Cerita: Sepatu

Masih ingat seri cerita J yang kutulis beberapa bulan lalu? Karena aku ingin kembali menulis sesuatu yang menyenangkan (dan semoga saja cukup ringan/ tidak terlalu abstrak), musim panas kali ini aku ingin meluncurkan seri cerita baru: Cerita. Cerita-cerita yang diunggah akan berpusat pada satu tema, dan aku akan menulis segala hal dengan satu benang merah tersebut.Semoga saja hal ini cukup menarik untuk rekan-rekan pembaca sekalian.

Sepatu.

Apa memori tertua kalian soal sepatu?

Setelah mengulik sekian dalam, mungkin memori tertuaku soal sepatu bermuara di Homyped. Atau Carvil. Entahlah. Antara dua itu yang jelas.

Sejak kecil, dengan alasan tahan lama dan tahan lumpur, aku selalu dibelikan sepatu sandal Homyped atau Carvil. Bukan sepatu pantofel atau putri-putrian berenda warna pink/ putih/ cerah.

Saat akhirnya aku masuk bangku SD, karena alasan peraturan sekolah, selama 6 tahun di bangku SD aku hanya mengenakan sepatu hitam polos. Dulu, rasanya sulit sekali mencari sepatu hitam polos. Sebagai anak yang tidak hobi cari gara-gara di sekolah atau berurusan dengan guru, aku selalu memaksa memastikan ketika orangtuaku membelikanku sepatu, harus warna hitam polos. Tak boleh ada strip putih. Tak boleh ada logo merk berwarna selain hitam.

Karena itu, satu-satunya kenangan aku dipanggil oleh guru sewaktu SD adalah karena 3 hal: saat dipanggil ikut lomba Calistung (baca, tulis, hitung), saat dipanggil untuk latihan menjadi pengibar bendera (maklum, sejak SD hobinya sudah ikut Pramuka), atau saat pelatihan menjadi Dokcil (dokter kecil, yang mana profesi dokter sempat nongkrong di daftar what-I-wanna-be-when-I-grow-up saat itu).

Begitupun saat SMP. Peraturannya lebih ketat daripada di SD, karena kali itu tinggi sepatu pun disyaratkan tidak melebihi mata kaki. Kaos kaki pun ada syarat spesifik: perempuan sebetis, laki-laki di bawah lutut.

freshpaint-0-2017-01-07-09-02-40
Maafkan sketsa yang sangat seadanya.

Saat itu sedang ngetren flat shoes, alias sepatu balet/ teplek. Sayangnya, lagi-lagi karena peraturan yang cukup strict, yang mengharuskan kami mengenakan sepatu bertali, tidak ada yang menggunakan flat shoes. Karena keterbatasan jumlah model sepatu hitam poles dan bertali di luar sana, mau tak mau banyak di antara kami yang memiliki sepatu yang sama persis modelnya. Contoh yang paling mudah: Specs dan Piero. Bagi kaum berduit lebih, mereka mampu membeli Converse hitam polos (yang asli ataupun yang KW super). Tentu saja, tidak ada yang menggunakan Nike 🙂 Bahkan kadang, saat jam makan siang, orang-orang berusaha menaruh sepatunya di tempat absurd: di kelas (dan mengenakan bakiak untuk jalan ke mushola), di bawah kursi kantin, di pagar sekolah, karena sepatu yang tertukar sangat lazim terjadi. Tentu saja tidak enak, apalagi kalau size sepatunya berbeda dan tertukar dengan merk tier lebih rendah.

Sepatu sejuta umat. Sumber: Bukalapak.
Specs, sepatu sejuta umat. Sumber: Bukalapak.

Karena hal itu, impuls untuk memiliki sepatu warna warni begitu besar. Saat aku dinyatakan diterima di sebuah SMA di kota Bandung, hari itu juga aku pergi ke sebuah mall dekat SMA-ku, minta dibelikan sepatu baru. Aturan di SMA-ku itu, adalah boleh mengenakan sepatu hitam dengan garis putih, asalkan > 80% warna hitam. Seperti yang bisa ditebak, sebagian besar orang memakai sepatu Converse yang itu. Karena itu juga, aku minta dibelikan sepatu yang sama.

Converse yang ini. Sejuta umat juga. Sumber: Sepatufutsalku.
Converse yang ini. Sejuta umat juga. Sumber: Sepatufutsalku.

Pada saat yang bersamaan, aku juga belajar bahwa ternyatu sepatu kanvas seperti ini nggak enak-enak amat, malah cenderung kaku. Karena itu, aku kembali ke sepatu hitam polos, klasik, Specs dan Piero.

Saat akhirnya aku pindah ke Amerika Serikat, dan sepatuku tidak dibatasi oleh aturan apapun, akhirnya aku memutuskan mengenakan sport shoes, baik itu tennis atau running shoes. Warna tak masalah, yang penting enak dikenakan, tidak kaku, dan bantalannya cukup. Sebagai pendamping, aku juga punya sepasang sepatu sandal (biasanya dari Eiger), sebagai pengganti kalau di musim panas cuacanya tak memungkinkan untuk mengenakan sepatu.

Problem yang kupunya dari dulu sampai sekarang adalah sepatu formal. Saat di UWC, aku tak punya sepatu formal sendiri, hingga akhirnya aku terpaksa mengirim surel ke satu asrama, bertanya, “Hai, ada yang punya sepatu size 8 (American size)? Boleh pinjam?”

Untuk kelulusan UWC, aku sengaja meminjam sepatu hak tinggi yang kakakku kenakan untuk wisuda A.Md.-nya. Beruntung sekali punya kakak yang ukuran sepatunya tidak jauh berbeda, hehe. Namun karena tidak terbiasa mengenakan hak tinggi, saat aku di atas panggung menerima ijazahku, jalanku sempoyongan mirip orang mabuk. Setelah kelulusan UWC, aku harus mengepak semua barangku di UWC untuk dibawa ke Indonesia, sebelum akhirnya kubawa lagi ke Boston. Sepatu hak tinggi milik kakakku itu terpaksa aku buang di Bandar Udara Albuquerque Sunport, karena koper-koperku beratnya melebihi 23 kg. Sampai saat ini, aku masih merasa bersalah membuang sepatu hak tinggi bersejarah milik kakakku…

“Good shoes take you good places.” -SMH

Sekarang, aku punya beberapa pasang sepatu: dua pasang untuk acara formal, boots ringan, boots berat (untuk badai salju), sepatu sehari-hari (tennis shoes), running shoes (untuk olahraga), sepatu kanvas (yang ringan dan nyaman: Toms Shoes), sepatu sandal (masih Eiger), sandal jepit, dan slippers.

Favoritku tetap saja, tennis dan running shoes. Karena kakiku tak akan rewel kalau jalan sejauh apapun dengan mereka. Meskipun begitu, mereka harus kuganti tiap setahun atau dua tahun, karena mudah rusak. Apa boleh buat, aku jalan ke mana-mana dengan mereka. Selain itu, aku termasuk pengguna sepatu yang abusif juga mungkin, haha. Sepatu tali itu kukenakan seperti sepatu slip on, kakiku langsung kumasukkan tanpa membuka talinya terlebih dahulu. Mungkin itu juga yang membuat umur mereka tak bertahan lama.

Satu hal yang sama: semua sepatu di atas selalu membuat kakiku lecet ketika pertama kali mengenakannya. Tetapi setelah penggunaan yang cukup sering, mereka akrab dengan kakiku.

2016-12-19-12-27-42
Sekarang sudah lebih kekinian: boots. Tentu saja karena sedang musim dingin juga di sini.

Begitulah cerita-cerita mengenai sepatuku, bagaimana denganmu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s