Surreal

Semalam aku mendapat pesan emergency dari kampus, yang mana isinya adalah himbauan untuk anak S1 segera pindah, keluar dari asrama kampus selambat-lambatnya hari Minggu ini, setelah sebelumnya mereka diharuskan pindah selambat-lambatnya hari Selasa minggu depan. Tidak tanggung-tanggung, kampus menawarkan penggantian biaya hingga $500 untuk mengganti tiket agar lebih cepat pergi.

Aku yang dari kemarin sudah kaget, semalam sepertinya semakin kaget. Aku memang tidak perlu pindah ke mana-mana, setidaknya untuk saat ini. Tetapi aku takut akan banyak hal. Bulan Januari lalu aku sempat pulang ke Indonesia. Saat berangkat, virus corona ini hanya sekadar desas-desus, tetapi saat aku kembali ke Amerika Serikat, skalanya sudah cukup membesar hingga aku harus deg-degan saat transit di Narita, Jepang. Beberapa waktu lalu, aku merasa bahwa fakta aku berada di Amerika Serikat cukup membuat diriku merasa aman, while the world figures out how to calm the corona down. Ebola outbreak saja akhirnya sudah dinyatakan berhenti di Democratic Republic Congo, yang mana dari segi level bahayanya sangat-sangat berbahaya dibandingkan banyak virus di dunia ini; seharusnya negara-negara ini bisa mencari jalan untuk memperlambat transmisi virus COVID-19 ini.

Tetapi, ternyata, karena banyak negara meremehkan, atau bahkan merasa bahwa, “Well, symptoms-nya mirip-mirip flu. Nggak usah panik,” akhirnya sakit ‘flu’ yang satu ini sampai ke tingkat pandemik menurut WHO.

Di daerah negara bagian tempatku tinggal sekarang, Massachusetts, jumlah kasus hari ini, 13 Maret 2020, sudah mencapai 123 orang. Tak hanya kampus, professorku sendiri di lab sudah menganjurkan untuk work from home sejak kapan hari.

Aku sendiri masih agak ngeyel karena ingin menyelesaikan beberapa eksperimen dan mendapatkan data untuk kuproses kalau aku harus work from home. Entah karma karena ngotot atau apa, akhirnya toh salah satu alatnya rusak. Meskipun semua sampel sudah selesai dibuat, dikebut hanya dalam 2 hari, mereka tidak bisa dites. Siang tadi aku pulang dengan lunglai. Pasrah.

Aku kembali ke kantor, memasukkan lab notebook catatan 4 tahun terakhir riset, siapa tahu aku bisa mendapat inspirasi. Aku juga teringat, beberapa waktu lalu aku sempat membeli disinfectant wipes untuk meja kantorku; keputusan yang sangat kusyukuri hari ini karena di luar sana sudah tidak ada wipes yang tersisa. Kumasukkan keduanya ke dalam tas.

photo_2020-03-13_17-44-42

Entah mengapa, di luar kampus, orang-orang masih beraktivitas seperti biasa. Starbucks masih buka. Supermarket juga, meskipun area makanan kaleng, makanan beku, tissue toilet, dan area beras/ roti/ sereal kosong melompong habis dibeli orang-orang. Hujan turun rintik-rintik, dan para homeless masih duduk di pinggir pintu masuk stasiun kereta bawah tanah atau pintu supermarket dengan gelas bekas McDonald’s mereka, sambil bertanya pada tiap orang yang lewat, “Do you have a spare change?” layaknya hari biasa di Cambridge. Sementara di Twitter dan kanal berita, dunia rasanya sudah di ujung apocalypse, dengan banyaknya orang yang positif penyakit ini, serta penyebarannya yang sungguh cepat.

Aku mencari-cari rubbing alcohol 70% di pharmacy, tetapi kosong melompong. Isopropyl alcohol 70% di rumah sudah expired karena dipakai untuk membersihkan luka bertahun-tahun lalu, tetapi sepertinya tak apa, tak ada opsi lain. Paling persentasenya berubah sedikit karena alkohol gampang menguap. Isopropyl alcohol juga jauh lebih menyengat dibandingkan ethanol, dan ethanol secara umum lebih efektif untuk beberapa jenis germs.

photo_2020-03-13_17-44-54

Shelf-stable milk pun kosong. Di Amerika, tidak seperti Indonesia, kebanyakan susunya segar dan membutuhkan pendingin. Jarang sekali susu pasteurized semacam Ultra atau Indomilk yang shelf-stable. Akhirnya, aku beli fresh milk, toh beberapa hari ke depan aku akan di rumah dan sarapan dengan minum susu dan masak telur goreng, sesuatu yang sudah lama sekali tidak kulakukan di hari biasa. Biasanya makan pisang satu buah, atau yogurt satu mangkok kecil, lalu berangkat ke kampus. Kalau niat, kadang makan overnight oat, tapi, ain’t nobody got time for that!

Setelah membeli susu, brokoli yang akan kumakan selama beberapa hari ke depan, bersama saus pasta untuk spaghetti yang kubeli beberapa hari lalu, aku naik sepeda sewaan pulang. Hari ini sepertinya akan jadi hari terakhirku berada di luar rumah, kecuali ada hal-hal yang mendesak. Mungkin aku akan keluar kalau butuh sesuatu, atau jalan-jalan sedikit, tetapi sepertinya aku akan menghindari itu. Kelas diliburkan selama 2 minggu ke depan. Data eksperimen nol besar. Tetapi aku masih ada committee meeting yang harus kupersiapkan -dan semoga saja tidak dibatalkan. Masih ada harapan, semoga saja musim panas ini aku benar-benar bisa magang di Eropa. Semoga. Setelah semua hal yang berkaitan dengan virus COVID-19 ini mereda. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s