“Perempuan Kok Ngomongnya Tabu, Saru.”

Teman-temanku melabeliku dengan sebutan “mesum”, “ngeres”, meskipun yang sebenarnya kulakukan adalah menormalkan hal yang tabu, banyak di antaranya adalah hal yang seharusnya didiskusikan secara luas, misalnya mengapa aku percaya pembalut harusnya digratiskan, atau minimal tidak ditarik pajak. Pengetahuan awalku soal hal-hal saru datang dari rubrik dr Naek L Tobing, SpKJ di majalah wanita langganan ibuku. Kemarin aku membaca berita soal beliau yang meninggal karena COVID-19, yang bagiku adalah a big loss untuk dunia keharmonisan rumah tangga Indonesia. Mungkin sebelum akun Instagram Cermin Lelaki/ Cermin Dramatis muncul, di rubrik itulah pasutri Indonesia bisa berkonsultasi dan bertanya soal hal remeh-temeh (yang sebenarnya tidak remeh-temeh) mengenai kehidupan rumah tangga. Aku sempat heran karena di kelas 4 SD itu, aku dibiarkan membaca rubrik yang dikategorikan untuk orang dewasa, dan ibu mengetahuinya tapi mendiamkan aku. Tidak berkomentar sama sekali. Hal tersebut sekarang aku syukuri, karena konsep bahwa pernikahan bukan sesuatu yang happy ending dan living happily ever after, namun sesuatu yang requires continuous effort itu sudah tertanam sejak aku kecil, misalnya.

X Weeks (Staying at Home)

2 weeks ago, I was shaken up. For some people, the rage against this situation we are facing came early. I thought I would not go through that mental breakdown, because, come on, it was already week 8/ 9 after I started staying at home. I should get used to it by then, right?

Oh, dear, how wrong I was.

Continue reading “X Weeks (Staying at Home)”

Surreal

Semalam aku mendapat pesan emergency dari kampus, yang mana isinya adalah himbauan untuk anak S1 segera pindah, keluar dari asrama kampus selambat-lambatnya hari Minggu ini, setelah sebelumnya mereka diharuskan pindah selambat-lambatnya hari Selasa minggu depan. Tidak tanggung-tanggung, kampus menawarkan penggantian biaya hingga $500 untuk mengganti tiket agar lebih cepat pergi.

Continue reading “Surreal”

The Urge of Following a Trend

It is undeniable, that there’s a pressure to follow what other people are currently doing, or following the trend. TikTok, for instance, is currently considered as trendy, and so many people are downloading the app and trying to dance a little bit, even though they claim, “I am not good at dancing.” Is it for the sake of being complimented and hearing people say, “No, you are pretty good! Look at how many people view your videos!”

No, I am currently not on the verge of downloading TikTok to my phone, and that doesn’t mean that I will not download it in the future.

Something that I’ve been tempted to try out is actually, the podcast trend.

Continue reading “The Urge of Following a Trend”

Soal Alkohol

Setahun terakhir, aku sering mendengarkan lagu dari Sisitipsi berjudul Alkohol. “Alkohol, kamu jahat tapi enak…,” begitu salah satu baris liriknya. Pertama kali aku melihat temanku minum alkohol adalah ketika mereka dengan sembunyi-sembunyi menyelundupkan bir murah yang didapat dari Walmart dengan ID palsu, saat SMA di New Mexico. Jelas-jelas umur mereka belum 21 tahun (drinking age di Amerika Serikat), aku sangat judgmental. Keberadaan aturan pasti karena ada alasannya. Tetapi saat itu aku masih belum mengerti, mengapa temanku yang berasal dari Eropa dan sudah minum sejak usia dini (13? 14? tahun, atau bahkan lebih muda), juga ya normal saja. Lalu kenapa umur minum di Amerika Serikat harus minimum 21 tahun?

Continue reading “Soal Alkohol”

Pembalut: Mengapa Harus Gratis, atau Setidaknya Bebas Pajak & Tersedia di WC Sekolah

Konsep soal pembalut gratis terasa asing bagiku sebelumnya.

Sampai suatu hari, aku ke kampus sebelah (alias Harvard), yang secara endowment alias duit, lebih kaya makmur gemah ripah loh jinawi dibandingkan kampusku. Setiap bulan sekali mungkin aku ke sana, apalagi kalau bukan untuk kerjaan. Sebagai perbandingan, kalau high-resolution scanning electron microscope di MIT jumlahnya hanya satu, itu pun reservasinya sudah seperti reservasi tiket lebaran di KAI Access H-90, bangun tengah malam untuk booking, dan buka 3 browser yang berbeda. Sementara itu, alat yang sama di Harvard ada 3 buah, dan kadang kalau go show pun masih bisa. Intinya resources di Harvard melimpah.

Aku kaget sendiri ketika melihat vending machine di toilet mereka menyediakan pembalut dan tampon gratis; barang yang sama di kampusku dibanderol seharga $0.25 per buah. Mahal? Sebenarnya mungkin nggak, hanya saja, zaman sekarang, siapa yang bawa receh $0.25 ke mana-mana? Meskipun pembalut gratis yang mereka berikan kualitasnya pas-pasan, bukan tipe ekstra sayap, ekstra lebar, ekstra daya serap, tetapi tetap saja, ada itikad baik untuk menyediakan pembalut.

Lalu aku mulai bertanya, memang seberapa besar konsumsi pembalut di Indonesia?

Continue reading “Pembalut: Mengapa Harus Gratis, atau Setidaknya Bebas Pajak & Tersedia di WC Sekolah”