Mencari Sepi di Maine

Akhir minggu yang lalu, bersama teman-teman mahasiswa, teknis, professor, dan saintis di labku, kami berdelapan belas pergi ke Maine untuk melakukan Lab Retreat musim gugur. Dalam Bahasa Indonesia, kata ‘retreat’ sendiri punya asosiasi yang kuat dengan agama tertentu (KBBI: khalwat mengundurkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin). Meskipun begitu, Lab Retreat ini tidak ada hubungannya dengan religi. Tujuannya sederhana: mendekatkan diri dengan anggota lab lainnya, menyelesaikan masalah personal intralab, dan juga bersenang-senang!

PV Lab, credit: Marius
MIT PV Lab, credit: Marius.

Lab Manager kami, sudah mempersiapkan retreat ini sejak jauh-jauh hari, supaya semua anggota dapat datang dan berkumpul selama setidaknya dua hari satu malam. Sebuah rumah di Airnb pun sudah dipesan berminggu-minggu sebelumnya. Tujuan kami adalah sebuah kota kecil di Maine, yang bernama Standish. Bagiku sendiri, ini merupakan kali pertama di Maine.

Aku dan tiga temanku lainnya berangkat dari Boston Kamis sore dengan mobil rental dari Budget. Kami terbilang beruntung, karena mobil yang kami tumpangi adalah Prius terbaru yang masih baru. Aku terkejut sendiri ketika membuka pintu mobilnya, karena aroma mobil baru menyeruak. Perjalanan kami tempuh sekitar 3 jam, dikarenakan jalan tol ke luar Boston yang padat merayap. Maklum, akhir minggu kemarin adalah ‘3-day-weekend’, karena Hari Columbus yang jatuh hari Senin.

Halaman belakangnya luas sekali, cukup untuk api unggun!
Halaman belakangnya luas sekali, cukup untuk api unggun!

Boleh dibilang, Maine dan sekitarnya sedang mengalami puncak musim gugur. Warna dedaunan berkisar antara merah, kuning, dan jingga; luar biasa cantik.

Daun maple.
Daun merah.

Karena aku masih tergolong baru di lab ini, retreat kemarin merupakan kesempatan emas untuk bertemu dengan semua orang. Rasanya menyenangkan sekali mengobrol dengan mereka (yang pengalamannya sudah malang melintang di bidang riset photovoltaics!), juga bermain kartu sampai larut malam, dan masak makan pagi/ siang/ malam bersama. Selain itu, retreat ini juga merupakan orientasi bagiku. Aku mulai belajar tentang tanggung jawab sebagai mahasiswa S2 di lab ini apa, dan juga apa ekspektasi mereka terhadapku.

Cuacanya yang sangat bagus juga mendukung kami untuk melakukan team building games di padang rumput di belakang rumah, atau sekadar tidur siang di sana. Saat malam tiba, kami pun mengadakan api unggun dan memanggang s’mores (marshmallow yang ditaruh di antara cokelat dan graham crackers), burger, jagung, sosis, sambil minum bir. Tapi aku tidak bisa minum yang terakhir, haha.

Di hari terakhir, kami juga pergi ke sebuah peternakan untuk berkuda.

Kudanya ada banyak sekali, dan semuanya benar-benar jinak dan tidak takut didekati manusia.
Kudanya ada banyak sekali, dan semuanya benar-benar jinak dan tidak takut didekati manusia.

Aku sendiri agak ketakutan pada awalnya. Aku pernah sekali naik kuda, itu pun dipegangi oleh pemandunya. Tetapi, naik kuda di kebun binatang tidak bisa dihitung sebagai pernah berkuda, bukan?

Pemandunya sendiri benar-benar tenang, dan meyakinkan kami semua bahwa kuda-kudanya benar-benar jinak, sehingga kami aman dan bisa menikmati perjalanan keliling hutan selama 40 menit.

Kudaku sendiri bernama Daisy. Pemandunya memilih aku berpasangan dengan Daisy karena aku cantik seperti Daisy. Eh, bukan, lebih tepatnya karena Daisy lebih kalem dan jarang memberontak.

Cara mengendalikan kudanya sendiri sangat simpel. Kalau ingin belok kanan, tarik tali di sebelah kanan; begitupun sebaliknya. Kalau ingin memperlambat/ berhenti, tarik kedua tali. Kalau ingin mempercepat, tendang badan kudanya dengan kakimu.

Teorinya sih gampang, tetapi praktiknya sendiri tidak semudah itu. Aku gampang kaget sendiri kalau Daisy tiba-tiba berlari, karena kuda-kuda lainnya berlari. Kadang-kadang Daisy juga mogok untuk makan daun-daunan di tengah jalan, yang mengakibatkan diriku ditinggal di belakang.

Tim berkuda.
Rombongan berkuda, credit: Marius. Aku terlihat gagah, bukan?

Rute perjalanan kami pun mengitari hutan di sekitar peternakan tersebut. Hutannya tidak tropis dan lebat seperti di Indonesia, tetapi tetap saja kadang Daisy susah dikontrol dan wajahku menabrak batang-batang. Meskipun begitu, pemandangannya tidak ada duanya!

Warna cantik di mana-mana, credit: Marius.
Warna cantik di mana-mana, credit: Marius.

‘Liburan’ singkat di Maine benar-benar menyegarkan otak dan pikiran. Jauh dari MIT, jauh dari hiruk pikuk Boston. Hanya ada satu hal yang tak kusuka dari Maine: banyak sekali pendukung Trump di sini! Mereka memasang poster kecil di halaman rumah mereka untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap Trump. Pemilu Presiden Amerika Serikat tinggal sebulan lagi, kurang lebih. Semoga saja hasilnya yang terbaik untuk semua warga Amerika Serikat dan dunia, ya.

Bagi kalian yang ingin ke Maine, ada satu hal lagi yang khas dari Maine: seafood/ makanan lautnya. Lobster dari Maine sangat khas, tetapi aku sendiri tidak sempat mencobanya. Mungkin saja, masih lebih enak makanan laut di Indonesia, haha. Bagi yang belum pernah merasakan musim gugur, semoga kalian berkesempatan merasakannya langsung segera, ya. Salam dari Boston dan Maine di musim gugur!

2016-10-08-12-52-09
Foto bonus: karena kudanya jinak-jinak dan lucu-lucu.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s