Pembalut: Mengapa Harus Gratis, atau Setidaknya Bebas Pajak & Tersedia di WC Sekolah

Konsep soal pembalut gratis terasa asing bagiku sebelumnya.

Sampai suatu hari, aku ke kampus sebelah (alias Harvard), yang secara endowment alias duit, lebih kaya makmur gemah ripah loh jinawi dibandingkan kampusku. Setiap bulan sekali mungkin aku ke sana, apalagi kalau bukan untuk kerjaan. Sebagai perbandingan, kalau high-resolution scanning electron microscope di MIT jumlahnya hanya satu, itu pun reservasinya sudah seperti reservasi tiket lebaran di KAI Access H-90, bangun tengah malam untuk booking, dan buka 3 browser yang berbeda. Sementara itu, alat yang sama di Harvard ada 3 buah, dan kadang kalau go show pun masih bisa. Intinya resources di Harvard melimpah.

Aku kaget sendiri ketika melihat vending machine di toilet mereka menyediakan pembalut dan tampon gratis; barang yang sama di kampusku dibanderol seharga $0.25 per buah. Mahal? Sebenarnya mungkin nggak, hanya saja, zaman sekarang, siapa yang bawa receh $0.25 ke mana-mana? Meskipun pembalut gratis yang mereka berikan kualitasnya pas-pasan, bukan tipe ekstra sayap, ekstra lebar, ekstra daya serap, tetapi tetap saja, ada itikad baik untuk menyediakan pembalut.

Lalu aku mulai bertanya, memang seberapa besar konsumsi pembalut di Indonesia?

Continue reading “Pembalut: Mengapa Harus Gratis, atau Setidaknya Bebas Pajak & Tersedia di WC Sekolah”

Filial Imprinting

Mobil Bapak adalah Kijang LGX yang dibeli awal 2000-an. Beliau sebelumnya juga memiliki Kijang yang dibeli bekas 2-3 tahun sebelumnya. Bapak adalah seorang firm believer bahwa mobil tidak perlu mahal-mahal, asal bisa jalan dengan baik sudah cukup. Sampai beliau pensiun sekarang pun, belasan tahun kemudian, Bapak masih setia dengan Kijang LGX-nya yang mudah sekali dibedakan di tempat parkir, karena warna spion kirinya berbeda dengan yang kanan. Mobil bukan investasi, tetapi sebaliknya. Persentase penyusutan tiap tahunnya tidak menjustifikasi kegiatan gonta-ganti mobil, katanya.

Konsekuensi dari mobil Kijang tua itu ya music player di mobil yang jauh dari CD, apalagi generasi terbaru dengan bluetooth atau yang bisa dicolok langsung ke audio jack ponsel pintar. Masih kaset. Hari ini mau cari kaset di mana, coba? Dulu masih sering, tapi itu pun tidak efektif. Suka 2-3 lagu pun harus beli seluruh albumnya, side A dan B dari kaset tersebut. Kecuali beli kaset kompilasi.

Continue reading “Filial Imprinting”

Adakah Hubungan Bulan Baik/Buruk Pernikahan dengan Jumlah Kelahiran Bayi di Jakarta?

Manusia sering kali tidak tahu kapan harus memprioritaskan sesuatu. Pernyataan ini kuamini sekali lagi hari ini, karena bukannya belajar untuk ujian oral menjadi Ph.D. candidate, aku malah tiba-tiba kepikiran satu hal yang sangat iseng.

Aku tiba-tiba teringat suatu percakapan, “Di Amerika Serikat, lebih banyak bayi dilahirkan di bulan November, karena 9 bulan sebelumnya, bulan Februari, adalah bulan Valentine, di mana orang-orang mengekspresikan kasih sayang mereka lebih terbuka.”

Benarkah begitu faktanya? Berdasarkan sebuah riset yang dilakukan oleh Amitabh Chandra di Harvard University (datasetnya cukup jadul, dari tahun 1973-1999, so take it with a grain of salt), sepertinya kelahiran di bulan November itu tergolong standard. Faktanya, lebih banyak bayi yang lahir di bulan September (15 besar tanggal kelahiran dengan frekuensi tertinggi ada di bulan September, berdasarkan riset tersebut). Artinya, banyak bayi yang ‘dimulai’ di bulan Desember-Januari. Well, kalau dipikir-pikir, Desember-Januari adalah musim dingin dan juga musim liburan, so that makes a lot of sense!

Bagaimana dengan di Indonesia? Adakah hubungan bulan baik/ kurang baik pernikahan dengan jumlah bayi yang dilahirkan dalam bulan tertentu? Spoiler, meskipun dataset-nya cukup kecil (aku hanya bisa menemukan data jumlah kelahiran penduduk DKI Jakarta tahun 2014 dan 2015), ada hal yang cukup menarik yang bisa disimak.

Enjoy my little (insignificant) exploration. Sebelumnya, disclaimerit’s just for fun. Don’t take it too seriously.

Continue reading “Adakah Hubungan Bulan Baik/Buruk Pernikahan dengan Jumlah Kelahiran Bayi di Jakarta?”

Kembali dari Rumah

Untuk ke-8 kalinya, aku pulang ke Indonesia. Ke rumah, dari Amerika Serikat. Kali ini, untuk pertama kalinya aku naik Emirates, setelah 2 kali sebelumnya naik Cathay Pacific, satu kali naik Air India + Silk Air, 2 kali naik Japan Airlines, 1 kali naik All Nippon Airways, dan 1 kali naik Qatar Airways. Sebuah kejutan, karena aku bahkan ingat naik apa saja selama 8 tahun terakhir (atau sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, jika memikirkan bagaimana di beberapa postingan sebelumnya, aku benar-benar terhipnotis oleh burung besi dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya).

Meskipun aku sempat flu dan juga diare ketika pulang ke rumah selama beberapa minggu yang terasa sangat singkat itu, ketika aku berangkat, aku sangat bersyukur karena tidak sedramatis tahun-tahun sebelumnya yang disertai tangisan mengharu-biru dan rasa ditusuk-tusuk yang amat sangat ketika aku untuk terakhir kalinya melihat keluargaku di seberang jendela dari ruang check-in di Soekarno-Hatta.

Jika ada satu hal, yang membuatku lebih tenang dan tidak terlalu cengeng saat berangkat ke Amerika Serikat lagi, hal tersebut mungkin adalah bagaimana aku mulai sedikit berdamai dengan diriku sendiri.

Continue reading “Kembali dari Rumah”

Satu Dekade

Manusia-manusia berpakaian putih biru berkelebatan. Rusuh, berisik. Hingga Pak Cecep harus keluar dari kelas dan setengah berteriak, “Jangan ribut, anak-anak. Suara di dalam jadi tak terdengar.” Mereda? Tidak juga. Mereka akhirnya tetap mengobrol dengan suara yang dipaksa menjadi bisikan.

“Giliran aku, dong. Giliran aku!”

“Ih, kamu tadi sudah. Giliran aku.”

“Ya sudah.”

“Oke, kumulai, ya. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pembukaan. Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak setiap bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan…*”

*Side note: I’m surprised that I still remember some of the sentences now. I guess, it’s engrained in my brain.

Pagi itu, masih kuingat dengan jelas. Satu per satu nama anak-anak di kelas 8G dipanggil untuk dites pembukaan UUD 1945. Entah untuk apa. Supaya menjadi lebih nasionalis, mungkin. Asal tidak jadi ultranasionalis saja.

Giliranku sudah lewat. Nilainya kurang bagus. Aku lupa lima kata di tengah-tengah. Apa boleh buat, aku tak ahli menghapalkan kata per kata seperti ini. Lagipula, buat apa. Supaya ada titel, “Oh, tiap angkatan yang lulus dari SMP ini hapal pembukaan UUD 1945.”-kah?

Entahlah. Beberapa temanku yang juga sudah selesai bermain-main dengan ponsel mereka. Sekelompok teman cowok di pojokan dekat warung cekakak-cekikik tidak jelas. Dari raut muka mereka, aku tahu, mereka baru dapat stok .3gp baru.

Kemudian tidak disangka-sangka, ibu guru piket datang ke kelasku, mencari namaku. Aku agak kebingungan, buat apa namaku dipanggil?

“Kakakmu sedang menunggu di ruang piket.”

Tergesa-gesa aku segera berjalan ke sana. Kebingungan, ada apa kakakku yang harusnya masih jam belajar seperti ini malah ada di SMP-ku?

Continue reading “Satu Dekade”

Bertemu Asisten Ahok: Menyiapkan Diri untuk Kembali

Salah satu asisten Gubernur Jakarta Pak Ahok, yang bernama Michael Sianipar, beberapa hari lalu mengunjungi komunitas Indonesia di Boston. Setelah hari Rabu (14/9) kemarin mengisi acara berbagi pengalaman dengan Permias Massachusetts, hari Kamis (15/9) kemarin anak-anak AIS-MIT (Association of Indonesian Students at MIT) juga makan malam dengannya dan berbicara lebih lanjut soal masa depan sains dan teknologi di Jakarta khususnya, dan Indonesia secara umumnya.

Ada beberapa poin menarik yang didiskusikan oleh kami. Akan kusampaikan dengan singkat, ya.

Disclaimer: Mungkin teman-teman pembaca akan berpikir bahwa ada unsur politik di postingan kali ini, yang akan saya bantah. Saya bukan warga Jakarta, dan ini bukan kali pertama politisi datang ke MIT. Sebelumnya, Menteri Kelautan, Ibu Susi, dan Walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil, bahkan Wakil Menteri Pendidikan pernah ke sini.

Continue reading “Bertemu Asisten Ahok: Menyiapkan Diri untuk Kembali”

Pengepul Kacang

Namanya Bandiyah. Aku memanggil beliau Bulik Bandiyah, karena masih saudara. Saudara di sini, maksudnya, orang tua beliau dan kakek saya masih satu darah. Kami dipersatukan satu trah, begitu orang Jawa menyebutnya.

Suatu pagi, Mbah Putri meminta aku, kakak, dan adikku untuk pergi ke Bulik Bandiyah. “Kemarin sudah setor hasil panen kacang, mungkin hari ini sudah ada hasilnya. Bisa tolong kalian pergi menemui Bulik?”

Sebagian karena rasa hormat dan sebagian lagi karena rasa penasaran, akhirnya kami mengiyakan. Kakakku, yang pernah bertemu Bulik sebelumnya, bahkan mendorong kami agar datang menemaninya. “Dijamin seru,” begitu katanya. Aku dan adikku hanya mengangkat kedua tangan dan berkata, ‘Kenapa tidak?’

Continue reading “Pengepul Kacang”

Mahal!

Ketika aku memutuskan pergi ke sebuah minimarket di dekat rumahku, aku terhenyak. Harga cemilan yang dulu tidak terlalu mahal, kini sudah naik drastis. Indomie yang dulu masih berkisar Rp 1.500,00-an, kini sudah di atas Rp 2.000,00. Ke mana saja aku? Apa yang terjadi?

Yang jelas, aku sadar akan salah satu alasan mengapa orang Indonesia jarang minum susu. Dengan GDP yang lebih rendah dari Inggris, dan harga makanan dan kebutuhan sehari-hari yang umumnya lebih rendah dari Inggris, harga 1 liter susunya sama dengan di Inggris. Aku mungkin termasuk orang yang beruntung bisa minum susu setiap hari.

Lalu, mengapa harga-harga mahal sekali? Mengapa kurs USD mahal sekali?

Ada banyak faktor, dan faktor-faktor tersebut bisa kalian baca sendiri di artikel-artikel yang dibagikan orang-orang di media sosial, atau dari kultwit pakar-pakar. Aku biasanya hanya manggut-manggut sambil bersyukur karena mata kuliah Mikroekonomi dan Makroekonomi yang kuambil ada manfaatnya juga.

Bagiku sendiri, USD yang makin mahal menjadi suatu fenomena menarik. Tandanya, jika aku meminta uang ke orangtuaku, mereka harus mengeluarkan lebih banyak rupiah; juga, beasiswa yang kudapat worth more than before. Impas, seharusnya. Tetapi, hidup di Indonesia selama liburan, rasanya makin sulit. Rupiah makin tidak berharga, keluar rumah butuh uang lebih dari biasanya, harga angkot naik, dan harga makanan juga naik.

Mungkin, bagi para eksporter, USD yang makin mahal adalah berkah. Barang-barang yang mereka ekspor ke luar negeri menjadi lebih murah, dan orang-orang pun lebih tertarik membelinya. Karena itu, mungkin mereka mendapat untung lebih.

Lain halnya dengan para importer, termasuk kita yang hobi belanja barang-barang bermerk dari luar. Kini harganya jauh lebih mahal, dan kita tak punya pilihan lain selain mengetatkan ikat pinggang kita. Untuk sekarang, lebih baik berhemat dulu, makan saja makin mahal.

Belum lagi harga daging sapi yang semakin selangit. Tomat yang harganya benar-benar jatuh karena panen raya. Kata ayahku, negeri kita harus belajar untuk menstabilkan harga bahan pokok makanannya, apalagi saat cuaca dan musim makin . Kalau tidak, petani susah sejahtera dan kita terus diombang-ambingkan harga. Orang-orang terlalu cinta dengan bahan pangan yang segar, padahal mereka lebih rentan gejolak pasar. Contohnya, jika tomat bisa kita awetkan saat panen raya seperti ini, dan dijual lagi saat musim paceeklik, tentu saja bisa menstabilkan harga.

Yang jelas, mereka yang mengerti atau tidak mengerti alasan di balik harga-harga yang selangit, sama-sama berharap agar harga-harga membaik, dan kondisi ekonomi meningkat. Pemerintah sudah berupaya, mari kita lihat saja. Semoga reshuffle sana-sini bukan hanya untuk meningkatkan ekspektasi para spekulan, tetapi juga benar membawa perubahan.

Sekali lagi, aku bukan orang ekonomi. Harap maklum dan mengerti, kalau ada kekurangan sana sini.

‘Wish You All the Best!’

Belakangan ini, aku sadar akan suatu hal saat aku melihat sosial media milikku. Banyak teman-temanku di Indonesia yang mengunggah foto pesta kejutan ulang tahun teman mereka, atau balon, bunga, selempang, dan makanan untuk teman-teman mereka yang lulus sidang skripsi. Tidak lupa, foto-foto itu dibuat kolase berdempetan banyak, atau kadang cukup satu foto saja dengan semua orang yang terlibat dalam perencanaan acara-acara tersebut.

Apakah makna ‘selamat’ telah mengecil menjadi unggahan foto sambil memberikan hadiah dan kue macam-macam?

Tulisan kali ini terinspirasi dari ulang tahun temanku. Selamat ulang tahun, semoga segala sesuatunya lancar, ya!

Tradisi membuat pesta kejutan untuk ulang tahun teman tercinta memang mulai mendarah daging. Orang-orang berpikir, “Tak ada salahnya, bukan, menunjukkan perhatian untuk orang yang sudah membantumu banyak, mendengarkan ceritamu, memberikan saran, menemanimu, hingga menghiburmu?” Benar, tidak ada yang salah. Tetapi hal ini mulai menjadi agak keterlaluan ketika semuanya menjadi terasa sebagai ‘kewajiban’.

Misalkan, ada sebuah kelompok pertemanan beranggotakan delapan orang. Ketika salah satu dari mereka berulangtahun, tujuh yang lainnya tentu saja ingin menyiapkan sesuatu yang spesial sebagai wujud perhatian mereka. Kemudian dibuatlah pesta kejutan pertama. Ketika tanggal ulang tahun anggota berikutnya tiba, dibuatlah pesta kejutan kedua. Hal ini berlanjut, hingga tersisa anggota keenam, ketujuh, dan kedelapan. Mau tidak mau, lima anggota lainnya harus membuat pesta kejutan untuk mereka bertiga. Jika tidak, ketiga orang ini akan merasa ‘tidak dianggap’ menjadi bagian dari kelompok tersebut. Haruskah mereka merasa seperti itu?

Ketika sesuatu sudah bersinggungan dengan materi, tidak semuanya memiliki sumber daya yang sama. Ada banyak orang yang prioritasnya berbeda, dan banyak yang tidak mengerti kalau perhatian dan kasih sayang tak selalu harus ditunjukkan dengan materi.

Karena itu juga, kadang ucapan dan doa tulus dihargai lebih rendah dibandingkan memberi sesuatu yang berwujud. “Tapi, bukannya memberi sesuatu itu adalah wujud nyata dari ucapan dan doa tulus?” Ucapan mungkin iya, tetapi doa tulus itu bukan lagi urusan antar-manusia, karena Tuhan sudah terlibat di dalamnya. Tak ada yang tahu, kesuksesan yang besar di masa depan milikmu adalah berkat doa tulus dari temanmu, bukan? Hadiah yang menurutmu tentu saja lebih besar dari, setangkai bunga, misalnya.

Soal unggah-mengunggah foto, mungkin hal ini penting bagi beberapa orang. Mungkin bukan hanya soal eksistensi atau dokumentasi, tetapi kadang menyerempet pada tinggi hati. Maksud hati berterima kasih pada orang-orang yang sudah repot-repot memberikan sesuatu, tetapi banyak orang yang melihatnya sebagai, “Eh, lihat, teman-temanku baik sekali, ‘kan? Mereka mau repot-repot datang ke rumahku pukul 12 malam untuk memberikanku kue ulang tahun, lho.”

Atau mungkin diriku saja yang terlalu skeptis? Atau mungkin aku selalu mencoba mengambil sisi yang berbeda dari kebanyakan orang?

Sejujurnya, aku kadang iri dengan teman-temanku di Indonesia yang dikelilingi teman-teman dekat mereka. Merencanakan pesta ulang tahun kejutan, merancang skenario sedemikian rupa. Bukan karena aku tidak melakukan hal yang sama di sini, tetapi aku ingin melakukan sesuatu untuk teman-temanku di sana, untuk mereka, khususnya.

Aku juga masih ingat dengan jelas teman-temanku menginap di rumahku di malam kepulanganku tahun 2013 lalu. Meskipun pesawatku tidak delay, kemacetan Jakarta membuatku tiba di Bandung dari Soekarno Hatta subuh, 5-6 jam lebih telat dari yang diperkirakan. Aku masih ingat, mereka tidak menyiapkan banyak selain keripik singkong pedas, dan dekorasi serta confetti. Yes, I was welcomed with keripik setan! Karena jetlag, akhirnya aku bercerita macam-macam dengan semangat, hingga siang hari. Kemudian aku tewas di tempat tidur sore harinya.

Entahlah, mungkin aku harusnya tidak berpikir terlalu keras soal hal ini. Cuaca makin cerah di sini, udara makin hangat, siang makin panjang, musim panas semakin dekat, dan aku makin tidak sabar untuk pulang ke Indonesia.