A (Relevant) Old Doc

Tidak bisa dipungkiri, jarak satu samudera antara Amerika Serikat dan Indonesia membuatku tak mengenal keadaan sebenarnya, dan kondisi terkini dari tanah kelahiranku. Saya hanya membaca berita selewat, atau mendapat informasi dari teman-temanku di tanah air yang mengirimkan satu dua pesan soal sesuatu yang bombastis, atau ‘sekadar menarik’. I admit itI’m biased. 7 tahun di Amerika Serikat tentu saja mau tak mau mengubah kerangka berpikirku, yang dulu mungkin cenderung tradisional dan ABS, alias asal Bapak senang.

Anda tahu saya akan membahas soal apa.

Sekian tahun dan bulan terakhir, saya berusaha menjadi manusia ignorant. Memfilter keluh kesah soal hal ini di media sosial. Yang mana, ujung-ujungnya postingan di media sosial tidak jauh-jauh soal keluhan klasik macam kerjaan, kuliah, dan riset. Padahal, faktanya, ada keresahan soal hal lain yang ingin dibagikan.

Sekian lama, saya kira berusaha menjadi netral akan membuat saya didengarkan kedua belah pihak yang bersebrangan di dalam lingkaran pertemanan saya. Ternyata tidak juga. Kelompok A akhirnya menuduh saya B, dan kelompok B menuduh saya A; meskipun saya sebenarnya C.

Sebegitu pentingnyakah keseragaman? Manusia tak akan pernah bisa diseragamkan.

Ada sebuah teori menarik, yang pernah saya dengar. Mungkin kalau ada yang tahu dari siapa, boleh dibagikan. Intinya seperti ini. Oh ya, saya membuat ini sendiri, jadi mohon maaf kalau kualitasnya pas-pasan 🙂

'Group Survival'

Contoh paling sederhana adalah fenomena ‘kelas unggulan’ di Indonesia. Ketika sebuah sekolah mengumpulkan ’40 orang terpintar’ untuk disatukelaskan, pasti di dalam kelas tersebut tetap muncul ‘yang terpintar’, ataupun ‘yang ter-kurang pintar’, meskipun traits ini tergolong sangat subjektif dan questionable untuk survival.

Tetapi begitulah idenya. Hal-hal yang sangat manusiawi seperti ini, perbedaan yang memang natural, karena seperti itulah konsep alam. Perbedaan menelurkan ide-ide baru, yang uga membuat legasi manusia bertahan lebih lama di muka bumi (koreksi: jika manusia peduli dan act on global warming, tentunya).

Jika begitu, mengapa kita harus memaksakan diri untuk menyeragamkan kelompok kita? Jika pada akhirnya, perbedaan yang membuat kita lebih kuat, dan pemaksaan penyeragaman itu sendiri hanya akan membuat kita sadar akan perbedaan lain dalam satu kelompok yang seragam?

Oke, let me leave you with those questions.

Terakhir, judul dari tulisan ini adalah A (Relevant) Old Doc. Paragraf-paragraf di atas memang merupakan pengantar untuk dokumen yang akan kubagikan di bawah ini, yang mungkin akan terlihat kontroversial.

Sedikit background, tulisan ini saya tulis tahun 2011, sebagai prasyarat kelulusan saya dari UWC-USA, international high school tempat saya menimba ilmu selama dua tahun sebelum akhirnya melanjutkan S1 di MIT. Dalam International Baccalaureate, salah satu komponen pentingnya adalah Theory of Knowledge, sebuah mata pelajaran ‘filosofis’ yang membuat kita menjadi lebih kritis dan mempertanyakan ilmu serta informasi yang kita dapat, dan juga moral serta etika yang menyertainya. Karena tulisan ini dibuat 6 tahun lalu, tentu saja Bahasa Inggris saya masih sangat pas-pasan, jadi mohon dimaklumi.

Prompt: In the presentation, we considered five sources of the moral standards upon which people make judgments of right and wrong. These were: a) beliefs about human nature; b) religion; c) observation and/or reasoning; d) emotional empathy; e) social and political sources, that is, laws and traditions of particular societies, and international agreements between societies. Choose the one source of moral standards you feel is most important, present a brief argument as to why it is morally effective, and then find at least one counter-argument against its usefulness.

Response: Considering five sources of the moral standards upon which people judgments of right or wrong, I believe that beliefs about human nature is the most important, compared to religion, observation and/ or reasoning, emotional empathy, and social and political sources. There are several reasons why it is the most important source of the moral standard.

The first reason is, because it is based on beliefs about human nature, mostly people will agree about what is right or wrong. Because human is created with the same nature, they have similar basic sense. Despite the cultural background, religion, and belief that one holds, the human nature will be the same for all people, and there will be least debating and contradiction compared to other four moral standards. So, for carrying a judgment of something, people will need to consider beliefs about human nature more than anything else, which will lead to an effective decision when they are faced in a dilemmatic situation.

The second reason is, the other moral standard sources have contradiction to each other. For example, some religions can be contradictory to other religions, in the sense of whether it is monotheism or polytheism, how the religions are connected in the history and how it was established, and how the worship practice is controverted to each other. Most religions also believe that its own religion is the true one, which sometimes leads to a conflict based on religion reasons, such as terrorism, etc.

On the other hand, human cannot really focus on one thing (in this case, beliefs about human nature). They are created as a part of the environment where they live in, so they cannot leave it suddenly. This makes it hard to ensure people to consider only beliefs about human nature, because they are stuck with their other four moral components. So, in reality, nothing like this would happen.

In the end, the most important moral source will depend on a person, based on how they have lived, how they perceive, and how their cultural backgrounds are. Thus, all of the moral standard sources will be on the same priority, a source would not be more important than the other sources.

Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih seperti ini.

Pertanyaan: Dalam presentasi, kita mempertimbangkan 5 sumber standard moral di mana orang-orang menggunakannya untuk memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah. 5 sumbernya adalah: a) kepercayaan mengenai kodrat manusia; b) agama; c) observasi dan/ atau pemikiran; d) empati emosional; e) sumber-sumber sosial dan politik, seperti hukum, tradisi di masyarakat tertentu, dan juga perjanjian internasional antarnegara. Pilih salah satu standard moral yang kamu rasa paling penting, berikan argumenmu mengapa hal tersebut efektif secara moralitas, dan temukan sedikitnya satu argumen kontradiktif mengenai hal tersebut.

Jawaban: Mempertimbangkan 5 sumber standard moral di mana orang-orang menggunakannya untuk memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah, saya percaya bahwa kepercayaan mengenai kodrat manusialah yang paling penting, jika dibandingkan dengan keempat hal lainnya. Ada beberapa alasan mengapa menurut saya hal itu yang terpenting.

Alasan pertama adalah, karena kebanyakan orang akan setuju dengan hal yang benar atau salah berdasarkan kepercayaan akan kodrat manusia. Manusia diciptakan dengan kodrat yang sama, dengan basic sense yang sama. Meskipun berbeda kultur, agama, dan kepercayaan, kodrat manusia sama untuk semua orang. Karena hal itu, kontradiksi dan debat yang muncul pun akan lebih sedikit dibandingkan 4 standard moral lainnya. Karena itu, ketika seseorang mempertimbangkan sesuatu, orang tersebut harus menitikberatkan pertimbangannya pada kodrat manusia dibandingkan hal lainnya, yang mana akan memberikan keputusan efektif ketika mereka dihadapkan dalam situasi yang dilematik.

Alasan kedua adalah, sumber moral standard lainnya memiliki kontradiksi dengan yang lain. Contohnya, agama tertentu memiliki kontradiksi dengan agama lainnya, seperti monotheisme vs. polytheisme, bagaimana agama-agama tertentu terhubung sejarahnya dan bagaimana mereka terbentuk, dan juga bagaimana secara praktik beberapa agama berbeda dengan agama lainnya. Sebagian besar agama juga percaya bahwa agama merekalah yang paling benar, yang seringkali menjadi pemicu konflik berlandaskan agama, seperti beberapa aksi terorisme, dan sebagainya.

Selain itu, seorang manusia sangat sulit untuk fokus terhadap satu hal (dalam hal ini, terhadap moral standard kodrat manusia). Mereka diciptakan sebagai bagian dari lingkungan tempat mereka hidup, sehingga mereka tak bisa begitu saja meninggalkannya. Karena itu, sangat sulit bagi seorang manusia hanya untuk fokus terhadap satu moral standard, (karena mereka makhluk yang kompleks) sehingga mereka juga harus memikirkan empat komponen moral lainnya. Jadi, kenyataannya, tak mungkin manusia bisa fokus pada satu standard moral saja.

Pada akhirnya, standard moral terpenting kembali ke masing-masing orang, tergantung dengan kehidupan mereka, pola pikir mereka, dan latar belakang kebudayaan mereka. Karena itu, pada kenyataannya, sumber standard moral memiliki prioritas yang sama; tak ada satu yang lebih penting dari lainnya.

Cukup menarik juga pemikiran saya saat umur belasan tahun. Sebuah konsep yang abstrak, bisa saya jabarkan dan gali dengan cukup baik pada saat itu. Saat membaca tulisan ini, seketika saya teringat akan keadaan saat ini. Apakah keadaannya jadi berbeda, jika kita lebih mengedepankan kodrat manusia sebagai standard moral, bukan moral kelompok pribadi masing-masing, begitulah pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya setelah membaca ulang tulisan ini.

Kompleksitas manusia, yang menjadikan kita sebagai manusia, bukan?

Seperti biasa, saya terbuka untuk masukan dan juga diskusi mengenai hal ini. Cheers.

Tulisan ini, sebenarnya disponsori oleh iming-iming roti Gempol dari orang yang mendorong saya mem-publish tulisan sederhana saya zaman SMA dulu. Ditunggu vouchernya. A promise is a promise. A gentleman never breaks a promise.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s