Kembali dari Rumah

Untuk ke-8 kalinya, aku pulang ke Indonesia. Ke rumah, dari Amerika Serikat. Kali ini, untuk pertama kalinya aku naik Emirates, setelah 2 kali sebelumnya naik Cathay Pacific, satu kali naik Air India + Silk Air, 2 kali naik Japan Airlines, 1 kali naik All Nippon Airways, dan 1 kali naik Qatar Airways. Sebuah kejutan, karena aku bahkan ingat naik apa saja selama 8 tahun terakhir (atau sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, jika memikirkan bagaimana di beberapa postingan sebelumnya, aku benar-benar terhipnotis oleh burung besi dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya).

Meskipun aku sempat flu dan juga diare ketika pulang ke rumah selama beberapa minggu yang terasa sangat singkat itu, ketika aku berangkat, aku sangat bersyukur karena tidak sedramatis tahun-tahun sebelumnya yang disertai tangisan mengharu-biru dan rasa ditusuk-tusuk yang amat sangat ketika aku untuk terakhir kalinya melihat keluargaku di seberang jendela dari ruang check-in di Soekarno-Hatta.

Jika ada satu hal, yang membuatku lebih tenang dan tidak terlalu cengeng saat berangkat ke Amerika Serikat lagi, hal tersebut mungkin adalah bagaimana aku mulai sedikit berdamai dengan diriku sendiri.

Sedikit banyak aku sudah mafhum, apa saja konsekuensi dari melanjutkan jenjang pendidikan dari satu ke yang lainnya. Satu hal yang paling jelas, adalah bagaimana aku melihat karir teman-temanku di ibukota yang sedikit demi sedikit makin tinggi. Mereka mulai berinvestasi macam-macam dengan tabungannya. Bahkan topik di grup lingkaran pertemanan kecilku sudah berubah, menjadi bagaimana caranya untuk lebih melek finansial dan bagaimana caranya mencicil rumah. Sementara aku sendiri, lebih sadar diri saja soal tabunganku yang pas-pasan dan terhitung di bawah garis kemiskinan (untuk standard orang Amerika Serikat, haha). Aku sendiri tak ingin mengetatkan ikat pinggangku berlebihan, karena S2, S3 itu cukup berat. Aku butuh hiburan, yang kadang harus dibeli. Buatku, untuk saat ini, kesehatan jiwa dan raga adalah prioritas nomor satu. Menabung itu juga prioritas, tetapi tidak setinggi kesehatan jiwa dan raga.

Konsekuensi lain dari masuk dari satu sekolah ke sekolah lainnya adalah bagaimana secara tidak sadar aku terkungkung dalam ‘kemewahan’ menjadi seorang mahasiswa. Aku tak perlu memikirkan banyak hal yang orang dewasa lain seumuranku pikirkan, hanya karena aku jatuh dalam label ‘mahasiswa’. “Iya, kamu nggak perlu mikirin bagaimana mencicil rumah dulu, toh kamu masih sekolah.” “Ngapain repot-repot mikirin biaya pendidikan anak, kan kamu juga nikahnya masih setelah beres sekolah dulu?” “Wah, kamu dapat diskon mahasiswa untuk apa-apa. Dengan KTM pun kamu bisa mendapatkan fasilitas gym gratis, tiket masuk ke museum gratis, langganan sewa sepeda yang jauh lebih murah, dan sebagainya.” Teman-temanku yang sudah kerja di sini, bahkan bilang, “Iya, nggak ada lagi student benefit. Kamu harus beli langganan gym-mu sendiri, harus bayar apa-apa dengan harga penuh. Gajimu yang kamu kira besar, ternyata potongan pajaknya pun besar. Akhirnya, kamu kira dengan bekerja kamu bisa mendapatkan uang yang lebih banyak, tetapi safety net yang ditawarkan universitas ternyata hal yang sangat mahal.”

Pikiran-pikiran seperti inilah yang membuatku sedikit banyak tertekan. Kemudian, aku juga mulai memikirkan, dengan biaya kuliahku yang habis sekitar $80,000 per tahun (dengan kurs USD Rp 15.000,00 seperti sekarang, totalnya menjadi sekitar Rp 1,2 milyar), aku merasa berkewajiban untuk mendapatkan pekerjaan yang sepadan dengan harga yang dikeluarkan, meskipun sebenarnya uang sebanyak itu bukan dari kocekku, atau keluargaku sendiri (bahkan bukan dari Indonesia, haha).

Jadi, soal pekerjaan setelah lulus yang sedang kupikirkan matang-matang, selain ada ketakutan soal bagaimana aku tidak bisa mengembangkan diriku semaksimal mungkin/ tidak bisa melakukan penelitian atau riset yang kuinginkan, ada sedikit kekhawatiran soal finansial juga. Apalagi saat aku membandingkan diriku dengan teman-temanku.

Karena itulah, pilihanku sempat jatuh pada bekerja di luar negeri. Hal ini, di kepala rasionalku, adalah pilihan yang paling baik secara hitung-hitungan gaji, return of investment dari pendidikanku, dan juga kesempatan untuk menjadi apapun yang kumau dan melakukan apapun yang kuinginkan dengan sekian tahun pendidikanku di sini.

Tetapi hal ini tidak membuat pikiran dan hatiku damai. Setiap pulang ke Indonesia, aku bertanya-tanya, harus berapa kali lagi aku berada dalam trampolin antara Indonesia dan Amerika Serikat? Jawabannya tentu saja angka yang sangat besar, jika memperhitungkan keinginanku untuk bekerja di luar negeri. Jika sudah kerja, jatah cutiku akan semakin sedikit dan tidak sefleksibel sekarang sebagai mahasiswa yang jatahnya dapat 2 minggu tapi bisa dengan fleksibel kugunakan. Mungkin aku tidak bisa pulang tiap tahun, dan seketika, aku mulai memikirkan keluargaku.

Tak ada keluarga yang sempurna di dunia. Tetapi dengan segala ketidaksempurnaannya, aku tetap merindukan keluargaku dari waktu ke waktu. Apalagi memikirkan fakta bahwa aku sudah ‘keluar’ rumah sejak usia remaja tanggung. Sepertinya, ada banyak hal soal rumah yang tak kudapatkan, yang orang lain dapatkan di sekian lama mereka berada di rumah. Faktor keluarga ini, adalah salah satu faktor yang tidak kumasukkan dalam hitung-hitunganku soal bekerja di luar negeri.

Aku kemudian memutuskan, bahwa memang baiknya adalah aku mengikuti apapun yang akan terjadi nanti. Aku tidak bisa memandang sebelah mata opsi bekerja di Indonesia, karena dengan begitu aku jadi jauh lebih dekat dengan keluargaku, dengan orang-orang yang kucintai, dengan teman-teman yang sangat aku rindukan tiap tahunnya. Ada hal emosional yang tidak bisa dikuantifikasi yang juga menjadi sangat penting soal perkara bekerja di Indonesia vs. bekerja di luar negeri.

Dan saat aku menyadari hal tersebut, dan membuka diriku seluasnya, akan kesempatan untuk pulang ke Indonesia setelah beres dengan pendidikanku, seketika itu juga aku merasa lega. Sepertinya hatiku sebenarnya dari kemarin ingin mengatakan bahwa faktor jarak dengan keluarga sangat penting, tetapi pikiranku tak menangkapnya, hingga akhirnya mereka berdua berseteru satu sama lain, yang membuat pikiran dan hatiku tak tenang setiap kali aku kembali ke Amerika Serikat.

Aku berangkat dari Husein Sastranegara tahun ini dengan langkah yang sedikit lebih ringan dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak apa-apa, setelah beres pendidikanmu di Amerika Serikat, kamu bebas memilih, apakah kamu ingin berada lebih dekat ke rumah atau tetap tinggal di luar negeri dan mencari pekerjaan di sana, begitu pikiranku berkata.

Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja, begitu kataku saat Air Asia lepas landas di sore yang cerah itu. Meninggalkan Bandung, menuju Singapura, tempat transit pertamaku.

Tidak apa-apa, kamu tak berkewajiban menjadi apapun yang orang-orang asumsikan dengan pendidikanmu.

Tidak apa-apa, kamu bebas memilih. Kamu bisa menjadi dosen, peneliti, konsultan, atau staff ahli. 

Tidak apa-apa, semuanya akan berjalan lancar. Dalam jangka panjang, kekhawatiran-kekhawatiran kecilmu yang terasa menekan sekarang, tidak akan berarti apa-apa. 

Tidak apa-apa, kamu bisa bertemu lagi orang-orang yang kamu sayangi tahun depan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s