Personal Space?

Hal paling mudah, dalam perbedaan kultur, yang bisa dirasakan secara langsung seringkali tanpa kita sadari, adalah konsep personal space. Efeknya bisa kita rasakan secara langsung, nyaman atau tidak nyaman, awkward atau tidak awkward. Hal tersebut bisa kurasakan secara langsung, saat beberapa minggu lalu aku mengunjungi Jepang en route Indonesia.

Ketika kata culture shock mulai terasa asing, kemudian aku merasakan kembali hal tersebut.

Tokyo, tentu saja penuh sesak. Sebagai kota dengan kepadatan yang cukup tinggi di dunia, tak ada ruang gerak yang cukup di berbagai tempat umum.

Ambil contoh, di kereta bawah tanah. Ketika manusia-manusia Amerika akan mencoba sekuat tenaga mengambil jarak ‘aman’ dengan manusia-manusia lain di sekitarnya, orang-orang Jepang bahkan tidak merasa rikuh dengan menempelkan badan dengan orang lain, apalagi ketika rush hour. Yang penting dapat space dan bisa naik kereta pulang, mungkin begitu.

Menariknya, sosok lelaki sebagai ‘pelindung wanita’ bisa dilihat dengan jelas di Jepang. Terutama ketika aku berada di sebuah kereta JR, menuju tempat menonton kembang api di daerah Edogawa, Tokyo. Mbak-mbak dan juga adek-adek unyu berpakaian yukata seperti foto di atas sangat lazim terlihat saat perayaan kembang api musim panas ini. Bahkan mas-mas juga mengenakan hakama, berjalan dan bergandengan tangan dengan pasangannya. Sungguh, pemandangan di komik-komik Jepang itu benar adanya, dan tidak dibuat-buat. Karena setiap orang ingin menonton kembang api gratis selama 1,5 jam, kereta JR menuju tempat kembang api lama kelamaan makin penuh. Dan para lelaki ini akhirnya melakukan pose semacam kabe-don untuk ‘melindungi’ pasangannya dari orang-orang sekitar.

kabedon
Seperti ini.

Iya, romantis amat ya. Dunia manga benar-benar terjadi di dunia nyata. Di Amerika mana ada hal seperti ini di kereta bawah tanah. Yang ada biasanya pasangan-pasangan pelukan di pinggang, paling mentok.

Hal lainnya, masih berkaitan dengan personal space adalah bagaimana kalau misalkan di gang kecil kita tidak sengaja ‘menabrak’ orang lain. Tidak benar-benar menabrak sih, tapi semacam bertumbukan. Jika di Jepang orang-orang akan berusaha minggir seminggir-minggirnya agar tidak bertabakan in the first place, atau kalau sudah terlanjur, ya sudah, jalan terus. Sedangkan di Amerika Serikat, kalau hal tersebut terjadi, orang-orang akan dengan santai bilang, “Excuse me,” sekitar 9/10 of the time, sedangkan kalau di Jepang, orang-orang akan bilang, “すみません (sumimasen),” sekitar 1/5 dalam kejadian yang di sebutkan. Orang Amerika, secara umum, lebih sering bilang permisi/ maaf dari orang Jepang, menurut pengamatanku.

Lalu kemudian, pada akhir satu minggu perjalananku di Jepang, aku menyadari satu hal mengenai kultur mereka. Kultur mereka tidak sebasa-basi kultur Amerika Serikat, yang setiap pertemuan selalu disertai, “How are you?” dan kamu selalu harus menjawab, “Great, and you?” no matter how bad your day is, or how awful your feeling is. Sementara itu, sepengamatanku, tak ada basa-basi apa kabar di Jepang yang se-overused di Amerika Serikat.

Kultur mereka juga meminimalisir kontak dengan orang lain, dalam hal berbicara, terutama. Semua orang berdiri di kiri di elevator kereta atau tempat publik manapun (atau di kanan kalau di Osaka, entah mengapa Osaka dalam banyak hal selalu berbeda sendiri). Semua orang punya common knowledge tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan di tempat umum. Semuanya juga serba efisien, serba teratur. Kadang aku geleng-geleng sendiri. Amerika Serikat yang dulu menurutku serba teratur dibandingkan Indonesia, ternyata belum ada apa-apanya dibandingkan Jepang ini.

Kembali lagi, ke soal personal space. Orang-orang Jepang sepertinya lebih prefer untuk menyalip orang-orang di depannya langsung ketika trotoar padat dipenuhi orang-orang. Yang disalip pun biasa-biasa saja, dan tidak merasa apapun. Sementara itu, kalau di Amerika Serikat, orang-orang sepertinya expected untuk setidaknya bilang permisi.

jepang vs amerika
Kiri: personal space versi orang Amerika Serikat. Kanan: personal space versi orang Jepang.

Namun lagi-lagi, semua ini pengamatan dari mata orang awam yang kebetulan berada di Tokyo, Nagoya, Kyoto, Osaka selama 1 minggu. Mungkin tak benar seperti itu adanya. As usual, take it with a grain of salt, dear Readers.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s