Menerima 80%

Tidak terasa sudah beres tahun ketiga S3 (berima, kan?). Ada satu hal penting yang aku pelajari sekitar dua bulan terakhir, berbekal pengalaman ditolak jurnal sana-sini, dan juga waktu yang tidak terasa cukup karena aku bukan amoeba yang bisa membelah diri dan mengerjakan beberapa hal secara paralel: menerima 80%, mencukupkannya, dan move on.

Manusia yang hobinya ingin serba sempurna pada suatu saat akan tiba di titik di mana dia tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri, secara sempurna. Ada yang namanya mendelegasikan pekerjaan, ada yang namanya menerima ketidaksempurnaan.

Seminggu yang lalu aku berada di Chicago. Hari itu mendung menggantung, tetapi aku dan beberapa temanku memutuskan untuk tetap mengantre konser Yo-Yo Ma gratis di Millenium Park. Beberapa orang di depan kami membawa terpal dan juga kursi lipat, persiapan untuk menonton Bach suites selama 2,5 jam penuh.

Salah satu temanku tiba-tiba bercerita, “Sarah Kurtz tadi ngasih nasihat yang menurutku penting banget.”

“Di sesi Women in PV Lunch ya? Asyik banget dapat tiketnya. Aku kehabisan!”

“Iya. Keren banget sih nasihat dia. Katanya, in most cases 80% itu cukup bagi kita untuk membereskan sebuah project. Bagi dia, kita tidak perlu melakukannya secara sempurna, karena most of the time, mengejar yang 20% demi tercapainya kesempurnaan itu nggak worth the effort of time. Lebih baik mengerjakan hal lain.”

Lalu aku mulai berpikir. Sekian bulan lalu, aku mengirim paper ke sebuah jurnal. Ditolak. Sebenarnya bisa saja diterima kalau aku melakukan major revision. Melengkapi dengan sekian eksperimen tambahan. Pada saat yang bersamaan, aku sudah siap untuk mengerjakan project lainnya. Akhirnya kami memutuskan, untuk mengirimnya ke jurnal yang lain. Score-nya mungkin lebih rendah (orang-orang biasanya mengejar impact factor yang besar, kan?), tapi bagiku, project pertama itu cukup untuk membuatku belajar selama 2,5 tahun pertama S2-S3-ku. Saatnya move on.

Saat mengerjakan paper itu pun aku merasa bahwa ada banyak hal yang bisa diperbaiki, banyak eksperimen yang bisa ditambah, tetapi posdokku bilang, “Nggak usah ngejar itu. Kirim dulu ke jurnal, yang penting pesan dan hasilnya jelas. Kalau perlu direvisi, bisa sambil jalan.” Lagi-lagi, dicukupkan pada 80%.

Di lain waktu, sekian bulan terakhir, ada beberapa anak S1 yang bekerja membantu project kami. Oleh posdokku, aku diberi mandat untuk lebih ‘mengambil alih’ dan menjadi mentor untuk anak-anak S1 ini. Ternyata ada banyak hal yang aku pelajari, mulai dari melatih, mendelegasikan tugas, dan memercayakan mereka melakukan hal yang buatku penting. Kadang aku agak khawatir, karena selalu percaya bahwa hasil yang kulakukan sendiri lebih baik. Tetapi, seiring waktu, meskipun kadang anak-anak S1 ini butuh bimbingan dan kadang salah sedikit, mereka membantu tercapainya hasil project ini lebih cepat. Terima kasih kalian! Aku hanya berharap, agar mereka tidak menganggap aku terlalu galak…

Anyway, 80% dan move on. Kerjakan sebisa mungkin, tetapi jangan menunggu untuk melakukan hal yang lainnya. Semoga saja dengan berpegang teguh dengan hal ini, pendidikan formalku bisa cepat beres.

One thought on “Menerima 80%

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s