Bertemu Asisten Ahok: Menyiapkan Diri untuk Kembali

Salah satu asisten Gubernur Jakarta Pak Ahok, yang bernama Michael Sianipar, beberapa hari lalu mengunjungi komunitas Indonesia di Boston. Setelah hari Rabu (14/9) kemarin mengisi acara berbagi pengalaman dengan Permias Massachusetts, hari Kamis (15/9) kemarin anak-anak AIS-MIT (Association of Indonesian Students at MIT) juga makan malam dengannya dan berbicara lebih lanjut soal masa depan sains dan teknologi di Jakarta khususnya, dan Indonesia secara umumnya.

Ada beberapa poin menarik yang didiskusikan oleh kami. Akan kusampaikan dengan singkat, ya.

Disclaimer: Mungkin teman-teman pembaca akan berpikir bahwa ada unsur politik di postingan kali ini, yang akan saya bantah. Saya bukan warga Jakarta, dan ini bukan kali pertama politisi datang ke MIT. Sebelumnya, Menteri Kelautan, Ibu Susi, dan Walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil, bahkan Wakil Menteri Pendidikan pernah ke sini.

Continue reading “Bertemu Asisten Ahok: Menyiapkan Diri untuk Kembali”

Pengepul Kacang

Namanya Bandiyah. Aku memanggil beliau Bulik Bandiyah, karena masih saudara. Saudara di sini, maksudnya, orang tua beliau dan kakek saya masih satu darah. Kami dipersatukan satu trah, begitu orang Jawa menyebutnya.

Suatu pagi, Mbah Putri meminta aku, kakak, dan adikku untuk pergi ke Bulik Bandiyah. “Kemarin sudah setor hasil panen kacang, mungkin hari ini sudah ada hasilnya. Bisa tolong kalian pergi menemui Bulik?”

Sebagian karena rasa hormat dan sebagian lagi karena rasa penasaran, akhirnya kami mengiyakan. Kakakku, yang pernah bertemu Bulik sebelumnya, bahkan mendorong kami agar datang menemaninya. “Dijamin seru,” begitu katanya. Aku dan adikku hanya mengangkat kedua tangan dan berkata, ‘Kenapa tidak?’

Continue reading “Pengepul Kacang”

Mahal!

Ketika aku memutuskan pergi ke sebuah minimarket di dekat rumahku, aku terhenyak. Harga cemilan yang dulu tidak terlalu mahal, kini sudah naik drastis. Indomie yang dulu masih berkisar Rp 1.500,00-an, kini sudah di atas Rp 2.000,00. Ke mana saja aku? Apa yang terjadi?

Yang jelas, aku sadar akan salah satu alasan mengapa orang Indonesia jarang minum susu. Dengan GDP yang lebih rendah dari Inggris, dan harga makanan dan kebutuhan sehari-hari yang umumnya lebih rendah dari Inggris, harga 1 liter susunya sama dengan di Inggris. Aku mungkin termasuk orang yang beruntung bisa minum susu setiap hari.

Lalu, mengapa harga-harga mahal sekali? Mengapa kurs USD mahal sekali?

Ada banyak faktor, dan faktor-faktor tersebut bisa kalian baca sendiri di artikel-artikel yang dibagikan orang-orang di media sosial, atau dari kultwit pakar-pakar. Aku biasanya hanya manggut-manggut sambil bersyukur karena mata kuliah Mikroekonomi dan Makroekonomi yang kuambil ada manfaatnya juga.

Bagiku sendiri, USD yang makin mahal menjadi suatu fenomena menarik. Tandanya, jika aku meminta uang ke orangtuaku, mereka harus mengeluarkan lebih banyak rupiah; juga, beasiswa yang kudapat worth more than before. Impas, seharusnya. Tetapi, hidup di Indonesia selama liburan, rasanya makin sulit. Rupiah makin tidak berharga, keluar rumah butuh uang lebih dari biasanya, harga angkot naik, dan harga makanan juga naik.

Mungkin, bagi para eksporter, USD yang makin mahal adalah berkah. Barang-barang yang mereka ekspor ke luar negeri menjadi lebih murah, dan orang-orang pun lebih tertarik membelinya. Karena itu, mungkin mereka mendapat untung lebih.

Lain halnya dengan para importer, termasuk kita yang hobi belanja barang-barang bermerk dari luar. Kini harganya jauh lebih mahal, dan kita tak punya pilihan lain selain mengetatkan ikat pinggang kita. Untuk sekarang, lebih baik berhemat dulu, makan saja makin mahal.

Belum lagi harga daging sapi yang semakin selangit. Tomat yang harganya benar-benar jatuh karena panen raya. Kata ayahku, negeri kita harus belajar untuk menstabilkan harga bahan pokok makanannya, apalagi saat cuaca dan musim makin . Kalau tidak, petani susah sejahtera dan kita terus diombang-ambingkan harga. Orang-orang terlalu cinta dengan bahan pangan yang segar, padahal mereka lebih rentan gejolak pasar. Contohnya, jika tomat bisa kita awetkan saat panen raya seperti ini, dan dijual lagi saat musim paceeklik, tentu saja bisa menstabilkan harga.

Yang jelas, mereka yang mengerti atau tidak mengerti alasan di balik harga-harga yang selangit, sama-sama berharap agar harga-harga membaik, dan kondisi ekonomi meningkat. Pemerintah sudah berupaya, mari kita lihat saja. Semoga reshuffle sana-sini bukan hanya untuk meningkatkan ekspektasi para spekulan, tetapi juga benar membawa perubahan.

Sekali lagi, aku bukan orang ekonomi. Harap maklum dan mengerti, kalau ada kekurangan sana sini.

‘Wish You All the Best!’

Belakangan ini, aku sadar akan suatu hal saat aku melihat sosial media milikku. Banyak teman-temanku di Indonesia yang mengunggah foto pesta kejutan ulang tahun teman mereka, atau balon, bunga, selempang, dan makanan untuk teman-teman mereka yang lulus sidang skripsi. Tidak lupa, foto-foto itu dibuat kolase berdempetan banyak, atau kadang cukup satu foto saja dengan semua orang yang terlibat dalam perencanaan acara-acara tersebut.

Apakah makna ‘selamat’ telah mengecil menjadi unggahan foto sambil memberikan hadiah dan kue macam-macam?

Tulisan kali ini terinspirasi dari ulang tahun temanku. Selamat ulang tahun, semoga segala sesuatunya lancar, ya!

Tradisi membuat pesta kejutan untuk ulang tahun teman tercinta memang mulai mendarah daging. Orang-orang berpikir, “Tak ada salahnya, bukan, menunjukkan perhatian untuk orang yang sudah membantumu banyak, mendengarkan ceritamu, memberikan saran, menemanimu, hingga menghiburmu?” Benar, tidak ada yang salah. Tetapi hal ini mulai menjadi agak keterlaluan ketika semuanya menjadi terasa sebagai ‘kewajiban’.

Misalkan, ada sebuah kelompok pertemanan beranggotakan delapan orang. Ketika salah satu dari mereka berulangtahun, tujuh yang lainnya tentu saja ingin menyiapkan sesuatu yang spesial sebagai wujud perhatian mereka. Kemudian dibuatlah pesta kejutan pertama. Ketika tanggal ulang tahun anggota berikutnya tiba, dibuatlah pesta kejutan kedua. Hal ini berlanjut, hingga tersisa anggota keenam, ketujuh, dan kedelapan. Mau tidak mau, lima anggota lainnya harus membuat pesta kejutan untuk mereka bertiga. Jika tidak, ketiga orang ini akan merasa ‘tidak dianggap’ menjadi bagian dari kelompok tersebut. Haruskah mereka merasa seperti itu?

Ketika sesuatu sudah bersinggungan dengan materi, tidak semuanya memiliki sumber daya yang sama. Ada banyak orang yang prioritasnya berbeda, dan banyak yang tidak mengerti kalau perhatian dan kasih sayang tak selalu harus ditunjukkan dengan materi.

Karena itu juga, kadang ucapan dan doa tulus dihargai lebih rendah dibandingkan memberi sesuatu yang berwujud. “Tapi, bukannya memberi sesuatu itu adalah wujud nyata dari ucapan dan doa tulus?” Ucapan mungkin iya, tetapi doa tulus itu bukan lagi urusan antar-manusia, karena Tuhan sudah terlibat di dalamnya. Tak ada yang tahu, kesuksesan yang besar di masa depan milikmu adalah berkat doa tulus dari temanmu, bukan? Hadiah yang menurutmu tentu saja lebih besar dari, setangkai bunga, misalnya.

Soal unggah-mengunggah foto, mungkin hal ini penting bagi beberapa orang. Mungkin bukan hanya soal eksistensi atau dokumentasi, tetapi kadang menyerempet pada tinggi hati. Maksud hati berterima kasih pada orang-orang yang sudah repot-repot memberikan sesuatu, tetapi banyak orang yang melihatnya sebagai, “Eh, lihat, teman-temanku baik sekali, ‘kan? Mereka mau repot-repot datang ke rumahku pukul 12 malam untuk memberikanku kue ulang tahun, lho.”

Atau mungkin diriku saja yang terlalu skeptis? Atau mungkin aku selalu mencoba mengambil sisi yang berbeda dari kebanyakan orang?

Sejujurnya, aku kadang iri dengan teman-temanku di Indonesia yang dikelilingi teman-teman dekat mereka. Merencanakan pesta ulang tahun kejutan, merancang skenario sedemikian rupa. Bukan karena aku tidak melakukan hal yang sama di sini, tetapi aku ingin melakukan sesuatu untuk teman-temanku di sana, untuk mereka, khususnya.

Aku juga masih ingat dengan jelas teman-temanku menginap di rumahku di malam kepulanganku tahun 2013 lalu. Meskipun pesawatku tidak delay, kemacetan Jakarta membuatku tiba di Bandung dari Soekarno Hatta subuh, 5-6 jam lebih telat dari yang diperkirakan. Aku masih ingat, mereka tidak menyiapkan banyak selain keripik singkong pedas, dan dekorasi serta confetti. Yes, I was welcomed with keripik setan! Karena jetlag, akhirnya aku bercerita macam-macam dengan semangat, hingga siang hari. Kemudian aku tewas di tempat tidur sore harinya.

Entahlah, mungkin aku harusnya tidak berpikir terlalu keras soal hal ini. Cuaca makin cerah di sini, udara makin hangat, siang makin panjang, musim panas semakin dekat, dan aku makin tidak sabar untuk pulang ke Indonesia.

Jerapah dan Jelantah

Ada yang terlupa: bahasa pertama. Dengan niat awal membagikan pengalaman lebih pada khalayak yang lebih luas, beberapa bulan terakhir, tulisan dengan tema rupa-rupa selalu kutulis dalam Bahasa Inggris.

Tidakkah kamu lelah? Bukankah banyak kosakata yang tak bisa sepenuhnya diterjemahkan ke bahasa itu? 

Benar, dan tanpa terasa, akhirnya aku terbiasa. Terbiasa tidak mengacuhkan potongan-potongan yang meminta diekspresikan.

Berikut ini karya pendekku dalam bahasa pertama: Jerapah dan Jelantah. Karya sebelumnya, Jika dan Jarak, Jumpa dan Jemari, Jenazah dan Jelaga, Jumat dan Jembatan, serta Jas dan Jenaka, juga bisa dibaca.

Tema kali ini adalah tentang masa kecil. Seperti apakah masa kecilmu? Apa rutinitas yang sering kamu lakukan dulu, tetapi kamu hentikan karena umur, atau merasa sudah tidak sepatutnya untuk dilakukan lagi?

Selamat menikmati.

Jerapah

Eksistensi adalah harga mati, begitu motto geng yang kukenal di SMP. Bahkan, punggawanya berkata, ‘Semakin banyak haters, semakin baik. Berarti eksistensi kita diakui oleh masyarakat luas.’ Saat itu aku belum tahu, kalau pernyataan itu setengahnya adalah bisikan setan. Tak terpikirkan di otakku kalau banyak haters, tandanya memang ada yang salah dengan diri kita.
‘Ada banyak cara meraih eksistensi tersebut,’ katanya, ‘cara termudah adalah dengan membuat identitas sendiri yang kuat, dan tidak sama dengan orang lainnya.’ Belakangan, aku tahu kalau ilmu ini sesungguhnya akar dari konsep branding management.
Karena itulah, aku masih ingat di SMP-ku, ada beberapa jenis geng. Ada yang hanya menerima anggota lelaki, anggota perempuan yang cantik, atau anggota ekskul tertentu.
Gengku sendiri beranggotakan +/- 13 orang. Pasang surutnya tergantung pada siapa yang sedang berantem dengan siapa, atau siapa yang tidak menyisihkan cukup waktu untuk nongkrong di warung setelah pulang sekolah. 
Suatu hari kami memutuskan untuk pergi ke Kebun Binatang. Saat itu kami memang sudah mengira, kalau tak ada hal menarik yang bisa dilihat untuk remaja seumuran kami. Toh, kami tetap pergi ke sana. Untuk apa? Berfoto ria, karena geng lain belum ada yang punya foto di Kebun Binatang di Friendster mereka.
Ada banyak yang kami lihat, seperti jerapah, contohnya. Ada pula harimau, singa, gajah, dan unta, empat atraksi wajib di Kebun Binatang yang menggaet penonton. Memoriku sendiri sudah sedikit kabur. Hanya ingat kalau kami ramai-ramai berangkat dari Cimahi diantar supir keluarga temanku. Satu privilese, yang sampai sekarang kupikir amat mewah.
Berbicara tentang jerapah, aku ingat semua pengunjung Kebun Binatang senang memberikan mereka kacang tanah, atau daun yang dipetik dari sekitar kandangnya. Jangan heran, kalau semak-semak atau pepohonan di sekitar kandang jerapah selalu botak.
Darwin pernah berteori bahwa jerapah dulu lehernya pendek, lalu berevolusi menjadi panjang karena mereka harus mencapai makanan yang berada di pepohonan. Ada juga teori yang mengatakan bahwa sempat ada dua jenis jerapah: berleher panjang dan pendek. Kemudian, jerapah berleher pendek tidak dapat bertahan karena tidak mendapat cukup makanan.
Kalau dipikir-pikir, manusia itu mirip dengan jerapah. Mereka yang bertahan adalah yang memang bisa menjawab tantangan lingkungan. Secara teori, aku sudah mafhum akan hal ini. Lalu, apakah eksistensi adalah salah satu metode menjawab tantangan lingkungan itu?

Jelantah

Kamu tahu makananan gorengan? Aku tak tahu apa istilahnya di daerah lain di Indonesia, tetapi di Bandung dan sekitarnya, gorengan ini adalah nama umum dari gehu (tahu bertepung goreng, dengan isi berbagai sayuran), pisang goreng, bala-bala (bakwan), tempe goreng, ubi goreng, comro (oncom di jero, yaitu oncom di dalam), cireng (aci, atau tepung tapioka digoreng), dan banyak lagi. Intinya, serba digoreng. 
Kebanyakan tukang gorengan baru muncul di perempatan jalan atau kios kecil mereka selepas ashar. Biasanya mereka akan mulai dengan gehu atau pisang, karena dua item itu yang paling laku diburu. Yang menarik, mereka akan memanaskan minyak jelantah yang mereka dapatkan di pasar, beserta plastiknya. Sampai sekarang, aku setengah percaya kalau gorengan di rumah rasanya berbeda karena minyak jelantah ini.
Dulu, selepas pulang TPA, antrian di kios kecil tukang gorengan depan masjid selalu penuh sesak. Aku dan kakakku, dengan uang jajan kami yang terbatas, selalu berbagi. Satu pisang, satu gehu, lalu masing-masing kami bagi dua. Kadang, kami harus menunggu lama karena stok pisang gorengnya habis. 
Kadang ibu suka marah, karena kami jadi sakit batuk pilek kalau kebanyakan makan gorengan. Ujung-ujungnya, kami harus dibawa ke Pak Mantri di dekat daerah Jati. Antreannya selalu panjang, dan karena itu kami selalu menyesal sendiri kalau sakit.
Tetapi, rasanya menarik sekali melihat perkembangan harga gorengan. Dengan inflasi yang tinggi di Indonesia sebagai negara berkembang, tukang gorengan pasti harus memutar otak mereka berkali-kali. Sedikit saja harga dinaikkan, atau sedikit saja ukuran gorengan diperkecil, pembeli akan kabur ke tukang gorengan sebelah.
Dulu aku sempat merasakan gorengan ukuran normal seharga Rp. 150,00. Kalau beli dua, harganya pas Rp. 300,00, patungan dengan kakakku. Kemudian, harganya naik menjadi Rp 200,00, Rp 250,00 dan seterusnya. Terakhir aku pulang ke Indonesia, tukang gorengan sudah enggan menuliskan harga dagangan mereka dengan stiker di gerobak mereka. ‘Toh, nanti juga bensin naik lagi, jadi harus ganti harga lagi, Neng,’ begitu komentar salah satu dari mereka.
Kini, kalau kamu bertanya, ‘Aa, ini berapaan?’ mereka akan menjawab, ‘Seribu tiga,’ atau, ‘seribu dua.’ 
Kukira bensin naik menyebabkan harga minyak jelantah naik, tetapi bukan itu rupanya. Harga komoditi semacam tahu, pisang, tempe, ubi, semua naik kalau harga bensin naik. 
Karena itu, dulu sempat ada tukang gorengan yang berpikir kalau gorengan mereka dijual seharga Rp 100,00, dengan ukuran yang jauh lebih imut, mereka akan tetap mendapat untung. Sayang sekali, belakangan, hal ini tidak memungkinkan lagi karena harga bahan makanan yang terus merangkak naik.
Atau jangan-jangan, harga minyak jelantah juga sudah naik?
Mungkin karena itu, tukang gorengan favoritku di depan rumah, seberang jalan, yang merupakan langgananku selama 6 tahun terakhir, sudah tidak berjualan lagi saat aku kembali ke Indonesia musim panas tahun kemarin. Bapak itu selalu tahu pesananku: spring roll, pisang goreng yang banyak, bala-bala yang banyak, dan kadang-kadang gehu; plus, cengek (cabai rawit) yang banyak. Kadang bapak itu pun bertanya, ‘Kapan pulang? Kapan kembali lagi ke luar?’ Selalu menyenangkan mengobrol satu dua patah kata dengan beliau.
Entahlah ke mana beliau pindah berjualan, atau mungkin berhenti berjualan gorengan sama sekali? Apa dengan membeli minyak jelantah di pasar, aku bisa menikmati gorengan seenak milik beliau?

Untuk Perempuan Indonesia

Mungkin saya masih terlalu muda untuk berbicara mengenai topik seluas ‘Perempuan Indonesia’. Tetapi ada beberapa hal yang menggelitik.

“Tan, kamu ambil Teknik Mesin? Ceweknya sedikit dong?”

“Kamu perempuan, hati-hati kalau sekolahnya ketinggian, nanti lelaki kabur semua.”

“Kenapa harus susah-susah belajar, kalau ujung-ujungnya nanti hidupnya hanya berputar di dapur-sumur-kasur?”

Mengapa para perempuan begitu ‘takut’ untuk mengambil jurusan Teknik Mesin? Apa karena ospeknya yang kadang tidak masuk akal? Atau takut merasa terkucilkan karena minoritas? Atau jangan-jangan, hanya karena image ‘keras (gahar)’ karena sering main oli? Adik-adik, ketahuilah, Teknik Mesin itu sama adanya dengan teknik-teknik lainnya. Sulitnya pun sama dengan jurusan teknik lainnya.

Atau jangan-jangan, ada di antara perempuan-perempuan ini yang memilih jurusan Teknik Mesin karena memang menginginkan semua stereotip dari Teknik Mesin terjadi padanya?

(Atau mungkin, seperti aku yang tidak yakin dengan teknik macam apa, lalu memilih mesin karena jurusan ini mencakup dasar yang kuat dan menggabungkan berbagai disiplin dari jurusan teknik lainnya?)

Lalu, masih banyak perempuan-perempuan yang berpikir bahwa sekolah tinggi-tinggi, atau belajar banyak-banyak, bisa ‘menjauhkan’ lelaki. Ada benarnya, yaitu menjauhkan lelaki yang tak ingin berusaha menyejajarkan dirinya dengan perempuan-perempuan ini. Mereka tidak ingin mencari perempuan hebat, karena ingin mengontrol pasangan mereka, bahkan kadang membodohi mereka.

Bersekolahlah tinggi-tinggi, belajarlah banyak-banyak, dan kamu akan terus menemukan orang-orang yang kualitasnya lebih baik darimu. Lalu, kamu akan belajar banyak dari mereka, dan meningkatkan kualitasmu sendiri juga. Mungkin kamu belum tahu, tapi di ‘atas’ sana, mereka juga tidak kekurangan jumlah lelaki, haha.

Lalu, siapa yang tidak familiar dengan lagu, “Wanita dijajah pria sejak dulu kala…” Masih banyak yang menganggap bahwa perempuan memang pekerjaannya hanya dapur-sumur-kasur. Meskipun belakangan ini, hal ini mulai tergantikan oleh kepercayaan bahwa perempuanlah yang membangun keluarga dan peradaban. Karena itu, banyak yang berpikir bahwa perempuan memang sebaiknya menjadi ibu rumah tangga, yang bekerja 24/7 di rumah. Saya setuju.

Sayang, masih banyak yang tidak mengerti, bahwa hal ini tidak selalu berlaku di semua kondisi dan tempat.

Belakangan ini, ada stigma negatif terhadap wanita karir. Anggapan dalam masyarakat adalah, mereka inilah yang tidak becus mengurus keluarganya, dan ‘pelan-pelan’ menjerumuskan keluarganya ke ‘jurang’. Kadang aku ingin bertanya pada mereka, “Jika Anda masih tidak nyaman diperiksa dokter pria, lalu mengapa Anda meremehkan profesi seorang wanita, apapun itu?”

Di luar sana, ada beberapa pekerjaan yang hanya bisa dilakukan seorang perempuan, dan tidak baik men-judge mereka hanya karena waktu mereka di luar rumah porsinya lebih besar dari di dalam rumah. Mereka juga ‘membangun peradaban’ dengan jalan yang sedikit berbeda, dan dengan usaha yang sama tidak habis-habisnya.

Hal yang menarik, yang aku baca di suatu tempat beberapa bulan/ tahun yang lalu adalah, “Apakah lelaki yang mengerdilkan perempuan? Bukan. Perempuan lah yang mengerdilkan kaum mereka sendiri.”

Benar-benar sulit rasanya untuk tidak mengobrol tentang perempuan A yang bajunya terlalu terbuka, atau perempuan B yang sering ganti pacar, bukan? Kadang kita semua bersikap menjatuhkan pada teman kita sendiri, sementara keadaan sebenarnya mungkin berbeda dari apa yang kita kira.

Atau mungkin, menyindir teman perempuan yang umur X masih belum menikah, misalnya. Atau menyapa teman lama dengan, “Kamu gendutan/ kurusan, ya.” Kita sudah terlalu terbiasa melakukan hal ini, hingga ‘terbutakan’ bahwa ada yang salah dari pernyataan-pernyataan tersebut.

Saya bukan aktivis, apalagi feminis. Sekali lagi, saya hanya mengutarkan hal-hal yang membuat saya tergelitik.

Kita-kita ini, boleh jadi Raden Ajeng Kartini sudah memperjuangkannya hingga kita sejajar dengan lelaki. Tetapi, tidakkah kita lupa, sejarah dominasi lelaki yang panjang sudah membuat mereka ‘tumbuh tinggi’ duluan. Jika kita ibaratkan bahwa perempuan adalah anak yang terpendek, boleh jadi kita berada di fase equality sekarang, seperti gambar di bawah ini…

Sumber gambar dari sini.

Sementara kita ingin melihat dunia sejelas lelaki dan berada di fase equity. Bagaimana caranya? Satu boks ekstra yang terlihat pada gambar di atas datang dari kita sendiri.

Mungkin sudah saatnya kita bukan mencaci maki kaum kita dari belakang, atau melihat sebelah mata dan men-judge perempuan lainnya. Ada baiknya juga jika kita bisa memikirkan perasaan perempuan lain seperti kita memikirkan perasaan kita sendiri. Juga berhenti ‘merendahkan diri kita sendiri secara sukarela’. ‘Saling mendukung’ memang memiliki banyak arti, tetapi saya yakin kita cerdas dan rasional dalam memutuskan hal apa yang ingin kita lakukan di masa depan, atau dalam berkata terhadap sesama.

Selamat malam dari GMT 00.