Satu Dekade

Manusia-manusia berpakaian putih biru berkelebatan. Rusuh, berisik. Hingga Pak Cecep harus keluar dari kelas dan setengah berteriak, “Jangan ribut, anak-anak. Suara di dalam jadi tak terdengar.” Mereda? Tidak juga. Mereka akhirnya tetap mengobrol dengan suara yang dipaksa menjadi bisikan.

“Giliran aku, dong. Giliran aku!”

“Ih, kamu tadi sudah. Giliran aku.”

“Ya sudah.”

“Oke, kumulai, ya. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pembukaan. Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak setiap bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan…*”

*Side note: I’m surprised that I still remember some of the sentences now. I guess, it’s engrained in my brain.

Pagi itu, masih kuingat dengan jelas. Satu per satu nama anak-anak di kelas 8G dipanggil untuk dites pembukaan UUD 1945. Entah untuk apa. Supaya menjadi lebih nasionalis, mungkin. Asal tidak jadi ultranasionalis saja.

Giliranku sudah lewat. Nilainya kurang bagus. Aku lupa lima kata di tengah-tengah. Apa boleh buat, aku tak ahli menghapalkan kata per kata seperti ini. Lagipula, buat apa. Supaya ada titel, “Oh, tiap angkatan yang lulus dari SMP ini hapal pembukaan UUD 1945.”-kah?

Entahlah. Beberapa temanku yang juga sudah selesai bermain-main dengan ponsel mereka. Sekelompok teman cowok di pojokan dekat warung cekakak-cekikik tidak jelas. Dari raut muka mereka, aku tahu, mereka baru dapat stok .3gp baru.

Kemudian tidak disangka-sangka, ibu guru piket datang ke kelasku, mencari namaku. Aku agak kebingungan, buat apa namaku dipanggil?

“Kakakmu sedang menunggu di ruang piket.”

Tergesa-gesa aku segera berjalan ke sana. Kebingungan, ada apa kakakku yang harusnya masih jam belajar seperti ini malah ada di SMP-ku?

Di sana, berdirilah dia dengan rambutnya yang diikat, dengan seragam putih abunya, dan dengan wajahnya yang agak sembab. Tangisan yang sebelumnya dia coba tahan, akhirnya pecah lagi.

“Kita ke Jogja sekarang, Tan. Aku ditelpon, Mbah Kakung meninggal.”

Linglung. Tanpa banyak basa-basi, aku segera kembali ke kelas. Mengambil tas dan memasukkan bukuku. Minta izin ke Pak Cecep, ada urusan keluarga. Segera pergi. Tanpa menjelaskan apapun ke teman-teman yang bertanya mengapa aku pulang cepat hari itu. Dan untunglah, aku tak punya ponsel umur itu. Mungkin sudah berbunyi berkali-kali dengan banyaknya notifikasi yang masuk.

Setibanya di rumah, kulihat ibu menangis tak terkontrol. Tak habis-habis. Bahkan sepanjang perjalanan ke Jogja di mobil.

Kami sampai di Jogja ketika Mbah sudah dikuburkan. Lantunan ayat-ayat suci lamat-lamat terdengar dari mobil kami. Saat pintu mobil dibuka, lantunan itu bertambah jelas. Isakan ibu, pada saat yang bersamaan, tertelan. Di kepalaku, memori pertemuan terakhir dengan Mbah diputar-putar terus menerus, seperti ada tangan yang menekan rewind tiap memori itu habis diputar. Pesannya singkat, “Belajar yang rajin. Nurut bapak dan ibu.”

***

Satu dekade setelahnya, di hari yang boleh jadi berbeda jauh: lokasi, jam, kondisi; namun kesiapan menghadapi hal seperti ini masih tak ada. Rentan.

30 menit setelah mendapat kabar kalau Mbah koma, sebuah chat masuk. Lagi-lagi, kakakku lah yang mendapat kehormatan mengabarkan hal tersebut.

“Mbah meninggal.”

Tak ada innalillahi. Tak ada emoji sedih. Tak ada permintaan doa. Hanya mengabarkan. Singkat, padat, jelas. Mungkin juga terburu-buru untuk mengabarkan berita lelayu tersebut ke sebanyak mungkin orang.

Fokusku hilang malam itu. Bukan hanya sedih yang melingkupi, tapi juga kekesalan mendalam mengapa aku memilih untuk berada sejauh ini. Juga pikiran-pikiran tak karuan, apa jadinya kalau aku memutuskan untuk menetap di luar negeri dan berita duka seperti ini hanya bisa kujawab dengan chat singkat atau voice call.

Atau mungkin, aku harus berpikir ulang, untuk menjadi tidak sekonservatif ini dalam merespon  berita sanak saudara yang mangkat. Tak perlu melepas secara langsung. Tak perlu paying respect for the last time, sebelum dikuburkan. Toh meskipun aku tinggal di Indonesia, secara proksimitas, aku tetap akan tinggal jauh dari keluarga besarku yang sebagian besar berbasis di Jogja. Tak akan sempat mengantarkan mereka ke liang lahat, regardless.

Malam dan pagi itu, kantuk susah sekali datang. Pikiran seperti ini menyeruak. Dipadukan dengan memori-memori tentang Mbah.

Mbah yang hobinya wirid, terutama sesudah berangkat haji beberapa tahun lalu. Mbah yang tiap Maghrib dan Isya tak pernah ada di rumah, karena selalu berjamaah di surau dekat rumah. Mbah yang ketawa-ketiwi saat aku bercanda kalau kakakku arep rabi. Mbah yang semangat berkomunikasi dengan semua orang, meskipun pendengarannya sudah berkurang drastis dan alat dengar sekalipun tak bisa membantunya. Mbah yang tiap pukul empat sore selalu memasak air di atas tungku tanah liat, berbahan bakar ranting dan dedaunan pohon kelapa kering untuknya mandi sore. Beliau tak peduli sama sekali dengan asap tebal mengepul yang diproduksi tungku tersebut. Mbah yang secara geografis mungkin bingung di mana letak Amerika Serikat, tetapi selalu dengan bangga bercerita kepada tiap tamunya saat Idul Fitri kalau aku tak bisa mudik karena masih kuliah. Entah mengapa, beliau menganggap California dan Amerika Serikat itu sama, dan menyebutnya Pornia. Mbah yang hobinya ngangon sapi, dan menyiangi rumput di pinggir-pinggir sawah untuk makan sapinya. Mbah yang, entah mengapa, lebih memilih tidur di dipan kayu di luar rumah. Dan juga Mbah yang selalu duduk di teras rumah, di atas kursi bambunya, melihat ke jalanan kosong, menyapa tiap tetangga yang lewat, dan mungkin setengah menantikan anak dan cucunya pulang.

***

Memori sejelas itu tidak usang dimakan usia. Kehilangan selalu terasa pahit untuk yang ditinggalkan. Padahal, mungkin bagi yang meninggalkan, hal ini membebaskan. Membebaskan dari rasa sakit, membebaskan dari kungkungan tubuh yang renta, membebaskan dari gono-gini kehidupan yang melelahkan. Akan kebebasan itu, bukankah baiknya kematian itu dirayakan?

Selamat tinggal, Mbah-mbahku. Yang tenang di sana.

 

Advertisements

2 thoughts on “Satu Dekade

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s