Soal Alkohol

Setahun terakhir, aku sering mendengarkan lagu dari Sisitipsi berjudul Alkohol. “Alkohol, kamu jahat tapi enak…,” begitu salah satu baris liriknya. Pertama kali aku melihat temanku minum alkohol adalah ketika mereka dengan sembunyi-sembunyi menyelundupkan bir murah yang didapat dari Walmart dengan ID palsu, saat SMA di New Mexico. Jelas-jelas umur mereka belum 21 tahun (drinking age di Amerika Serikat), aku sangat judgmental. Keberadaan aturan pasti karena ada alasannya. Tetapi saat itu aku masih belum mengerti, mengapa temanku yang berasal dari Eropa dan sudah minum sejak usia dini (13? 14? tahun, atau bahkan lebih muda), juga ya normal saja. Lalu kenapa umur minum di Amerika Serikat harus minimum 21 tahun?

Berdasarkan TeenVogue, umur minum yang 21 itu baru diresmikan secara federal di tahun 1984, dan sebelumnya, umur minum legal itu berbeda tergantung state-nya. Salah satu alasan kenapa akhirnya umur 21 ditetapkan, adalah karena salah satu riset menyebutkan bahwa peningkatan jumlah kecelakaan di jalan (DUI, driving under influence) berkorelasi positif dengan lebih mudanya umur legal minum di suatu daerah. Di Amerika Serikat, yang mana merupakan negara dengan tingkat penggunaan transportasi mobil pribadi yang sangat tinggi (transportasi publiknya jelek, dan hanya ada di kota-kota besar), dibandingkan dengan Eropa yang transportasi publiknya lebih oke, wajar saja akhirnya umur legal minum di Amerika Serikat lebih tua (dan termasuk yang paling tua, berdasarkan World Health Organization) di antara negara-negara di dunia, yang modusnya di umur 18 tahun. Selain itu, peningkatan usia minum juga berdampak pada berkurangnya total orang yang minum minuman beralkohol pada kelompok dewasa muda, berdasarkan riset.

drinking_age

Di Indonesia pun, minimum umur untuk minum alkohol adalah 21, sama seperti di Amerika Serikat, meskipun tidak terlalu ketat, karena minum minuman alkohol tidak selazim di negara lain. Meskipun begitu, DUI ternyata sangat umum terjadi, bahkan ada banyak kecelakaan di jalan yang memakan korban jiwa ditengarai akibat masalah DUI. Karena bukan hal yang umum untuk minum minuman beralkohol, masalah seperti ini sebenarnya lebih sulit ditangani. Pengecekan random dengan breathalyzer misalnya, tidak ada (atau jarang?), atau kunci mobil yang terhubung dengan breathalyzer juga tidak ada (atau jarang?), sehingga kalau kadar alkohol di ambang batas, kunci mobil bisa tidak berfungsi.

Di sisi lain, aku merasa ada ketakutan tidak rasional soal alkohol untuk teman-teman yang terbiasa berada di lingkungan tanpa alkohol. Pertanyaan seperti, “Bagaimana menghadapi pergaulan di Amerika Serikat yang penuh dengan seks bebas dan alkohol?” terlalu sering ditanyakan. Iya, untuk agama Islam, alkohol itu haram. Iya, tidak diperbolehkan. Tetapi agama itu hal yang personal, yang tiap orang punya pandangannya masing-masing. Makanya, orang yang mengusulkan bahwa solusi dari DUI ini adalah dengan memperkuat ajaran agama, itu tidak memberikan solusi, karena agama bagiku mungkin berbeda dengan agama bagimu, meskipun kita sama-sama tidak minum.

Bagiku sendiri, sebagai orang yang memutuskan tidak minum (karena alasan personal, dan juga karena aku dibayangi label hazardous yang ada di isopropyl alcohol dan ethanol di lab), secara kultural, alkohol ini hal yang menarik. Banyak daerah atau negara, memiliki alkohol khas daerahnya sendiri. Mungkin ekuivalen dengan olahan nasi di berbagai tempat di Indonesia, alkohol di berbagai negara pun punya ciri khasnya sendiri. Kemarin aku sempat menonton proses pembuatan berbagai macam keju, mulai dari camembert, mozzarella, parmigiano reggiano, cheddar, swiss, gorgonzola, gouda, dan seterusnya, dan mulai menonton soal alkohol khas berbagai tempat juga, termasuk limoncello.

Aku selalu bertanya pada temanku yang minum, “Apa bedanya beer yang warna cokelat muda dengan yang hitam? Apa bedanya IPA (Indian Pale Ale) dengan beer lain? Kenapa wine rose sekarang makin diminati?” dan rasa penasaran itu hanya bertambah terus menerus. Dari jawaban mereka, rasanya aku belajar sedikit banyak soal hal ini. Sama seperti aku melihat varian keju dan mengetahui budaya di balik pembuatan keju (aku baru tahu Amerika Serikat tidak memperbolehkan penjualan keju non-pasteurisasi yang mana sangat normal di Eropa!).

*

Seorang teman beberapa waktu lalu bercanda dan bilang, “Mungkin kamu nggak bisa dapat pasangan orang Amerika Serikat, karena kamu nggak terbiasa minum dan ease up seperti orang sini, dan bisa ngobrol ke mana-mana.”

“Kalaupun aku memilih untuk berpasangan dengan orang Indonesia, itu karena mereka mengerti konteks dari kemunculan akun macam Cermin Lelaki atau Cermin Dramatis,” jawabku tersenyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s