Autumn Equinox

Hari pertama musim gugur tahun ini jatuh di tanggal 23 September, dan berlangsung hingga 21 Desember, sebelum formally berubah jadi musim dingin. Musim gugur kali ini, selain pergi ke Vermont dan Long Island untuk urusan lab, rasanya nggak akan ke mana-mana lagi. Aku sempat kecewa dan mungkin sedikit tersinggung saat temanku mengajak road trip dari East Coast ke West Coast di minggu Thanksgiving. Kutawarkan untuk melakukannya di libur musim dingin saja, tetapi dia menolak. Sudah ada rencana, katanya. Aku sudah liburan 2 minggu di Indonesia, mana bisa menghilang lagi selama seminggu penuh, begitu kataku. Dia bilang nggak ada waktu lagi, tahun depan sudah lulus. Lalu aku diam saja, tak mengungkit soal hal itu lagi.

Sejak kemarin juga, aku rasanya marah melihat yang terjadi di sana-sini berkenaan lingkungan. Kemudian aku melihat diri sendiri, yang meskipun mencoba mendaur ulang, tetapi tetap malas composting karena setiap sekian hari harus dibuang dan diganti plastiknya. Atau aku yang memilih naik pesawat untuk ke Long Island, dan bukannya naik kereta yang emisi karbonnya lebih rendah. Atau aku yang tidak mematikan saklar dan membiarkan monitorku menyala meskipun CPU-nya mati. Kalau aku marah dengan orang yang membakar lahan di sana-sini, mengapa aku tidak marah dan merubah diri sendiri?

Hari Jumat kemarin, ketika protes terjadi di berbagai belahan dunia, aku lebih memilih untuk tidak ikut dan melakukan hal lain. Lalu aku teringat satu orang anggota labku dulu, yang kini sudah lulus dan menjadi seorang doktor, yang dalam hati aku sangat salut padanya. Beberapa tahun lalu, dia ikut demo, meminta kampus kami untuk berdivestasi dari bahan bakar fosil. Satu grup mahasiswa ini, duduk, ngampar di depan kantor petinggi kampus selama berbulan-bulan. Akhirnya kampus bersedia berbicara dan mencoba untuk divestasi dari bahan bakar fosil. Meskipun hingga hari ini, ya levelnya nggak signifikan-signifikan amat. Jangan jauh-jauh. 2 tahun terakhir pun, sepertinya gajiku dibayarkan oleh perusahaan minyak. Aku nggak bisa ngomong apa-apa, sebenarnya. Toh makan malam yang barusan aku habiskan itu duit minyak. Baju yang kukenakan pun sama. Komputer ini juga. Jadi seharusnya, aku nggak perlu banyak bacot, kan?

*

Semester ini, aku nggak minta banyak, Tuhan. Aku berharap semoga saat di Vermont nanti kebagian puncak fall foliage. Semoga keputusanku ambil dua kelas semester ini tidak berujung petaka. Semoga orang-orang yang masih terkungkung asap bisa segera bebas. Semoga aku dapat data polutan udara satu dekade terakhir untuk membandingkan masalah asap ini untuk proyek kelas. Semoga paperku beres. Semoga presentasiku lancar.

Kalau banyak itu lebih dari satu, aku sebenarnya sudah minta banyak, ya? Maaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s