Iklan Subway: Bukti Cutting Edge Medicine Research di Boston?

Kemarin, aku jalan-jalan ke Salem. Di subway menuju North Station, tempat aku akan naik kereta ke Salem, aku termenung. Pagi itu masih cukup muda, subway masih lengang dari penuh sesaknya orang-orang. Jam masih menunjukkan pukul 09:38, dan perhatianku tertuju pada satu hal: sebuah iklan yang terpampang di dinding-dinding kereta subway, dan juga langit-langit. Iklan semacam ini sudah sering kulihat di kereta bawah tanah di Boston.

Sumber. Iklan meminta partisipasi volunteer/ sukarelawan untuk riset di rumah sakit.

This ad threw me a few years back. Ketika aku masih punya banyak waktu dibuang-buang untuk menonton drama Korea. Salah satu bintang favoritku adalah Joo Won, yang bermain di Good Doctor. Singkat cerita, salah satu scene di drama ini adalah ketika salah satu anak petinggi rumah sakitnya didiagnosis penyakit yang cukup kronis, kemudian akhirnya dia dirawat di Boston Children’s Hospital. Dikisahkan, rumah sakit ini adalah rumah sakit terbaik di dunia dengan para dokter yang sangat andal. Benarkah adanya? Apakah iklan-iklan di kereta bawah tanah itu indikasi bahwa rumah sakit-rumah sakit di Boston memang merupakan institusi riset cutting edge di bidang tersebut?

Aku menemukan sebuah artikel menarik dari Harvard Magazine, di edisi November-Desember 2012, yang ditulis Scott P. Edwards. Ternyata kejayaan bidang kedokteran di Boston dan sekitarnya dimulai dari sekitar 150 taun lalu, ketika seorang dokter gigi bernama William Morton, untuk pertama kali menggunakan ether yang dihirup sebagai anestesi untuk sebuah operasi. Selain itu, fertilisasi bayi tabung dan juga transplantasi organ manusia pertama juga terjadi di Boston.

Ada sekitar 20 rumah sakit, di antaranya MGH (Massachusetts General Hospital), Boston Children’s Hospital, Brigham and Women’s Hospital, dan juga banyak rumah sakit lainnya terletak di Boston. Tak hanya rumah sakit, Boston juga memiliki banyak institusi spesialis, seperti Dana-Farber Cancer Institute, Beth Israel Deaconess Medical Center, Massachusetts Eye and Ear Infirmary, di antaranya.

Tentu saja, Boston merupakan rumah dari institusi dunia seperti Harvard, MIT, dan universitas-universitas lain di area ini yang melahirkan banyak pemikir, dokter, dan juga teknisi terlatih. Siapa yang tidak kenal dengan Harvard Medical School? Harvard-MIT pun menyediakan program Health, Science, Technology untuk graduate level, untuk menjembatani cross-section ketiga bidang tersebut. Belum juga pertumbuhan perusahaan bioteknologi yang semakin pesat di daerah Kendall, yang jaraknya hanya seperlemparan batu dari Boston. Broad Institute, Whitehead Institute, adalah sekian institusi yang terafiliasi dengan MIT dan juga Harvard di bidang ini. Banyak sekali professor dengan riset yang luar biasa. Di MIT, contohnya ada Robert Langer, dan juga professor luar biasa lainnya. Selain itu, banyak juga perusahaan swasta semacam Novartis, Takeda, yang juga melakukan riset di bidang bioteknologi dan ‘berumah’ di daerah Cambridge.

Boleh dibilang, Boston adalah one stop shop untuk semua hal yang berkaitan dengan kedokteran dan bioteknologi. Kecuali mungkin infectious diseases yang banyak menjangkiti negara tropis, mungkin.

Kembali ke iklan yang kulihat di subway di Boston. Iklan-iklan ini biasanya meminta sukarelawan dengan kondisi kesehatan tertentu untuk menjadi objek riset, atau clinical trials. Beberapa di antaranya, jika sangat sulit menemukan sukarelawan karena persentase populasinya sangat rendah, ada kompensasi uang yang diberikan, dan kadang cukup tinggi. Cukup menarik juga melihat relasi keduanya, karena biasanya iklan-iklan ini secara terbuka mencantumkan jumlah uang yang akan mereka berikan kepada peserta studi. Iklan yang kulihat hari ini, contohnya, meminta partisipasi anak remaja (13-18 tahun, cukup muda), yang pernah mengalami depresi dalam berbagai tingkat. Tidak hanya anak yang mendapat uang kompensasi sekitar $300, tetapi juga orang tua (sekitar $70), dan termasuk di dalamnya konsultasi hasil MRI, dan beberapa perks lainnya.

Satu hal lagi, yang mungkin tidak berhubungan dengan hal-hal yang kujelaskan di atas, adalah iklan besar-besaran yang juga sering muncul di The Tech, koran kampus MIT.

Contoh iklan di The Tech, sumber.

Intinya, pasangan meminta sukarelawan untuk mendonorkan sel telur mereka untuk dijadikan ‘rumah’ bagi gen pasangan tersebut. Tidak heran, sel telur memang penting (lebih penting dari sel sperma, sorry guys), karena meskipun gen utama berada di nukleus, tapi mitokondria, powerhouse dari sebuah sel misalnya, memiliki DNAnya sendiri dan terpisah. Selain itu, banyak perangkat sel pun diturunkan dari si sel telur. CMIIW, karena kelas Biologi yang terakhir saya ambil adalah waktu tingkat satu, haha. Mungkin karena itu juga, mereka menginginkan ‘sel telur’ berkualitas tinggi, yang diindikasikan dari ‘fenotipe-fenotipe unggulan’ tertentu, seperti, top of class, jago olahraga, dan lain-lain.

Kompensasi yang ditawarkan pun (sangat) lumayan, $20,000 untuk sekian sel telur yang didonorkan. Cukup untuk membayar setengah dari tuition di MIT. Berdasarkan desas-desus, ada beberapa anak MIT yang mendonorkan telurnya demi membayar tuition dan biaya kuliah lainnya. Tidak banyak yang dirugikan, begitu kabarnya, karena wanita memang diciptakan dengan sel telur berlebih. Meskipun begitu, mungkin proses ekstrasi telur yang berlebihan bisa menyebabkan percepatan menopause (lagi-lagi CMIIW, karena logikanya, menopause terjadi ketika tidak ada lagi sel telur yang di-release ke dinding rahim setiap bulannya -yang mana kalau tidak dibuahi, proses menstruasi pun terjadi).

Fenomena yang menarik, bukan?

Terakhir, kadang-kadang beberapa lab di kampusku juga mengadakan studi terkait hal-hal kedokteran, terutama yang berhubungan dengan behavioral research. Banyak sekali surel yang beredar mengenai ajakan menjadi sukarelawan studi seperti ini, dan kompensasinya pun lumayan, bisa puluhan dollar per jam. Sayangnya, setiap kali aku mendaftar, aku tak pernah terpilih untuk menjadi peserta. Mengapa? Mungkin karena secara demografis populasi ‘rasku’ cukup insignifikan di Amerika Serikat, atau boleh jadi karena aku ‘terlalu sehat’, sehingga seringkali aku tidak masuk kategori yang mereka inginkan. I am hoping for the latter to be the true reason, though.

Advertisements

2 thoughts on “Iklan Subway: Bukti Cutting Edge Medicine Research di Boston?

  1. Halo Kak Titan,
    Saya rendi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
    I’m final year in materials sciences and engineering with concentration in metallurgy.
    I saw that u in MIT mechanical engineering.

    This recent years i’m searching what my passion in engineering. I know that metallurgy quite intresting to me, but i need to look forward to the future that metallurgy will not sustain in the future.

    So after searching the renewable energy what the suitable for me, i choose want to know more in thermal storage, solar cells, hydrogen storage, and fuel cells. my main concern is thermal storage.

    if you don’t mind, may i get some sources of ur learning in MIT mechanical Engineering? i need to know more to explore about my passion.

    Regards,

    Rendi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s