Menguasai Diri

Sangat menarik rasanya ketika kita tahu secara precise, “Oh, aku yang sekarang sedikit lebih baik dari yang kemarin.”

Konteks di sini ada bermacam-macam. Tapi, kumohon, perbolehkan aku merayakan diriku sendiri untuk saat ini, sebentar.

Beberapa teman dekat tahu, bahwa akhir bulan Januari kemarin aku menghadapi ujian kualifikasi. Ujian ini adalah salah satu check point dari perjalanan S3, yang mengkonfirmasi apakah kita punya kapabilitas untuk benar-benar melakukan riset independen dan punya batas minimum pengetahuan yang dibutuhkan. Ujian kualifikasi ini umum di sistem pendidikan S3 di Amerika Serikat, dan mungkin juga di Eropa. Hanya saja, tidak ada sistem standard seperti apa ujian ini dilaksanakan, jadi tergantung universitas dan departemen yang bersangkutan.

Departemen Mechanical Engineering di kampusku terkenal dengan ujian kualifikasi yang cukup sulit. Sistemnya pun sering berubah dari tahun ke tahun, tergantung perubahan arah riset global. Mulai dari tahun lalu, misalnya, ada subject baru, Micro/Nanoengineering. Mulai tahun ini, ada subject baru juga, Robotics. Tetapi, tetap saja ada mata ujian klasik Teknik Mesin semacam Termodinamika, Mekanika Fluida, atau Struktur.

Kamu tahu apa yang sangat menarik? Mungkin kamu juga merasakannya saat menghadapi ujian besar yang persiapannya lama. Kamu bisa jadi merasakan tahap-tahap yang kemarin sempat kurasakan berikut ini:

Overwhelmed, karena, “Oh, subjek ini luas sekali.”

photo_2019-02-09_14-25-42

Mulai menemukan pola. “Oh, si X ini bisa dipikirkan seperti Y. Mereka mirip.”

photo_2019-02-09_14-25-54

Bisa menyortir dan menemukan pola umumnya. Mulai mengerti.

photo_2019-02-09_14-25-49

Memikirkan hal jauh ke depan, “What’s next?“, atau extrapolating pola sebelumnya untuk memprediksi hal di depan.

photo_2019-02-09_14-25-46

Semoga ilustrasi ala kadarnya ini membantu, haha. Yang aku mengerti dari proses ujian ini adalah, cukup mengerti dasar/ konsep subjek tertentu, atau kalau pun tidak mengerti, tahu cara mencari tahu dasar/ konsep tersebut, setelah itu mengerti perbedaan/ persamaan di subkategori dengan melihat polanya, lalu mungkin bisa mengambil keputusan dari situ. Setelah itu, bisa melihat, di depan ada apa, dan cara mengerti polanya gimana, dengan cara ekstrapolasi.

Ketika melihat hal besar ini, rasanya aku menjadi sedikit lebih baik dari beberapa bulan yang lalu.

*

Kemudian, dari tema besar soal menguasai diri sendiri, rasanya beberapa bulan kemarin memberikan pelajaran berharga soal mengenal diri sendiri. Ternyata ujian satu ini tak hanya merupakan proses bertumbuh dalam pengetahuan, tetapi juga soal kepribadian.

Aku dipaksa belajar untuk mencari ‘pipa-pipa’ keluar emosi dan stress yang lebih sehat. Aku dipaksa belajar untuk mengkomunikasikan kekhawatiran-kekhawatiran terhadap orang-orang di sekitarku, bukannya hanya sekadar ngambek. Aku dipaksa belajar untuk mendekonstruksi emosiku, dan menuliskannya untuk mengenalnya lebih baik (yup, aku punya ‘tempat tulisan’ lain terpisah dari blog ini untuk menuliskan semua kekhawatiranku). Aku dipaksa untuk mengerti, kesehatan lebih penting dari apapun. Aku dipaksa untuk mengerti bahwa ada kata cukup dalam sebuah usaha.

photo_2019-02-09_14-42-19

Dari diagram (lagi-lagi) ala kadarnya di atas, ada suatu titik mendekati asymptote (garis putus-putus yang mengindikasikan 100% hasil), yang mana usaha marginal tidak akan memberikan peningkatan hasil yang signifikan. Ada satu titik di mana, usaha keras itu, tidak sebanding dengan delta hasil yang diharapkan. The stress, pressure, emotional burden entailed from that extra effort are not always worth it.

Aku juga dipaksa belajar mengenai hal ini. Untuk seseorang yang sejak dulu selalu strives for the best, rasanya sangat sulit untuk melakukan hal ini. Apa kamu bisa jadi yang terbaik untuk segala hal? Kamu mungkin bisa, tapi apakah kamu punya segala supportresources, yang kamu butuhkan? Mungkin tidak.

Setidaknya, aku sudah memilih, bahwa sanity adalah hal yang sangat penting bagi diriku, dan tak ingin aku korbankan untuk sekadar mendapat piala sebagai yang terbaik. Mungkin hal ini berbeda bagi kalian, dan itu tentu saja wajar, dan tidak apa. Bagiku sendiri, pengalaman dalam mengejar kesempurnaan mengajarkan banyak hal berharga, terutama soal limit atau batas dari diri sendiri, bahkan mungkin sampai pada titik yang tidak sehat.

Ada analogi lain yang menarik yang disampaikan advisor-ku beberapa waktu yang lalu, soal time management. Kembali ke konsep di atas soal mengerti pola, mungkin hal ini menarik bagimu. Ada tiga hal: rocks, pebbles, sand. Jika kita masukkan ketiga hal tersebut dalam sebuah jar, mungkin terlihat penuh. Tetapi ingat, meskipun sand dan pebbles kita keluarkan dari jar tersebut, masih ada rocks yang penting, dan jar-nya tetap terlihat terisi. Rocks di sini menggambarkan hal paling core, paling inti, dari hidup kita, misal keluarga, kesehatan, dan sebagainya. Sementara pebbles adalah hal penting, tapi kita masih bisa hidup tanpanya, seperti pekerjaan, hobi, pertemanan, rumah. Sedangkan sand adalah hal yang kecil, fillermaterial possessions, seperti pekerjaan rumah dan menonton televisi. Ketiga kategori hal ini adalah hal yang penting yang harus kita selalu tanamkan di bawah sadar, ketika membuat prioritas akan hal yang harus dilakukan/ tidak. Iya, susah, aku pun masih belajar.

Begitulah sedikit recap akan hal yang terjadi sekian bulan terakhir. Karena itu, aku ingin sedikit merayakan diri sendiri, setelah belajar banyak hal soal pengetahuan dasar Teknik Mesin dan soal diriku sendiri (yang ini lebih penting, sih).

Seorang temanku bilang, bahwa aku punya ketertarikan dalam hal proses. Proses membuat sesuatu. Proses seseorang berubah dari titik A ke B. Proses apapun. Aku tidak ‘terpuaskan’ hanya dengan melihat black box, dan melihat input A hasilnya output B. Karena itu, salah satu hal yang kutemukan sangat membantu dalam me-manage stress dan juga emosiku adalah dengan memberi diriku kesempatan melihat hal yang berbeda.

Setelah sekian lama aku selalu mengambil kelas teknik (yang berbau fisika di dalamnya), aku memutuskan rehat semester ini dan mengambil kelas soal cara menggambar figure sets dan mengambil gambar yang baik untuk merepresentasikan riset sains untuk publik/ non-science background yang diajarkan oleh Felice Frankel. Aku mengambil kelas machine learning juga untuk membantu risetku, sekaligus belajar skill baru di luar teknik mesin. Aku masih siaran di Radio PPI Dunia dan likely melanjutkan menari dengan Boston CendrawasihSpring break tahun ini aku berencana nge-trip berdua dengan teman dekatku, mungkin ke California. Karena setelah sekian tahun tinggal di Amerika Serikat (dan karena aku malas keluar uang sendiri untuk travelling jauh-jauh, kecuali dibayarin, karena uangnya lebih baik ditabung, harga tanah makin mahal!), mungkin ada baiknya aku jalan-jalan ke West Coast. Plus, aku belum ambil liburan sejak beres ujian!

Ngomong-ngomong soal siaran di radio, hari Minggu, tanggal 10 Februari ini aku akan siaran spesial mewawancarai Zilvia Iskandar, news anchor di Metro TV, bersama rekanku, Helmi, pukul 21:00-22:30 WIB/ 09:00-10:30 AM ET di radioppidunia.org.

photo_2019-02-09_15-14-23

*

Truly looking forward to another semester. Ada banyak hal baru menarik yang aku pelajari, dan rasanya akan menyenangkan. Plus, rasanya, setelah ujian kemarin, impostor syndrome yang sepertinya kumiliki rasanya agak baikan. Aku merasa bahwa aku mampu jadi mahasiswi di sini! Hahaha.

6 thoughts on “Menguasai Diri

  1. Proses untuk merasa lebih baik ini yang selalu kurindukan dari kampus. Rasa-rasanya, semua berubah ketika keluar dari kampus. Ah, atau mungkin aku saja yang belum menemukan tempat, support, resource yang tepat untuk berproses lagi. Terima kasih sudah diingatkan. Semoga cepat ketemu!
    Again, congratulations, NTH, PhD. (Cand.). Make Cimahi proud!

    That impostor syndrome, though! It hits me really hard. Hahahaha.

    Like

  2. Analogi tentang batu, pasir dan kerikil itu juga sering muncul kalo aku lagi perlu atur prioritas, mbak. Seringkali, kita ingin mendahulukan semua, lupa mana yang keinginan, mana yang kebutuhan. Haha.

    Oiya, karena mbak Titan sering bilang kalau “harga tanah makin mahal!” Aku jadi lebih termotivasi untuk menabung. HAHAHAH!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s