Personal Space?

Hal paling mudah, dalam perbedaan kultur, yang bisa dirasakan secara langsung seringkali tanpa kita sadari, adalah konsep personal space. Efeknya bisa kita rasakan secara langsung, nyaman atau tidak nyaman, awkward atau tidak awkward. Hal tersebut bisa kurasakan secara langsung, saat beberapa minggu lalu aku mengunjungi Jepang en route Indonesia.

Ketika kata culture shock mulai terasa asing, kemudian aku merasakan kembali hal tersebut.

Continue reading “Personal Space?”

The Man in the High Castle

Salah satu keuntungan memiliki .edu e-mail, tentu saja adalah langganan Amazon Prime sebagai student gratis selama 6 bulan. Baru-baru ini, Amazon Prime juga menambah fitur bagi para penggunanya: kini kita bisa mengakses beberapa film dan TV shows secara gratis, sebagai anggota Amazon Prime. Bahkan, menyaingi Netflix, YouTube Red, dan televisi konvensional, Amazon juga merilis TV shows mereka sendiri.

Salah satunya, adalah The Man in the High Castle.

Diangkat dari novel yang ditulis Philip Dick, yang dipublikasikan pertama kali tahun 1963, TMIHC (The Man in the High Castle) bercerita tentang dunia distopis, di mana Jepang dan Jerman memenangkan Perang Dunia II. Amerika pun terbagi dua: east coast yang lebih dekat ke Eropa dikuasai Jerman, sedangkan west coast yang lebih dekat ke Asia dikuasai Jepang.

Satu hal yang sangat mencolok: bendera Amerika Serikat dengan swastikanya, terlihat di mana-mana di TMIHC. Dan tentu saja, bumbu cinta segitiga antara satu wanita dengan dua pria dengan latar belakang berbeda: yang satu punya kedudukan di Partai Nazi, yang lainnya masih berdarah Yahudi. Ah.

Continue reading “The Man in the High Castle”