Pemilu AS dan Terpilihnya Trump: Apakah Relevan dengan Indonesia?

Ditemani secangkir Milo dan pikiran yang tidak bisa kufokuskan untuk ujian hari Kamis ini, malam kemarin mataku tak bisa beranjak dari komputerku. Beberapa jendela terbuka: pojok kanan atas menampilkan YouTube live tentang penghitungan suara, pojok kiri atas menampilkan bar perolehan suara dari masing-masing kandidat, dan bagian bawah penuh dengan chatbox obrolanku dengan teman-temanku, baik di Indonesia, maupun teman di sini.

Jujur, aku masih tak mengira, hasilnya akan seperti ini. Trump terpilih sebagai presiden negeri adidaya ini. Kampusku berada di Massachusetts, adalah basis Partai Demokrat, pengusung capres Hillary Clinton. Hari ini, saat aku melewati lorong-lorong kampus, dan berpapasan dengan banyak mahasiswa, aku sadar bahwa ada rasa sedih yang tergambar jelas di wajah mereka. Ada yang mengenakan bendera Amerika Serikat sebagai jubah, dan obrolan tentang hasil Pemilu terdengar di mana-mana.

Bahkan, kampusku secara impromptu, berkumpul di Lobby 7. Kertas-kertas putih kosong ditempelkan di kolom-kolom yang menopang MIT Dome, dan siapapun yang ingin berbagi soal perasaan mereka tentang Pemilu kali ini, dipersilakan menuliskannya. Bahkan sore tadi, semakin banyak orang yang berkumpul di Lobby 7, dan ada pula grup mahasiswa yang menyanyikan hymne-hymne kecil.

2016-11-09-14-19-26
Share your hopes, share your fears. Begitu tema di tiap poster.

Sebagai kampus yang mahasiswanya beragam, dan cukup liberal, beginilah cara kami ‘berdemo’ atas hasil Pemilu. Beginilah cara kami protes, yaitu dengan berkumpul bersama komunitas dan mendiskusikannya.

Jelas, hasil Pemilu yang mengejutkan ini memiliki efek yang susah diperkirakan bagi orang-orang yang tinggal atau memiliki hubungan dengan Amerika Serikat. Lalu, adakah hubungannya dengan Indonesia?

Mari kembali pada sebuah pertanyaan yang sangat mendasar: mengapa retorika Trump sangat efektif? Kemenangan Trump tidak diprediksikan oleh media besar, bahkan kubu Hillary sendiri. Ternyata semua retorika Trump, ditujukan untuk satu grup spesifik dalam tatanan masyarakat Amerika Serikat, yang sering kali terlupakan oleh pemerintah yang progresif: masyarakat kulit putih, blue collar, dan kelas pekerja. Ketidakpuasan mereka terhadap pemerintahan Obama sangat kentara, karena tidak ada peningkatan level kehidupan setelah Obama mengambil tongkat pemerintahan. Hal ini sebenarnya sangat wajar; karena Obama mewarisi sisa-sisa krisis 2008 yang kenyataannya lebih parah dari era Great Depression. Bagiku pribadi, Obama sudah mencoba sekuat tenaga, tetapi tentu saja banyak orang yang tidak puas.

Dengan lihainya, Trump melihat kesempatan ini: ketidakpuasan kelas pekerja ini. Jika kalian mengikuti kampanye Trump dari awal, banyak perkataannya yang cenderung menyalahkan imigran atas ketidakamanan Amerika Serikat, atau ‘They steal our jobs.’ Janji-janji Trump jika terpilih menjadi presiden pun menarik untuk ditelusuri lebih dalam. Contohnya, untuk kebijakan energi, dia berjanji untuk memberikan lebih banyak lowongan pekerjaan untuk sektor energi tak terbarukan, seperti shale gas, batubara, dan minyak. Sektor ini merupakan sumber pemasukan yang sangat penting di Amerika Serikat, terutama di mid-west states seperti Texas. Hal ini, bertentangan dengan visi Hillary yang ingin meningkatkan sektor energi terbarukan.

Malapetaka besar untuk planet ini, sebenarnya. Mungkin kebijakan Trump akan mempercepat proses perubahan iklim dan pemanasan global. Tapi sebagian masyarakat Amerika membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup.

Campuran berbagai hal: disulut kebencian dan xenophobia, ekonomi yang mandek, dan level ketidakamanan yang meningkat, membuat Trump menang di Pemilu kali ini. Hal ini juga yang mendasari keluarnya Inggris Raya dari EU (Brexit). Apa hal yang sama mungkin terjadi di Indonesia?

Mungkin teman-teman menyadarinya sendiri, akhir-akhir ini, rakyat Indonesia gerah dengan berbagai isu yang terjadi. Gesekan antar-suku terasa lebih prevalen, dan sosial media kita, ah, isinya penuh hawa kebencian. Bukan tidak mungkin, perpecahan bisa terjadi di Indonesia, yang jumlah sukunya jauh lebih banyak dari Amerika Serikat. Semua orang merasa paling benar, tanpa melihat dari perspektif orang lain atau melembutkan hati.

Masih ingat apa yang terjadi pada mahasiswa Papua yang kuliah di Yogyakarta, ketika mereka dikepung oleh warga sekitar? Semuanya berasal dari satu kasus yang dilakukan oleh orang Papua di daerah yang dominan muslim dan suku Jawanya itu. Mari kita pikirkan, apabila ada kasus kriminal yang dilakukan oleh orang Jawa di tempat yang sama, apa mahasiswanya Jawa lainnya akan dikepung di asrama mereka? Tidak, bukan? Belum lagi, setelah terjadinya kasus tersebut, mahasiswa yang berasal dari Papua kesulitan mencari kos-kosan. Apa hal tersebut bukan indikasi bentuk lain dari xenophobia dan diskriminasi?

Hal-hal yang mungkin kecil bagi beberapa orang seperti ini, bisa menjadi besar, seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Trump sempat dipandang sebelah mata, ide-idenya dianggap gila, dan orang-orang percaya dia tak akan terpilih. Sayang, bola salju sudah menggelinding, ketika semakin banyak orang yang percaya dengannya, dan akhirnya dia terlalu besar, kuat, dan terlambat untuk dihentikan.

Jangan tunggu hingga hal tersebut terjadi. Mari rapatkan barisan, dan jangan biarkan aroma kebencian disebarkan dari jemari kita sendiri saat membagikannya di media sosial, dari mulut kita sendiri, atau dari aksi kita sendiri.

Mari fokus akan hal lain yang lebih penting, tentang kita semua sebagai bangsa. Kita semua ingin generasi berikutnya hidup dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan kita sekarang, bukan?

Seperti surat elektronik yang dikirimkan Rafael Reif, President of MIT beberapa jam lalu, menanggapi hasil Pemilu di Amerika Serikat.

Whatever may change in Washington, I believe there is great power in remembering that it will not change the values and the mission that unite us.

As a community and as a practical force for good, MIT is a quintessential expression of America at its best: Bold, optimistic and focused on inventing the future. Delighted and energized by our diversity, with a meritocratic openness to talent, culture and ideas from anywhere. Humble, pragmatic, crazy about science and insistent on seeking the facts. A place of rigor, ingenuity and real-world problem-solving, where generations of bright young minds have come from every corner of the Earth to make something of themselves and work together to make a better world.

That is MIT.

Nothing can change that. And nothing can change our commitment to tackling big, important problems for humanity – climate change, clean energy, cybersecurity, human health – with colleagues of every identity and background.

As an institution, we do some of our best work when we turn outward to the world. Let’s continue to do that now. And, following our students’ lead, let us find ways to listen to one another – with sympathy, humility, decency, respect and kindness.

Salam dari Boston, Amerika Serikat. Dari aku yang merindukan energi positif, rasa optimis, dan persaudaraan.

Advertisements

6 thoughts on “Pemilu AS dan Terpilihnya Trump: Apakah Relevan dengan Indonesia?

  1. Banyak yang tercengang dengan kemenangan Trump..semua prediksi meleset. Pupus sudah Harapan warga amerika memiliki pemimpin wanita untuk pertama kalinya, Apakah 4 tahun kedepan Hillary akan mencalonkan lagi..masih menjadi tanda tanya besar…aku rasa kaum feminish masih berharap kepada Hillary. Good Luck USA for the new President….

    Like

      1. Seperti yang kamu kemukakan di atas ,strategi Trump di luar dugaan lawan politiknya dan Lagi lagi US menjadi bahan kajian para akademisi setelah 9/11.

        Like

      2. Trump telah menyadari dia akan kalah telak dengan Hillary. Karena banyak negara bagian yang menjadi loyalis Partai Demokrat selama berpuluh-puluh tahun. Oleh karena itu, dia tidak mungkin melakukan kampanye politik seperti kampanye presiden pada umumnya. Sehingga dia menjadi anti-tesisnya Obama yang merupakan trademark dari Partai Demokrat. Trump ingin menciptakan kesan stereotip bahwasannya dia adalah pemimpin yang kuat, tangguh, berani, dan cepat tanggap. Berbeda dengan Obama yang cenderung ragu-ragu, agak lamban dalam mengambil keputusan, dan tidak mau mengambil keputusan yg sifatnya kontradiktif. Sampai-sampai di kampanye terakhirnya, Trump menyudutkan salah satu petinggi Partai Republik. Hal itu sukses membuat publik berpendapat bahwa, Trump tidak pernah pandang bulu ketika menyikapi suatu hal tersebut. Saya pikir, retorika Trump mengenai larangan warga Muslim masuk AS tidak akan direalisasikannya. Mengingat Amerika mempunyai kepentingan strategis di Timur Tengah dan Negara-negara mayoritas Muslim lainnya di dunia.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s