Kamar Kecil yang Sakral

Pernahkah kamu mengalami beberapa hal berturut-turut, yang membuatmu grogi dan nervous, dan saking nervous-nya, kamu lupa untuk ‘bernapas’? Ya, aku tahu, kamu pasti akan bilang, “Manusia mana mungkin lupa bernapas? Itu kan refleks. Ketika tenggelam saja, manusia mencari udara secara otomatis dan megap-megap. Ya kali manusia bisa lupa bernapas.”

Yang kumaksudkan dengan bernapas, bukan secara literal. ‘Lupa bernapas’ yang kumaksud adalah bagaimana seseorang dipenuhi dengan pikiran-pikiran soal, “Apa hal berikutnya? Setelah rapat satu ini, ada rapat apa lagi? Setelah tugas ini, ada tugas apa lagi? Ada presentasi apa lagi?” Sometimes, we are so overwhelmed by all the things around us, and ‘forget to breathe’. Karena kita begitu banyak pikiran, kita lupa, ada titik koma dalam hidup juga.

Bagi beberapa orang, meditasi dan ibadah adalah titik koma mereka. Bagiku, kamar kecil belakangan ini jadi titik komaku juga.

Hal ini benar-benar kurasakan hari Jumat kemarin.

Hari itu, atasanku ada di kampus setelah sekian lama dia berada di belahan dunia lain. Percayakah kamu, kalau advisor-ku hanya berada di Boston selama 3-5 kali setahun, selama sekitar 3-5 hari dalam setiap kunjungannya? Karena beliau, akhirnya ada beberapa rapat yang awalnya tak ada di kalendarku yang harus kulakukan. Aku sendiri punya banyak ketakutan tak beralasan, contohnya, “Bagaimana kalau misalkan riset yang kulakukan selama 6 bulan terakhir ternyata tidak direstui beliau dan pendekatan yang kulakukan ternyata salah kaprah?” atau misalnya, “Bagaimana kalau misalkan topik yang ingin kulakukan tidak sesuai dengan harapan dia?” Meeting-nya sendiri berjalan lancar, meskipun ada beberapa hal yang harus kupikirkan dan kulakukan baik-baik.

Setelah pertemuan itu dan pertemuan berikutnya, yang mana aku dengan kepedeannya mengontak seorang mahasiswi S3 lain supaya minta diajari tentang teori untuk kalkulasi VBM dan CBM (valence band maximum dan conduction band minimum) dari spektrum yang kuukur sekian minggu lalu. Tak ada pilihan lain, karena project satu ini publikasinya mesti cepat keluar. Aku merasa sedikit bersalah karena terlalu banyak bertanya hal-hal mendasar yang siapapun yang bekerja di bidang ini harusnya mengerti. It was worth it, tak apa kelihatan bodoh. Setidaknya aku tahu caranya sekarang.

Hal-hal seperti ini melelahkan. Yang kutemukan adalah, hal ini tidak benar-benar aku proses sampai akhirnya aku kencing di kamar kecil.

Di kamar kecil, akhirnya, tiba-tiba semua sunyi sekejap. Ada suara orang kencing di bilik sebelah. Aku lirik sedikit, dan memang ada orang bersepatu Nike yang sedang kencing di sana. Kamar kecil di Paman Sam memang seperti kehabisan anggaran, biliknya jarang yang tertutup sempurna. Bagian bawah terbuka hingga betis, dan sejengkal di atas kepala sudah terbuka lagi. Keuntungannya, tak perlu was-was kalau ingin tahu apakah biliknya ada orang atau tidak, cukup lirik ke bawah sedikit.

Bukan kali pertama aku bisa bernapas di dalam kamar kecil seperti ini, rupanya. Pikiranku terlempar ke 20 menit sebelum ujian tengah semester kemarin, yang mana aku habiskan duduk di dalam bilik kamar kecil saja. Padahal sebelum berangkat aku sudah kencing; kantong kemihku sudah kempes. Aku tetap ke kamar kecil juga. Aku tak ingin tiba terlalu cepat di ruang ujian dan duduk melihat anak-anak yang mengeluarkan catatannya lalu belajar. Aku tak bisa tidak merasa bersalah. Padahal aku sudah tak ingin belajar lagi. Bukan karena sudah bisa dan mengerti, tapi rasanya 10 menit baca catatan mungkin tak akan membantu banyak.

Tidak hanya soal itu, kamar kecil menjadi saksi soal insecurities yang lain. Soal penampilan yang sudah oke atau belum sebelum presentasi, soal memastikan tidak ada sayuran atau cabai yang terselip di gigi, atau soal kerudung yang mencong tertiup angin. Kamar kecil juga menjadi saksi soal kepanikan saat mengecek celana sambil berdoa dalam hati, “Semoga tidak tembus, semoga tidak tembus, semoga tidak tembus,” dan merutuki diri sendiri, “Kenapa hari ini bukannya pakai celana warna gelap?” Dan juga soal aku yang pura-pura cuci muka padahal menangis karena mendengar kabar buruk di jam kerja, atau benar-benar cuci muka karena mengantuk dan tidur tidak cukup di malam sebelumnya.

Orang pun lebih jujur di kamar kecil. Sebagian besar orang sudah mafhum bagaimana sesi touch up make up perempuan-perempuan kadang dibumbui dengan gossip dan omongan-omongan yang tidak keluar di meja makan malam, “Eh, tahu nggak, Jeng… Perempuan yang datang dengan Broto itu, ternyata…” Tidak sedikit juga yang terang-terangan mencorat-coret kamar kecil dengan protes-protes terhadap presiden sampai ketua kelas, atau yang menjadikan area kamar kecil yang tertutup sebagai tempat melancarkan operasi mem-bully di bangku sekolah, atau menyindir adik kelas yang sok cantik padahal memang cantik dari sononya, asli karena genetik.

Kamar kecil itu sakral.

Aku mungkin pernah bilang di blogpost sebelum-sebelumnya, ada dua tempat bagiku yang menurutku punya akumulasi emosi yang tinggi: rumah sakit dan bandara. Di rumah sakit, ada orang yang mengaku atheis kemudian memohon setengah mati pada Tuhan manapun agar ibunya sembuh, ada juga ibu yang menyaksikan bayi yang belum sempat dia susui meninggal setelah lahir beberapa jam sebelumnya, ada juga anak yang akhirnya divonis bebas kanker setelah menjalani sekian sesi kemoterapi dan perawatan, dan juga keajaiban nyawa yang masih utuh di dalam tubuh meskipun dokter sudah memvonis mereka dengan kematian dan tak dapat diselamatkan. Di bandara, selain ada pria yang memegang balon dan bunga untuk menyambut kekasih yang tidak dia temui sekian lama sementara di sakunya ada kotak kecil berisi cincin, ada juga perpisahan orang tua dengan anaknya yang akan mengadu nasib di negeri seberang yang diwarnai haru dan bangga. Ada juga keraguan seorang tenaga kerja wanita yang merantau ke negara yang bahasanya pun tak dia mengerti namun harapan bahwa mungkin anaknya nanti bisa dia sekolahkan tinggi mengisi pikirannya. Ada juga mereka yang sekian lama tidak pulang ke Indonesia, kemudian menyeret koper mereka berisi rupa-rupa oleh-oleh dari negeri seberang, namun mereka terkaget-kaget sendiri dengan wajah bandara yang sudah berubah pesat, tanpa mereka ketahui bahwa perubahan kampung halaman mereka sudah berubah jauh lebih pesat lagi.

Ada akumulasi emosi kolektif di rumah sakit dan bandara, yang membuatnya begitu menarik untuk dikunjungi dan kadang, duduk di sana hanya untuk memperhatikan manusia-manusia ini. Bagaimana dengan kamar kecil? Kamar kecil menawarkan pengalaman yang lebih personal, dan tergantung dengan individu masing-masing. Kamar kecil punya kacamata sendiri terhadap sisi vulnerable orang-orang, membuatnya jadi medium yang menarik.

Saking personalnya, aku bahkan punya preferensi tertentu terhadap kamar kecilku di kampus. Kalau rata-rata orang punya preferensi terhadap kamar kecil yang bersih (“Eh, nanti mampir kamar kecilnya di rest area kilometer sekian saja, kamar kecilnya lebih bersih!”), aku punya preferensi lain. Ada kamar kecil favoritku yang ruangnya luas dan sinar matahari yang masuk lebih banyak. Ada juga kamar kecil yang menyediakan pembalut dan tampon gratis (yang cukup esensial untuk perempuan), atau sofa di kamar kecilnya. Beberapa kamar kecil di kampus juga menawarkan shower kalau-kalau butuh (yang untungnya selama ini aku tidak memerlukannya). Ada kamar kecil yang semprotannya otomatis, ada yang mesti disiram manual. Ada juga kamar kecil di lantai empat gedung yang jarang orang datangi, yang mana di dalamnya aku betah untuk nyingsring sekeras mungkin.

Kamar kecil itu sakral, tetapi kadang orang tidak mengakuinya karena fungsi utamanya sebagai tempat membuang kotoran. Apakah yang kotor-kotor lantas tidak sakral? Belum tentu. Di tempat-tempat seperti itu, kadang manusia mau/ terpaksa jujur dalam menjadi manusia, yang mungkin tak bisa disaksikan di tempat lainnya.

One thought on “Kamar Kecil yang Sakral

  1. Saya setuju dengan hal itu.
    Saya sering berfikir, apakah kebanyakan dari kita emang menggunakan topeng dalam kehidupan bergaul kita? Atau memang menjaga image tersebut adalah sebuah naluri manusia yang tidak bisa kita lepaskan?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s