Selamat!

Temanku baru saja bertunangan. Rasanya sangat berbahagia, karena meskipun tidak dekat, kami bertemu dalam keadaan yang sangat menarik. Semoga Allah melancarkan hingga hari pernikahanmu 🙂

Aku masih ingat hari pertama saat kami bertemu. Wajahnya tipikal Asia Tenggara, yang akhirnya kuketahui bahwa dia berasal dari Malaysia. Darahnya boleh murni Melayu, tetapi dia menyandang status kewarganegaraan Amerika Serikat.

Kami dipertemukan di Jerman. Lebih tepatnya di Heidelberg, di kota di mana universitas tertua di Jerman berdiri. Saat itu adalah minggu kedua aku berpuasa selama 20 jam. Terima kasih, musim panas Jerman.

Sore itu, seluruh penerima beasiswa menikmati makan malam (dan matahari masih terang benderang) di sebuah restoran lokal terkenal yang di-reserve khusus untuk acara kami, ratusan mahasiswa dari Amerika.

Seseorang mendekatiku dan bertanya, “Are you fasting?”

Aku pun menjawab singkat, “Yes, I am.” Sebenarnya aku agak terkejut ditanya seperti itu, siapa yang sangka, ada orang yang sadar kalau aku puasa Ramadhan? (To be fair, tentu saja orang bisa lihat dari kerudungku. But who cares).

“Nama saya Q. Saya juga muslim. Sudah tahu besok sahur bagaimana?” tanyanya ramah.

“Belum. Untuk buka hari ini pun belum tahu.”

“Kita tanya panitianya, yuk. Siapa tahu makanannya boleh ditaruh di boks untuk buka nanti. Rencananya aku mau jalan-jalan ke jembatan di Sungai Neckar sambil menunggu buka. Mau ikut?”

Aku mengiyakan.

Kami pun berjalan-jalan sore itu. Ke jembatan di Sungai Neckar, ke Kastil Heidelberg, bahkan beli mie goreng di boks kecil untuk makan sahur. Dari situ juga aku belajar sedikit tentang kehidupannya, bagaimana akhirnya dia terdampar di salah satu universitas ternama di Illinois untuk program Materials Science and Engineering-nya, bidang yang dia geluti.

Perjumpaan singkat itu sempat terlupakan, hingga 1,5 tahun lalu, ketika dia mengontakku.

“Punya teman cowok sekitar Boston? Aku butuh cari apartemen nih, siapa tahu temanmu ada yang mau sharing selama satu semester.”

“Kamu di sini satu semester? Untuk apa?”

I am taking 1 semester off to do internship at S****-G*****.”

I will keep looking out, in case anyone needs a roommate.”

Terima kasih!”

Saat dia sudah memulai magangnya, dia mengontakku lagi, minta diberi tur kampusku secara gratis.

Hari itu dia juga mengajak temannya dari New York keliling Boston. Mereka baru kembali dari North End, dan mampir ke kampusku.

“Ini cannoli untukmu,” kata mereka. Aku tidak minta. Tapi hari itu adalah salah satu hari yang sarat beban (seperti biasa, ketika tingkat 4). Kalau tidak salah, hari-hari itu adalah saat capstone engineering design project mencapai titik beban yang sulit kupikul lagi. Ditambah aplikasi untuk mendaftar program S2. Ditambah pencarian beasiswa S2 yang tanpa akhir.

Aku masih ingat rasa cannoli yang dia berikan hari itu. Klasik, tanpa chocolate chips. Tanpa kacang. Not dipped in chocolate.

Saat magangnya hampir berakhir, dia mengontakku lagi, untuk pamit. Katanya, dia punya voucher makan di restoran Thailand sebesar $50 di dekat pantai Revere. Di salah satu malam terdingin Boston, kami berdua makan sepuasnya, 3 course meal. Aku sendiri bingung mengapa dia berterima kasih padaku. Harusnya tur kampus tidak dihargai semahal itu, haha.

Malam itu, aku mengucapkan sampai jumpa lagi, hingga entah kapan. Aku bilang, “Kalau kamu ke grad school, jangan lupa apply ke sini. Nanti kita makan-makan lagi, haha.” Dia menjawabnya, “Setelah magang ini, aku lebih suka cari uang dibanding belajar, sepertinya.”

Beberapa minggu lalu aku sempat melihat fotonya di Facebook. Meskipun telat sesemester (karena magang), akhirnya dia juga lulus dari universitas top itu. Pasti sulit rasanya, mendorong diri sendiri agar lulus dari tempat, di mana banyak dari temanmu sudah lulus terlebih dahulu.

Untuk segala pencapainnya, selamat, Q! Kapan-kapan kalau mampir Boston, aku tak akan bosan memberikan tur singkat keliling kampusku lagi untukmu dan (calon) istrimu. Kampus yang entah sampai kapan akan menjadi tempat aku belajar…

… Semoga sampai aku lulus S3 🙂

PS. Aku juga ingin mengucapkan selamat untuk teman masa kecilku dari zaman putih-merah hingga saat ini, Ratna Hartiningtyas, karena resmi menyandang gelar Sarjana! Semoga pencapaian ini merupakan awal dari hal-hal luar biasa lain dalam hidupmu. Suatu kehormatan mengenalmu secara dekat.

Advertisements

One thought on “Selamat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s