Titan Is Now on Radio!

Quantum leap, begitu pikirku. Semua diawali dengan wawancara program Berburu Beasiswa sekitar 2 bulan yang lalu oleh SS (Sobat Siar) Astari dari Jepang, di Radio PPI Dunia. Berbekal pengalaman minimum soal public speaking, tawaran itu kuiyakan.

Sebelumnya, aku pernah juga menjadi narasumber di Seminar Indonesia Mengglobal di @america, yang bisa kalian saksikan di sini. Bisa kalian lihat dengan jelas, betapa kaku dan tidak luwesnya aku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Setelah dari acara itu, rasa menyesal tetap mengendap di dasar hati, dan aku berjanji pada diri sendiri, kalau ada kesempatan sharing dengan khalayak luas seperti itu lagi, tak akan kusia-siakan.

Aku tahu, pengalaman kurang maksimal bersama Indonesia Mengglobal itu 75%-nya muncul dari ketidaksiapanku. Aku tidak tahu apa saja hal-hal penting yang harus kusampaikan, pesan apa yang aku ingin audiens ingat setelah pulang, dan sebagainya.

Keeping that at the back of my mind saat persiapan untuk wawancara di Radio PPI Dunia, aku mempersiapkan sebisa mungkin. Aku sengaja bangun lebih pagi (siarannya waktu itu pukul 10:00 waktu Boston, atau 21:00 Waktu Indonesia Barat), dan siap-siap supaya kepalaku tidak berpikir macam-macam, atau perutku tidak kelaparan.

It went well. Rasanya senang sekali ‘melihat’ antusiasme teman-teman yang mendengarkan cerita hidupku yang mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Bahkan, aku mendapat beberapa kenalan baru.

Apa aku harus mencoba menjadi penyiar di radio ini supaya aku bisa ‘melatih’ kemampuan public speaking-ku, yang mana, sangat susah kulatih?

Continue reading “Titan Is Now on Radio!”

Menggeluti Hobi Baru: ‘Memasak’

Dengan tanda kutip. Betul sekali, kalian tidak salah lihat. Aku pun belum jago-jago amat, soalnya, haha.

Meskipun aku tetap melanjutkan S2-ku di kampus yang sama dengan S1-ku dulu, tidak semua hal terasa sama. Mulai dari kuliah mata kuliahnya jauh lebih sulit, hingga mulai riset beneran. Selain itu, asramaku lebih jauh dari kampus, dan tidak ada dining hall di sini. Artinya, mau tidak mau aku harus masak sendiri.

Bagaimana transisiku dari yang dulunya jarang masak, hingga sekarang yang jadi (lebih) sering masak?

Burger
Tuna burger buatanku sendiri. Burger patty-nya aku buat sendiri, lho!

Continue reading “Menggeluti Hobi Baru: ‘Memasak’”

Aku Muslim, dan Tak Ada yang Salah denganku

Aku bukan mencari simpati; aku hanya ingin bercerita. Apa yang kuterima mungkin tidak sepadan dibandingkan teman-teman lainnya di daerah lain di dunia. Mungkin wanita muslim di Perancis yang sedang berjemur di pantai dengan burkini (baju renang seluruh tubuh, tertutup) merasa lebih tersakiti, ketika dua orang polisi mendekatinya dan menyuruhnya membuka baju renangnya agar ‘tidak terlalu tertutup’ atau ‘menunjukkan simbol agama’.

Apa yang salah dengan Amerika (dan mungkin negara-negara barat lainnya, atau kalau kita extrapolate, negara-negara timur, bahkan timur tengah)?

Continue reading “Aku Muslim, dan Tak Ada yang Salah denganku”

Kota Penyihir: Salem, Massachusetts

Setelah sekian lamanya ogah-ogahan berangkat ke Salem, rata-rata karena menyalahkan tugas yang banyak, akhirnya aku berangkat ke Salem hari Sabtu kemarin. Ditambah lagi, di sana ada Festival Halloween selama bulan Oktober ini.

2016-10-15-09-07-25
Akhirnya pergi juga ke Salem!

Bagi yang penasaran ada apa di Salem, sejarahnya cukup kelam sebenarnya. Pada tahun 1692, 20 orang yang diduga melakukan sihir, akhirnya dihukum mati. 19 orang di antaranya digantung, dan 1 orang lainnya dipukul hingga mati. Mengapa sampai seperti itu?

Continue reading “Kota Penyihir: Salem, Massachusetts”

Mencari Sepi di Maine

Akhir minggu yang lalu, bersama teman-teman mahasiswa, teknis, professor, dan saintis di labku, kami berdelapan belas pergi ke Maine untuk melakukan Lab Retreat musim gugur. Dalam Bahasa Indonesia, kata ‘retreat’ sendiri punya asosiasi yang kuat dengan agama tertentu (KBBI: khalwat mengundurkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin). Meskipun begitu, Lab Retreat ini tidak ada hubungannya dengan religi. Tujuannya sederhana: mendekatkan diri dengan anggota lab lainnya, menyelesaikan masalah personal intralab, dan juga bersenang-senang!

PV Lab, credit: Marius
MIT PV Lab, credit: Marius.

Continue reading “Mencari Sepi di Maine”

Bertemu Asisten Ahok: Menyiapkan Diri untuk Kembali

Salah satu asisten Gubernur Jakarta Pak Ahok, yang bernama Michael Sianipar, beberapa hari lalu mengunjungi komunitas Indonesia di Boston. Setelah hari Rabu (14/9) kemarin mengisi acara berbagi pengalaman dengan Permias Massachusetts, hari Kamis (15/9) kemarin anak-anak AIS-MIT (Association of Indonesian Students at MIT) juga makan malam dengannya dan berbicara lebih lanjut soal masa depan sains dan teknologi di Jakarta khususnya, dan Indonesia secara umumnya.

Ada beberapa poin menarik yang didiskusikan oleh kami. Akan kusampaikan dengan singkat, ya.

Disclaimer: Mungkin teman-teman pembaca akan berpikir bahwa ada unsur politik di postingan kali ini, yang akan saya bantah. Saya bukan warga Jakarta, dan ini bukan kali pertama politisi datang ke MIT. Sebelumnya, Menteri Kelautan, Ibu Susi, dan Walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil, bahkan Wakil Menteri Pendidikan pernah ke sini.

Continue reading “Bertemu Asisten Ahok: Menyiapkan Diri untuk Kembali”

2.009 Wrap-up: It’s All about a Team

On Monday, December 7th last week, we finally got a chance to show our product on 2.009 Final Presentation (or, Product Launch, you may say). When Studio125 started to install all the lights, projectors, decorations, the day before, I knew that this capstone engineering course finally came to an end. I was both excited and nervous at the same time. We were still debugging on our code until last minute, about 5 hours before the presentation started.

Our little baby, Orion, did well on the presentation!

When the moment arrived, when I sat down on my seat, and they showed us this video, I knew that what I have learned so far, all the time I spent on this project (on last week, I spent almost 50 hours/ week for this class only), was all worthwhile. This video also made me cry, haha. Somehow, it reminded me that I only had 1 semester left in my undergraduate…

(Ps. I know you can’t access Vimeo if you are in Indonesia. I would encourage you to use VPN or other magic tricks to open the videos I am posting here, to understand what this whole long post is all about. Also, all the pictures I post here are from 2.009 website, which were taken by 2.009 TAs.)

https://player.vimeo.com/video/148371360?title=0&byline=0&portrait=0
2015 Countdown from 2.009 @ MIT on Vimeo.
If you watched the webcast (or actually came to the presentation), you might notice that Kresge was really pretty on that night. You are welcome to watch the webcast.

Everyone got an LED wristband, which was programmable to glow in a certain color.
There was also a live band, in addition to a live organ.
Kresge was fully packed with people! Every single seat was taken. To get the ticket, you need to enter a lottery.
Not only inside, but Kresge was also really beautiful outside.

My team, pink, was the 6th team that presented. Our product, Orion, consists of 4 anchors and 1 tag that can be connected to motorized light with DMX protocol to automate the follow spot. Sounds too complicated? Basically, we automated the movement of any professional motorized light. So, we no longer need a person behind a huge, hot spotlight to follow a performer/ a presenter for the whole 3 hours.

My team mates who presented: Eurah, Lauren, Katie, and Sammi. Conrad and Alana also came up for Q & A sessions.

The other teams also launched interesting products, that you might not think before. It ranged from a game for children, to a tool to empower people.

Blue team presented Laser Kites, a kite with laser tag game embedded in it.
Yellow team presented Petra: a device that can stop you from falling during climbing (I don’t know a better way to explain it), and can function as an ascender too.
Red team presented Trellis: an IV pole that can follow you and reduce the hassle of walking around with IV pole.
Orang team presented Vantage: a product for kids, using combination of VR and camera, to give immersive experience of exploring anything that is not reachable by their hands.
Green team presented LetterBug: a product that helps people to learn Braille for the first time.
Silver team presented SleepTight: a product for scoliosis back brace to make the person feels more comfortable wearing it.
Purple team presented TouchLess: an automatic lock for bathroom stall, so you don’t need to touch the door full of germs.

What do you think about all the products? I personally feel that every product is amazing, and it’s unbelievable that we only worked on them for 3 months. It also feels rewarding when experts in a specific field contact the teams and say, “Your product is what we really need right now. Can we further develop it with you?”

What did we do on this class actually? I have been waiting to share it with you, but I need to wait until the TAs released all the videos and pictures, haha. Don’t forget to say hi to me, if you see me on the video!

https://player.vimeo.com/video/148371361 2015 Class Activites from 2.009 @ MIT on Vimeo.
I really love Prof. Wallace’s lectures. As you can see, there are so many activities during the lectures, and we can relate to them really well. I remember one day, when we learnt about specifications and requirement for a product, each team got different fruits and we had to write specifications (like, technical specifications, such as boiling point, hardness, amount of seeds, and so on) for each fruits!

There was also one time when we had a Team Challenge. Within one hour, we had to assemble a device to transport us to the little island to get the potion and save the princess. Then, all the teams competed to be the first one to save the princess. Confused? You can watch the video below.

https://player.vimeo.com/video/148382362
2015 Build Challenge
from 2.009 @ MIT on Vimeo.

The whole Product Launch ended with a surprise for Prof. Wallace. It was his 20th time teaching this course (basically, he started in 1995)! Imagine how many student he has thought about Product Engineering Process, and how to work in a big team with time-constraint.

I hope you can teach for 20 more years!

After presentation, when we returned all the presentation props to Pappalardo Lab, our home for the past few months, we got a little bit sentimental. Everyone has worked really hard for this class, and I could not ask for a better team. Even though we struggled in the middle in comparison to other teams, we had a great team dynamic, and no one had to be told to help other members of the team.

Post-presentation group hug!

In addition to product engineering process itself, I also learnt how to work in such a big team, of 20 people, and got to know so many people from different background. Thanks pink team, good luck on your journey after graduation. I will miss you, and all the late-nights with 2 truths and 1 lie game.

Waktu

Yang paling mahal memang waktu, ya.

Tinggal 12 hari lagi hingga Presentasi Final. Banyk sekali hal yang masih perlu dilakukan…
Meskipun kurang lebih, lampunya bekerja, masih banyak debugging yang harus dilakukan.
Semester ini aneh sekali rasanya. Terkadang, rasanya tak ada waktu yang cukup untuk melakukan semua hal yang harus dilakukan. Di lain waktu, hanya ada sedikit yang perlu dikerjakan pada saat itu, sehingga akhirnya aku hanya bisa menerka-nerka apa yang harus disiapkan berikutnya.
Kadang juga, aku menyempatkan diri mencari tahu hal baru. Atau mencari kawan baru. Satu hal yang kupelajari: jangan remehkan kekuatan business card.
Seperti datang ke Harvard Kennedy School untuk ikut konferensi yang bertemakan tentang Indonesia.
Atau kadang mati-matian mempersiapkan diri untuk presentasi. Meskipun hasilnya tidak maksimal karena demam panggung, yang penting rasanya lega dan puas setelah melewati itu semua.
https://player.vimeo.com/video/143340914

Kadang juga aku kabur dan pergi, mencari waktu sendiri. Meyakinkan diri bahwa tidak ada salahnya makan kue favorit di bakery.

Green tea cake!

Lain waktu, aku pergi ke konser. Menikmati alunan nada-nada, mengenang memori yang makin tiada. Minggu lalu, contohnya, aku pergi ke sebuah konser klasik di kampus. Salah satu lagu yang mereka mainkan, Gershwin-Rhapsody Blue merupakan salah satu lagu yang mengingatkanku pada masa-masa aku dan kakakku sering maraton drama Jepang, haha.

Beethoven pun tak kalah apik. Iya, ini juga di auditorium yang sama dengan foto pertama di atas, hehe.

Kalau sedang lelah karena menghabiskan waktu seharian di lab, kadang aku ambil jalan pulang yang berbeda. Banyak sekali gedung di kampus yang belum pernah kujelajahi, dan kadang-kadang aku menemukan hal menarik seperti ini. Yang satu ini, diambil di salah satu gedung fakultas Urban Planning dan Arsitektur.

Tangga darurat dengan map kota. Tebak kota apa 🙂

Kadang juga, semuanya terasa benar-benar berat, meskipun sudah menghibur diri sendiri. Kalau sudah begitu, satu hal yang sering kali ampuh buatku: jalan-jalan singkat.

Meskipun ini jam 12 malam, dan di luar hujan.

 Atau tips lain: perhatikan sekitar dan ambil foto yng menurutmu menarik.

Seperti bendera yang dikerek oleh truk pemadam kebakaran.

Waktu memang mahal, dan kadang ada sejuta hal yang menunggu untuk dikerjakan. Tapi aku sadar, efisiensi menggunakan waktu itu adalah hal lain yang sangat penting. Kalau kamu butuh istirahat supaya bisa bekerja lebih efisien, kenapa tidak?

12 hari menuju Presentasi Final untuk 2.009. Mungkin liburan Thanksgiving ini aku boleh mulai nonton drama Korea baru, atau baca buku baru.

2.009 Quest: Searching for a ‘Perfect Product’

While my mechanical engineering friends in Indonesia have theses or final projects to do in order to graduate, students from the same major at MIT have sort of the same thing. What do we do for our final/ engineering capstone project? Everyone needs to take 2.009: Product Engineering Process class.

We need to come up with a product that has market, and satisfies users’ need. Sounds easy, right? Not really. Each of us has to come up with 25 different product ideas in the first week of class, which adds up to 500 ideas per team, or 4,000 ideas in the whole class. Some of my friends come up with even more ideas!

There is nothing such as stupid ideas, they said. Photo taken by (I believe) Georgia.

After we pick ideas that we want to work on, we compare them using Pugh’s chart. This is such an effective way to compare different ideas based on a set of criteria that we believe have to present in our final choice. Then, we pick one idea as ‘reference point’, and compare the other products to this reference based on certain criteria. We also assign points to each criteria for each product, which can be positive or negative. The process can be quite long…

Pugh Chart of other team. Credit to 2.009 TA.

Although the design process is quite long and you cannot come with good product idea right away, I have a great friends in my team: Pink team.

Yes, we get our own pink goggles. Jealous? Credit to 2.009 TA.

This class is so much fun, though. Each team has a budget of $6500 that can be spent until the end of the term to build prototypes. Besides that, there are different activities which we can’t miss. I honestly feel excited whenever I go to 2.009 lecture, because Prof. Wallace is just amazing. He did a magic trick during class to reveal the product theme for this year: magic.

https://player.vimeo.com/video/139746133?title=0&byline=0&portrait=0

I also remember, when we first got assigned within our team. We had a balloon challenge, which was really fun (I heard). Unfortunately, I had a clash with other class, so I could not come to this one.

https://player.vimeo.com/video/140246672?title=0&byline=0&portrait=0

We also had a fun building challenge last week, which I will talk about in later post, where we learnt how to implement our idea in a quick prototyping (and build it in less than 1 hour). We also learnt from stripping off an existing product in the market, and identifying different parts and how much each of the component costs.

Besides that, it’s just so much fun to see what the professor and TAs up to from looking at their instagram (or you can also check #009mit to see what we’re up to every week):

I know, this class looks like so much fun, right? However, it is going to get harder and I have a feeling that I will live in Pappalardo Lab at some point during this semester. Well, that’s what I need to do to graduate from this place. Moreover, it is amazing to see how everything, 3+ years of learning engineering, comes together into one piece of amazing product. The immense support from the mentors, instructors, teaching assistants, and professor is also really great to keep us going. We can ask anything we want and get feedback for what we do.

This class also makes me feel really grateful to choose to be a mechanical engineering student: I can actually change the current condition using my mind and hand (mens et manus, FYI, it’s the motto of MIT).

I will keep you updated with my quest in 2.009! Wish me luck!

Senior Fall

Greetings from MIT!


Tips; Take a pic in Killian court while it’s still warm. Picture taken by Zea.
Akhirnya aku masuk tingkat akhir juga, dan rasanya aneh membayangkan kalau aku berhasil sampai ke titik ini. Bukan apa-apa, aku masih ingat kekhawatiranku saat tingkat satu: “Semua orang di sini lebih pintar dariku, apa aku sanggup bertahan dan lulus dari sini?”
Nyatanya, manusia memang punya daya adaptasi yang tinggi. Walaupun aku sering mengeluh ke sana kemari, alhamdulillah sampai saat ini segala sesuatunya lancar. Jika memungkinkan, Allah akan meridhoiku lulus Juni 2016. Yep, aku baru saja menghitung jumlah kredit yang kubutuhkan, dan kemarin kredit dari Cambridge berhasil ditransfer, hehe. Asumsikan aku lulus semua mata kuliah semester hari ini, semester depan aku hanya perlu ambil 1 kelas HASS (Humanities, Arts, and Social Science) untuk lulus!
Semester ini cukup menantang buatku. Walaupun aku hanya ambil 48 kredit, normal load, tetapi aku ‘mencoba-coba’ mengambil beberapa kelas. Untuk final project sendiri, atau capstone engineering class milikku, aku mengambil 2.009: Product Engineering Process. Seperti apa kelasnya?
Timku, Tim Pink-B, saat ini sedang mempersiapkan untuk 3-ideas presentation besok. Yang menyenangkan adalah, semua ide-ide produk desain gila yang kupikirkan selama ini, dipertimbangkan semua secara matang-matang. Mungkin blogpost-ku beberapa bulan ke depan akan berkisar tentang kelas ini.

Kelas lainnya yang kuambil adalah Intro to Sustainable Energy, Social Problems of Nuclear Energy, dan Advanced Control and Systems. Ketiga kelas ini termasuk high-level classes, dan materinya benar-benar menarik. Prof. Roman di Intro to Sustainable Energy benar-benar lecturer yang menarik, beliau punya wawasan luas soal energi secara umum, dan mahasiswa tidak sungkan-sungkan bertanya soal apapun pada beliau. Prof. Kemp di Social Problems of Nuclear Energy sendiri tahu banyak soal seluk beluk politik dan regulasi energi nuklir, termasuk sejarahnya. Datang ke kuliahnya seperti diberi dongeng menarik soal energi nuklir. Kemudian untuk Advanced Control and Systems sendiri sebenarnya kelas untuk mahasiswa S2. Aku iseng-iseng ambil karena aku senang mata kuliah undergraduate-nya, dan ingin tahu lebih banyak. Beberapa kuliah pertama sebenarnya aku merasa keder dengan pengetahuan mahasiswa S2 lain yang benar-benar jauh di atasku, tapi karena merasa aku belajar banyak di sini, jadi akan kucoba terus. Doakan, ya!

Meskipun semester ini lebih menantang dan kadang merasa lelah, untungnya teman-teman serta keluarga di sekitarku selalu memberikan support mereka yang tak terhingga. Karena dibandingkan sebelumnya, aku benar-benar membutuhkan mereka semester ini. Banyak yang harus diselesaikan, dan banyak keputusan yang harus diambil.

Bismillahirrahmanirrahim, semangat tingkat akhir. Rayakan, dan lulus dengan flying colors (dikutip dari surat penerimaan mahasiswa baru MIT 14 Maret 2012).