang tengah sambil melihat tabung kaca bergerak pun jarang.

Malah, saat semua bisa berkumpul, yang ada hanyalah berantem. Rebutan ini-itu. Cakar sana-sini. Tinju atas-bawah. Tampar kiri-kanan. Ya, walaupun tidak seberlebihan itu, tapi tetap saja mengurangi kualitas berkumpul itu, kan?

Idul Fitri kali ini kuharap bisa menjadi momen luar biasa yang menghangatkan kami, lagi.
Karena itu, saat mudik ke Kota Pelajar, Yogyakarta, aku memaksa untuk pergi ke suatu tempat bersama-sama. Setelah ribut sana-sini, akhirnya diputuskan Malioboro dan Alun-alun Yogya-lah yang akan kami kunjungi.

Di Malioboro, kepala rasanya tambah mendidih, karena turis mancanegara dan domestik memenuhi tiap lika-liku sudut-sudut jalan yang terkenal ini. Penuh! Alih-alih belanja dan menikmati suasana sore di sana, kami segera pergi ke Alun-alun Yogya yang agak lengang.
Dengan berbekal kamera digital, aku pun menikmati semilir angin sore itu dengan mengambil beberapa foto, berbagai pose, dengan adik dan kakakku. Rasanya menyenangkan sekali! Seolah-olah kami tiba-tiba akrab setelah sekian lama hanya gontok-gontokan melulu.

Lelah tak dapat ditolak. Dengan meleseh di tikar, kami memesan Wedang Ronde khas Yogya yang rasanya, yumm, jangan ditanya. Enak! Sambil menyeruput Wedang Ronde, kami menyaksikan matahari menggelincirkan diri ke ufuk barat sana.

Adzan Maghrib berkumandang ketika semua tengah bersantai menikmati Wedang Ronde di lembayung keemasan senja itu. Bergegas kutelan bola-bola ketan dan air jahe yang tersisa. Hangat masih terasa di telisip tenggorokan saat aku dan keluargaku berjalan ke Masjd Gede Yogyakarta. Kulihat kanan kiri, ternyata indah benar masjidnya! Dengan arsitektur Jawa Kuna dan lantai marmer yang sejuk, aku bengong, dan berkata dalam hati: Wah, ada ya, masjid seindah ini?

Setelah kutunaikan sholat Maghrib hari itu, aku melangkah keluar. Kucari sandal jepitku. Loh, kok tidak ada? Kucari lagi, sambil menajamkan pandanganku. Siapa tahu, sandalku keselip. Wah, tak ada! Jangan-jangan hilang lagi! Aku panik sendiri. Kebat-kebit jantungku. Menetes-netes keringatku. Kusenggol kakakku dengan wajah memohon, minta dicarikan Si Sandal Kesayangan milikku itu (bahkan saking sayangnya, kunamai dia Si Hitam, karena warnanya hitam). Mukanya enggan, tapi dia cari juga. Dan masih tak ada. Makin paniklah aku, makin kebat-kebit jantungku, dan makin banyak tetesan keringatku. Sial! pikirku. Tak akan kumaafkan jika ada orang yang mencuri Si Hitam!

Memang sial rupanya. Bukan keselip, tapi mungkin, bukan, tapi MEMANG ada yang mencurinya! Aura kemarahanku sudah serupa membaranya api neraka, apa boleh buat, karena ini pengalaman pertamaku kecurian sandal di masjid, dan tak tanggung-tanggung, Si Hitam yang dicurinya pula!

Setelah mengubah setting matanya menjadi X-ray, kakakku menemukan seorang mbak-mbak yang memakai sandal yang mirip sekali dengan Si Hitam.
“Mbak! Mbak! Mbak! Tunggu!” kejar kakakku. Sadar ada yang memanggilnya, Si Mbak itu grasa-grusu (cepat-cepat/ buru-buru) memperlebar dan mempercepat langkahnya.
“Mbak! Tunggu!” suara kakakku makin melengking. Dan karena dia seorang Sanguinis yang tak sabaran, dia tarik tangan Si Mbak itu. Terkaget-kagetlah Si Mbak itu. Mukanya pucat seperti bengkoang.

“Mbak. Ini benar sandal milik Mbak?” tanya kakakku lugas, keras, tepat, cepat, akurat, tegas. Ciutlah hati Si Mbak ini ditantang pribadi blak-blakan kakakku.

“Iya!” jawab Si Mbak itu, yang terdengar dikuat-kuatkan. Wah, Mbak ini bohong ya… terkekeh aku dalam hati.

“Benar, Mbak? Soalnya saya juga punya sandal yang SAMA PERSIS!” begitu kakakku men-skakmat-nya. Dalam hati, aku terkencing-kencing tertawa saking tak kuatnya!

“I, iya! Masak saya bohong!” ucapnya. Lalu dia berbalik dan pergi lagi.

Eh, sial banget nih orang! Sudah ketahuan dia yang mencuri, masih berani kabur lagi!

Kakakku mengejarnya sekali lagi. Menarik tangannya sekali lagi. Dan tiba-tiba Ibunya muncul di sampingnya.

“Ada apa, ya, dengan anak saya?” begitu tanya ibu itu. Diksinya mungkin sopan dan lembut. Tapi lihat orangnya, dia mengatakannya sambil mengeluarkan bisa dan menjulurkan lidahnya laksana ular kobra.

“Ini, Bu. Mbak ini memakai sandal yang SAMA PERSIS dengan milik saya.” Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Bisa dibalas bisa, Lidah ular dibalas lidah ular. Yang terlihat dari tempatku berdiri adalah ular lagi silat-silatan, seperti salah satu sinetron di televisi swasta kita (stasiun televisi apa ya… hehe).

“Oh, sandal anakku ini memang DARI SANANYA seperti ini.”

“Benar, Bu? Soalnya, sandal ini SAMA PERSIS seperti milik saya.”

“Oh, jadi anda menuduh anak saya pencuri, begitu?”

Bukannya memang pencuri ya, Bu? Wong saya kenal persis tiap lekukan dan goresan di sandal itu!

“Saya hanya mencari sandal saya saja, Bu. Sandal saya SAMA PERSIS dengan yang dipakai Mbak ini!”

“Nah, ini bukan sandal yang kamu cari, kalau begitu.” Lalu ibu dan anaknya itu pergi begitu saja. Lelah, karena memang pada dasarnya pencuri itu tak akan ada yang mengaku, kakakku kembali ke tempatku.

“Ikhlaskan, masih banyak kok sandal lain.”

“Iya, iya.”

“Aku ada sandal cadangan di mobil. Kuambil dulu ya.”

“Ya.”

Kakakku pun kembali ke Alun-alun untuk mengambil sandal. Sementara aku bengong di teras masjid. Kudengar sayup-sayup suara Si Hitam menjerit pedih. 

Ah, maafkan aku Hitam. Karena membiarkanmu diinjak oleh orang yang tak berhak memilikimu.

Belum beberapa lama berselang, ayahku datang. Beliau ngedumel karena aku lama sekali, padahal ditunggu di depan masjid. Setelah kujelaskan, beliau akhirnya manggut-manggut juga. Ditawarkanlah punggungnya.

“Hah? Digendong?” tanyaku kaget.

“Iya, biar waktunya tak menghabiskan waktu. Ayo cepat, denok!” begitu ayahku bilang.

Mau tak mau, aku digendong juga. Sementara adikku, si laki-laki yang kepuberannya sering kujadikan bahan olok-olok, kini gantian mengolok-olokku. Cekikikan dia sampai puas. Awas! Lihat saja nanti aku balas!

Ternyata bukan hanya adikku yang menertawakanku. Orang-orang di sekitarku juga.

Woalah, nok. Wis gedhe kok masih digendong tho? (Ya ampun, nak. Sudah besar kok masih digendong sih?)” komentar mbah-mbah yang lewat.

Tak gendong, ke mana-mana. Tak gendong ke mana-mana. Enak tho, mantep tho…,” senandung penjual pernak-pernik kerajinan di depan masjid yang bergaya rasta.

Mukaku merah! Semerah apel Washington yang dijual di supermarket. Apalagi ada yang bersenandung lagu Mbah Surip segala lagi. Aku mulai berontak kutendang paha ayahku minta turun.

Ayahku pun menurunkanku. Tapi, kini aku terpaksa berjalan dengan bertelanjang kaki, alias nyeker. Orang-orang masih melihatku. Setidaknya, tidak semalu sebelumnya. Aduh, kakakku kok lama sekali ya membawakan sepasang sandal cadangan saja.

Di depan gapura Masjid, seseorang berbicara nyeplos, “Lihat! Yang tadi kehilangan sandalnya sekarang nyeker!” Kulihat siapa yang berbicara, rupa-rupanya Si Ibu Ular Berbisa dan Si Mbak Pencuri!

Kurang ajar nih orang. Sudah mencuri, malah sempat mengolok-olok orang yang dicurinya pula!

Ingin kuhajar duo maut ibu dan anak itu. Tapi, adikku, si perjaka yang baru puber, menahanku. “Nih, pakai sandalku saja,” begitu katanya.

“Benar, nih? Nanti kamu nyeker loh.”

“Ah, biarin. Aku kan lelaki.”

Oalah, aku baru sadar. Adikku ternyata baik juga, hihi. Kupakai sandalnya, dan berjalan menuju tempat mobil keluargaku diparkir. Di sana, kulihat kakakku sedang diinterogasi oleh ibuku tentang hal yang terjadi. Hm, pantas lama!

Setelah itu, demi menghiburku yang kehilangan Si Hitam, sandal kesayangan sehidup semati yang sudah kupakai untuk menjelajah berbagai tempat di muka bumi, kakak dan adikku membeli beberapa kotak kembang api. Kami sulut sumbunya, dan kami nikmati pendar-pendar indah langit Yogya di malam itu.

Ketika mobil yang kutumpangi membelah jalur selatan, kembali ke naungan Kota Priangan, aku berpikir bahwa mungkin, jika aku tak kehilangan Si Hitam senja kala itu, aku tak akan merasakan keluargaku sedekat itu denganku. Selama ini aku merasa ditinggalkan karena kesibukan mereka. Tanpa sengaja kutatap gurat-guratan kapas putih serupa Si Hitam di lukisan maestro langit luas siang itu, dan kuucapkan rasa terima kasih tulusku untuk Si Hitam. Terima kasih, mungkin kita bisa berjumpa di lain kesempatan, Hitam.