Aku Muslim, dan Tak Ada yang Salah denganku

Aku bukan mencari simpati; aku hanya ingin bercerita. Apa yang kuterima mungkin tidak sepadan dibandingkan teman-teman lainnya di daerah lain di dunia. Mungkin wanita muslim di Perancis yang sedang berjemur di pantai dengan burkini (baju renang seluruh tubuh, tertutup) merasa lebih tersakiti, ketika dua orang polisi mendekatinya dan menyuruhnya membuka baju renangnya agar ‘tidak terlalu tertutup’ atau ‘menunjukkan simbol agama’.

Apa yang salah dengan Amerika (dan mungkin negara-negara barat lainnya, atau kalau kita extrapolate, negara-negara timur, bahkan timur tengah)?

Beberapa minggu yang lalu, ketika aku sedang berjalan di daerah Cambridge Tengah, sekitar 30 menit jalan dari MIT, aku mengalami hal yang mengejutkan. Lingkungan yang sudah kutinggali sekitar empat tahun lebih, ternyata tidak se-‘open‘ yang kukira.

Sekadar latar belakang: ini merupakan tahun ketujuh aku tinggal di Amerika Serikat (wow!). 2 tahun pertama aku tinggal di New Mexico, sebuah state yang berbatasan dengan Arizona, Colorado, dan Texas. Setelah itu, aku tinggal di Massachusetts, tepatnya di Cambridge (daerah Boston dan sekitarnya). Sebelumnya, aku tidak mengenakan kerudung, hingga akhirnya di tahun keempat aku di Amerika, aku memutuskan mengenakan kerudung dengan alasan personal. Sudah bertahun-tahun aku mengenakan kerudung, dan aku tidak merasakan diskriminasi dalam bentuk apapun, kecuali saat aku naik pesawat/ melewati imigrasi. Cek keamanan ekstra, seperti diraba di seluruh tubuh, atau dokumenku dicek secara terpisah, itu sudah biasa. Aku bahkan tak merasa didiskriminasi dengan hal tersebut, karena aku mengerti kalau keamanan adalah taruhannya. Cek ekstra ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi saat aku masuk ke negara lain pun aku mengalami hal yang sama: Jerman, Belanda, Kolombia, Singapura.

Cek keamanan ekstra, seperti diraba di seluruh tubuh, atau dokumenku dicek secara terpisah, itu sudah biasa. Aku bahkan tak merasa didiskriminasi dengan hal tersebut, karena aku mengerti kalau keamanan adalah taruhannya.

Meskipun begitu, ketentraman hati ini sempat terusik. Kembali ke ceritaku yang terpotong di atas: hari itu aku berjalan ke daerah Cambridge Tengah, di siang yang terik. Tidak biasanya aku ke sana, dan satu-satunya alasan aku ke sana adalah untuk membeli daging ayam dan sapi halal di daerah situ. Seperti yang kalian sudah ketahui dari tulisanku di post-post sebelumnya, demam Pokemon Go juga melandaku. Itulah salah satu alasan mengapa aku rela berjalan untuk membeli daging halal.

Daerah pemukiman itu cukup sepi. Saat aku sedang fokus menangkap Pidgey (levelku memang masih rendah), tiba-tiba seseorang keluar dari dua rumah di depanku. Tiba-tiba dia berteriak-teriak, “ISIS! ISIS!” Karena terbiasa mendengar berita tentang ISIS di Indonesia (dibaca: i-sis, dalam Bahasa Inggris dibaca: ay-sis), awalnya aku tidak ngeh kalau maksud dia ISIS yang itu. Aku kaget saat sadar. Bahkan mataku masih fokus dengan Pidgey yang kerap kali keluar dari pokeball setelah kutangkap. Aku tak berani mendongak. Aku segera mundur, mempercepat langkahku, keluar dari area itu. Bahkan aku tak melihat siapa/ seperti apa orang yang meneriakiku. “ISIS! ISIS!” dari kejauhan aku masih bisa mendengar teriakannya.

Setelah kembali ke kamar asrama, otakku tak bisa berhenti memutar ulang reka adegan yang baru saja kualami. Seseorang baru saja meneriakiku ISIS, di daerah yang cukup liberal, di Cambridge, Massachusetts, tempat dua universitas top dunia: MIT dan Harvard. Ada apa?

Memoriku itu memang tak mudah kuhapus. Tetapi hari-hari berlalu, dan akhirnya kesibukan di kampus membuatku melupakan hal tersebut. Walaupun begitu, aku merasa lebih ‘sadar’ (conscious) ketika aku berada di tempat sepi, atau orang-orang melirikku di tempat ramai. Kadang, perasaanku sedikit campur aduk, memikirkan apa yang orang-orang lihat dariku.

Hingga pagi ini. Pagi di bulan Oktober memang sudah mulai lebih dingin, dan aku pun mengenakan kardigan milikku. Aku berjalan sedikit terburu-buru, karena aku harus mengumpulkan tugas sebelum ke kelas Computational Science and Engineering. Meskipun begitu, aku tetap menyempatkan diri menangkap pokemon, atau sekadar membuka aplikasinya agar jalan kakiku dihitung untuk menetaskan telur.

Lagi-lagi, aku sedang mencoba menangkap Pidgey di depan Building 7, tepat di depan kampus MIT. Tiba-tiba aku memalingkan mukaku dan melihat seseorang memegang poster berisi dukungan terhadap Trump. Ketika aku melihatnya, dia pun secara tak sengaja melihatku, kemudian dia berkata, “Lock her up! Lock her up! (Kunci dia! Kunci dia!)” mungkin terhadapku? Atau dia mengatakan hal tersebut untuk Hillary Clinton? Entah. Yang jelas, aku segera berjalan cepat menuju kampus, dan mencoba tidak memedulikan apa yang telah terjadi. Aku sedikit berharap, musim dingin segera tiba, jadi aku bisa mengenakan topi rajut di luar kerudungku dan orang lain pun berpakaian serba tertutup karena kedinginan, sehingga aku tak perlu terlihat begitu muslim.

Aku sedikit berharap, musim dingin segera tiba, jadi aku bisa mengenakan topi rajut di luar kerudungku dan orang lain pun berpakaian serba tertutup karena kedinginan, sehingga aku tak perlu terlihat begitu muslim.

Aku teringat, kejadian pertama yang kuceritakan di atas pernah kuceritakan pada teman satu suite asramaku, namanya Mahsa. Dia tinggal di Dubai dan Toronto, dari Iran. Seorang wanita muslim yang berkerudung juga, dan sedang menempuh tahun kedua S2-nya di bidang Technology, Policy, and Program. Sangat baik, dan gemar minum chai.

Setelah dia mendengar ceritaku, dia seketika bilang padaku, “Lain kali, kamu harus segera menelepon seseorang. Siapapun. Kamu tak tahu, bukan, apa yang mungkin orang tersebut miliki? Mungkin dia sedang memegang benda tajam, misalnya. Hal yang sama pernah terjadi padaku di Toronto. Untungnya, saat itu aku sedang berjalan dengan kakak lelakiku, jadi orang yang meneriakiku pun tak berani melakukan apapun, meskipun dia memegang pisau.” Aku tercengang ketika mendengarnya, dan dia berkata, “Itulah keuntungan/ ketidakuntungan menjadi seorang wanita muslim. Kita seperti membawa tulisan besar, ‘Aku muslim’, ke manapun kita melangkah, lewat cara kita berpakaian. Tidak begitu halnya dengan pria muslim, karena jenggot belakangan ini sudah menjadi tren. Karena itu, apapun yang kita lakukan, menjadi ekstra label untuk muslim secara umum. Selain itu, orang-orang yang berkata seperti itu sebenarnya tidak mengerti. Mereka hanya melihat muslim dari media. Bagi mereka, lebih mudah melampiaskan rasa frustasi mereka terhadap muslim, yang seolah-olah bertanggungjawab atas semua tindakan teror di dunia ini, dengan cara berkata yang tidak enak terhadap wanita muslim. Mereka mengira, wanita itu sasaran yang lebih empuk, lebih mudah. Jadi kita harus berbesar hati dan lebih mengerti. Tapi kita juga harus memastikan, bahwa kita tetap aman.”

Perkataan temanku itu memang benar. Wanita muslim menjadi sasaran empuk, karena kita wanita, dan cara berpakaian kita lebih jelas. Tetapi haruskah kita sakit hati dan bersedih, atau lebih jauh lagi, merasa bersalah atas kesalahan yang tidak kita lakukan?

Wanita muslim menjadi sasaran empuk, karena kita wanita, dan cara berpakaian kita lebih jelas. Tetapi haruskah kita sakit hati dan bersedih, atau lebih jauh lagi, merasa bersalah atas kesalahan yang tidak kita lakukan?

Aku merasa lebih permisif setelah kejadian tersebut, merasa bahwa ketidakamanan yang terjadi, adalah salahku juga sebagai muslim. Hal ini jelas-jelas salah. Jika aku merasa seperti itu, orang-orang yang menebarkan teror itu sudah menang.

Bagiku, ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Tidak hanya untuk lebih berhati-hati, sekaligus lebih percaya diri sebagai muslim, tetapi juga merasakan seutuhnya apa artinya sebagai minoritas, terutama di saat penguasa di negeri tempatmu tinggal pun rasanya tidak mendukung keberadaanmu.

Mungkin hal yang sama dirasakan teman-teman non-Muslim non-Jawa di Indonesia, apalagi teman-teman yang dari timur Indonesia. Mungkin mereka merasakan hal yang sama setiap harinya, ketika gerak-gerik mereka disalahartikan sebagai hal yang berbahaya, atau mereka dianggap tidak berbudaya/ berbudipekerti. Begitupun di negara lain, yang mungkin Islam merupakan agama mayoritasnya, atau lebih umum lagi: kaum mayoritas terhadap minoritas.

Mungkin aku pernah melakukannya terhadap teman-temanku, dan aku benar-benar minta maaf. Aku tidak pernah menyengajakan/ bermaksud melakukan hal itu; semua murni berasal dari rasa ignorance dan ketidakpekaanku.

Aku muslim, dan tak ada yang salah denganku, caraku berpakaian. Aku merupakan anggota dari masyarakat yang berkontribusi positif untuk kemaslahatan umat. Semoga.

Advertisements

4 thoughts on “Aku Muslim, dan Tak Ada yang Salah denganku

  1. Bener banget, Kak Titan. I’m a chinese living in Jakarta. Terkadang, saat hanya berjalan keluar rumah atau saat pulang sekolah beberapa anak kecil dan bahkan pemuda bisa tiba-tiba memanggilku “Babi babi” (which is, haram bagi kalian dan halal bagi kami), dan “Cina cina”. Itu sudah kerap terjadi sehingga sekarang aku sudah terbiasa dan mengabaikannya. Jadi aku bisa mengerti perasaan kakak dan orang-orang muslim lainnya yang sedang tinggal di Amerika Serikat sebagai minoritas. Hampir di seluruh belahan dunia, pasti ada yang namanya perbedaan perlakuan antara mayoritas dengan minoritas. It can’t be denied as it can’t be fixed yet. Jadi aku berharap kakak tetap semangat! Your God will always protect you. Keep believing.

    Like

  2. Tan, aku baru ngeuh dirimu punya blog.. ISI-nya luar biasa >,<..
    Aku ga nyangka kalau di Amerika diskriminasi terhadap muslim sampe segitunya.. bahkan bisa mengancam nyawa.. Alhamdulillah di daerah asia timur mereka lebih welcome ke kita :).. bahkan cenderung jadi pusat perhatian,, sering ditanya dan disapa di tempat umum (ex: subway)..
    Semangaaaat tan.. apalagi sekarang presidennya udah ganti.. hehehe… Bisa jadi proses penolakannya lebih kentara dari sebelumnya….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s