Bukan Drama: Kisah Putri Terakhir Kerajaan Korea

Beberapa hari yang lalu, kakakku memberikan link streaming ilegal untuk menonton satu film yang berjudul The Last Princess (2016). Setelah aku abaikan selama beberapa hari, akhirnya aku memutuskan untuk menontonnya hari ini. Bagaimanapun, sudah setengah tahun sejak aku terakhir kali maraton drama Korea, dan durasi film ini hanya sekitar dua jam.

Melihat akhir trailernya mungkin kamu akan berpikir, “Based on true story? Benarkah?

Untung ada Google 🙂

Oh ya, sebelumnya aku ingin memperingatkan, bagi kalian yang mungkin ingin menonton filmnya, mungkin jangan membaca tulisanku ini. Karena filmnya mirip dengan kisah aslinya, dan jadi tidak seru lagi kalau kalian sudah membaca kisah aslinya.

Pencarian singkatku bermula pada Wikipedia. Deokhye, rupanya merupakan anak dari Raja Gojong dan Selir Yang Gyu-in yang lahir tahun 1912. Deokhye merupakan anak kesayangan Raja saat itu, sehingga akhirnya dia diberikan gelar Putri pada tahun 1917.

Deokhye dalam pakaian tradisional Korea.
Deokhye dalam pakaian tradisional Korea.

Dua tahun kemudian, ketika Raja semakin tua dan mulai khawatir dengan pergerakan kekuasaan di belakangnya, beliau merencanakan pertunangan tersembunyi dengan keponakan sekretarisnya yang bernama Kim Jang-han. Raja mengira, dengan pertunangan ini, Deokhye tak perlu diboyong ke Jepang. Raja tiba-tiba meninggal di tahun yang sama; desas-desusnya beliau diracun oleh orang Jepang. Kekuasaan Korea pun semakin melemah, dan pada tahun 1925, Deokhye dibawa ke Jepang dengan alasan melanjutkan pendidikan.

Korea mulai jatuh perlahan-lahan ke tangan Jepang, dan Jepang mulai menyiapkan amunisi-amunisinya untuk Perang Dunia ke-2. Tiba-tiba Deokhye yang tinggal di Jepang mendengar kabar bahwa ibunya, Selir Gyu-in meninggal di tahun 1929. Deokhye kembali sebentar ke Korea untuk menghadiri pemakaman ibunya. Betapa menyedihkannya karena dia tidak diperbolehkan mengenakan pakaian pemakaman yang sesuai.

Setelah kembali Jepang, kesehatan mental Deokhye mulai menurun. Karena itu, dia tinggal di tempat saudara lelakinya, Pangeran Eun. Deokhye pun dijodohkan dengan Takeyuki So, aristokrat Jepang yang keluarganya sangat termasyhur.

Takeyuki dan Deokhye. Mereka pasangan yang serasi, bukan?
Takeyuki dan Deokhye. Mereka pasangan yang serasi, bukan?

Dari pernikahan itu, Deokhye melahirkan seorang anak yang bernama Masae (nama Koreanya: Jeonghye). Meskipun begitu, kesehatan mental Deokhye bukannya membaik, tetapi malah semakin memburuk. Keinginan Deokhye untuk kembali ke Korea sangat kuat, tetapi dia tidak bisa.

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2, akhirnya Korea menjadi negara yang merdeka, dengan sistem republik. Suami Deokhye pun kehilangan titel bangsawannya, sehingga akhirnya pada tahun 1953 mereka pun bercerai. Sayangnya, Masae mengalami krisis identitas sebagai setengah Jepang dan setengah Korea, sehingga dia mengalami trauma dan akhirnya bunuh diri.

Deokhye pun akhirnya menjadi benar-benar sendiri, dan dia tinggal di sebuah rumah sakit jiwa selama 15 tahun. Sedangkan mantan suaminya, menikah kembali, karena ingin mendapatkan pernikahan yang lebih membahagiakan.

Presiden Korea saat itu sebenarnya khawatir kalau kepulangan darah biru Korea bisa menyebabkan gonjang-ganjing politik. Tetapi akhirnya, setelah perjuangan yang panjang, Deokhye, akhirnya kembali ke Korea di tahun 1962. Butuh 37-38 tahun hingga akhirnya Deokhye pulang ke tanah airnya! Dia pun tinggal di Istana Changdeok hingga akhir hayatnya.

Selain itu, anak dari saudara laki-laki Deokhye, Pangeran Gu, ternyata sempat belajar Arsitektur di Massachusetts Institute of Technology (baca: kampusku!). Setelah itu, dia bekerja di New York selama beberapa tahun, dan menikah dengan wanita kewarganegaraan Amerika bernama Julia Mullock. Sayangnya, pasangan tersebut tidak mendapatkan keturunan, dan Gu pun ditekan keluarganya untuk menceraikan Julia.

Yang kontroversial adalah, fakta bahwa seharusnya Julia memegang gelar sebagai Putri di kerajaan, namun karena mereka tidak pernah menikah secara adat Korea (adat kerajaan?), maka mereka tidak dianggap menikah, dan nama Julia tidak dimasukkan ke dalam daftar keluarga Yi. Karena hal itu jugalah, Julia mengalami kesulitan ketika mengurus perceraian di Amerika Serikat.

Cukup menarik, bukan?

Kisah Deokhye ini mengingatkanku pada teman-teman kita yang sedang berjuang untuk menyambung hidupnya sebagai refugee. Bagi mereka, kembali pulang mungkin bukan salah satu opsi yang memungkinkan lagi. Terlalu berbahaya, atau tak ada masa depan yang jelas.

Intinya? Mari banyak-banyak bersyukur bagi teman-teman yang masih punya tempat untuk kembali pulang, dan merasakan makanan enak. Tidak semua orang punya kesempatan seperti kita.

Selain itu, mari juga lebih mengerti dengan keadaan teman-teman refugee kita yang mempertaruhkan nyawanya hanya untuk mencari tempat yang tidak berbahaya untuk tinggal, dan membantu sebisa mungkin, baik itu dengan doa atau bantuan lain yang lebih signifikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s