/simˈpōzēəm/

Menurut Google, symposium memiliki arti berikut ini:

  • A conference/ meeting to discuss a particular subject.
  • A collection of essays or papers on a particular subject by a number of contributors.
  • A drinking party or convivial discussion, especially as held in ancient Greece after a banquet (and notable as the title of a work by Plato).

Tiga pengertian yang menarik. Dan lebih menarik lagi melihat akar kata dari symposium ini.

Akar kata simposium.

Intinya, pesta minum-minum. Bagaimana dengan Simposium PPI Amerika Eropa yang kemarin baru saja aku ikuti, tanggal 19-21 Mei 2017? Apakah suasananya seperti pesta tersebut?

Mungkin suasananya, ya, seperti ‘pesta’. As an introvert, I always feel nervous being in a networking event, but for this one, rather than being stressful, I was quite delighted meeting and getting to know people. Selain itu, ada satu hal yang cukup menarik yang ingin kubahas lebih lanjut, mengenai network itu sendiri, literally.

Jejaring. Yang ditebalkan merupakan jejaring yang ku-extend selama periode 3 hari simposium di Washington DC kemarin.

Tulisanku memang tidak jelas. Karena aku terburu-buru menuliskannya ketika berada di dalam pesawat sebelum mendarat di Boston, setelah 3 hari yang luar biasa di Washington, DC. Kota Washington sendiri masih cantik dan luar biasa, seperti yang kuingat. Yang membedakan mungkin hanyalah scaffolding yang sudah dicopot dari kubah bangunan Capitol.

Foto dari Desember 2015.
Capitol Mei 2017.

Meskipun ketinggalan berseminya bunga sakura, DC Metro masih bersih seperti biasa, kotanya masih ramah. Tapi kali ini, tujuan utamaku memang bukan untuk menikmati apa yang kota ini bisa tawarkan, tetapi ‘bertugas’ untuk pertama kalinya sebagai media partner, perwakilan dari Radio PPI Dunia, di mana aku menjadi salah satu penyiarnya.

Tema simposiumnya sendiri sangat menarik, mengenai digital economy. Bahkan mereka juga menghadirkan para entrepreneur lokal (dari Indonesia) yang sudah sukses di Amerika Serikat, dan juga interlokal (dari Amerika Serikat) yang sempat menjadi tim penasihat di zaman Obama juga. Tetapi yang kudapat lebih dari itu.

Map jaringan, atau network di atas, merupakan sketsa yang kubuat karena betapa seringnya percakapan seperti ini terjadi.

Aku: “Wah, dari negara X, ya? Kenal dengan Y?” (Niatnya iseng, apa sih kemungkinan bertemu Y di negara A? Kecil sekali pasti)

Dia: “Iya, wah dia temanku! Kalian kok bisa kenal?”

Dari situlah percakapan berlanjut. Perkenalan yang tak hanya berdasar pada keterasingan belaka rasanya lebih mudah untuk dilakukan, untuk percakapan terus dilanjutkan; meskipun biasanya aku terlalu malu untuk meneruskannya.  Selalu ada pertanyaan andalan yang bisa dikeluarkan jika tiba-tiba ada kekosongan yang harus diisi, sebelum menemukan lagi topik-topik lain yang membuat kita tertarik dan meneruskan pembicaraan tanpa perlu di-push. Selalu ada pertanyaan in reserve macam, “Jadi dulu kenal di mana dengan Y? Sudah berapa lama kenal? Aku sudah lama tidak bertemu Y, sekarang dia lagi sibuk apa? Salam untuk Y, dong.”

Itu hipotesisku mengenai alasan mengapa di sesi menambah jejaring berbalut simposium, I felt more comfortable ‘showing my truest self.

Yang menarik adalah dari statistik sebaran orang-orang di sketsa jejaring tersebut. Sekitar 50%-nya berasal dari kenalan di radio, baik itu penyiar maupun pendengarnya. Sisanya berasal dari sekian belas tahun yang saya habiskan di bangku sekolah formal.

Hal ini, sejujurnya, agak mengkhawatirkan. Sample size-nya memang agak kecil, tapi ini juga menunjukkan bahwa aku tidak begitu baik dalam menjaga dan me-maintain jejaring dari beberapa tahun lalu. Atau mungkin, lebih tepatnya, kebanyakan jejaringku sedang/ pernah berada di luar negeri, karena fraction orang yang berkesempatan seperti itu masih tergolong kecil di Indonesia, meskipun mulai tumbuh dengan persentase gila-gilaan.

If I ever want to come back to Indonesia, I should work harder on expanding my network. Apalagi fakta bahwa S1-ku di Amerika Serikat dan bukan di Indonesia, mengecilkan kesempatan itu lebih jauh lagi.

Back to the beginning. Kemunculan kata simposium boleh jadi untuk menggambarkan pesta minum-minum, dengan esensinya sebagai ajang bersosialisasi. Seperti kemarin di DC.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s