4 Pelajaran dari 2016

Selamat Tahun Baru 2017! Setelah ‘telat’ selama 12 jam dibandingkan WIB, akhirnya Boston pun juga berada di tahun yang sama, di tahun 2017.

Sebuah komentar di Instagram milikku, membangunkanku dari tidurku. Salah satu foto yang kupost dari tahun lalu berisi sketsa sederhana tentang tahun 2016.

photo_2017-01-01_19-43-09
Betul, gambarku memang kekanak-kanakan. Maafkan aku, ya! Haha.

Sudah ada berapa hal yang kucapai di tahun 2016?

Boleh dibilang, tahun 2016 adalah tahun yang luar biasa. Selain akhirnya lulus dari kampus tercinta (namun kembali lagi untuk jenjang yang lebih tinggi), ada beberapa pencapaian kecil-kecilan yang kuraih, seperti: total sudah 15 negara sudah kukunjungi, memulai hobi baru (memasakhand lettering dan menjadi penyiar di Radio PPI Dunia), dan magang di Singapura selama musim panas.

Selain itu, ada pelajaran berharga yang diajarkan 2016 untukku.

It’s hard to please everyone. I should stick to myself.

Setelah manusia tumbuh semakin dewasa, pendirian dan value mereka semakin rigid. Tidak lagi se-malleable saat masih remaja. Tergantung pengaruh eksternal maupun internal, teman sepermainan kita dulu mungkin punya value dan prinsip yang jauh berbeda dengan kita saat ini, meskipun kita sempat sekolah di TK yang sama, misalkan.

Beberapa dari mereka mungkin cukup dekat dan memengaruhi beberapa hal dari kita, terutama saat kita memutuskan sesuatu yang penting. Bahkan, pendapat mereka bertolak belakang antara satu sama lain.

Jangan terlalu dipikirkan, kalau pada akhirnya kita memilih jalan yang berbeda dari teman-teman kita semua. Karena kita memang dilahirkan untuk menjadi berbeda. Tak ada siapapun yang sama persis dengan kita di dunia.

Klise, tapi, do as what your heart says. Lakukan hal yang membuatmu bahagia.

It’s important to take care of myself. Down-time is very important.

Dengan umur yang semakin bertambah, aku harus mulai semakin sadar. Penyakit di masa tua ditabung dari masa muda.

Memang agak sulit, tetapi aku mulai mendorong diriku sendiri untuk lebih banyak bergerak dan berolahraga. Seminggu sekali renang, dua kali seminggu kardio, lalu core exercise/ yoga in-between. Selain itu, juga memilih jalan ke kampus dibandingkan naik shuttle bus (tapi selama musim dingin, keteguhan hati untuk melakukan hal ini menguap begitu saja), dan juga naik tangga dibandingkan naik lift.

Selain itu, aku belajar mengatakan ‘tidak’, agar punya waktu beristirahat. Kehidupan kampus bisa jadi overwhelming karena banyaknya kegiatan, baik akademis dan non-akademis.

Namun, ketika aku membutuhkan satu hari penuh di akhir minggu untuk beristirahat, aku berani menegosiasikannya dengan teman-temanku agar mengerjakan tugas kelompok di lain waktu. Kuncinya, hanya satu, saat mengatakan ‘tidak’, berikan alasan dan tawarkan alternatif lain yang sepadan/ lebih.

I should start budgeting my need. And paying attention to my financial condition.

Tidak selamanya aku akan hidup di bawah ketiak orang tuaku. Sementara temanku yang sudah lulus telah memulai karir mereka dan mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tetap, aku harus bersabar, karena selama beberapa tahun ke depan aku masih akan duduk di bangku sekolah. Uang yang kupunya dari fellowship ataupun research assistantship hanya akan cukup untuk membayar asrama, dan biaya hidup. Tanpa budgeting yang mendetail, aku hanya akan membuang-buang uang yang kupunya.

Di masa muda, disarankan kita menabung 30% dari pendapatan bersih kita. Meskipun hal ini sangat sulit bagiku (50% dari stipend yang kudapat, digunakan untuk biaya akomodasi/ asrama, belum termasuk biaya sehari-hari dan makan), tapi aku menyisihkan sedikit-sedikit. Lama-lama, mudah-mudahan, akan menjadi bukit.

Salah satu aplikasi yang sangat kurekomendasikan adalah Mint, yang bisa di-link dengan akun mobile banking milik kita (saat ini mungkin baru tersedia untuk bank-bank di Amerika Serikat), juga dengan Paypal, Venmo, dan lain-lain. Benar-benar berguna untuk keeping track kondisi finansial kita secara real-time.

C’est la vie. Life goes on. 

Last but not least, hidup memang seperti ini. Kadang susah, kadang senang. Kadang di atas, kadang di bawah. Tetapi hidup harus terus berjalan, tak peduli apa yang terjadi.  Tak ada gunanya pesimis. Karena (lagi-lagi) hanya diri sendiri yang bisa menolong diri sendiri.

Cheers.

Advertisements

2 thoughts on “4 Pelajaran dari 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s