Fitrah

Sebulan terakhir terdiri dari banyak kejutan, banyak penghargaan, dan banyak kepiluan.

Fitrah (1)

Dua minggu lalu salah satu teman terdekatku, Dimas, yang tahu aku sejak belum puber hingga seumur sekarang, mangkat. Dia kembali ke pelukan Tuhan. Bukan, bukan berarti dia menyerah akan hidup, dia bahkan berencana bertemu dan kumpul dengan teman-teman lainnya hari ini, di pernikahan teman masa kecil kami. Aku ingin membuat eulogy kecil tentang pertemanan kami dari kecil hingga sekarang.

Kami ber-13 sudah kenal sejak masih berseragam putih biru. Bahkan aku kenal beberapa dari mereka sejak masih berseragam putih merah. Jalan orang berbeda-beda. Ada banyak yang melanjutkan kuliah selepas putih abu, tapi Dimas memutuskan untuk langsung bekerja, menyokong keluarga. Tetapi kemarin-kemarin dia sempat bilang, mau lanjut kuliah pariwisata, setelah tabungannya terkumpul. Sayang, rencana besarnya ini belum kesampaian.

Rasanya kami bukan teman yang baik. Kamu juga sering memendam semuanya sendiri. Biasanya kamu cerita dengan salah satu dari kami, yang kamu rasa cukup dekat dan mengerti. Kadang minder, karena kamu merasa bahwa, dibandingkan kami, kamu bukan apa-apa. Bekerja siang malam, dengan shift yang tidak karuan. Kamu sering menolak ajakan nongkrong-nongkrong, dengan alasan ini-itu, dan kadang kami, dengan tidak tahu malunya bilang, “Ah, kamu, mangkir terus kalau diajak main.”

Padahal bukan karena tak mau, tetapi sering kali kamu tak bisa. Toh, tahun ini, setelah seharian dari pagi kita siap-siap jadi pagar ayu dan pagar bagus untuk pernikahan teman kita bulan Agustus lalu, kamu tetap mampir ke rumahku. Padahal sogokannya tidak begitu besar. Kubilang, “Ibuku kemarin pesan kue kering untuk Lebaran Haji, mampir yuk.” Karena sudah sekian lama, kita tidak kumpul lengkap seperti ini, kamu mengiyakan. Padahal rumahmu sangat jauh, dan kamu beresiko terkena angin malam.

Aku tidak tahu saat itu, kalau kamu sudah berhenti kerja karena tingkat kesehatanmu menurun. Padahal aku bisa lihat, dibandingkan badanku yang menimbun banyak kg tiap tahunnya, badanmu jadi kurus sekali. Bahkan di sela-sela tugas jadi pagar bagus, kamu menyempatkan diri untuk tidur siang. Kukira kamu sakit biasa.

Kamu berjanji, bulan Januari nanti, saat aku pulang, kamu akan menyempatkan diri untuk bertemu lagi. Tetapi kamu sudah pergi duluan.

Bahkan kami telat mengetahui. Kamu sudah dikebumikan ketika kami mendengar kabar. Kontak keluargamu saja kami tak punya. Teman macam apa kita ini.

Teman-temanku menelpon dengan video call pagi itu, yang mana malam di tempatmu. Teman-teman dari Jakarta, Bandung, dan sekitarnya datang. Kita lengkap lagi di sana, ber-13, setelah terakhir bulan Agustus lalu. Kamu sudah istirahat, sudah tenang, tidak sakit lagi, tidak perlu berpikir macam-macam.

Kamu tidak akan pernah kami lupakan. Sebagai orang yang senyumnya paling lebar, jokes-nya paling memancing tawa, sebagai orang yang selalu berusaha tetap hidup dan sembuh, meskipun sebenarnya banyak pil pahit yang harus kamu telan (literally dan figuratively).

Terima kasih sudah berpotongan jalan. Beristirahatlah dengan tenang. Kami akan tetap mencintaimu, dan mengingatmu.

Fitrah (2)

Ini cerita lama, yang selalu kuulang-ulang dalam post sebelumnya. Soal perempuan. Soal pengalamanku.

Aku sudah muak berkali-kali digurui lelaki, entah mereka pangkatnya tinggi, rendah, badannya tinggi, rendah, tua, muda, yang selalu bilang, “Ngapain perempuan ambil S3? Mesin pula,” sambil tersenyum sinis.

Semakin aku dibilang seperti itu, yang semakin aku lihat adalah insecurity oknum-oknum ini, yang ketakutan bahwa mungkin, mungkin, di luar sana ada perempuan yang cukup capable dalam pekerjaan yang mereka lakukan.

Aku memang masih anak bawang. Levelku mungkin belum setinggi Bapak-bapak yang terhormat. Lulus saja masih sekian tahun lagi. Pengalamanku mungkin lebih sedikit, tetapi kemampuanku bisa diuji.

Aku menyesal, hanya terkekeh saat Bapak bilang hal itu kemarin. Aku seharusnya stand up for myself. Aku harusnya bilang, “Semoga mahasiswi Bapak tidak ada yang ter-discourage karena sikap Bapak yang seperti ini.”

Jangan bawa argumen soal fitrah semua perempuan harusnya berada di dapur, sumur, dan kasur. Basi. Apakah perempuan lebih bodoh dari laki-laki? Tidak. Jadi biarkan perempuan memilih, apa yang mereka ingin lakukan, tanpa intervensi seenaknya dari laki-laki. Mau fokus mengurus rumah tangga? Silakan. Mau fokus karir? Silakan. Mau leyeh-leyeh seperti aku seharian ini? Juga boleh.

*

Sedikit cerita (yang sebenarnya tidak berhubungan dengan topik-topik di atas), 2 tahun lalu aku pergi ke konferensi tahunan untuk materials science. Saat itu aku nervous sekali karena itu merupakan kali pertama aku harus presentasi poster mengenai topik risetku di hadapan banyak orang dari berbagai bangsa dan latar belakang. Dan sesuai ekspektasiku, banyak orang pointing out flaws dari risetku, memberikan feedback, tetapi 2 jam poster session itu mungkin salah satu 2 jam terlama dalam hidupku (2 jam lain yang cukup lama: wisdom teeth extraction, hehe).

Tahun ini, aku sudah nervous sejak berminggu-minggu sebelumnya, karena lagi-lagi, tahun ini aku dapat poster session. Aku sudah membuat draft-nya berminggu-minggu sebelumnya, mencoba supaya semuanya terlihat sempurna. Eh, meskipun, begitu, tetap saja ada banyak typo di posternya, dan aku baru sadar sekian jam saat akan presentasi, saat menempel poster di board-nya. Aduh!

Tetapi, rasanya senang juga, tahun ini posterku dapat nominasi untuk poster terbaik (meskipun tidak menang, haha).

MRS2019-poster

Dengan begitu, di akhir 2019 ini aku ingin menutup dengan alhamdulillah, dan juga, doa terbaik untuk Dimas. Kalau sempat, aku juga minta doa dari kalian untuk Dimas, ya! Semoga tahun 2020, semakin banyak kesempatan terbuka lebar untuk kita. Sampai jumpa!

2 thoughts on “Fitrah

  1. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Turut berduka atas meninggalnya mas Dimas, mba. 😥 semoga almarhum berada di tempat terbaik. Aamiin.

    Btw, selamat atas semua pencapaianmu, mba! 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s