Lederhosen dan Dirndl: Bavaria, Yunani, dan Bergkirchweih

Pagi itu aku mendapat kejutan. Ritualku masih sama: tapping ID card, membuka pintu anteroom, lalu segera mengenakan lab coatgoggles, booties, dan nitrile gloves, dengan urutan yang sama persis seperti yang kusebutkan. Saat aku melangkah masuk ke dalam lab (yang merupakan clean room, itulah alasan mengapa aku harus mengenakan semua ‘perangkat’ tersebut), aku disambut wajah yang asing.

“Titan, perkenalkan. Dia temanku, kami bertemu di salah satu konferensi. Saat ini dia riset di Harvard, tetapi dia meraih PhD-nya di Jerman,” kata postdoc di labku memperkenalkan kami berdua. Bisa kulihat gurat seriusnya: kacamata, berjambang dan berkumis tipis, serta rambut yang sedikit gondrong. Dia juga mengenakan visitor lab coat yang terlihat sedikit kekecilan di badannya.

“Wah, salam kenal. Saya Titan, first year graduate student di sini. Wah, Jermannya dulu di mana?”

“Salam kenal. Dulu saya di Erlangen,” jawabnya dengan aksen Amerika Latin campur Jerman yang kental.

“Erlangen? Saya pernah ke sana!”

“Wah, kerja bareng professor siapa?”

“Oh, saya mengunjungi teman saya di sana saat musim panas. Saya mampir ke Bergkirchweih juga (festival bir kedua terbesar di Jerman setelah Oktoberfest).”

Postdoc lalu memotong, “Oke, jadi X akan melihat proses kita membuat solar cell devices hari ini. Aku akan mempersiapkan larutannya terlebih dahulu. Bisa tolong kamu bawa dia keliling lab untuk tur?” yang kujawab dengan anggukan.

Tidak kuketahui saat itu, ada diskusi panjang yang menunggu mengenai sejarah Jerman bersama dia.

Dimulai dengan perkenalan singkat. X bercerita banyak mengenai latar belakangnya yang lahir dan dibesarkan di berbagai tempat di dunia, mulai dari Perancis, Spanyol (lahir di Madrid), lalu dia akhirnya menempuh pendidikan S1-nya di Kolombia, fisika teori.

“Setelah itu, saya ingin ke Eropa untuk melanjutkan S3 saya. Saya sempat diterima di salah satu grup riset di Oxford, di Inggris untuk bidang fisika ini. Bahkan 3 beasiswa yang berbeda susah di tangan. Tetapi, Bahasa Inggris saya tidak mencukupi. Saya mencoba mengambil IELTS berkali-kali, lalu gagal berkali-kali juga. Pihak Oxford bilang, selama nilai IELTS saya di bawah standard, saya tidak bisa ke sana. Dan itulah yang terjadi, saya tidak jadi melanjutkan di sana.”

Aku meringis sedikit. Pasti rasanya berat sekali ketika tawaran sudah di tangan, tetapi karena hal yang, katakanlah, ‘remeh’, seperti Bahasa Inggris, akhirnya tawaran tersebut melayang.

“Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan di Jerman. Saya bekerja di bawah Professor Y, dan benar-benar fokus di bidang solar cells. Belakangan ini saya tertarik mengenai perovskites, sehingga saya akhirnya bertemu Z (postdoc di lab saya), untuk belajar lebih lanjut.”

Lalu dia bertanya, “Titan, kamu tahu sejarah mengenai lederhosen dan drindl*? Pakaian tradisional yang sering orang pakai saat ke festival bir di Jerman?”

*Lederhosen dan drindl merupakan pakaian tradisional Jerman Selatan, juga Austria (aku pernah lihat temanku mengenakannya di ceremony di UWC), yang mana dikenakan untuk kerja keras di ladang (CMIIW, intisari dari berbagai website).

Lederhosen untuk laki-laki dan dirndl untuk perempuan. Meskipun begitu, sekarang juga banyak lederhosen untuk perempuan. Yay! Sumber.

“Tahu, sih, dulu lihat waktu ke Bergkirchweih.”

“Tahu tidak kalo bendera Yunani itu asalnya dari motif shirt dari lederhosen dan drindl?”

“Ah, yang benar saja.”

“Dulu Yunani merupakan koloni dari Bavaria (state di Jerman, dengan ibukota Munich). Raja pertama Yunani modern itu merupakan pangeran dari Bavaria. Warna tradisional dari lederhosen dan dirndl di daerah selatan Bavaria berwarna biru kotak-kotak. Karena itu juga warna bendera Yunani strip biru putih itu dulu sempat memiliki royal court of arms dari Bavaria.”

“Oh, begitu. Tapi, waktu saya mengunjungi Bergkirchweih, rata-rata orang-orang mengenakan lederhosen dan drindl berwarna merah putih kotak-kotak. Itu maksudnya apa?”

“Nah, itu beda lagi. Kotak-kotak merah putih itu berasal dari utara Bavaria. Mereka juga lebih banyak French speaker-nya. Influence ini tidak datang hingga late in the game. Dan kita bisa lihat, kalau Erlangen ini terletak lebih ke utara dibandingkan Munich. Makanya, lebih banyak orang pakai baju kotak-kotak merah putih di Erlangen saat Bergkirchweih, dibandingkan dengan sebagian besar kotak-kotak biru putih di Munich saat Oktoberfest.”

“Wah, menarik. Tapi saya juga lihat warna hijau, itu maksudnya apa?”

“Warna hijau dikenakan oleh orang-orang dari luar area Bavaria namun masih termasuk dalam Jerman. Ada satu lagi, warna putih, yang mana dikenakan oleh orang-orang di luar Jerman dan Eropa.”

“Wah, saya baru tahu kalau hal seperti ini pun sangat spesifik. Saya kira, terserah mau pakai warna apapun. Tapi benar juga, temanku yang di Erlangen ini pernah mengenakan dirndl dan warna bajunya putih.”

“Betul sekali. Tetapi, ketika saya di sana, saya didaulat untuk mengenakan baju kotak-kotak merah putih karena saya dianggap ‘lokal’ oleh mereka, haha.”

Aku pun tertawa kecil. Menarik sekali pengetahuan ini. Diskusi pun kami lanjutkan ke thermal evaporator, salah satu tool yang tersedia di labku, yang digunakan untuk deposit tin sulfide, dan juga sputterer yang digunakan untuk deposit ITO (indium tin oxide) dan juga Ag, alias argentum, alias perak.

For the rest of the day, aku pun menunjukkan caraku men-deposit titamium dioxide yang digunakan sebagai electron selective layer di perovskites. Tetapi dalam hati, cerita mengenai Bavaria, Yunani, dan juga lederhosen dan dirndl selalu terngiang-ngiang hari itu.

Post ini saya dedikasikan untuk 3 orang sekawan yang belum bisa bertemu di satu tempat lagi, sejak terakhir kali 3 tahun lalu di Nuremberg dan Erlangen: Deanne, Fitri, dan Ivan. Ditunggu di Boston.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s