Alkisah: Keran

Bisa dibilang, aku sangat pemilih, sangat particular, akan beberapa hal yang menurut khalayak banyak tidak penting untuk dipermasalahkan. Asal berfungsi, mengapa tidak? Tetapi belakangan ini, aku tidak bisa berhenti memikirkan hal ini. Anggap saja aku aneh, atau memiliki disorderbila kalian suka.

Ini soal keran air. Heads-up, aku tidak sedang mencoba berfilosofi ria di sini, jadi jangan coba cari hubungan keran dengan alam hidup raya.

Di Indonesia, orang tidak peduli. Mau keran yang diputar, yang dipencet, atau yang dengan gerakan tangan wus-wus (yang katanya untuk meminimalisir kontak antar-manusia, dan sejatinya, meminimalisir penyebaran virus, bakteri, atau apalah), orang-orang tidak mau tahu. Asal kerannya jalan dan tidak berhenti, itu lebih dari cukup.

Permasalahan keran ini muncul dan mengganggu pikiranku sejak sekitar 4 tahun lalu pindah ke Inggris untuk setahun. Di sana, keran air panas dan air dingin itu terpisah. Sungguh dilema, kalau ingin cuci tangan: air dinginnya terlalu dingin dan air panasnya terlalu panas. Sering sekali, setelah beres cuci tangan, tanganku merah-merah karena air panas.

Kalian juga mungkin bisa mengerti, di negara tropis seperti Indonesia, masalah sepele macam keran ini tak akan jadi masalah besar, karena keran air dingin pun cukup untuk kita (lagi-lagi, kecuali, kalau kamu tinggal di pegunungan di Bandung, yang kadang airnya bisa menyentuh 15 derajat Celsius).

Sumber foto. Keran Inggris.

Ternyata, Buzfeed punya jawaban atas pertanyaanku.

Continue reading “Alkisah: Keran”

Advertisements

Selebriti Kecil-Kecilan

Saya menerima banyak sekali feedback soal tulisan saya sebelumnya, menyoal keutuhan seorang perempuan. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan beribu terima kasih untuk yang sudah sudi membaca, dan berkomentar.

It’s about to get worse, peopleJust kidding.

Beberapa orang bahkan memberikan komentar personal mereka, mengatakan bahwa saya sudah ‘berani’. Rasanya terlalu berlebihan jika menyuarakan isi kepala seperti itu dibilang berani. Kalau begitu ceritanya, pencuit di Twitter pun boleh dibilang berani. Yang saya lakukan, tak lebih dari, maaf, buang kotoran. Jika kotoran-kotoran itu dirayakan, ya boleh lah. Terserah masing-masing.

Selain isu mengenai perempuan, ada satu hal lain yang juga cukup menarik, yaitu fenomena mengenai selebriti kecil-kecilan, atau bolehlah kita sebut penerima beasiswa. Hal yang mana tak sebesar sekarang, jika dibandingkan 8 tahun yang lalu, misalnya, ketika sebuah lembaga nasional pemberi beasiswa masih baru saja disusun dan mencari-cari orang yang ‘rela’ diberi beasiswa.

Continue reading “Selebriti Kecil-Kecilan”

Perempuan yang ‘Utuh’

Dengan santernya link tautan dari Mojok dan juga Magdalene soal isu hangat perempuan dan pernikahan di media sosial, mau tak mau, pagi ini aku bangun dan menyisihkan sedikit waktu untuk berpikir soal hal ini. Mau tak mau juga, aku terpaksa turun gunung dan berhenti sunyi di blog sendiri. Tenang, aku masih menulis, di media lain, berkedok anonim, haha. Padahal, ya, minggu ini ada ujian. Introduction to Manufacturing pula yang jumlah halaman readings-nya tidak tanggung-tanggung, bisa lebih dari 300 atau 400. Hal ini, mau tak mau, membuatku respect dengan manusia-manusia yang bekerja dan berjurusan bidang sosial. Maklum, enjinir sepertiku kadang kurang ajar dan memandang sebelah mata mereka yang main soft science.

Anyway, kalau misalkan direkapitulasi hasil dari artikel-artikel mengenai perempuan dan pernikahan yang tersebar di mana-mana, ada tiga kubu.

Continue reading “Perempuan yang ‘Utuh’”

Personal Space?

Hal paling mudah, dalam perbedaan kultur, yang bisa dirasakan secara langsung seringkali tanpa kita sadari, adalah konsep personal space. Efeknya bisa kita rasakan secara langsung, nyaman atau tidak nyaman, awkward atau tidak awkward. Hal tersebut bisa kurasakan secara langsung, saat beberapa minggu lalu aku mengunjungi Jepang en route Indonesia.

Ketika kata culture shock mulai terasa asing, kemudian aku merasakan kembali hal tersebut.

Continue reading “Personal Space?”

Satu Dekade

Manusia-manusia berpakaian putih biru berkelebatan. Rusuh, berisik. Hingga Pak Cecep harus keluar dari kelas dan setengah berteriak, “Jangan ribut, anak-anak. Suara di dalam jadi tak terdengar.” Mereda? Tidak juga. Mereka akhirnya tetap mengobrol dengan suara yang dipaksa menjadi bisikan.

“Giliran aku, dong. Giliran aku!”

“Ih, kamu tadi sudah. Giliran aku.”

“Ya sudah.”

“Oke, kumulai, ya. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pembukaan. Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak setiap bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan…*”

*Side note: I’m surprised that I still remember some of the sentences now. I guess, it’s engrained in my brain.

Pagi itu, masih kuingat dengan jelas. Satu per satu nama anak-anak di kelas 8G dipanggil untuk dites pembukaan UUD 1945. Entah untuk apa. Supaya menjadi lebih nasionalis, mungkin. Asal tidak jadi ultranasionalis saja.

Giliranku sudah lewat. Nilainya kurang bagus. Aku lupa lima kata di tengah-tengah. Apa boleh buat, aku tak ahli menghapalkan kata per kata seperti ini. Lagipula, buat apa. Supaya ada titel, “Oh, tiap angkatan yang lulus dari SMP ini hapal pembukaan UUD 1945.”-kah?

Entahlah. Beberapa temanku yang juga sudah selesai bermain-main dengan ponsel mereka. Sekelompok teman cowok di pojokan dekat warung cekakak-cekikik tidak jelas. Dari raut muka mereka, aku tahu, mereka baru dapat stok .3gp baru.

Kemudian tidak disangka-sangka, ibu guru piket datang ke kelasku, mencari namaku. Aku agak kebingungan, buat apa namaku dipanggil?

“Kakakmu sedang menunggu di ruang piket.”

Tergesa-gesa aku segera berjalan ke sana. Kebingungan, ada apa kakakku yang harusnya masih jam belajar seperti ini malah ada di SMP-ku?

Continue reading “Satu Dekade”

Generasi Sekali Pakai

Labku kebanjiran. Setelah hari-hari musim panas yang suhunya sulit kutolerir, dan membuatku mendekam di dalam ruangan sepanjang hari, Rabu kemarin hujan turun tak berkesudahan. Hingga akhirnya National Weather Service mengeluarkan peringatan (alert) yang muncul di layar ponselku sore itu: Thunderstorm warning. Flood warning.

Kupikir, tak akan seserius di Indonesia; dan memang kenyataannya seperti itu. Hanya saja, pipa di lantai tiga di gedung laboratoriumku bursts, alias bocor. Tentu saja, air pun mengalir ke lantai bawah, termasuk ke laboratoriumku yang berada di lantai bawah tanah.

Paginya, aku terkejut melihat kondisi labku. Desas-desusnya, air bocor dari langit-langit seperti air terjun, dan tidak pandang bulu. Solvent hood di lab kami rusak, begitupun dengan hot plate dan beberapa sample yang kutinggalkan semalam untuk didinginkan. Ah.

Solvent hood kami kena juga. Entah, air yang bertebaran di mana-mana terkontaminasi bahan kimia atau tidak, sehingga…
…untuk mengeringkannya kami menggunakan hazmat mat, ‘lap’ untuk tumpahan bahan kimia.

Hari itu aku tahu, eksperimenku harus diundur, dan aku harus bahu membahu kerja bakti bersama anggota lab lainnya untuk membersihkan air yang berada di mana-mana.

Little did I know, how wasteful the cleaning process is. Selamat datang di generasi sekali pakai. Continue reading “Generasi Sekali Pakai”

A (Relevant) Old Doc

Tidak bisa dipungkiri, jarak satu samudera antara Amerika Serikat dan Indonesia membuatku tak mengenal keadaan sebenarnya, dan kondisi terkini dari tanah kelahiranku. Saya hanya membaca berita selewat, atau mendapat informasi dari teman-temanku di tanah air yang mengirimkan satu dua pesan soal sesuatu yang bombastis, atau ‘sekadar menarik’. I admit itI’m biased. 7 tahun di Amerika Serikat tentu saja mau tak mau mengubah kerangka berpikirku, yang dulu mungkin cenderung tradisional dan ABS, alias asal Bapak senang.

Anda tahu saya akan membahas soal apa.

Continue reading “A (Relevant) Old Doc”