Alkisah: Keran

Bisa dibilang, aku sangat pemilih, sangat particular, akan beberapa hal yang menurut khalayak banyak tidak penting untuk dipermasalahkan. Asal berfungsi, mengapa tidak? Tetapi belakangan ini, aku tidak bisa berhenti memikirkan hal ini. Anggap saja aku aneh, atau memiliki disorderbila kalian suka.

Ini soal keran air. Heads-up, aku tidak sedang mencoba berfilosofi ria di sini, jadi jangan coba cari hubungan keran dengan alam hidup raya.

Di Indonesia, orang tidak peduli. Mau keran yang diputar, yang dipencet, atau yang dengan gerakan tangan wus-wus (yang katanya untuk meminimalisir kontak antar-manusia, dan sejatinya, meminimalisir penyebaran virus, bakteri, atau apalah), orang-orang tidak mau tahu. Asal kerannya jalan dan tidak berhenti, itu lebih dari cukup.

Permasalahan keran ini muncul dan mengganggu pikiranku sejak sekitar 4 tahun lalu pindah ke Inggris untuk setahun. Di sana, keran air panas dan air dingin itu terpisah. Sungguh dilema, kalau ingin cuci tangan: air dinginnya terlalu dingin dan air panasnya terlalu panas. Sering sekali, setelah beres cuci tangan, tanganku merah-merah karena air panas.

Kalian juga mungkin bisa mengerti, di negara tropis seperti Indonesia, masalah sepele macam keran ini tak akan jadi masalah besar, karena keran air dingin pun cukup untuk kita (lagi-lagi, kecuali, kalau kamu tinggal di pegunungan di Bandung, yang kadang airnya bisa menyentuh 15 derajat Celsius).

Sumber foto. Keran Inggris.

Ternyata, Buzfeed punya jawaban atas pertanyaanku.

Ternyata, alasannya adalah untuk menjaga air minum dari kontaminasi. Tempat penyimpanan untuk air panas, sering kali terkontaminasi, dan bisa jadi berbahaya untuk diminum langsung. Selain itu, beberapa website juga bilang kalau air panas lebih gampang melarutkan ion-ion, termasuk metal ions, apalagi jika bangunan yang kita tinggali dibangun dengan plumbing system dari timbal/ lead/ Pb. Timbal, seperti yang kita ketahui, bisa menghambat tumbuh kembang kognitif bayi/ anak, dan juga bisa mengakibatkan kanker.

Oke, masuk akal. Tetapi, tetap saja, keran yang air panas dan dinginnya itu menyatu, lebih convenient; apalagi untuk wastafel kamar mandi yang mana hanya kita gunakan untuk cuci tangan.

Beruntungnya, aku menemukan sebuah report dari tahun 1991, yang menyatakan bahwa secara umum, air di kampusku itu aman dan layak untuk diminum. Secara umum, teknologi filtrasi air minum sudah cukup maju, dibandingkan tahun tersebut. Jadi, sepertinya, aku tidak terlalu khawatir.

Tetapi, lagi-lagi, aku harus mengaku, bahwa aku sangat pemilih, sangat particular masalah keran ini. Untungnya, keran air panas dan air dingin di Amerika Serikat tidak terpisah seperti di Inggris. Aku sadar, keran di dapur apartemenku, sebenarnya agak inconvenient.

Bentuknya kurang lebih seperti ini. Sumber foto.

Untuk mendapatkan air dengan level ‘kehangatan yang pas’, dibutuhkan sedikit waktu di awal, untuk meng-adjust kombinasi kedua keran air panas dan air dingin. Agak merepotkan, kalau misalkan kamu baru saja mengangkat panci panas.

Sedikit berlebihan, tetapi sekian tahun kuliah di kampus yang sama, mendorongku memiliki daftar toilet favorit. Iya, kedengarannya berlebihan dan borderline ridiculous, tetapi terkadang hal-hal rutin seperti ini, comes to you naturally. Jenis keran wastafel, adalah salah satu faktor penting. Aku menghindari keran yang wus-wus selama musim dingin, karena entah kenapa, hanya air dingin yang keluar. Padahal, setelah kulihat-lihat gambar teknik dari manual kerannya, harusnya yang keluar air hangat…

Si keran wus-wus. Sumber foto.

Yang paling nyaman, memang keran yang punya range dari air panas dan dingin (dalam satu keran). Karena sama seperti preferensi hal-hal lain, preferensi air hangat/ dingin/ panas pun tak bisa dipaksakan ke masyarakat luas. Keran yang bisa mengakomodasi spektrum air dingin, panas, dan di antaranya dengan baik adalah pilihanku.

Yang seperti ini: sempurna. Sumber foto.

Manual, tidak perlu baterai seperti keran wus-wus, jadi tak perlu kelimpungan kalau baterainya habis. Meskipun kalau di tempat umum sebenarnya sumber penyebaran virus, bakteri, dan sebagainya, tetapi kalau di kamar mandi/ dapur pribadi, memang enaknya yang seperti ini, bukan?

Begitulah kisah keran hari ini. Hal yang sebenarnya tidak penting-penting amat, tetapi hari ini aku putuskan merupakan hal yang penting. Karena rasanya menyenangkan menulis hal yang tak penting, drifting away dari hal yang selalu orang gadang-gadangkan sebagai hal yang penting.

Kata-kata terakhir yang tak kalah penting: sepertinya kalau butuh air panas memang baiknya menggunakan water boiler dari air dingin keran, kawan.

Advertisements

One thought on “Alkisah: Keran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s