Jumpa dan Jemari

Ada yang terlupa: bahasa pertama. Dengan niat awal membagikan pengalaman lebih pada khalayak yang lebih luas, beberapa bulan terakhir, tulisan dengan tema rupa-rupa selalu kutulis dalam Bahasa Inggris.

Tidakkah kamu lelah? Bukankah banyak kosakata yang tak bisa sepenuhnya diterjemahkan ke bahasa itu? 

Benar, dan tanpa terasa, akhirnya aku terbiasa. Terbiasa tidak mengacuhkan potongan-potongan yang meminta diekspresikan.

Berikut ini karya pendekku dalam bahasa pertama: Jumpa dan Jemari. Karya sebelumnya, Jika dan Jarak, bisa dibaca di sini. Selamat menikmati.

Jumpa 

Satu tahun sudah kami tidak bertemu. Orang-orang bilang, jarak bukan lagi hambatan yang besar di zaman serba terkoneksi ini. Ada Skype, Google Hangout, FaceTime, you name it! Kamu bisa berjumpa via suara dan melihat langsung orang yang kamu rindukan lintas benua.

Apakah dulu, para ilmuwan dan teknisi andal dunia berpikir akan tiba zaman seperti saat ini? Mungkin tidak.

Tetapi bagiku, pertemuan lewat lintasan kabel data itu tidak pernah mengurangi rasa rinduku. Seperti botol di bawah keran air yang terus terbuka, rasa ini tumpah ruah tak tertampung, apalagi berkurang. 

Satu tahun berlalu, setelah satu tahun-satu tahun sebelumnya berlalu. Aku melihatmu meniup lilin kesekian kalinya di layar komputer. Tak pernah ada kado berbentuk fisik yang kusiapkan, karena mengirim barang dari sini sangat mahal. Untung kamu mengerti. Padahal ada gelang cantik yang kulihat saat pameran beberapa hari lalu, yang kukira akan sangat cocok untukmu.

Suatu waktu, kamu memperlihatkan keahlianmu memasak ayam panggang kesukaanku. Aku bisa mendengarkan suaramu memotong-motong ayam, bawang, cabai, lintas benua. Kamu sibuk di dapur apartemenmu sendiri, sementara aku melihatmu lewat kamera kecil, memperhatikan gerak-gerikmu yang lincah sambil bersiul-siul. Kamu sangat cantik.

Tak jarang, jiwamu yang terlihat kuat menjadi rapuh. Saat dirimu baru kembali dari kampus dan bercerita bagaimana risetmu tidak ada kemajuan, atau kamu dimarahi ‘bos besar’ karena melakukan sesuatu yang dianggapnya tidak tepat; saat itu rasanya aku ingin memelukmu erat dan menepuk pundakmu dengan ritme yang teratur, menenangkanmu.

Hari ini sudah kusiapkan dengan baik. Satu buket bunga warna warni, dan poster besar untuk menyambut kedatanganmu. Sudah dari jam setengah empat pagi aku terjaga, karena tidak sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan di kepalaku. Apakah kamu masih berjalan dengan langkah-langkah kecil terburu-buru? Apakah kamu masih menggigit bibirmu kalau kamu tersipu malu? Atau, masihkah kamu memainkan tanganmu saat mendengarkan orang berbicara?

Di perjumpaan kali ini, aku akan memintamu tinggal dan tak pergi lagi. Karena mortarboard-mu akan coba kutawar dengan cincin yang kupersiapkan bulanan yang lalu, saat kau mengabariku, “Aku pulang tahun ini. Tak sabar ingin berjumpa langsung denganmu!”

Semoga saja tawaran ini lebih berharga dari tawaran perusahaan asing yang ingin membuatmu kembali ke sana. Semoga.

Jemari 

Jemarinya lentik. Panjang dan menari. Tak pernah aku melihat seseorang menari seluwes itu. Jika orang lain menari mengikuti irama, dia seolah-olah berpadu dengan irama itu sendiri.

Saat pagelaran berakhir, bulan purnama sudah berdiri gagah di atas candi. Bulan yang awalnya mengintip malu-malu, saat wanita itu baru saja keluar dari balik panggung dan memulai menyihir penonton.

Aku ingin memiliki jemari seperti itu. Bisakah?

Ternyata bisa. Mungkin aku bukan penari terluwes yang pernah ada, tetapi satu-dua panggung sudah kujajaki, dan penonton barisan depan selalu bertepuk tangan riuh.

Hanya saja, tak peduli seberapa lama aku berlatih, aku tak pernah bisa menyamai Si Penari. Selalu ada yang kurang, meskipun guru tariku selalu berkata, “Iki wis apik kok, Nduk (Ini sudah bagus, Nak).”

Karena itulah aku duduk lagi di kursi ini, setelah kemarin susah-susah membeli tiket yang harganya cukup menguras tabunganku. “Lha, yo pantes tho, iku kan wisata untuk turis asing,” begitu komentar Ibu.

Perlahan, lampu pentas meredup, pagelaran akan segera dimulai. Saat Si Penari keluar, gerakannya membuat seluruh penonton terpaku padanya. Semua orang menahan napas, memperhatikan apa yang akan dia lakukan berikutnya.

Dan saat pagelaran selesai, semua orang bergegas meninggalkan tempat karena malam yang semakin larut. Sementara itu, aku terduduk diam. Aku masih belum menemukan rahasia di balik luwes jemarinya. Haruskah aku membeli tiket lagi dan datang esok hari?

Rahma dan Rahmi

Namanya Rahma. “Seperti yang bisa kamu tebak, adikku namanya Rahmi,” begitu ujarnya pada semua orang, setelah memperkenalkan dirinya sendiri. Entah, mungkin dia ingin menekankan betapa tidak kreatif orang tuanya dalam memberikan nama anak-anaknya, atau karena dia ingin semua orang tahu mengenai adiknya yang beda enam tahun itu.
Rahma naik kereta KRD pukul enam dari Padalarang tiap hari untuk pergi ke sekolah, karena Bandung yang macet membuat angkot tidak lagi menjadi opsi yang diliriknya. Rahma benar-benar tahu kereta yang dia naiki ini, seberapa lama kereta ini akan telat, atau di gerbong mana dia masih bisa menemukan tempat duduk kecil untuk tubuhnya yang kurus. Bahkan, dia bisa naik KRD satu ini tanpa harus membeli karcis, dan bisa lolos tanpa ketahuan. Rahma memang anak yang pintar, tentu saja tak hanya soal KRD pukul enam ini.
Saat Rahma naik KRD pukul enam dan duduk di tempat favoritnya, yang entah mengapa selalu kosong, dia selalu melihat penjual ayam sabung yang menenteng tas berisikan ayam jagoannya. Kali ketiga Rahma melihat paman penjual itu, Rahma pun memperkenalkan dirinya. Sebagian karena butuh teman mengobrol, sebagian lagi karena penasaran dengan profesi paman itu.
“Apakah Emangpenjual ayam sabung di Pasar Ciroyom?”
“Oh, benar sekali, Neng. Neng sering lihat Emang di kereta ini, ya? Namanya siapa, geulis?
“Iya, Mang. Emang selalu turun tiga stasiun dari sini. Saya Rahma, Mang. Seperti yang Emang bisa tebak, nama adik saya Rahmi.”
***
Tiap hari sekolah, paman penjual ayam sabung itu selalu ditemani Rahma yang berbaju putih merah. Rahma belajar banyak tentang ayam sabung dari paman tersebut. Seperti, makanan yang harus disiapkan untuk ayam sabung, serta makanan khusus sebelum pertandingan agar ayam tersebut lebih kuat dan ‘galak’. Rahma yang dulu hanya berani menyentuh anak ayam yang masih kuning, pun kini berani mengelus kepala ayam sabung milik paman penjual.
Suatu hari, Rahma bertanya, “Kalau hari Sabtu, Emang pergi jualan ke Pasar Ciroyom juga?”
“Kadang, Neng Rahma. Kalau ada yang butuh ayamnya hari Sabtu, ya Emangke sana hari Sabtu juga.”
Mang, Rahmi suka main dengan ayam jago milik Pak Asep, tetapi kabarnya ayam tersebut akan dijual supaya Ani, anaknya Pak Asep bisa masuk TK tahun depan. Rahmi pasti sedih. Kalau Rahma ajak Rahmi naik KRD untuk lihat ayam Emanghari Sabtu ini, boleh? Lagian ayam punya Emang lebih keren dari ayam jagonya Pak Asep.”
“Boleh, Neng. Sok aja, palingan agak telat kalau hari Sabtu, sekitar jam tujuh.”
“Siap, Mang!”
Hari Kamis minggu itu merupakan tanggal merah, dan seperti biasa, karena Jumat adalah hari ‘terjepit’, akhirnya sekolah pun diliburkan dari hari Kamis. Tapi tak ada tanggal merah untuk paman penjual ayam sabung, sehingga dia tetap menaiki KRD pukul enam, walaupun Rahma, seperti yang bisa ditebak, tidak ada di kereta.
Sabtu pun tiba. Si Emang telah duduk di tempat biasanya di KRD pukul tujuh, dengan menggedong tas yang berisi ayam sabung yang akan dia jual. Pagi itu, dia memberi ekstra perhatian pada ayamnya, dia bersihkan secara teliti bulu-bulu ayamnya, dia sisir dan sikat pelan-pelan. Dia ingin membuat kedua kakak beradik Rahma dan Rahmi puas dengan ayam sabung yang dia miliki dan tidak bersedih lagi. 
Satu… Dua… Tiga… Empat stasiun. Rahma dan Rahmi tidak datang-datang. Hingga akhirnya Emang harus turun di Ciroyom, tanpa menemui kakak dan adik tersebut.
“Mungkin Rahma dan Rahmi diajak ke pasar kaget,” begitu pikirnya. 
Hari Senin, saat dia naik ke atas KRD, Rahma sudah duduk di tempat biasanya. Matanya sayu, wajahnya tertunduk. Tanpa sempat bertanya tentang alasan ketidakhadiran Rahma dan Rahmi pada hari Sabtu yang telah dijanjikan, paman penjual ayam sabung berdiri di dekat Rahma.
Rahma mendongak, lalu berkata, “Mang, nama saya Rahma, tapi saya nggak bisa bercerita soal Rahmi lagi.”
Kening Emang berkerut, “Lho, kenapa gitu, Neng?”
“Kata Mamah, Rahma nggak bisa bertemu Rahmi lagi. Rahmi sudah diambil Yang Di Atas…,” perlahan telunjuknya mengarah ke langit-langit kereta yang bergetar.
“Rahma hanya ingat, Rahmi pucat sekali, bolak-balik ke jamban sama Mamah, katanya diarenya sampai berdarah…”
Kening Emang semakin berkerut, bibirnya bergetar perlahan. Bahkan, kepala ayam sabungnya pun memaksa keluar, seolah-olah ingin mengetahui apa yang terjadi.
Maafin Rahma, ya, Mang, janji Rahma nggak ditepatin.”
Kereta masih bergoyang-goyang. Muka Rahma masih menunduk, dan ayam sabung masih diam di dalam tas milik Emang.
Itulah kali terakhir Emang melihat Rahma. Mungkin Rahma tak ingin melihat Emang dan ayam sabungnya lagi yang mengingatkannya pada Rahmi, atau Mamah Rahma memutuskan untuk mengantar jemput Rahma yang statusnya berubah menjadi anak satu-satunya dalam sekejap mata, dengan naik angkot. Entahlah. Tapi, paman penjual ayam sabung itu merindukan obrolan singkat tentang ayam-ayam sabungnya bersama Rahma, karena hanya itulah yang membuat hari panjangnya di pasar dan kereta terasa lebih pendek.

Meja Perayaan dan Kangkung Belacan

Musim gugur hampir berakhir. Angin saat musim perpindahan seperti ini biasanya lebih kencang. Hanya mengenakan jaket fleece yang dibelinya saat diskon besar-besaran tahun lalu, Arina merasa kedinginan. Dia pun berlari kecil setelah keluar dari stasiun kereta bawah tanah Chinatown. “Tapi Boston akan lebih dingin daripada ini saat musim dingin nanti, aku tak boleh mengeluh,” pikirnya.

Ada sebuah restoran yang ingin dia kunjungi untuk makan malam kali ini. Restoran yang berkali-kali mendapatkan titel Best of Boston, serta dibahas di berbagai majalah kuliner dan wisata. Bahkan, orang-orang dari luar Boston menyengajakan diri untuk datang ke restoran satu ini. Tak pernah ada meja yang kosong, antreannya selalu mengular panjang. Bagi Arina, Chinatown dan restoran Malaysia ini adalah surga kecilnya. Karena di kedua tempat inilah Arina merasa dekat dengan akar dirinya, tempat di mana dia berasal.

Arina dan ayahnya pindah ke Amerika Serikat setelah ayahnya bercerai dengan ibunya. Jika orang-orang percaya akan blessing in disguise, bagi Arina ini adalah salah satu contohnya. Sebulan setelah tetek-bengek perceraian orang tuanya selesai, ayahnya mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan perangkat lunak di daerah Boston. Bagi mereka berdua, tempat tinggal mereka di Indonesia telah meninggalkan terlalu banyak kenangan pahit. Kepindahan mereka tak dilepas oleh siapapun di Soekarno-Hatta, pun mereka tidak mengharapkannya. Mereka tidak tahu apakah mereka akan kembali.

Saat itu, Arina baru kelas 11 SMA. Nilai Bahasa Inggrisnya selalu pas-pasan saat sekolah di Indonesia, meskipun dia sangat suka sains dan matematika. “Aku tak akan pergi ke mana-mana, aku ingin masuk ITB, dan menjadi teknisi perangkat lunak seperti ayahku. Aku tak perlu mendapat nilai super bagus dalam mata pelajaran ini,” begitu komentarnya saat ditanya mengenai nilai Bahasa Inggrisnya. Sepertinya dia harus menelan ludahnya sendiri.

Hari pertamanya di Boston Latin School merupakan hari yang tak pernah dia lupakan. Banyak orang mencoba berbicara dengannya, tetapi dia tak bisa mengerti, apalagi membalasnya. Karena semua mata pelajaran disampaikan dalam Bahasa Inggris, tak pelak nilai mata pelajaran lainnya pun terpengaruh. Arina masih ingat betul, apa yang dikatakan ayahnya setelah dipanggil oleh wali kelasnya di pertengahan semester. Beliau mengajak Arina untuk pergi ke sebuah restoran Malaysia di Chinatown. Mereka mendapat meja di pojok ruangan, tepat di sebelah pemanas ruangan. Keduanya memesan kangkung belacan di restoran itu. Ada obrolan tak putus-putus soal kerinduan mereka akan makanan di tanah air, yang semuanya habis tak tersisa seselesainya mereka menghabiskan kangkung di kedua piring itu. Kemudian ayahnya berkata singkat setelah menyeruput tehnya, “Arina, ayah hanya punya kamu, dan kamu hanya punya ayah. Kalau salah satu dari kita tak bisa menemani yang lainnya, kita harus tetap bertahan. Menurutmu, apa kamu bisa bertahan dengan keadaan seperti itu?”

Setelah itu, secara ajaib, Arina mendapatkan kembali semangatnya untuk berjuang. Dalam waktu satu semester saja, dia mampu membalikkan pandangan negatif guru-gurunya, dan meraih gelar bintang kelas. Baginya, meja itu merupakan meja perayaan, perayaan akan perubahan, lebih tepatnya.

Ketika musim penerimaan mahasiswa baru dimulai, ayahnya juga mengajaknya makan di restoran yang sama, duduk di meja yang sama, dan memesan makanan yang sama. Restoran Malaysia, meja pojok yang hangat, dan kangkung belacan. Bulan Februari, saat bongkahan salju masih tersisa di atas tanah, ayahnya mengucapkan satu kalimat yang tak akan pernah dia lupakan, “Akan ada lebih banyak peristiwa yang membuatmu gemetar di masa depan, tetapi itu tak bisa menjadi alasan bagimu untuk gentar.”

Saat bulan Maret, Arina menerima kabar gembira. Sebuah universitas kelas dunia di kawasan Cambridge menerimanya sebagai mahasiswa baru mereka. Saat itu juga, dia tahu kalau kekuatan meja itu tak terbantahkan. Meja perayaan akan perubahan. Tetapi harus dengan memesan kangkung belacan dan datang bersama ayahnya.

Kali ini pun begitu. Arina sudah berdiri tepat di restoran Malaysia tersebut. Dia sudah membuat reservasi spesifik di telepon sebelumnya. “Ya, ya, saya ingin meja yang di pojok. Ya, yang di dekat pemanas ruangan. Untuk dua orang, ya.”

Seperti biasa, ada banyak sekali orang yang ingin makan di restoran satu ini. Mereka rela mengantre hingga keluar. Untunglah, karena dia sudah reservasi sebelumnya, dia bisa langsung menuju antrian paling depan. Seorang pelayan tersenyum, dan mempersilahkannya untuk masuk dan duduk.

“Saya pesan kangkung belacannya dua, ya.”

“Orang yang Anda tunggu belum datang, tidak apa-apa jika makanannya disiapkan sekarang?”

“Ya, tidak apa-apa. Ayahku akan datang begitu kangkung belacannya siap.”

Arina merenung, melihat keluar. Downtown Kota Boston ini memang sepi dari pepohonan, jadi wajar saja kalau tak ada penanda musim gugur telah datang, kecuali angin yang makin kencang. Sudah empat setengah tahun sejak Arina dan ayahnya pergi ke tempat ini bersama untuk ‘merayakan’ perubahan. Bulan Mei lalu, Arina lulus dari universitas dengan gemilang, dan dia langsung melanjutkan ke jenjang S3 di universitas yang sama, tentu saja dengan beasiswa penuh.

Kangkung belacan yang dia tunggu ternyata tak sampai 10 menit sudah tersaji di hadapannya. Restoran ini memang terkenal juga dengan efisiensinya. Sayang sekali, ayahnya belum juga datang.

Mata Arina terpejam sebentar, lalu menghadapi kursi kosong di hadapannya dengan dua piring kangkung belacan yang mengepul hangat.

“Ayah, meja ini masih sama. Meja perayaan akan perubahan. Aku berubah menjadi lebih kuat, bersemangat, dan siap karenamu, meja ini, dan kangkung belacan yang kita makan bersama. Kali ini pun begitu, meja ini adalah meja perayaan akan perubahan dalam hidupku. Ayah mungkin tak di hadapanku lagi, tetapi aku yakin ayah mendapat tempat yang lebih baik dari Tuhan. Tenang saja Ayah, setelah kembali dari sini, aku akan menjadi lebih kuat.”

Cerita pendek ini didedikasikan untuk kangkung belacan favoritku yang sukses berkali-kali meredam homesick stadium yang berbeda-beda (meskipun harganya selangit). Terima kasih juga untuk pelayan restoran ini yang tidak menatap dengan curiga meskipun aku sering pergi ke restoran ini sendiri, dan melahap dua piring makanan yang berbeda sekaligus.