Pembalut: Mengapa Harus Gratis, atau Setidaknya Bebas Pajak & Tersedia di WC Sekolah

Konsep soal pembalut gratis terasa asing bagiku sebelumnya.

Sampai suatu hari, aku ke kampus sebelah (alias Harvard), yang secara endowment alias duit, lebih kaya makmur gemah ripah loh jinawi dibandingkan kampusku. Setiap bulan sekali mungkin aku ke sana, apalagi kalau bukan untuk kerjaan. Sebagai perbandingan, kalau high-resolution scanning electron microscope di MIT jumlahnya hanya satu, itu pun reservasinya sudah seperti reservasi tiket lebaran di KAI Access H-90, bangun tengah malam untuk booking, dan buka 3 browser yang berbeda. Sementara itu, alat yang sama di Harvard ada 3 buah, dan kadang kalau go show pun masih bisa. Intinya resources di Harvard melimpah.

Aku kaget sendiri ketika melihat vending machine di toilet mereka menyediakan pembalut dan tampon gratis; barang yang sama di kampusku dibanderol seharga $0.25 per buah. Mahal? Sebenarnya mungkin nggak, hanya saja, zaman sekarang, siapa yang bawa receh $0.25 ke mana-mana? Meskipun pembalut gratis yang mereka berikan kualitasnya pas-pasan, bukan tipe ekstra sayap, ekstra lebar, ekstra daya serap, tetapi tetap saja, ada itikad baik untuk menyediakan pembalut.

Lalu aku mulai bertanya, memang seberapa besar konsumsi pembalut di Indonesia?

Berdasarkan Oloruntoba A. di Statista mengenai revenue of the feminine hygiene market worldwide by country in 2018, pendapatan dari pasar ini di Indonesia sekitan 1.211,32 juta US Dollar dan merupakan peringkat ke-5 sedunia setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, dan Brazil. Ini total, dan sebagai negara dengan populasi tertinggi nomor empat di dunia, tentu saja hal ini makes sense. Yang harusnya kita lihat adalah konsumsi per kapita, yang sayangnya tidak aku temukan. Aku hanya menemukan volume penjualan per kapita. Dibandingkan negara maju lainnya, penjualan per kapita produk feminine hygiene ini sekitar 0,06 kg/ orang di tahun 2017 (Sapun, P., Statista, Per-capita volume sales in the feminine hygiene market worldwide, by country in 2017), jauh di bawah Amerika Serikat (0,35 kg/ orang), Britania Raya (0,37 kg/ orang), Jepang (0,27 kg/ orang). Angka kita sedikit lebih tinggi dibandingkan Filipina (0,04 kg/ orang) dan Vietnam (0,06 kg/ orang).

“Tapi, bisa jadi kita lebih hemat? Atau kita menggunakan produk reusable untuk pembalut?”

Aku mencari studi mengenai hal ini, tetapi sulit sekali. Entah mengapa tidak banyak orang yang membahasnya. Baik itu di berita maupun di Google Scholar, orang-orang lebih tertarik mencari tahu bagaimana persepsi orang-orang terhadap merk pembalut tertentu, sepertinya. Atau mungkin, sebagian besar orang masih menganggap pembalut sebagai hal yang tabu.

Pembalut generik di Indonesia harganya bervariasi, tetapi rata rata sekitar 800 rupiah per buah. Ini untuk pembalut super generik, ya, yang tidak aneh-aneh dan ada sayapnya, atau ekstra lebar dan untuk penggunaan di malam hari.

Jika siklus menstruasi wanita sekitar 6 hari dan setiap hari mereka mengganti pembalut selama 6 kali, sesuai anjuran, maka dalam satu siklus mereka membutuhkan Rp 28.800,00. Dalam setahun, mereka membutuhkan sekitar Rp 374.400,00, yang mana setara dengan SPP 2 bulan di sekolah negeri di Bandung zaman 2010 dulu. Jika tiap perempuan mengalami menstruasi pertama kali di umur 12 tahun dan mengalami menopause di umur 50 tahun, maka (asumsi tanpa discount rate), tiap perempuan menghabiskan Rp 14.227.200,00 seumur hidupnya untuk kebutuhan mereka yang satu ini, dan bisa jadi lebih besar.

Jika kita hitung pajaknya, ada sekitar Rp 1,5 juta per orang yang dibayarkan untuk kebutuhan ini seumur hidup. Kebutuhan sebesar itu, apa tiap perempuan bisa meng-afford-nya? Kalaupun pembalut terlalu mahal, orang menggunakan reusable pembalut, misalnya, atau mengganti pembalut mereka lebih jarang, supaya mereka bisa menghemat, yang mana merupakan hal yang berbahaya.

Saat SMP dan SMA (terutama waktu SMP), setiap bulannya aku selalu was-was, kalau tiba-tiba darah haidku tembus di sekolah. Aku, seperti semua anak perempuan lainnya di umur seperti itu, selalu takut jika diolok-olok. Waktu SD saja beberapa temanku yang sudah mulai menstruasi dan ketahuan tidak sholat saja karena hal tersebut, langsung jadi bahan bulan-bulanan. Perempuan pada umur pra-remaja dan remaja seperti itu sangat rentan kepercayaan dirinya. Jelas-jelas ada jurang yang besar soal pemahaman mengenai siklus menstruasi ini di kalangan remaja, menganggapnya hal lucu/ bahan ejekan. Sudah seperti anak yang ketahuan pup di celana, misalkan (pasti ada teman waktu kecil di sekolah dulu yang ketahuan pup di celana di kelas, kan?).

Menstruasi, seperti yang kita semua ketahui, sudah seperti jelangkung saja, datang dan perginya tanpa diundang dan diantar. Kalau kebetulan dapet di sekolah, wassalam. Pasti langsung kasak-kusuk mencari teman yang membawa pembalut ekstra. Dipikir-pikir, masalah feminine hygiene di Indonesia ini masih belum dapat perhatian yang cukup. Mana ada sekolah negeri yang menyediakan pembalut di sekolahnya? Yang jual saja tidak ada. Padahal, dalam sehari, setidaknya 1/3 dari waktu yang dihabiskan anak-anak sekolah ya di sekolah (8 jam). Bahkan kadang lebih.

Kita semua tahu soal pendidikan seks di Indonesia yang masih kurang, dan lagi-lagi karena semua ini dianggap masih tabu. Perihal menstruasi hanya cukup dibahas sesama perempuan saja, bahkan beberapa waktu lalu aku melihat video viral di Twitter mengenai laki-laki yang dipuji habis-habisan hanya karena membantu membelikan pembalut untuk perempuan. Hal ini hanya membuktikan, bahwa kita harus berusaha lebih banyak untuk meniada-tabu-kan topik ini di masyarakat, dan mungkin, baru saat itu kita bisa mulai berbicara soal ketersediaan pembalut yang lebih luas untuk wanita, terutama di jenjang sekolah, dan mungkin meniadakan pajak untuk hal ini, seperti yang sudah dilakukan di negara-negara lain di dunia.

Soal menstruasi, dipikir-pikir, sudah seperti lotere saat dilahirkan di dunia ini. Kalau kebetulan lahir sebagai perempuan, siap-siap saja menghabiskan 15 juta seumur hidup untuk kebutuhan pembalut saja. Begitulah. “Terima saja nasib Tuhan,” begitu kata ibuku saat aku protes mengapa perempuan harus menstruasi dan menghabiskan banyak uang untuk membeli pembalut, belasan tahun lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s