Rosa Parks

International woman’s day baru saja lewat, tepatnya hari Jumat tanggal 8 Maret 2019 kemarin. Di perjalanan bus ke Center for Nanoscale System yang penuh sesak pagi itu, dinding pembatas antara supir bus dan penumpang ditempeli sebuah stiker.

02/02/2019 Boston MA. -MBTA buses have stickers on them honoring Rosa Parks. Jonathan Wiggs/Globe StaffReporter:Topic:
Foto stiker diambil dari situs Boston Globe.

Rosa Parks, seorang wanita pejuang hak-hak sipil, sangat terkenal di Amerika Serikat. Jika teman-teman di Indonesia tidak familiar dengan beliau, Rosa Parks-lah wanita yang menolak memberikan tempat duduknya di “bagian kulit berwarna” untuk seorang penumpang kulit putih pada tanggal 1 Desember 1955 di Montgomery, Alabama. Segregasi rasial pada kala itu memang mengharuskan orang kulit berwarna pergi ke toilet, bus, ruangan yang berbeda dari orang kulit putih. Karena aksi dari Rosa Parks tersebut, masyarakat African-American terinspirasi untuk memboikot bus Montgomery selama lebih dari satu tahun dan membawa kasus tersebut ke pengadilan.

Rosa Parks sat in the front of a city bus in Montgomery, Ala., in 1956.

Rosa Parks, kemudian bekerja sama dengan Edgar Nixon dan juga Martin Luther King, Jr., untuk mengorganisir komunitas pejuang hak-hak sipil, hingga akhirnya Martin Luther King memenangkan Nobel Prize dan juga hingga saat ini, diperingati di Amerika Serikat pada bulan Januari.

Selain Rosa Parks, ada juga three musketeers Katherine Johnson, Dorothy Vaughan, dan juga Mary Jackson, yang dengan kalkulasi mereka mengenai orbital mechanics sebagai pegawai NASA, membantu penerbangan pesawat ulang-alik Amerika Serikat.

*

Perempuan-perempuan ini menginspirasi dan membuatku berpikir banyak soal peran perempuan di masyarakat kita saat ini. Dengan bermunculannya gerakan wanita agar lebih berpendidikan dan berdikari di zaman ini, rasa-rasanya aku hidup di zaman yang serba enak, serba open.

Tetapi, benarkah?

Sudah perkara umum di kampusku, dengar dari bisik-bisik sana-sini, katanya ada beberapa professor yang tak ingin mengambil mahasiswa pascasarjana perempuan di lab mereka karena perkara gender. Don’t quote me on that. Tapi, aku, dan juga beberapa mahasiswi lainnya pernah merasakan bagaimana direndahkan, atau dianggap tidak cukup mampu untuk melakukan suatu pekerjaan karena gender. Padahal, sebagai seseorang yang diterima di kampus ini, kami seharusnya kurang lebih mampu.

Seperti minoritas yang harus bekerja ekstra keras untuk mendapat rekognisi, perempuan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), harus juga bekerja lebih keras untuk tidak dipandang sebelah mata. Karena itu pula, setidaknya di kampusku, mulai muncul beberapa organisasi sebagai support system untuk perempuan dari level sarjana hingga pascasarjana, perempuan minoritas, perempuan generasi pertama (yang masuk universitas), dan perempuan secara umumnya.

Apakah itu cukup?

Salah satu postdoct-ku pernah bilang, “Titan, meskipun kamu sekarang tidak ingin kerja di bidang akademik (menjadi dosen/ professor), jangan menutup kemungkinan itu dulu. Aku boleh jadi laki-laki, tapi aku minoritas, dan aku harus masuk ke level atas supaya bisa lebih banyak mendukung minoritas. Begitupun kamu. Kamu punya modalnya, jadi jangan tutup kemungkinan itu. Kalau kamu akhirnya kerja di bidang akademik, ingat bahwa kamu juga membantu sekian banyak perempuan minoritas to look upon you dan menjadikanmu inspirasi.” Beliau saat ini sudah resmi menjadi professor di salah satu institusi kenamaan di Amerika Serikat.

Tiap orang punya pilihan. Mau jadi apa, kerja bagaimana. Yang jelas, di manapun usaha kita membawanya nanti, jangan lupa kalau tiap-tiap dari kita sedang memperjuangkan juga jaringan gender dan minoritas kita.

Selamat hari perempuan internasional untuk kalian semua, para perempuan pemberi inspirasi. Buatku, kalian adalah Rosa Parks-Rosa Parks lain di komunitas kalian.

Ps. Artikel di Boston Globe soal diskriminasi dalam bus yang bergeser ke dalam diskriminasi sistem, tentang bagaimana bus service di Boston yang menuju ke low-income neighborhood tidak sama dengan bus service ke daerah lain, mereka cenderung lebih terbatas dan infrequent. Segregasi income ini tidak lebih baik dari apa yang terjadi saat segregasi rasial terjadi. Menarik untuk diikuti. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s