Menggeluti Hobi Baru: ‘Memasak’

Dengan tanda kutip. Betul sekali, kalian tidak salah lihat. Aku pun belum jago-jago amat, soalnya, haha.

Meskipun aku tetap melanjutkan S2-ku di kampus yang sama dengan S1-ku dulu, tidak semua hal terasa sama. Mulai dari kuliah mata kuliahnya jauh lebih sulit, hingga mulai riset beneran. Selain itu, asramaku lebih jauh dari kampus, dan tidak ada dining hall di sini. Artinya, mau tidak mau aku harus masak sendiri.

Bagaimana transisiku dari yang dulunya jarang masak, hingga sekarang yang jadi (lebih) sering masak?

Burger
Tuna burger buatanku sendiri. Burger patty-nya aku buat sendiri, lho!

Sejujurnya, ada faktor lain yang membuatku lebih rajin memasak dibandingkan sebelumnya. Driver paling ampuh dalam perubahan sikap seseorang (salah satunya) adalah kondisi finansial/ hal yang berkaitan dengan uang. Maklum, stipend yang kuterima tiap bulannya untuk hidup tergolong ngepas untuk makan secukupnya, bayar kamar asrama, transportasi, makan di luar sekali seminggu, dan memenuhi kebutuhan senang-senang, haha (misal: beli buku).

Hidup di Boston, tidak murah, kawan! Berdasarkan Student Financial Service MIT, untuk kuliah dan hidup selama setahun sebagai graduate student, bisa habis sekitar $80,000. Jadi, kalau program S2-mu dua tahun, kamu butuh sekitar $160,000; atau kalau program S3-mu lima tahun, kamu butuh sekitar $400,000!

tuition
Breakdown biaya kuliah di MIT selama setahun (TA 2016/2017).
others-support
Biaya tambahan lainnya.

Sekarang kamu mungkin mengerti, kenapa aku yang dulunya jarang memasak, sekarang jadi lebih sering. Selain itu, di dekat MIT, ada banyak tempat untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Beberapa di antaranya, bahkan hanya 2-10 menit jalan kaki dari asramaku.

Aku sering kangen dengan masakan Indonesia, dan mencoba untuk masak masakan Indonesia di tiap kesempatan. Seperti yang orang-orang kira, menemukan bumbu-bumbu untuk masakan Indonesia itu tidak mudah. Jadi, membawa bumbu-bumbu instan dari Indonesia itu wajib hukumnya.

Beberapa bumbu, tidak bisa aku temukan di satu tempat. Berikut ini daftar di mana aku membeli bumbu tertentu:

  • Galangal (dikeringkan): hanya ada di Whole Foods
  • Cumin, turmeric, ginger, coriander, nutmeg, bay leaves: Whole Foods, Star Market (bubuk), H Mart (fresh ginger), Trader Joe’s (beberapa, tidak semuanya)
  • Lemongrass (fresh), lime leaves (fresh): H Mart
  • Onion, garlic (minced, ready-to-use): H Mart, Star Market, Trader Joe’s
  • Dill, thyme, parsley, rosemary (fresh): Trader Joe’s, H Mart, (I believe Whole Foods also has them)
  • Cinnamon (roll): Trader Joe’s

Whole Foods dan H Mart memang tergolong lebih mahal di atas rata-rata, namun sayur mayur, daging, dan buah-buahan mereka juga lebih segar dibandingkan di tempat lain. Kalau Star Market sendiri, mereka termasuk supermarket standard di Amerika Serikat. Favoritku adalah Trader Joe’s, karena mereka banyak menawarkan pilihan organik, dan lebih hippie, haha. Beberapa makanan kecil seperti stroopwafel, yogurt pretzels, atau keripik jalapeno, hanya ada di Trader Joe’s, misalnya. Selain itu, pilihan minyak mereka lengkap, mirip dengan Whole Foods: avocado oil, virgin olive oil, extra virgin olive oil, canola oil, dan lain-lain.

Jika di antara teman-teman ada yang ingin mulai masak, berikut ini beberapa hal yang harus selalu tersedia agar siap untuk masak apapun:

  • Bawang putih, bawang merah, dan bawang bombay
  • Cabai
  • Garam, lada
  • Minyak (aku punya dua: canola dan olive oil)
  • Maizena (sangat berguna untuk mengentalkan kuah)
  • Soy sauce (berdasarkan buku The Food Lab-Lopez-Alt yang pernah kubahas sedikit di sini, soy sauce adalah bahan alami MSG bomb yang bisa melezatkan makanan; kadang aku mengganti garam dengan soy sauce)
  • Telur
  • Mentega

Dengan penetrasi internet yang luar biasa, sekarang sangat mudah menemukan resep-resep makanan yang bisa dicoba. Bagiku sendiri, kiblat resep masakan Indonesia ada di sajiansedap.com, sedangkan untuk masakan lainnya, aku cukup Google saja, haha. Salah satu yang paling hits, adalah, Tastemade, yang mungkin video satu menitnya sering kamu lihat dibagikan di Facebook atau Instagram.

Satu hal yang sering kukhawatirkan adalah, porsi sayuran dan buah-buahan yang mungkin tidak cukup kumakan setiap harinya. Apalagi kalau sudah makan rendang, opor ayam, atau tahu goreng, kadang makan sayur pun kelupaan. Cara aku mengakalinya cukup simpel: dengan membeli frozen vegetables (terutama brokoli, yay!). Lagi-lagi berdasarkan buku The Food Lab, sering kali buah-buahan (strawberry, raspberry, blueberry), dan sayuran (broccoli, snow peas), yang dijual beku, saat dipanen langsung di-freeze dried, sehingga kualitasnya tetap terjaga hingga akhirnya kita masak. Selain itu, brokoli beku sangat mudah dipersiapkan, bisa di-steam atau langsung ‘dimasak’ di microwave selama kurang dari semenit. Frozen fruits juga bisa untuk smoothies atau jus, jadi tidak perlu menambahkan es lagi.

Meskipun mungkin tulisan kali ini kurang bisa diaplikasikan untuk teman-teman yang masih di Indonesia dan tinggal dengan orang tua (buat yang ngekos, tulisan ini semoga berguna!), semoga saja bisa memberikan gambaran tentang masak makanan Indonesia di Amerika, terutama di Boston. Kalau ada yang ingin ditanyakan, jangan sungkan-sungkan bertanya lewat kolom komentar di bawah, ya!

Advertisements

7 thoughts on “Menggeluti Hobi Baru: ‘Memasak’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s