Virtual(ly Everything)

Ada yang berubah sejak kemarin. Karena seharian kemarin karena tidak enak badan, akhirnya aku memutuskan untuk tidur di rumah, dan hanya datang ke meeting secara virtual, alias online, atau daring.

Sebelumnya aku sudah terbiasa ikut rapat daring seperti ini, karena kebetulan advisorku seringkali berada di Singapura. Hanya saja rasanya aneh, ketika kemarin, secara tiba-tiba, kampusku memutuskan agar anak S1-nya tidak diperbolehkan kembali lagi setelah spring break yang harusnya berlangsung tanggal 23-27 Maret nanti. Semua mahasiswa S1 diharuskan untuk mengepak barang mereka, dan pulang ke tempat masing-masing.

Untungnya (atau tidak?), sebagai mahasiswa S3, aku tidak perlu keluar dari dorm karena kamar kami yang lebih apartment-style, sehingga tidak terlalu padat. Sedangkan asrama anak S1, salah satu pertimbangan mengapa semua anak S1 diharuskan untuk move out adalah karena beberapa kamar bisa diisi 1-4 orang, tergantung asrama dan kamarnya.

Aku sendiri mengelus dada lihat adik kelasku yang kebingungan, “Iya, ini nggak tau bakal gimana. Disuruh keluar dorm. Padahal nggak bisa pulang ke Indonesia juga. Tiketnya kan nggak murah.”

Kebijakan yang satu ini memang tidak ramah buat mahasiswa internasional. Meskipun kampus memberikan pengecualian untuk mahasiswa dari negara tertentu, termasuk yang resiko COVID-19-nya tinggi, dan juga yang visa Amerika Serikat mereka hanya single entry, tetap saja, dipaksa keluar dari rumah masing-masing di pertengahan semester ini sangatlah disruptif.

Selain itu, semua kelas dipindahkan menjadi daring, alias online. Hari ini aku pertama kali mencicipi rasanya kuliah online tersebut via WebEx, platform yang biasa digunakan oleh mahasiswa/ staff di kampusku. Rasanya aneh saja, tidak bisa melihat papan tulis, tidak bisa mendengar pertanyaan dengan jelas, dan menjadi sangat bergantung pada teknologi itu sendiri.

Sejujurnya, aku kurang suka kelas daring seperti ini. Ada interaksi yang hilang, entah itu karena delay, atau karena air muka yang sulit dibaca, rasanya jadi terlalu mudah untuk shutting down dan terdistraksi dengan hal yang lainnya. 1,5 jam kuliah rasanya jadi terlalu panjang.

Kalau meeting dengan anggota kurang dari 5 orang, rasanya meeting virtual masih bisa dilakukan dengan baik? Tetapi kalau kelas?

Selain kelas, banyak hal lain yang dipindahkan virtual. Besok, misalnya. Aku harus hosting virtual lab tour untuk graduate student baru yang diterima di departemenku, karena open house untuk mahasiswa S2/S3 baru dibatalkan. Hari Jumat, aku harus ke office hour professorku, dan kemungkinan hal tersebut dilakukan via WebEx. Selain itu, training untuk magangku musim panas juga semua akan dilakukan online.

Semuanya. Online.

*

Tapi memang sepertinya tidak ada solusi lain. Dengan kasus COVID-19 yang bertambah terus di negara bagian Massachusetts (dan juga berbagai tempat lainnya di seluruh dunia), berharap pada manusia yang akan dengan sadar selalu mencuci tangannya dengan sabun dan juga tidak menyentuh wajah masing-masing, kemungkinan besar sia-sia. Sebulan dua bulan yang lalu, rasanya COVID-19 hanya akan jadi sesuatu yang datang lalu pergi. Salah satu kenalanku bahkan sempat dikarantina di Pulau Natuna setelah dijemput dari Wuhan, RRT.

Hanya ada satu jalan: social distancing. Kalaupun aku, atau kamu, bukan di grup yang tingkat fatality-nya tinggi, tetapi kita semua bertanggung jawab untuk tetap menjaga kesehatan dan tidak menjadi vektor virus tersebut. Kita berkewajiban untuk peduli, karena di luar sana, ada orang tua yang punya masalah kesehatan lain yang beresiko besar terkena COVID-19, di luar sana ada orang-orang yang kelihatannya baik-baik saja, tetapi punya masalah immunosuppression, di mana sistem imun tubuhnya tidak bekerja dengan baik. Untuk kita yang sehat, apa susahnya tidak menjadi vektor?

Social distancing berarti meminta secara aktif terhadap bos kita, untuk mendapat kesempatan bekerja dari rumah, tentu saja, secara efektif; menghindari tempat ramai; dan juga hak kita untuk menolak melakukan sesuatu yang dalam keadaan normal tidak apa-apa tetapi dalam keadaan pandemik seperti sekarang bisa jadi apa-apa (termasuk menolak berjabat tangan atau cipika cipiki).

Termasuk mempelajari bagaimana melakukan segala sesuatunya online, daring, seperti sekarang. If that’s what it takes to slow down the coronavirus, then that’s it.

P.S. Bisa masak buat lunch sendiri ternyata menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s