Surreal

Semalam aku mendapat pesan emergency dari kampus, yang mana isinya adalah himbauan untuk anak S1 segera pindah, keluar dari asrama kampus selambat-lambatnya hari Minggu ini, setelah sebelumnya mereka diharuskan pindah selambat-lambatnya hari Selasa minggu depan. Tidak tanggung-tanggung, kampus menawarkan penggantian biaya hingga $500 untuk mengganti tiket agar lebih cepat pergi.

Continue reading “Surreal”

Virtual(ly Everything)

Ada yang berubah sejak kemarin. Karena seharian kemarin karena tidak enak badan, akhirnya aku memutuskan untuk tidur di rumah, dan hanya datang ke meeting secara virtual, alias online, atau daring.

Sebelumnya aku sudah terbiasa ikut rapat daring seperti ini, karena kebetulan advisorku seringkali berada di Singapura. Hanya saja rasanya aneh, ketika kemarin, secara tiba-tiba, kampusku memutuskan agar anak S1-nya tidak diperbolehkan kembali lagi setelah spring break yang harusnya berlangsung tanggal 23-27 Maret nanti. Semua mahasiswa S1 diharuskan untuk mengepak barang mereka, dan pulang ke tempat masing-masing.

Continue reading “Virtual(ly Everything)”

“The Dreaded Fourth-Year Slump”

“I waited until my Ph.D. committee had left the room to break down. I sank into a chair, head in hands, as my committee meeting form sat unsigned on the lectern. I had just failed my dissertation proposal defense—a poor start to my fourth year of grad school. My committee members had told me that my experiments were too small-scale, my ideas not deep enough. I realize now that they were pushing me because they believed in me. They told me as much. But in that moment, I could not hear anything positive. All I could hear was the voice in my head telling me that I’d failed.” -Katherine Still, taken from here.

Ada sesuatu yang dinamakan “fourth-year slump“, yang biasa terjadi pada mahasiswa S3 yang berada di tahun ke-4 mereka. Pada tahun ke-4 ini, mahasiswa S3 biasanya merasa, “The exit door is there, but why is it so hard to get there?

Suatu hari, aku membaca tulisan dari Katherine Still di atas. Lalu aku ketakutan sendiri.

Aku sendiri mengalaminya saat ini. Sekarang.

Continue reading ““The Dreaded Fourth-Year Slump””

The Urge of Following a Trend

It is undeniable, that there’s a pressure to follow what other people are currently doing, or following the trend. TikTok, for instance, is currently considered as trendy, and so many people are downloading the app and trying to dance a little bit, even though they claim, “I am not good at dancing.” Is it for the sake of being complimented and hearing people say, “No, you are pretty good! Look at how many people view your videos!”

No, I am currently not on the verge of downloading TikTok to my phone, and that doesn’t mean that I will not download it in the future.

Something that I’ve been tempted to try out is actually, the podcast trend.

Continue reading “The Urge of Following a Trend”

Soal Alkohol

Setahun terakhir, aku sering mendengarkan lagu dari Sisitipsi berjudul Alkohol. “Alkohol, kamu jahat tapi enak…,” begitu salah satu baris liriknya. Pertama kali aku melihat temanku minum alkohol adalah ketika mereka dengan sembunyi-sembunyi menyelundupkan bir murah yang didapat dari Walmart dengan ID palsu, saat SMA di New Mexico. Jelas-jelas umur mereka belum 21 tahun (drinking age di Amerika Serikat), aku sangat judgmental. Keberadaan aturan pasti karena ada alasannya. Tetapi saat itu aku masih belum mengerti, mengapa temanku yang berasal dari Eropa dan sudah minum sejak usia dini (13? 14? tahun, atau bahkan lebih muda), juga ya normal saja. Lalu kenapa umur minum di Amerika Serikat harus minimum 21 tahun?

Continue reading “Soal Alkohol”

Pembalut: Mengapa Harus Gratis, atau Setidaknya Bebas Pajak & Tersedia di WC Sekolah

Konsep soal pembalut gratis terasa asing bagiku sebelumnya.

Sampai suatu hari, aku ke kampus sebelah (alias Harvard), yang secara endowment alias duit, lebih kaya makmur gemah ripah loh jinawi dibandingkan kampusku. Setiap bulan sekali mungkin aku ke sana, apalagi kalau bukan untuk kerjaan. Sebagai perbandingan, kalau high-resolution scanning electron microscope di MIT jumlahnya hanya satu, itu pun reservasinya sudah seperti reservasi tiket lebaran di KAI Access H-90, bangun tengah malam untuk booking, dan buka 3 browser yang berbeda. Sementara itu, alat yang sama di Harvard ada 3 buah, dan kadang kalau go show pun masih bisa. Intinya resources di Harvard melimpah.

Aku kaget sendiri ketika melihat vending machine di toilet mereka menyediakan pembalut dan tampon gratis; barang yang sama di kampusku dibanderol seharga $0.25 per buah. Mahal? Sebenarnya mungkin nggak, hanya saja, zaman sekarang, siapa yang bawa receh $0.25 ke mana-mana? Meskipun pembalut gratis yang mereka berikan kualitasnya pas-pasan, bukan tipe ekstra sayap, ekstra lebar, ekstra daya serap, tetapi tetap saja, ada itikad baik untuk menyediakan pembalut.

Lalu aku mulai bertanya, memang seberapa besar konsumsi pembalut di Indonesia?

Continue reading “Pembalut: Mengapa Harus Gratis, atau Setidaknya Bebas Pajak & Tersedia di WC Sekolah”