Filial Imprinting

Mobil Bapak adalah Kijang LGX yang dibeli awal 2000-an. Beliau sebelumnya juga memiliki Kijang yang dibeli bekas 2-3 tahun sebelumnya. Bapak adalah seorang firm believer bahwa mobil tidak perlu mahal-mahal, asal bisa jalan dengan baik sudah cukup. Sampai beliau pensiun sekarang pun, belasan tahun kemudian, Bapak masih setia dengan Kijang LGX-nya yang mudah sekali dibedakan di tempat parkir, karena warna spion kirinya berbeda dengan yang kanan. Mobil bukan investasi, tetapi sebaliknya. Persentase penyusutan tiap tahunnya tidak menjustifikasi kegiatan gonta-ganti mobil, katanya.

Konsekuensi dari mobil Kijang tua itu ya music player di mobil yang jauh dari CD, apalagi generasi terbaru dengan bluetooth atau yang bisa dicolok langsung ke audio jack ponsel pintar. Masih kaset. Hari ini mau cari kaset di mana, coba? Dulu masih sering, tapi itu pun tidak efektif. Suka 2-3 lagu pun harus beli seluruh albumnya, side A dan B dari kaset tersebut. Kecuali beli kaset kompilasi.

Akhirnya, sekian tahun mudik di tahun 2000-an, sampai akhirnya aku pindah ke Amerika, dan Bapak-Ibu lebih memilih menggunakan kereta untuk mudik, ada beberapa kaset yang selalu menemani perjalanan Bandung-Jakarta saat mengantarkan aku ke bandara Soekarno-Hatta dan berangkat ke Amerika pertama kalinya, maupun saat mudik ke Yogyakarta, atau sekadar ke Bandung Indah Plaza/ Paris van Java.

Sekian album Waldjinah, sekian album Koes Plus, satu-dua kaset Sundari Soekotjo dan Ebiet G. Ade. Beberapa terselip Sheila on 7 dan Ada Band milik Kakak. Oh, ada juga Al-Quran yang Bapak beli saat kerja sekian tahun di Arab Saudi.

Akhirnya, di era digital seperti sekarang pun, di mana subscription-based platform bukan hal yang aneh sama sekali dan merupakan sesuatu yang wajar, meramu playlist Bapak dan Kakak menjadi suatu kesenangan tersendiri.

waldjinah

Sayang sekali, beberapa lagunya tidak tersedia di platform Spotify yang diakses di Amerika Serikat (atau pilihan region-nya Amerika Serikat?). Entahlah. Yang penting, ada beberapa lagu yang sangat familiar, yang menemani tidur di perjalanan menuju ferry menyeberang ke Bali, atau di antara hutan di Banyuwangi, atau saat naik ke daerah Dieng.

Bukan hanya wajahku yang mirip Bapak, selera laguku akhir-akhir ini, terutama saat kangen rumah, ya tidak jauh beda dengan playlist Bapak yang masih beliau putar kalau naik mobil ke beberapa tempat sekitar Bandung. Beliau sudah tidak kuat untuk menyetir antarkota antarprovinsi, soalnya.

“Di bawah sinar bulan purnama~”

Selamat ulang tahun Bapak, dan selamat menikmati hari-hari pensiun. Sampai jumpa dalam beberapa minggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s