Tidak Efektifnya Proses Boarding di Pesawat

Sebagai anak kemarin sore yang tiba-tiba diberi kartu kredit korporat untuk memudahkan perjalanan bisnis, aku kadang kegirangan sendiri. Sama dengan satu kredit lainnya yang kuterima untuk memudahkan pembelian barang-barang kebutuhan lab. Akuilah, membeli sesuatu, apalagi bukan dari kocekmu sendiri, meskipun itu hanya disposable pipette tips atau empat pak microscope glass slides, yang nggak bisa dimakan apalagi dikunyah, itu tetap menyenangkan. Sama dengan perjalanan bisnis. Mungkin karena aku belum sering-sering pergi, satu semester paling hanya dua-tiga kali. Kalau nanti sudah jadi konsultan yang kerjaannya terbang ke sana kemari tiap tiga hari sekali, setidaknya begitu kata temanku yang kerja sebagai konsultan di Washington, D.C., berada di tempat tinggal selama lebih dari 4 hari adalah sebuah kemewahan.

Anyway, perihal soal terbang wara-wiri ke sana kemari, sebagai manusia yang nggak mau rugi, aku sudah daftar sekian banyak Frequent Flyer program, berharap pada satu waktu aku akan terbang cukup sering/ cukup jauh untuk mendapat poin yang signifikan dan bisa ditukarkan dengan berbagai benefit, Wi-Fi gratis di atas awan, misalnya. Sedikit cerita soal Wi-Fi gratis: suatu waktu aku sangat girang karena sudah dapat poin yang cukup untuk menukarkan Wi-Fi gratis untuk perjalanan 15 jam dari Boston Logan ke Tokyo Narita. Hanya saja, entah mengapa, maskapai tersebut tidak memberikan kode penukaran atau apapun itu hingga hari ini. Musnah sudah impian menukarkan poin Frequent Flyer untuk suatu hal, apapun, yang konkret.

(Ketahuan sekali aku sudah lama tidak nulis. Topiknya ke mana-mana.)

Kembali ke topik awal: terbang. Bersama dengan kolega lain dari lab, aku biasanya mencoba mereservasi tiket dengan maskapai dan jam penerbangan yang sama dengan mereka, semata-mata untuk alasan convenience. Supaya di bandara tujuan, tidak saling tunggu-menunggu, dan bisa langsung ke tempat rental mobil dan setelahnya, ke tempat tujuan. Hanya saja, waktu reservasinya tak pernah pas, sehingga seringnya aku tak kebagian. Kemarin, akhirnya aku terbang di penerbangan yang sama dengan mereka. American Airlines, lebih tepatnya. Kolegaku yang satu ini punya strong belief, yang entah muncul dari mana, bahwa pelayanan American Airlines lebih baik dibandingkan Delta, apalagi United. Aku sendiri lebih senang JetBlue, lagi-lagi, karena alasan Wi-Fi gratis. Hehe.

Dia bilang, “Iya, entah kenapa aku selalu dapat boarding group 6. Nggak pernah lebih awal.”

Aku menilik boarding pass-ku. Sama-sama grup 6 juga. Meskipun aku tahu persis, aku baru booking tiketku seminggu yang lalu, dengan harga yang sudah agak mahal.

Lalu aku penasaran, atas dasar apakah maskapai penerbangan membagi grup-grup boarding ini? Seberapa efektif mereka? Seperti yang kita ketahui, sebagai orang yang selalu merutuk sendiri dalam hati karena orang yang duduk di depan butuh waktu lama menaruh barang-barang mereka di overhead compartment dan menahan antrean passenger yang duduk di belakang, kita tahu persis bahwa proses boarding ini jauh dari kata efektif.

Aku menemukan jawaban yang kucari-cari di sebuah artikel dari Wired.

Jason Steffen, seorang astrophysicist dari Northwestern University, melakukan simulasi untuk mencari tahu bagaimana cara paling efektif untuk proses boarding. Dengan komputer simulasi, dia menemukan jawabannya.

Berdasarkan hasil simulasi yang dilakukan Steffen, beginilah metode paling efektif untuk proses boarding.

Jadi, metode paling efektif, not surprisingly, adalah dengan memberikan nomor urut ke tiap penumpang, dari belakang sampai depan, berselang-seling. Misalnya, dimulai dengan baris ganjil terlebih dahulu, lalu baris genap setelah semua kursi baris ganjil terpenuhi. Kursi paling belakang dan paling luar (dekat jendela) boarding pertama. Setelah kursi paling dekat jendela penuh, dilanjutkan dengan kursi tengah, lalu terakhir, kursi di gang. Kalau ditulis loopnya, kira-kira seperti ini.

urutanBoarding

Meskipun metode seperti ini terbukti paling efisien, dalam pelaksanaannya, tentu saja jauh lebih rumit dari ini, sehingga maskapai penerbangan enggan menerapkannya.

Bayangkan kalau seorang anak umur lima tahun duduk di sebelah kedua orangtuanya, dan harus terpisah dalam proses boarding. Apa nggak nangis nanti anaknya? Begitupun kalau bepergian dengan orang tua yang sudah sepuh.

Selain itu, alasan lainnya adalah overhead compartment space, alias tempat penyimpanan kabin. Setidaknya di penerbangan domestik Amerika Serikat, hal ini merupakan hal yang krusial, karena pembelian tiket tidak disertai dengan bagasi cuma-cuma. Checked baggage membutuhkan kita merogoh kocek ekstra minimal $25, dan memaksa kita untuk mencari koper kita di conveyor belt setelah penerbangan. Belum lagi, kadang bagasi kita hilang entah ke mana, dan membuat kita kebingungan setengah mati karena tiba di kota tujuan tanpa sandang di tangan. Karena itu, semua orang, bepergian dengan carry-on dengan roller-nya, yang ukurannya tentu saja ngepas kabin. Sayangnya, kabin pesawat tidak punya ruang yang cukup untuk roller carry-on semua penumpang. Alhasil, mereka yang boarding duluan, bisa mendapatkan ruang tersebut, sementara grup yang terakhir boarding ya wassalam, mereka terpaksa harus men-check bagagge mereka dan rela membuang waktu 15 menit setelah penerbangan mencari koper mereka yang terlihat sama dengan koper orang lain.

Boarding group telah menjadi, lagi-lagi, satu hal lainnya yang dijual. Maskapai penerbangan rela mengorbankan airtime (waktu pesawat berada di udara vs. waktu pesawat berada di darat) supaya bisa mendiskriminasi penumpang lebih jauh, dan mengeruk keuntungan sedikit lebih banyak.

Ingin kursi yang lebih luas? Bayar ekstra. Ingin boarding lebih awal? Bayar ekstra. Ingin makanan berat? Bayar ekstra.

Selain itu, setidaknya di Amerika Serikat (entah kalau di Indonesia/ Asia), ada satu hal lagi yang menentukan kasta boarding di dalam penerbangan: credit card. Jika kita punya kartu credit card tertentu, kita bisa boarding lebih awal, dan diprioritaskan dalam upgrade list penerbangan. Upgrade list ini adalah daftar upgrade, di mana kita bisa minta untuk berada di business class jika kursi di kelas tersebut belum penuh.

Berikut ini contoh boarding group dari 3 giant airlines di Amerika Serikat, yang kukutip dari USA Today.

American

Pre-boarding: Concierge key members; families with small children may pre-board upon request, see gate agent

First group: First class; active-duty U.S. military with military ID; Business Class on a two-class international aircraft

Second group: Executive Platinum; oneworld Emerald; Business Class on a three-class aircraft

Third group: Platinum; Platinum Pro; oneworld Sapphire credit card holders

Fourth group: Gold; oneworld Ruby; Alaska Airlines MVP members; AirPass; Premium Economy; Citi AAdvantage Executive card members customers who bought priority boarding

Fifth group: Main Cabin Extra; Eligible AAdvantage credit cardmembers; Eligible corporate travelers

Sixth group: Main cabin

Seventh group: Main cabin

Eighth group: Main cabin

Ninth group: Basic economy

Delta

Pre-boarding: Customers needing assistance or additional time to board, including families with car seats or strollers

First group: Delta One customers; First Class customers; Diamond Medallion members

Second group: Platinum Medallion members; Gold Medallion members; Delta Comfort customers; Flying Blue Platinum and Gold members; Virgin Atlantic Flying Club Gold members; Virgin Australia Platinum and Gold members; GOL Smiles Diamond members; SkyTeam Elite Plus members

Third group: Silver Medallion members; Delta Corporate Travelers; Priority Boarding Trip Extra customers; Gold, Platinum and Reserve Delta SkyMiles Credit Card members; Flying Blue Silver members; Virgin Australia Velocity Silver members; GOL Smiles Gold members; Sky Team Elite Crossover Rewards; SPG Platinum members

Fourth group: Main cabin

Fifth group: Basic Economy Passengers (E); main cabin passengers booked in T, X and V fares

United

Pre-boarding: Unaccompanied minors; customers with disabilities; uniformed members of the U.S. military; families traveling with children age 2 and younger; United Global Services members

First group: Premier 1K; Premier Platinum; Premium cabins (United Polaris first class, United Polaris business class, United First and United Business)

Second group: Premier Gold; Star Alliance Gold; Premier Silver; Star Alliance Silver; customers who have purchased Premier Access; United MileagePlus Explorer, Club, Presidential PlusSM and Awards cardmembers

Third group: Economy plus

Fourth group: Economy

Fifth group: Basic Economy

Jadi, untuk #sobatkismin sekalian, termasuk aku, selama kita masih mencari tiket termurah dengan membandingkan SkyScanner, StudentUniverse, Kayak, Travelocity, Expedia, dan sebangsanya, mungkin kita masih perlu sedikit bersabar. Mungkin di penerbangan domestik Amerika Serikat masih perlu ikhlas untuk jalan ke baggage claim setelah mendarat, rela bagasinya kadang hilang atau tertukan, dan juga sabar melihat orang-orang yang duduk di kelas bisnis (yang entah mengapa, rata-rata dikuasai bapak-bapak berkulit putih, setiap aku terbang domestically).

Lalu kemudian, aku bertanya-tanya, bagaimana dengan pesawat trans-Pasifik atau trans-Atlantik yang penumpangnya sekitan ratus itu, dan taruhannya lebih besar kalau proses boarding-nya kurang efektif dan membuat jadwal terbang mundur?

Image result for japan airlines seat map
Layout JAL ini diambil dari sini.

Mungkin bisa jadi side project yang kupikirkan kapan-kapan.

3 thoughts on “Tidak Efektifnya Proses Boarding di Pesawat

  1. (Ketahuan sekali aku sudah lama tidak nulis. Topiknya ke mana-mana.) ==> Hei, kok anda bisa membaca hati pembaca sih? Baru juga aku membatin.. trs nemu kalimat kak Tan tadi 😀

    ^dariku yg suka nulis postingan asal jadi

    Like

  2. Kak aku mau tanya apakah untuk mendaftar PhD economics di MIT masih terdapat probabilitas diterima yang tinggi jika tidak mempunyai pengalaman riset, dengan asumsi ipk sarjana 3,9, skor GRE yang tinggi dan letter of recomenddation dari dosen yang non profesor yang isinya keaktifan dikelas ? Karena kita di indonesia sulit mencari pengalaman riset dan publikasi karna pihak kampus tidak menyediakannya

    Like

    1. Saya kurang tahu. Satu-satunya orang yang saya tahu masuk ke program PhD economics di MIT adalah temanku waktu UWC, dari Vietnam, dan dia S1-nya di Princeton. He did have very good GPA, GRE, and letter of recommendations. Riset dan pengalamannya juga sangat bagus. Saran saya, kalau bisa ambil master di luar (kalau belum) untuk persiapan dan ambil riset terlebih dahulu.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s