Musim (Badai) Salju

Setelah IAP yang luar biasa, spring semester akhirnya resmi dimulai. Saat post ini di-publish, resmi sudah satu minggu sejak semester keduaku sebagai seorang mahasiswa S2 dimulai.

Musim dingin tahun lalu benar-benar mild, bahkan the Institvte (a.k.a. MIT) tidak menggunakan jatah snow day-nya sama sekali. Tetapi tahun ini berbeda. Apalagi setelah musim dingin tahun 2014-2015 aku kabur ke Inggris, tepatnya University of Cambridge, untuk pertukaran mahasiswa. Sudah sekian lama aku tidak merasakan badai salju sebenar-benarnya badai.

Hingga tiba hari Kamis minggu kemarin.

Pelajaran pertama: kalau kampus ditutup karena badai salju, jangan sekali-kali nekat berangkat ke kampus.
Pelajaran pertama: kalau kampus ditutup karena badai salju, jangan sekali-kali nekat berangkat ke kampus.

Musim dingin memang bukan musim favoritku, meskipun begitu, ada kecantikan sendiri yang tidak terdefinisikan. Rasa bahagianya kurang lebih seperti ketika kamu mendapatkan cake cokelat, lalu tiba-tiba gula putih halus ditaburkan di atas cake tersebut. Cantik.

Bahkan aspal jalanan pun tidak kelihatan lagi.
Bahkan aspal jalanan pun tidak kelihatan lagi.

Tentu saja semua kecantikan itu musnah ketika akhirnya salju mulai meleleh dan mulai becek di mana-mana. Hal penting, yang sempat aku lupa sementara, adalah: meskipun badai salju telah berhenti, tetap kenakan winter boots milikmu, karena saat itu salju cair dan genangannya ada di mana-manaI learnt it the hard way, hari setelah badai salju aku malah mengenakan sepatu boots cokelat favoritku, dan efeknya sekarang ada noda salju + rock salt di sepatunya.

Selain itu, yang paling jelas adalah, don’t be lazy to wear your long john (long underwear). Kesalahanku adalah: mengenakan berlapis-lapis baju untuk badan atas (baju, sweater/ sweatshirt, kemudian winter jacket), tetapi hanya mengenakan jeans saja untuk bawahan. Apa boleh buat, karena skinny jeans memang kecil dan sulit mengenakan long john pada saat yang bersamaan. Tetapi tetap, usahakan untuk mengenakannya.

Selain itu, menghadapi musim badai salju seperti ini, yang paling penting adalah menyiapkan makanan di rumah, karena ada kemungkinan toko-toko dan supermarket tutup. Selain itu, rasanya malas sekali keluar rumah berhadapan dengan angin kencang dan  salju yang sangat tebal, demi sebotol susu bukan?

Tetapi tetap saja, tak ada yang mengalahkan kecantikan musim ini.
Tetapi tetap saja, tak ada yang mengalahkan kecantikan musim ini. Temanku: Malika S.

Tentu saja, salju merupakan hal yang menyenangkan, untuk siapapun yang baru pertama kali melihatnya. Apalagi kalau saljunya selutut. Ketika melihat orang-orang di Kilian Court membuat snowman pertama kalinya, aku pun langsung ingat kali pertama aku membuat hal yang sama, di kampus SMA-ku, di New Mexico.

Ada juga tradisi menamai badai di sini, biasanya berurutan, sesuai alfabet. Hari Kamis lalu namanya adalah Niko, sedangkan hari Senin ini namanya adalah Orson. Nama badai berikutnya akan dimulai dari huruf P.

Selamat menikmati snow day, Boston. Stay warm.

Advertisements

6 thoughts on “Musim (Badai) Salju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s