Perempuan yang ‘Utuh’

Dengan santernya link tautan dari Mojok dan juga Magdalene soal isu hangat perempuan dan pernikahan di media sosial, mau tak mau, pagi ini aku bangun dan menyisihkan sedikit waktu untuk berpikir soal hal ini. Mau tak mau juga, aku terpaksa turun gunung dan berhenti sunyi di blog sendiri. Tenang, aku masih menulis, di media lain, berkedok anonim, haha. Padahal, ya, minggu ini ada ujian. Introduction to Manufacturing pula yang jumlah halaman readings-nya tidak tanggung-tanggung, bisa lebih dari 300 atau 400. Hal ini, mau tak mau, membuatku respect dengan manusia-manusia yang bekerja dan berjurusan bidang sosial. Maklum, enjinir sepertiku kadang kurang ajar dan memandang sebelah mata mereka yang main soft science.

Anyway, kalau misalkan direkapitulasi hasil dari artikel-artikel mengenai perempuan dan pernikahan yang tersebar di mana-mana, ada tiga kubu.

Kubu pertama menginginkan perempuan tidak lupa kodratnya bahwa mereka ‘pabrik anak’, maaf kalau kata-kataku kasar sekali. Bahwa sejatinya, perempuan dilahirkan untuk bereproduksi. Hal-hal lainnya, ya bolehlah mereka lakukan, tapi tetap harus ingat bahwa tugas utama adalah beranak-pinak.

Kubu kedua, adalah mereka yang berharap kalau perjuangan Kartini di zaman dulu tidak sia-sia. “Zaman smartphone begini, kok pikiran masih kolot? Perempuan harus independen, bebas melakukan apapun sekehendak hatinya tanpa didikte masyarakat patriarki!” Hal-hal semacam itu. Kalau kemarin di Amerika Serikat ada Women’s March, dan di Indonesia ada kegiatan ekuivalen, mungkin mereka akan jadi barisan terdepan dari aksi protes damai ini.

Kubu ketiga, adalah mereka yang mungkin pikirannya sudah seperti kubu kedua, tetapi merasa bahwa dengan kultur Indonesia yang masih begini, masih sulit sekali terbuka soal menjadi wanita yang sepenuhnya independen. Jadinya, ya asal bapak-ibu senang. Asal orangtua senang. Asal keluarga senang. Asal tidak memalukan. Juga asal-asal lainnya. Tetapi meskipun terlihat tenang di permukaan, di dalam sih pemikiran-pemikiran seperti ini bergolak dan membara. Bisa juga mereka-mereka yang membaca Magdalene minimal sekali sehari jatuh dalam kategori ini.

Tidak penting aku berada di kubu yang mana. Toh, aku bukan siapa-siapa, haha.

Tetapi ada beberapa orang yang tertarik dengan pandanganku soal ini. Tidak secara langsung, tetapi dengan cara menanyakan, “Jadi, Tan, rencanamu apa ke depan nanti?” yang seringkali kujawab singkat, “Aku ingin S3 dulu. Semoga lancar. Doakan, ya! :)” dan kutambah emoji senyum ekstra manis supaya ketegasanku tidak dilihat sebagai sesuatu yang negatif.

Wait, mengapa juga aku harus peduli kalau aku terlihat tegas tetapi tidak terlihat terlalu tegas? Salahkan pada kultur patriarki (lagi)!

Jika mereka kepalang nyaman denganku, pertanyaan lanjutannya adalah, “Loh, kenapa nggak nikah dulu aja? Kan sekalian ada yang menemani?”

Celakalah mereka yang bertanya seperti itu setelah hari panjang yang kulalui dengan berdiri dan panas-panasan di dalam blue apron mencampur bubuk Zinc dan hydrochloric acid  untuk melarutkan fluorine-doped tin oxide, salah satu tahap penting dalam membuat sel surya. Beruntung, kalian tak ada di hadapanku saat aku masih memegang satu jeriken penuh hydrochloric acid, bisa mampus nanti! Jawaban singkatku adalah petaka, karena kelelahan mencampur dan mengaduk bahan kimia.

Jika jawabanku panjang, berarti aku sedang berbaik hati. Aku yakin, bukan satu-satunya perempuan yang berkali-kali harus menjelaskan hal yang sama. So, I am doing you a big favor here, supaya jika di antara kalian, pembaca-pembaca setia yang sudah susah payah sampai di kalimat ini, bisa setidaknya mengambil satu-dua hikmah.

Satu, keputusan untuk menikah ketika kuliah, apalagi S2 atau S3, tidak semudah itu. Apalagi kalau kuliahnya di luar dan bergantung dengan beasiswa. Tak semua beasiswa bermurah hati memberikan tunjangan-tunjangan untuk pasangan si penerima beasiswa.

Apalagi, di Amerika Serikat belakangan ini, ada isu-isu kalau pajak untuk graduate students akan ditambah lagi. Aduh, Pak, Bu, saya saja sekarang tiap bulan stipend-nya dipotong sekitar 7 juta rupiah untuk bayar pajak. Kalau hukum baru ini lolos, bisa-bisa aku harus bayar dua kali lipatnya! Aku dan sekian ribu mahasiswa/i MIT terancam busung lapar.

Lain halnya, kalau misalkan si pasangan juga kuliah di tempat/ kota/ negara yang sama dengan beasiswanya sendiri. Itu terserah dia.

Dua, setelah 1,5 tahun mengenyam pendidikan S2 di sini, aku sadar kalau S1 kemarin bukan apa-apa. Rasanya kalau S1 kemarin lebih pada lari sprint atau 5K-lah maksimal, kalau S2-S3 sekarang rasanya seperti maraton. Panjang, dan membutuhkan konsistensi dan persistensi. Mungkin itu alasannya, menjadi pintar bukan jaminan, yang lebih penting adalah manajemen waktu dan stress.

Konsistensi dan persistensi diterjemahkan sebagai mendisiplinkan diri sendiri. Meskipun tak ada lagi Pak Bos (alias professor) yang mengawasi, sekian jam per minggu harus dihabiskan untuk riset. Progress boleh kecil, yang penting konsisten. Kadang harus rela, menghabiskan Sabtu dan/ atau Minggu di kampus. Ya, mungkin satu hal lagi yang dipelajari: rela untuk belajar dan mengakui kalau bodoh. Karena ilmu yang kita terima selama jenjang S2 atau S3, membuat kita jauh lebih humble dan jumlahnya tak bisa dikuantifikasi, berbeda dengan ilmu yang  didapat waktu S1 yang dengan mudahnya diberikan angka dari skala 100 atau A-E saat ujian.

Mungkin ada orang-orang yang bisa membagi fokus mereka, dan they are working just great dengan pasangan mereka ketika berada di jenjang pendidikan ini. Tetapi, tidak banyak juga yang harus rela mengakui bahwa fokus mereka tidak bisa terbagi; dan hal itu baik adanya, ‘kan yang penting aware dengan kondisi masing-masing.

Tiga, ketika orang lain di sekitar sudah memutuskan untuk settle dengan satu orang saja selama puluhan tahun ke depan, bukan berarti kita harus merasa ‘terpaksa’ untuk cepat-cepat memutuskan juga. Tak ada latar kehidupan yang sama antara satu orang dan orang lainnya, so there is no reason to force people into making that decision. Boleh lah si A dan si B satu kantor, satu almamater, atau satu tanggal kelahiran; tetapi, ketika si A memutuskan untuk menikah, bukan berarti si B juga harus segera menikah supaya tidak ‘tertinggal’.

Merasa ‘tertinggal’ ini adalah momok yang menyeramkan, dan menggerogoti perlahan-lahan. Aku punya beberapa teman, semoga kamu tidak merasa tersindir, merasa sangat yakin bahwa dirinya ingin menikah setelah melakukan A, B, C, D sebelum settle pada satu orang, lalu sekitar 2 tahun terakhir mulai melas-melas tidak jelas karena ‘belum ada laki-laki yang mau’ dengan dia. Usut punya usut, geng kantornya di ibukota sering sekali ngopi cantik, dan kalaupun lembur mengejar target laporan ke Pak Bos, topik yang dibicarakan ya tidak jauh-jauh soal wejangan-wejangan dari ‘senior’ yang kebetulan sudah nikah duluan. Padahal, bukan berarti mereka pakar soal kehidupan pernikahan juga, tetapi ya mereka dianggap ‘pakar’ karena sudah menang lotere duluan dan menemukan orang yang mereka rasa bisa kompromi bersama selama puluhan tahun ke depan.

“Katanya, makin kita menunda nikah, makin sedikit cowok ‘available‘, Tan, di mana kita bisa pilih-pilih dengan leluasa.” (Faktanya, banyak pria yang masih menunggu hingga siap dan tidak terburu-buru. If you can’t find the one you like in one place, that’s a sign that you may have to look somewhere else.)

“Katanya perempuan punya limit masa suburnya, Tan. Aku ingin melahirkan anak yang sehat secara fisik dan mental.” (Hal ini memang didukung beberapa riset, bahwa melahirkan di usia yang lebih tua memang resikonya lebih tinggi. Tetapi bukan berarti hal ini tidak ada mitigasinya, seperti pola hidup sehat, dan sebagainya.)

Empat, oke lah jika teman-teman sudah tidak mau ribut-ribut soal kapan kita menikah. Tetapi, masih ada keluarga, apalagi kalau Bapak dan Ibu yang minta langsung untuk menimang cucu. Beruntungnya, keluargaku tidak seperti itu. Di telepon pun mereka tidak bertanya, “Jadi bagaimana? Sudah ada gandengan?” tetapi bertanya, “Kuliah bagaimana? Banyak ujian? Pulang dari kampus jam berapa?”

Bagiku, yang satu ini memang urusan yang pelik. Urusan keluarga selalu pelik, tetapi tak bisa dijadikan alasan untuk memutuskan menikah terlalu cepat saat belum siap. Sering sekali kita merasa tidak enak, karena kita seolah bertangungjawab atas sekian banyak uang yang dikeluarkan orangtua kita untuk membesarkan kita. “Ya, lagipula kan gampang sekali balas budinya, tinggal bikin anak. Ya, ‘kan?” mungkin ada yang bilang seperti itu. Tetapi, percayalah, tak ada yang orangtua lebih ingin lihat kecuali kepuasan anaknya terhadap pilihan-pilihan yang dibuat sendiri.

Memang agak sulit urusannya kalau orangtua sudah sampai pada tahap kasih-cucu-atau-nggak-usah-pulang-kampung-sekalian! Apa boleh buat, sebagai anak yang ingin selalu menjadi anak yang baik, tak ada hal lain yang bisa dilakukan kecuali berbesar hati. Karena orangtua semakin tua, dan secara tak langsung mereka merasa kehilangan perhatian dari anak-anaknya yang semakin sibuk dengan urusan kantor dan ini-itu yang mereka tak peduli seujung kuku pun. Mungkin, yang mereka inginkan adalah interaksi hangat yang sudah lama tidak dilakukan dengan kita. Jika sambungan telepon, baik itu via ponsel konvensional, atau via WhatsApp/ Line, sudah tidak mampu mengobati kangen mereka yang berwujud ‘mama-minta-cucu’, ada baiknya mengunjungi. Apalagi kalau kalian masih satu pulau. Apalagi kalau hanya jarak Jakarta-Bandung. Macet 5 jam bukan apa-apa (… dibandingkan aku yang harus terbang berpuluh jam dan merogoh kocek belasan juta rupiah bolak-balik; bersyukurlah kalian!).

Mungkin awalnya, ada rasa ‘menaruh muka di tempat sampah’ (phrase yang kuambil dari temanku, yang intinya merasa malu, kikuk, aneh, ketika mengakui sepenuhnya satu hal yang terasa memalukan dan harga diri rasanya ditaruh di titik terbawah), tetapi hal itu akan lambat-laun memudar, digantikan hubungan orangtua-anak yang lebih kuat.

Karena sungguh, di balik mama-minta-cucu, ada rasa haus perhatian yang berlarut.

Lima, sudah memiliki gandengan bukan berarti harus terburu-buru untuk memutuskan masuk ke jenjang berikutnya. Aku (dan mungkin beberapa teman sekalian) mungkin adalah penganut harus mengenal sebaik-baiknya, sebelum memutuskan. Sepengamatanku, laki-laki (dan juga perempuan), tidak benar-benar menunjukkan seperti apa mereka hingga sekian bulan atau tahun kemudian setelah perkenalan. Ada keharusan untuk menampakkan sisi terbaik di awal-awal, karena tak ingin mencederai prospek mereka bersama kita, ceilehFamous quote ‘Don’t judge a book by its cover’ mungkin ada benarnya. Tunggu sampai merasa nyaman dengan satu sama lain, dan barulah nilai di titik tersebut.

Sebagai manusia yang boleh dibilang kadar pasif-agresif-nya lumayan di atas rata-rata, bagiku sendiri, sangat penting melihat kecocokan meng-handle gesekan-gesekan dan perbedaan pendapat. Jika tidak kompatibel, dan tidak bisa dikompromikan, apa boleh buat, adios!

Terakhir, ke-‘utuh’-an dan ke-‘paripurna’-an seorang perempuan tidak bisa dinilai hanya dari apakah dia sudah menikah apa belum, menurut pendapatku pribadi. Kita lihat, misalkan perempuan A yang kebetulan sudah menikah di usia sangat belia (belasan tahun, misalkan) karena katakanlah, pemaksaan orangtua/ kondisi, bisa dibilang lebih ‘utuh’ daripada perempuan B yang mapan, accomplished di bidang yang sesuai dengan passion-nya, tetapi belum menikah? Belum tentu juga.

 

utuh1

‘Sempurna sebagaimana adanya’, adalah definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk kata ‘utuh’. Karena itu, ‘perempuan yang utuh’ bisa jadi hal yang sangat subjektif. Jika perempuan A puas dengan keadaannya, kita bisa panggil dia sebagai seorang yang ‘utuh’, begitupun dengan perempuan B. Ke-‘utuh’-an perempuan tidak bisa dinilai oleh masyarakat, tetapi subjeknya sendiri yang merasakan. Lalu, jika belum merasa ‘utuh’, itu hak masing-masing, baik itu membiarkan diri merasa seperti itu, atau mencari cara untuk menjadi ‘utuh’. Hal personal yang dialami tiap perempuan (dan laki-laki) ini, sejatinya tak ada hubungan sama sekali dengan manusia-manusia luar seperti aku dan mungkin kalian. Termasuk orangtua yang mengharapkan anaknya menyandang gelar ‘dadi wong‘ (jadi orang) yang usut punya usut hanya bisa dicapai kalau menikah.

Biarkanlah. Lepaskanlah. Jika tak ingin mendengarkan perkataan-perkataan seperti itu, tutup saja telingamu.

Bagiku sendiri, ada hal-hal lain yang lebih menyita perhatian dibandingkan, “Kapan sebaiknya aku menikah? Dengan siapa? Lebih baik secepatnya atau nanti?”

Belakangan ini, aku berpikir, kalau dihitung-hitung probabilitas orang dengan kesempatan yang kumiliki, rasanya kecil sekali. Karena itu, berpuluh juta kali sudah aku mungkin merasa, bahwa aku terlalu beruntungLalu, secara tak langsung, aku pun memikul sedikit beban ekstra dari orang-orang yang sangat-ingin-sekali berada di posisiku sekarang, dan living up to their expectation. Oke, hal ini boleh saja aku abaikan dan tak pedulikan, tetapi setelah kupikir-pikir, rasanya tak mungkin. Ada banyak potensi di genggaman tanganku.

I need to make the best out of the opportunities I’m presented with. 

Tak hanya karena merasa ‘bertanggungjawab’ terhadap kesempatan yang diberikan, tetapi juga karena, aku tak ingin setengah-setengah, aku menyenangi hal yang kulakukan saat ini.

Jadi pertanyaan yang lebih menyibukkan kepalaku adalah, “Impact seperti apa yang ingin kuberikan? Bagaimana cara mendapat maksimum impact per effort sesuai dengan keahlianku? How does that change who I wanna be in the future?”

*

Jadi kembali ke pertanyaan awal, kira-kira aku berada di kubu yang mana? Sepertinya kubu keempat: kubu yang menonton orang-orang saling silang pendapat dengan sengit di media sosial sambil makan berondong jagung. Juga kubu yang merasa bahwa harus ada jauh lebih banyak perempuan Indonesia yang ingin S3 dan bisa S3 tanpa banyak berpikir macam-macam, seperti soal ‘aku takut laki-laki kabur karena aku ketinggian‘ atau ‘S3 itu kelamaan, kapan nikahnya?.

2.000 kata, sudah. Mungkin ini adalah post terpanjang di blog ini. Selamat, karena kamu telah berhasil menyelesaikannya!

*Special thanks to A, B, dan C, yang membuatku berpikir soal dekonstruksi ke-‘utuh’-an perempuan di Minggu siang bolong seperti ini. Jangan kapok untuk adu keras kepala denganku dalam beberapa waktu ke depan.

Advertisements

7 thoughts on “Perempuan yang ‘Utuh’

  1. “Sepengamatanku, laki-laki (dan juga perempuan), tidak benar-benar menunjukkan seperti apa mereka hingga sekian bulan atau tahun kemudian setelah perkenalan.”

    Mungkin juga si laki-laki atau perempuan seumur hidup menutupi atau tdk menunjukkan karakter aslinya demi menyenangkan pasangannya. Orang seperti ini bagai memiliki kepribadian ganda: kepribadian di hadapan pasangannya dan kepribadian di belakang pasangannya. Jadi panjang/pendek durasi hubungan tdk menjamin genuineness si laki-laki/perempuan.

    Like

  2. I wish that GOP tax plan will not pass 😦 *salah fokus

    Btw, I AGREE, I second the statement “harus ada jauh lebih banyak perempuan Indonesia yang ingin S3 dan bisa S3 tanpa banyak berpikir macam-macam” I think we’re in the same kubu haha 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s