Musim (Badai) Salju

Setelah IAP yang luar biasa, spring semester akhirnya resmi dimulai. Saat post ini di-publish, resmi sudah satu minggu sejak semester keduaku sebagai seorang mahasiswa S2 dimulai.

Musim dingin tahun lalu benar-benar mild, bahkan the Institvte (a.k.a. MIT) tidak menggunakan jatah snow day-nya sama sekali. Tetapi tahun ini berbeda. Apalagi setelah musim dingin tahun 2014-2015 aku kabur ke Inggris, tepatnya University of Cambridge, untuk pertukaran mahasiswa. Sudah sekian lama aku tidak merasakan badai salju sebenar-benarnya badai.

Hingga tiba hari Kamis minggu kemarin.

Pelajaran pertama: kalau kampus ditutup karena badai salju, jangan sekali-kali nekat berangkat ke kampus.
Pelajaran pertama: kalau kampus ditutup karena badai salju, jangan sekali-kali nekat berangkat ke kampus.

Continue reading “Musim (Badai) Salju”

Titan Is Now on Radio!

Quantum leap, begitu pikirku. Semua diawali dengan wawancara program Berburu Beasiswa sekitar 2 bulan yang lalu oleh SS (Sobat Siar) Astari dari Jepang, di Radio PPI Dunia. Berbekal pengalaman minimum soal public speaking, tawaran itu kuiyakan.

Sebelumnya, aku pernah juga menjadi narasumber di Seminar Indonesia Mengglobal di @america, yang bisa kalian saksikan di sini. Bisa kalian lihat dengan jelas, betapa kaku dan tidak luwesnya aku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Setelah dari acara itu, rasa menyesal tetap mengendap di dasar hati, dan aku berjanji pada diri sendiri, kalau ada kesempatan sharing dengan khalayak luas seperti itu lagi, tak akan kusia-siakan.

Aku tahu, pengalaman kurang maksimal bersama Indonesia Mengglobal itu 75%-nya muncul dari ketidaksiapanku. Aku tidak tahu apa saja hal-hal penting yang harus kusampaikan, pesan apa yang aku ingin audiens ingat setelah pulang, dan sebagainya.

Keeping that at the back of my mind saat persiapan untuk wawancara di Radio PPI Dunia, aku mempersiapkan sebisa mungkin. Aku sengaja bangun lebih pagi (siarannya waktu itu pukul 10:00 waktu Boston, atau 21:00 Waktu Indonesia Barat), dan siap-siap supaya kepalaku tidak berpikir macam-macam, atau perutku tidak kelaparan.

It went well. Rasanya senang sekali ‘melihat’ antusiasme teman-teman yang mendengarkan cerita hidupku yang mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Bahkan, aku mendapat beberapa kenalan baru.

Apa aku harus mencoba menjadi penyiar di radio ini supaya aku bisa ‘melatih’ kemampuan public speaking-ku, yang mana, sangat susah kulatih?

Continue reading “Titan Is Now on Radio!”

Menggeluti Hobi Baru: ‘Memasak’

Dengan tanda kutip. Betul sekali, kalian tidak salah lihat. Aku pun belum jago-jago amat, soalnya, haha.

Meskipun aku tetap melanjutkan S2-ku di kampus yang sama dengan S1-ku dulu, tidak semua hal terasa sama. Mulai dari kuliah mata kuliahnya jauh lebih sulit, hingga mulai riset beneran. Selain itu, asramaku lebih jauh dari kampus, dan tidak ada dining hall di sini. Artinya, mau tidak mau aku harus masak sendiri.

Bagaimana transisiku dari yang dulunya jarang masak, hingga sekarang yang jadi (lebih) sering masak?

Burger
Tuna burger buatanku sendiri. Burger patty-nya aku buat sendiri, lho!

Continue reading “Menggeluti Hobi Baru: ‘Memasak’”

Mencari Sepi di Maine

Akhir minggu yang lalu, bersama teman-teman mahasiswa, teknis, professor, dan saintis di labku, kami berdelapan belas pergi ke Maine untuk melakukan Lab Retreat musim gugur. Dalam Bahasa Indonesia, kata ‘retreat’ sendiri punya asosiasi yang kuat dengan agama tertentu (KBBI: khalwat mengundurkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin). Meskipun begitu, Lab Retreat ini tidak ada hubungannya dengan religi. Tujuannya sederhana: mendekatkan diri dengan anggota lab lainnya, menyelesaikan masalah personal intralab, dan juga bersenang-senang!

PV Lab, credit: Marius
MIT PV Lab, credit: Marius.

Continue reading “Mencari Sepi di Maine”

Bertemu Asisten Ahok: Menyiapkan Diri untuk Kembali

Salah satu asisten Gubernur Jakarta Pak Ahok, yang bernama Michael Sianipar, beberapa hari lalu mengunjungi komunitas Indonesia di Boston. Setelah hari Rabu (14/9) kemarin mengisi acara berbagi pengalaman dengan Permias Massachusetts, hari Kamis (15/9) kemarin anak-anak AIS-MIT (Association of Indonesian Students at MIT) juga makan malam dengannya dan berbicara lebih lanjut soal masa depan sains dan teknologi di Jakarta khususnya, dan Indonesia secara umumnya.

Ada beberapa poin menarik yang didiskusikan oleh kami. Akan kusampaikan dengan singkat, ya.

Disclaimer: Mungkin teman-teman pembaca akan berpikir bahwa ada unsur politik di postingan kali ini, yang akan saya bantah. Saya bukan warga Jakarta, dan ini bukan kali pertama politisi datang ke MIT. Sebelumnya, Menteri Kelautan, Ibu Susi, dan Walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil, bahkan Wakil Menteri Pendidikan pernah ke sini.

Continue reading “Bertemu Asisten Ahok: Menyiapkan Diri untuk Kembali”

Why Gothenburg, Sweden and Chalmers?

I spent a week in Gothenburg, Sweden, because me, along with 6 other people, won Chalmers Global Challenge this year (as I have told you before, here). You might wonder, how different is the education system in Sweden (specifically, Chalmers), in comparison to American education system?

I was wondering about the same thing, too…

Hint: there is a (great) balance between work and life. Chalmers, also has a great number of international students!

Continue reading “Why Gothenburg, Sweden and Chalmers?”

IAP: First Time for Everything

Reading time: 3-4 minutes
Language: Bahasa Indonesia

Jika IAP tahun 2014 aku sempat membuat truffle cokelat sendiri, dan ikut training supaya bisa menggunakan mesin mill dan lathe; jika IAP tahun 2013 aku sempat belajar main anggar, belajar programming Python, jalan-jalan ke Worcester, dan kerja sambilan di admission office, IAP tahun ini aku mencoba hal-hal baru! Mungkin kalian sempat membaca satudua entri di blogpost sebelumnya, tentang daily reflection-ku.

Kali ini aku ingin menyajikan laporan lengkap tentang beberapa hal yang kulakukan selama IAP terakhirku sebagai undergraduate, mulai dari bergabung dengan MIT Urban Risk Lab untuk membantu project Emergency Preparedness Hub mereka, mengambil kelas Cross-Cultural Collaboration (demi menjadi kolaborator lebih baik dalam satu tim), bermain ski, ikut workshop Japanese Tea Ceremony, dan ikut workshop Ikebana, atau seni merangkai bunga dari Jepang.

Workshop ikebana pertamaku! Bunga dan alat-alatnya mereka sediakan.

Menjadi undergraduate research assistant di MIT Urban Risk Lab merupakan kesempatan langka bagiku untuk melakukan sesuatu sesuai dengan passion-ku: using engineering to make this world a better place. Karena itu, aku sangat bersemangat selama satu bulan IAP melakukan riset literatur tentang berbagai macam emergency water treatment yang sudah terbukti sukses di masyarakat. Desain water treatment yang aku kerjakan ini, pada akhirnya akan menjadi bagian dari Emergency Preparedness Hub, sebuah hub yang memiliki sistem komunikasi, energy harvesting, cooking, memasak, dan water treatment untuk di-deploy di daerah rawan gempa bumi (ya, maaf terlalu banyak istilah dalam Bahasa Inggris).

Ini pertama kalinya aku bekerja dengan non-engineer, karena lab satu ini berada di bawah MIT School of Architecture and Planning. Pekerjaan research scientist dan professorku di lab ini keren-keren, desain mereka ciamik. Luar biasa.

Normal state dari Urban Risk Lab.

Kemudian, aku juga mengambil kelas Cross-Cultural Collaboration yang benar-benar berguna. Aku sempat menuliskan sedikit tentang bagaimana kelas ini membantu untuk menjadikan keresahanmu sebagai hal yang produktif. Sayangnya, hal ini susah sekali diterapkan, ketika aku menghadapai sesuatu tiga hari terakhir. Haha.

Kemudian, dengan teman-teman dari Singapura (dari kampus SUTD) yang sedang mengambil kelas IAP di sini, aku ikut pergi ski dengan mereka.

Jangan tanya aku jatuh berapa kali. Sampai sekarang pun memarku belum hilang!

Selain itu, aku ikut Japanese Tea Ceremony. Sayang sekali, karena peserta yang membludak, kami hanya bisa duduk dan menonton. Walaupun gitu, kami mendapat kue beras manis sebagai teman untuk matcha (teh hijau) asli pahit yang kami dapatkan juga.

Perangkatnya pun dibawa langsung dari Jepang, katanya.

Kemudian, MISTI-Japan juga mengundang salah satu ikebana master yang tinggal di Boston untuk mengajari kami dasar-dasar seni merangkai bunga. Salah satu prinsipnya adalah bagaimana menempatkan objek (paling tinggi, dalam hal ini, bunga lavender), relatif terhadap objek lain (bunga mawar merah muda yang ada di tengah), yaitu harus membentuk sudut 45 derajat dari samping. Selain itu, seni dari ikebana gaya satu ini adalah keasimetrisan penempatan bunga, namun juga menjaganya tetap cantik dan apik.

Bunga segar yang dipersiapkan untuk kami semua.

Peralatan yang harus dimiliki.

Hasil ikebana milikku! Cantik bukan?

Selain itu, aku dan teman-temanku sempat mencoba tempat makan baru di Boston: restoran Mexico yang kabarnya paling otentik di seantero Boston. Aku memesan ikan, dan kami juga mendapat nachos sebagai appetizer, dan tortilla hangat sebagai pengantar makan. Seperti biasa, pasti ada salsa, nasi, dan refried beans.

Bahkan mejanya pun dibuat dari ubin yang sangat tipikal dari Mexico.

Hari ini adalah hari pertama spring semester, yang merupakan semester terakhirku di MIT. Bulan Juni nanti aku lulus, insya Allah, karena bahkan aku sudah mendaftar untuk masuk June degree list segala, haha. Jika semua lancar, orangtuaku mungkin bisa melihatku jalan di atas stage dan menerima diplomaku. Doakan saja, ya, semuanya berjalan dengan lancar.

Bismillahirrahmanirrahim, semangat memulai semester baru!