Generasi Sekali Pakai

Labku kebanjiran. Setelah hari-hari musim panas yang suhunya sulit kutolerir, dan membuatku mendekam di dalam ruangan sepanjang hari, Rabu kemarin hujan turun tak berkesudahan. Hingga akhirnya National Weather Service mengeluarkan peringatan (alert) yang muncul di layar ponselku sore itu: Thunderstorm warning. Flood warning.

Kupikir, tak akan seserius di Indonesia; dan memang kenyataannya seperti itu. Hanya saja, pipa di lantai tiga di gedung laboratoriumku bursts, alias bocor. Tentu saja, air pun mengalir ke lantai bawah, termasuk ke laboratoriumku yang berada di lantai bawah tanah.

Paginya, aku terkejut melihat kondisi labku. Desas-desusnya, air bocor dari langit-langit seperti air terjun, dan tidak pandang bulu. Solvent hood di lab kami rusak, begitupun dengan hot plate dan beberapa sample yang kutinggalkan semalam untuk didinginkan. Ah.

Solvent hood kami kena juga. Entah, air yang bertebaran di mana-mana terkontaminasi bahan kimia atau tidak, sehingga…
…untuk mengeringkannya kami menggunakan hazmat mat, ‘lap’ untuk tumpahan bahan kimia.

Hari itu aku tahu, eksperimenku harus diundur, dan aku harus bahu membahu kerja bakti bersama anggota lab lainnya untuk membersihkan air yang berada di mana-mana.

Little did I know, how wasteful the cleaning process is. Selamat datang di generasi sekali pakai.Sedikit flashback, beberapa hari sebelumnya, aku menemukan perubahan signifikan di supermarket langgananku. Aku mencari pembersih permukaan stainles steel dan aku ‘sadar’ dengan sebuah section penuh dengan satu merk.

Swiffer everywhere!

Merk satu ini memang sedang naik daun. Konsepnya sederhana, biasanya, untuk mengepel kita membutuhkan mop. Proses mopping lantai sendiri sebenarnya tidak terlalu painful, tetapi yang menyebabkan orang malas mengepel sebenarnya adalah membersihkan lap pelnya itu sendiri. Setuju? Setidaknya, menurutku sih begitu.

Procter & Gamble pertama kali mengeluarkan line produk ini tahun 1999 di Amerika Serikat dengan konsep ‘razor & blade ataupun juga ‘printer & ink‘. Orang-orang membeli satu gagang pel, dan membeli satu boks ‘lap pel sekali pakai’ yang bisa langsung dibuang begitu kotor. Keberadaannya yang hampir 18 tahun membuat produk line-nya cukup ekstensif. Tak hanya pel, tetapi juga ‘pel kering’, ‘pel basah’, dan juga ‘kemoceng’. Semuanya sekali pakai (bahkan untuk kemoceng). Setelah kotor, tinggal dicopot dari gagangnya, lalu dibuang. Lalu ambil lap/ ‘bulu-bulu’ baru untuk kemoceng.

Pertama, tempelkan lap kertasnya, lalu lap lantainya.
Setelah kotor, buang dan gunakan lap pel yang baru. Yup, foto-foto ini diambil saat membersihkan lab minggu lalu.

Saat itu, aku pun sadar, bahwa generasi Amerika Serikat ini sangat ‘sekali pakai’.

Tidak hanya yang berkaitan dengan hal-hal bersih-bersih semacam ini. Tetapi juga piring, gelas, garpu, sendok, dan pisau untuk makan. Di setiap event, orang dengan mudahnya membeli tumpukan mangkok dan piring kertas untuk digunakan, lalu membuangnya begitu selesai dipakai. Frekuensinya jauh lebih tinggi daripada di Indonesia, yang kadang masih menggunakan piring dan mangkok kaca/ plastik/ keramik.

Selain peralatan makan, hal disposable lainnya adalah pembalut wanita. Zaman dulu, sebelum pabrik pembalut wanita dan popok bayi semasif sekarang, orang-orang harus mengenakan balutan kain agar tidak merembes, yang mana kehigienisan dan juga kebersihannya kadang dipertanyakan.

This raised a question, mungkinkah di masa depan segala sesuatu yang kita kenakan disposable alias sekali pakai? Saat ini memang sudah ada celana dalam sekali pakai yang digunakan untuk perjalanan agar lebih mudah. Hanya saja, memang belum senyaman yang normal. Tidak menutup kemungkinan, di masa depan kita mengenakan baju sekali pakai. Atau sprei sekali pakai. Atau mukena sekali pakai. Atau kaos kaki sekali pakai. Atau sepatu sekali pakai.

This also raised another question, sebanyak apakah sampah yang akan dihasilkan dari kehidupan sekali pakai seperti ini?

Yang jelas, untuk kaum anak muda ngehe yang malas dan menjunjung tinggi produktivitas (-kerjaan, bukan dalam hal rutinitas dan bersih-bersih), hal seperti ini jadi solusi. 10 dan 20 tahun ke depan? Mungkin sampah yang kita produksi, jumlahnya berkali-kali lipat dari jumlah orangtua kita. Ah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s